Yoh
10:31-42
Budaya
kebanyakan orang adalah lebih suka melihat dan menilai kelemahan orang lain
ketimbang mengintrospeksi kelemahan diri sendiri dan berniat memperbaikinya.
Apabila kritik dan saran kita kepada orang lain dengan maksud dan intensi yang
positif, maka secara tidak langsung kita sedang berjuang mengembangkan orang
itu, meskipun untuk itu dia harus berjuang keras untuk merubah sikapnya. Sikap
kritis itu penting dibutuhkan asalkan kritik itu tidak membabi buta. Mestinya
kita harus membuka hati dan diri kita untuk mengakui bahwa masih ada kebenaran
lain yang lebih hakiki yang disampaikan oleh orang lain. Terkadang, kritik yang
disampaikan oleh orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita selalu dianggap
penista agama, padahal apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Orang yang
fanatik biasanya menganggap bahwa satu-satunya kebenaran mutlak adalah
agamanya, bahkan mereka menganggap bahwa di luar agamanya tidak ada
keselamatan. Konsep berpikir yang demikian, menutup jalan bagi kita untuk
mengetahui kebenaran sejati. Injil hari ini melukiskan sebuah ironi besar dalam
sejara keselamatan. Para pemimpin agama Yahudi yang biasanya mengajarkan jalan
kebenaran dan hidup yang benar, berkonspirasi untuk melakukan kejahatan. Alasan
yang dipakai bukan semata-mata memenuhi hukum agama, tetapi untuk menyelamatkan
kedudukan dan kekuasaan duniawi mereka. Pertanyaannya kemudian: apakah sikap
yang demikian masih kita hidupi dan praktekkan di zaman yang sudah modern ini?
Orang-orang
Yahudi bisa dikategorikan sebagai kelompok yang sangat fanatik dan begitu kaku
memahami seluruh hukum Taurat sehingga mereka tidak mau apa pun perkataan Yesus
yang mengungkapkan hakikat-Nya sebagai Putera Allah. Pengungkapan diri ini
penting, karena justru hakikat diri Yesus inilah yang menjadi pintu gerbang
keselamatan. Yesus bersabda: “Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya”.
Pertentangan orang-orang Yahudi dengan Yesus bersumber dari ketidakmampuan
mereka memahami siapa Yesus sesungguhnya. Mereka sangat kagum dengan figur
Abraham sebagai bapa bangsa tetapi mereka sendiri tidak menghayati iman menurut
teladan Abraham. Bagi orang-orang Yahudi, Allah adalah satu-satunya pribadi
yang sangat dihormati dan mereka begitu getol membela Dia dari segala bentuk
penistaan. Dengan dalil itu, mereka ingin melempari Yesus dengan batu: “karena
Engkau menghujat Allah dan karena Engkau hanya seorang manusia”. Menurut
mereka, Yesus adalah penista agama dan jelas-jelas menghujat Allah sehingga
harus menerima hukuman mati dengan cara dirajam. Tuduhan palsu ini melunturkan
semua prestasi yang telah dikerjakan oleh Yesus seperti pengajaranNya tentang
cinta kasih dan mukjizat-mukjizat lainnya yang tidak mampu dikerjakan oleh
manusia biasa kalau bukan bersumber dari Allah sendiri dalam diri Yesus Kristus
PuteraNya.
Orang-orang
Yahudi begitu tertutup hatinya terhadap kebenaran firman yang disampaikan oleh
Yesus karena mereka tidak mendalami firman Allah secara benar dan
sungguh-sungguh. Mereka memandang firman Allah tidak lebih dari sekedar deretan
hukum yang harus dipatuhi untuk mengatur ketertiban hidup bersama. Firman Allah
harus didalami dengan bantuan iman sehingga menumbuhkan harapan yang kokoh pada
penyelenggaraan Ilahi karena firman itu adalah sumber kebenaran orang beriman.
Akan tetapi, kalau firman itu hanya dipahami sebagai seperangkat aturan untuk
mengatur hidup bersama dalam masyarakat, maka rasa cinta pada firman itu
berkurang dan tidak bermakna. Sebetulnya di sini sedang terjadi penghinaan
terhadap keluhuran martabat Firman sebagai karunia Allah yang menghantar
manusia kepada jalan kebenaran hakiki. Pikiran orang-orang Yahudi itu begitu
sempit sehingga gagal melihat peran Allah di balik perbuatan-perbuatan baik
Yesus. Melihat fenomena kehidupan iman orang-orang Farisi yang dangkal
tersebut, maka Yesus pun tidak memaksa mereka untuk percaya pada kata-kataNya
tetapi meminta mereka untuk percaya pada apa yang dilakukanNya. Karena,
perbuatan-perbuatan tersebut membuktikan bahwa “Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di
dalam Bapa.”
