Kamis, 07 April 2022

BERIMAN TEGUH KEPADA YESUS

 

Yoh 10:31-42

 

                        Budaya kebanyakan orang adalah lebih suka melihat dan menilai kelemahan orang lain ketimbang mengintrospeksi kelemahan diri sendiri dan berniat memperbaikinya. Apabila kritik dan saran kita kepada orang lain dengan maksud dan intensi yang positif, maka secara tidak langsung kita sedang berjuang mengembangkan orang itu, meskipun untuk itu dia harus berjuang keras untuk merubah sikapnya. Sikap kritis itu penting dibutuhkan asalkan kritik itu tidak membabi buta. Mestinya kita harus membuka hati dan diri kita untuk mengakui bahwa masih ada kebenaran lain yang lebih hakiki yang disampaikan oleh orang lain. Terkadang, kritik yang disampaikan oleh orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita selalu dianggap penista agama, padahal apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Orang yang fanatik biasanya menganggap bahwa satu-satunya kebenaran mutlak adalah agamanya, bahkan mereka menganggap bahwa di luar agamanya tidak ada keselamatan. Konsep berpikir yang demikian, menutup jalan bagi kita untuk mengetahui kebenaran sejati. Injil hari ini melukiskan sebuah ironi besar dalam sejara keselamatan. Para pemimpin agama Yahudi yang biasanya mengajarkan jalan kebenaran dan hidup yang benar, berkonspirasi untuk melakukan kejahatan. Alasan yang dipakai bukan semata-mata memenuhi hukum agama, tetapi untuk menyelamatkan kedudukan dan kekuasaan duniawi mereka. Pertanyaannya kemudian: apakah sikap yang demikian masih kita hidupi dan praktekkan di zaman yang sudah modern ini?

 

                        Orang-orang Yahudi bisa dikategorikan sebagai kelompok yang sangat fanatik dan begitu kaku memahami seluruh hukum Taurat sehingga mereka tidak mau apa pun perkataan Yesus yang mengungkapkan hakikat-Nya sebagai Putera Allah. Pengungkapan diri ini penting, karena justru hakikat diri Yesus inilah yang menjadi pintu gerbang keselamatan. Yesus bersabda: “Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya”. Pertentangan orang-orang Yahudi dengan Yesus bersumber dari ketidakmampuan mereka memahami siapa Yesus sesungguhnya. Mereka sangat kagum dengan figur Abraham sebagai bapa bangsa tetapi mereka sendiri tidak menghayati iman menurut teladan Abraham. Bagi orang-orang Yahudi, Allah adalah satu-satunya pribadi yang sangat dihormati dan mereka begitu getol membela Dia dari segala bentuk penistaan. Dengan dalil itu, mereka ingin melempari Yesus dengan batu: “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau hanya seorang manusia”. Menurut mereka, Yesus adalah penista agama dan jelas-jelas menghujat Allah sehingga harus menerima hukuman mati dengan cara dirajam. Tuduhan palsu ini melunturkan semua prestasi yang telah dikerjakan oleh Yesus seperti pengajaranNya tentang cinta kasih dan mukjizat-mukjizat lainnya yang tidak mampu dikerjakan oleh manusia biasa kalau bukan bersumber dari Allah sendiri dalam diri Yesus Kristus PuteraNya.

 

                        Orang-orang Yahudi begitu tertutup hatinya terhadap kebenaran firman yang disampaikan oleh Yesus karena mereka tidak mendalami firman Allah secara benar dan sungguh-sungguh. Mereka memandang firman Allah tidak lebih dari sekedar deretan hukum yang harus dipatuhi untuk mengatur ketertiban hidup bersama. Firman Allah harus didalami dengan bantuan iman sehingga menumbuhkan harapan yang kokoh pada penyelenggaraan Ilahi karena firman itu adalah sumber kebenaran orang beriman. Akan tetapi, kalau firman itu hanya dipahami sebagai seperangkat aturan untuk mengatur hidup bersama dalam masyarakat, maka rasa cinta pada firman itu berkurang dan tidak bermakna. Sebetulnya di sini sedang terjadi penghinaan terhadap keluhuran martabat Firman sebagai karunia Allah yang menghantar manusia kepada jalan kebenaran hakiki. Pikiran orang-orang Yahudi itu begitu sempit sehingga gagal melihat peran Allah di balik perbuatan-perbuatan baik Yesus. Melihat fenomena kehidupan iman orang-orang Farisi yang dangkal tersebut, maka Yesus pun tidak memaksa mereka untuk percaya pada kata-kataNya tetapi meminta mereka untuk percaya pada apa yang dilakukanNya. Karena, perbuatan-perbuatan tersebut membuktikan bahwa “Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa.”

