Mat 11:25-27
Arki Sudito dalam artikelnya, “4 Manfaat Kerendahan
Hati”, (Kompas.com), menjelaskan kerendahan hati sebagai sikap atau perasaan
yang dimiliki seseorang bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan khusus yang
membuat dirinya lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain. Sepintas kita
memahami bahwa sikap kerendahan hati cenderung membentuk pribadi seseorang
menjadi pribadi yang memiliki kualitas yang negatif. Kualitas pribadi yang
tidak memiliki kepercayaan diri dan mentalitas yang kokoh. Pada kenyataannya, sikap
kerendahan hati memungkinkan manusia untuk selalu bersikap terbuka, menyadari
keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, ia akan
terus memotivasi dirinya untuk mau belajar dan berkembang dari waktu ke waktu.
Menurut Arki Sudito, ada empat manfaat dari sikap
kerendahan hati yang dimiliki oleh manusia. Pertama, dengan kerendahan hati,
kita akan mampu memiliki pola pikir yang berkembang. Manusia dengan pola pikir
yang berkembang akan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk terus belajar
dan memperbaiki dirinya. Ia akan terbuka menerima kritik dan masukan dari orang
lain sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Kedua, memiliki kerendahan
hati memungkinkan manusia untuk memberikan makna terhadap setiap peristiwa yang
terjadi dalam kehidupan, baik peristiwa yang positif maupun negatif. Peristiwa
positif yang dialami mengalirkan energi positif dalam diri manusia untuk terus
berkembang.
Begitu pula dengan adanya pengalaman negatif, tidak
serta merta melemahkan jati diri manusia. Melainkan menciptakan sikap sabar dan
tidak cepat putus asa. Pengalaman negatif akan menginspirasi manusia untuk
bangkit dan terus maju. Ketiga, memiliki kerendahan hati akan mendorong
kreativitas kita dalam menjalani hidup. Kerendahan hati akan membuka begitu
banyak kemungkinan dan pilihan dalam hidup. Saat inilah, kreativitas manusia
akan terdorong untuk bekerja dengan lebih baik dan efektif. Keempat, kerendahan
hati membantu kita untuk menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan memiliki
kerendahan hati, seseorang dapat berhenti membandingkan dirinya dengan orang
lain. Ia hanya fokus memperhatikan dan mengembangkan dirinya sendiri demi
menemukan dan mencapai tujuan dalam hidupnya yang sebenarnya.
Sikap kerendahan hati dimiliki secara penuh oleh
para murid Yesus. Dalam bacaan Injil pada hari ini, secara implisit dalam
ucapan syukur-Nya, Yesus memuji sikap kerendahan hati dari para rasul.
Indikatornya jelas. Para murid Yesus tidak merasa diri paling hebat dan pintar.
Mereka mau mengikuti Yesus dan menyerahkan diri secara total dalam
penyelenggaraan ilahi-Nya. Mereka mau mendengar setiap sabda-Nya. Mereka
melihat dengan jelas setiap aksi mukjizat-Nya. Dan yang lebih penting adalah
para murid mau belajar untuk berkembang dalam kuasa ilahi yang dimiliki oleh
Yesus. Terminologi “orang kecil” yang diungkapkan oleh Yesus, bukan mau
mengungkapkan kekecilan diri, kemiskinan dan ketidakberdayaan pribadi para
murid. Frase orang kecil mengafirmasi sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh
para rasul, karena mereka mau bersikap terbuka, mau belajar untuk menjadi lebih
baik dalam bimbingan kuasa ilahi Allah.
Sebaliknya, sikap sombong atau arogan, sebagai
lawan dari sikap rendah hati, dipertontonkan oleh para pemuka agama di masa
Yesus. Mereka merasa diri lebih pintar dan hebat karena memiliki pengetahuan
yang mumpuni dibandingkan dengan orang lain. Keunggulan dalam bidang
pengetahuan inilah yang membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang arogan
dan anti kritik. Mereka selalu merasa diri benar dan mengklaim diri sebagai
sumber kebenaran. Mereka tidak pernah merasa diri salah, dan selalu menolak
untuk dikritik. Bahkan tidak segan-segan, mereka melawan para pengkritiknya
dengan sikap represif. Termasuk yang dialami oleh Yesus. Yesus menjadi korban
dari arogansi para elit agama, yang merasa diri paling pintar dan hebat.
Arogansi diri para elit agama di masa Yesus,
menjadi cerminan dari sikap kita sebagai orang beragama di era ini. Kita
acapkali merasa diri paling benar dalam setiap tutur kata dan tindakan.
Walaupun apa yang kita sampaikan dan lakukan, belum tentu memiliki nilai
kebenaran. Fatalnya, kita memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita
sampaikan atau lakukan. Kita juga merasa tersinggung, kecewa dan marah kalau
ada orang tidak mau mengikuti apa yang telah kita buat. Kita lebih marah dan
kecewa saat ada orang memberi kritik atau saran yang konstruktif demi perbaikan
diri. Kita tidak bisa melakukan introspeksi diri atau otokritik karena yang
tertanam dalam pribadi adalah sikap sombong dan merasa diri paling pintar atau
hebat.
Hari ini kita mau belajar dari para murid untuk
menjadi orang kecil. Kita bukan mau menjadi pribadi yang lemah, tertindas dan
tidak berdaya. Kita mau menjadi pribadi yang rendah hati. Pribadi yang mau
belajar dari setiap pengalaman. Terutama pengalaman tentang kegagalan dan
keterpurukan hidup. Kita mau belajar untuk bangkit dan berkembang. Tidak mudah
putus asa, memiliki kesabaran dan mentalitas diri yang tangguh. Kita mau
belajar dari orang lain. Dan bukan menaruh iri hati terhadap mereka. Kita siap
dikritik demi perbaikan dan pengembangan diri yang lebih baik. Di atas semua
itu, kita dididik untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita mau
datang ke hadapan-Nya karena kita mau belajar menjadi pribadi yang kokoh dalam
iman. Pribadi yang tidak mudah goyah dan putus asa dalam menghadapi badai
pandemi Covid-19. Kita tetap memiliki optimisme diri karena kita yakin Tuhan
sementara mendesain hidup yang lebih baik di balik terpaan badai Covid-19. Mari
kita selalu menanamkan sikap rendah hati dalam hidup di tengah dunia. Amin.
***AKD***