Kekerasan
hati orang-orang Yahudi praktis membuat mereka sulit sekali mengakui Yesus
sebagai Putera Allah. Segala pengajaran, mukjizat dan perbuatan-perbuatan baik
lainnya yang dilakukan Yesus bukannya membuat mereka percaya tetapi justrus
mereka menolak dan bahkan berusaha membinasakan Yesus dengan alasan Ia telah
menghujat Allah. Hati kita pun sering kali juga keras seperti mereka, sehingga
kita tidak mampu menangkap dan memahami karya-karya baik Allah melalui
orang-orang yang diutus-Nya. Kita sering terperangkap dan terbelenggu melihat
pribadi orang, bukan maksud baiknya. Sehingga, ketika orang tersebut melakukan
suatu kebaikan, kita menolak atau bahkan mencurigainya dengan berbagai macam
alasan. Yesus menasihati orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada-Nya, agar
mereka mempercayai kebaikan-kebaikan karya yang dilakukanNya, sehingga mereka
percaya kepada Bapa yang ada di dalam diriNya. Nasihat itu ditunjukkan juga
kepada kita, jika muncul penolakan dalam
hati kita terhadap seseorang yang mewartakan Allah melalui suatu karya atau
perbuatan yang baik, hendaknya kita melihat buah-buah kebaikan dari karya itu
supaya kita bisa menerima kebaikan-kebaikan Tuhan yang diberikan kepada kita
melalui orang lain.
Kata-kata
memang bisa diperdebatkan tetapi perbuatan nyata mengatasi dan mengalahkan
semua argumen yang kita bangun. Yesus membuktikan identitas ilahi-Nya lewat
perbuatan-perbuatan nyata sebagai representasi kehendak Allah sendiri dan tidak
pernah membangun opini kosong. Yesus terus menerus berfirman kepada kita dalam
berbagai peristiwa hidup. Kitab Suci menjadi pedoman dasar bagi kita dan rahmat
Ilahi tampak dalam banyak hal seperti alam raya yang indah, kebaikan sesama,
bahkan dahsyatnya bencana alam yang memporak-porandakan wilayah kita. semua
peristiwa hidup yang kita jumpai dan alami, sesungguhnya sedang berbicara
tentang hakekat Allah yang mungkin tidak kita sadari. Semua fenomena yang
terjadi, harus dilihat sebagai peristiwa iman bukan sebuah kebtulan. Berbagai
tantangan akan tetap saja merongrong hidup iman dan perutusan kita sebagai pengikut Yesus zaman ini. Kadang serasa berat
membebani kita, namun demikian, kita mesti berani menghadapi dengan sikap seperti yang telah diteladankan
oleh Sang Guru Ilahi. Kita berjuang terus dalam proses jatuh dan bangun, seraya
menjadikan firman Allah sebagai andalan dan kekuatan kita: “Bapa, terjadilah
kehendakMu atas diri kami.” Injil hari ini, menyadarkan kita semua bahwa kita bisa membuktikan diri sebagai pengikut
Yesus lewat sikap dan perbuatan baik kita kepada sesama, bukan sedang berjuang
melawan kehadiran Allah dan pengajaranNya tentang kebaikan dan kasih. Bangunan
Gereja yang megah, ibadat yang meriah, doa, ziarah, jalan salib yang kita
lakukan sepanjang masa pra-Paskah ini sunguh mengaruhkan, namun belum bisa menjadi bukti yang menjamin seorang pengikut
Kristus, kalau semuanya itu hanyalah upaya pencitraan diri semata. Mari kita
menajamkan suara hati kita agar mampu melihat bahwa Firman itu bukan sekedar
seperangkat aturan yang kaku melainkan jiwa dari seluruh eksistensi kita
sebagai manusia beriman. Sikap dan penolakan orang-orang Yahudi terhadap
hakikat Yesus, membantu kita yang sedang mempersiapkan diri di masa pra-Paskah
ini untuk memurnikan hati dan iman kita agar menyongsong Paskah kebangkitan
Tuhan dengan pertobatan sejati.