 

                        Kekerasan hati orang-orang Yahudi praktis membuat mereka sulit sekali mengakui Yesus sebagai Putera Allah. Segala pengajaran, mukjizat dan perbuatan-perbuatan baik lainnya yang dilakukan Yesus bukannya membuat mereka percaya tetapi justrus mereka menolak dan bahkan berusaha membinasakan Yesus dengan alasan Ia telah menghujat Allah. Hati kita pun sering kali juga keras seperti mereka, sehingga kita tidak mampu menangkap dan memahami karya-karya baik Allah melalui orang-orang yang diutus-Nya. Kita sering terperangkap dan terbelenggu melihat pribadi orang, bukan maksud baiknya. Sehingga, ketika orang tersebut melakukan suatu kebaikan, kita menolak atau bahkan mencurigainya dengan berbagai macam alasan. Yesus menasihati orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada-Nya, agar mereka mempercayai kebaikan-kebaikan karya yang dilakukanNya, sehingga mereka percaya kepada Bapa yang ada di dalam diriNya. Nasihat itu ditunjukkan juga kepada kita, jika muncul penolakan  dalam hati kita terhadap seseorang yang mewartakan Allah melalui suatu karya atau perbuatan yang baik, hendaknya kita melihat buah-buah kebaikan dari karya itu supaya kita bisa menerima kebaikan-kebaikan Tuhan yang diberikan kepada kita melalui orang lain.

 

                        Kata-kata memang bisa diperdebatkan tetapi perbuatan nyata mengatasi dan mengalahkan semua argumen yang kita bangun. Yesus membuktikan identitas ilahi-Nya lewat perbuatan-perbuatan nyata sebagai representasi kehendak Allah sendiri dan tidak pernah membangun opini kosong. Yesus terus menerus berfirman kepada kita dalam berbagai peristiwa hidup. Kitab Suci menjadi pedoman dasar bagi kita dan rahmat Ilahi tampak dalam banyak hal seperti alam raya yang indah, kebaikan sesama, bahkan dahsyatnya bencana alam yang memporak-porandakan wilayah kita. semua peristiwa hidup yang kita jumpai dan alami, sesungguhnya sedang berbicara tentang hakekat Allah yang mungkin tidak kita sadari. Semua fenomena yang terjadi, harus dilihat sebagai peristiwa iman bukan sebuah kebtulan. Berbagai tantangan akan tetap saja merongrong hidup iman dan perutusan kita sebagai  pengikut Yesus zaman ini. Kadang serasa berat membebani kita, namun demikian, kita mesti berani menghadapi  dengan sikap seperti yang telah diteladankan oleh Sang Guru Ilahi. Kita berjuang terus dalam proses jatuh dan bangun, seraya menjadikan firman Allah sebagai andalan dan kekuatan kita: “Bapa, terjadilah kehendakMu atas diri kami.” Injil hari ini, menyadarkan kita semua  bahwa kita bisa membuktikan diri sebagai pengikut Yesus lewat sikap dan perbuatan baik kita kepada sesama, bukan sedang berjuang melawan kehadiran Allah dan pengajaranNya tentang kebaikan dan kasih. Bangunan Gereja yang megah, ibadat yang meriah, doa, ziarah, jalan salib yang kita lakukan sepanjang masa pra-Paskah ini sunguh mengaruhkan, namun belum bisa  menjadi bukti yang menjamin seorang pengikut Kristus, kalau semuanya itu hanyalah upaya pencitraan diri semata. Mari kita menajamkan suara hati kita agar mampu melihat bahwa Firman itu bukan sekedar seperangkat aturan yang kaku melainkan jiwa dari seluruh eksistensi kita sebagai manusia beriman. Sikap dan penolakan orang-orang Yahudi terhadap hakikat Yesus, membantu kita yang sedang mempersiapkan diri di masa pra-Paskah ini untuk memurnikan hati dan iman kita agar menyongsong Paskah kebangkitan Tuhan dengan pertobatan sejati.