Rabu, 14 Juli 2021

Hakikat Kerendahan Hati

Mat 11:25-27

 

Arki Sudito dalam artikelnya, “4 Manfaat Kerendahan Hati”, (Kompas.com), menjelaskan kerendahan hati sebagai sikap atau perasaan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan khusus yang membuat dirinya lebih baik atau lebih unggul daripada orang lain. Sepintas kita memahami bahwa sikap kerendahan hati cenderung membentuk pribadi seseorang menjadi pribadi yang memiliki kualitas yang negatif. Kualitas pribadi yang tidak memiliki kepercayaan diri dan mentalitas yang kokoh. Pada kenyataannya, sikap kerendahan hati memungkinkan manusia untuk selalu bersikap terbuka, menyadari keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, ia akan terus memotivasi dirinya untuk mau belajar dan berkembang dari waktu ke waktu.

 

Menurut Arki Sudito, ada empat manfaat dari sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh manusia. Pertama, dengan kerendahan hati, kita akan mampu memiliki pola pikir yang berkembang. Manusia dengan pola pikir yang berkembang akan melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki dirinya. Ia akan terbuka menerima kritik dan masukan dari orang lain sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Kedua, memiliki kerendahan hati memungkinkan manusia untuk memberikan makna terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, baik peristiwa yang positif maupun negatif. Peristiwa positif yang dialami mengalirkan energi positif dalam diri manusia untuk terus berkembang.

 

Begitu pula dengan adanya pengalaman negatif, tidak serta merta melemahkan jati diri manusia. Melainkan menciptakan sikap sabar dan tidak cepat putus asa. Pengalaman negatif akan menginspirasi manusia untuk bangkit dan terus maju. Ketiga, memiliki kerendahan hati akan mendorong kreativitas kita dalam menjalani hidup. Kerendahan hati akan membuka begitu banyak kemungkinan dan pilihan dalam hidup. Saat inilah, kreativitas manusia akan terdorong untuk bekerja dengan lebih baik dan efektif. Keempat, kerendahan hati membantu kita untuk menemukan tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan memiliki kerendahan hati, seseorang dapat berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia hanya fokus memperhatikan dan mengembangkan dirinya sendiri demi menemukan dan mencapai tujuan dalam hidupnya yang sebenarnya.

 

Sikap kerendahan hati dimiliki secara penuh oleh para murid Yesus. Dalam bacaan Injil pada hari ini, secara implisit dalam ucapan syukur-Nya, Yesus memuji sikap kerendahan hati dari para rasul. Indikatornya jelas. Para murid Yesus tidak merasa diri paling hebat dan pintar. Mereka mau mengikuti Yesus dan menyerahkan diri secara total dalam penyelenggaraan ilahi-Nya. Mereka mau mendengar setiap sabda-Nya. Mereka melihat dengan jelas setiap aksi mukjizat-Nya. Dan yang lebih penting adalah para murid mau belajar untuk berkembang dalam kuasa ilahi yang dimiliki oleh Yesus. Terminologi “orang kecil” yang diungkapkan oleh Yesus, bukan mau mengungkapkan kekecilan diri, kemiskinan dan ketidakberdayaan pribadi para murid. Frase orang kecil mengafirmasi sikap kerendahan hati yang dimiliki oleh para rasul, karena mereka mau bersikap terbuka, mau belajar untuk menjadi lebih baik dalam bimbingan kuasa ilahi Allah.

 

Sebaliknya, sikap sombong atau arogan, sebagai lawan dari sikap rendah hati, dipertontonkan oleh para pemuka agama di masa Yesus. Mereka merasa diri lebih pintar dan hebat karena memiliki pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan orang lain. Keunggulan dalam bidang pengetahuan inilah yang membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang arogan dan anti kritik. Mereka selalu merasa diri benar dan mengklaim diri sebagai sumber kebenaran. Mereka tidak pernah merasa diri salah, dan selalu menolak untuk dikritik. Bahkan tidak segan-segan, mereka melawan para pengkritiknya dengan sikap represif. Termasuk yang dialami oleh Yesus. Yesus menjadi korban dari arogansi para elit agama, yang merasa diri paling pintar dan hebat.

 

Arogansi diri para elit agama di masa Yesus, menjadi cerminan dari sikap kita sebagai orang beragama di era ini. Kita acapkali merasa diri paling benar dalam setiap tutur kata dan tindakan. Walaupun apa yang kita sampaikan dan lakukan, belum tentu memiliki nilai kebenaran. Fatalnya, kita memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kita sampaikan atau lakukan. Kita juga merasa tersinggung, kecewa dan marah kalau ada orang tidak mau mengikuti apa yang telah kita buat. Kita lebih marah dan kecewa saat ada orang memberi kritik atau saran yang konstruktif demi perbaikan diri. Kita tidak bisa melakukan introspeksi diri atau otokritik karena yang tertanam dalam pribadi adalah sikap sombong dan merasa diri paling pintar atau hebat.

 

Hari ini kita mau belajar dari para murid untuk menjadi orang kecil. Kita bukan mau menjadi pribadi yang lemah, tertindas dan tidak berdaya. Kita mau menjadi pribadi yang rendah hati. Pribadi yang mau belajar dari setiap pengalaman. Terutama pengalaman tentang kegagalan dan keterpurukan hidup. Kita mau belajar untuk bangkit dan berkembang. Tidak mudah putus asa, memiliki kesabaran dan mentalitas diri yang tangguh. Kita mau belajar dari orang lain. Dan bukan menaruh iri hati terhadap mereka. Kita siap dikritik demi perbaikan dan pengembangan diri yang lebih baik. Di atas semua itu, kita dididik untuk memiliki kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita mau datang ke hadapan-Nya karena kita mau belajar menjadi pribadi yang kokoh dalam iman. Pribadi yang tidak mudah goyah dan putus asa dalam menghadapi badai pandemi Covid-19. Kita tetap memiliki optimisme diri karena kita yakin Tuhan sementara mendesain hidup yang lebih baik di balik terpaan badai Covid-19. Mari kita selalu menanamkan sikap rendah hati dalam hidup di tengah dunia. Amin. ***AKD***


Minggu, 04 Juli 2021

Menemukan Idola Hidup Yang Sesungguhnya

Mat 9:18-26

 

Setiap kita pasti mempunyai tokoh idola. Tokoh yang kita sukai, kita senangi, dan kita banggakan. Selain itu, tokoh idola dapat memberi inspirasi dan keteladanan yang baik dalam hidup kita. Banyak orang memiliki niat atau motivasi yang berbeda-beda dari tokoh idola yang dimiliki. Ada yang mungkin hanya sekedar melihat penampilan fisiknya. Ada yang mungkin mengagumi keunggulan intelektual dan cara berkomunikasi yang mumpuni dari sang tokoh idola. Dan ada yang mungkin merasa terpanggil untuk mengikuti cara hidup sang tokoh idola yang baik dan penuh keteladanan.

 

Yesus telah menjadi tokoh idola bagi orang. Banyak orang datang dari berbagai daerah dan mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi. Namun orang banyak mengikuti Yesus, mempunyai niat dan motivasi yang berbeda-beda pula. Ada yang datang karena merasa heran dengan aksi mukjizat yang telah dilakukan-Nya. Ada juga yang merasa kagum dengan kebijaksanaan dan cara berbicara-Nya yang luar biasa. Rasa penasaran telah mendorong mereka untuk terus mengikuti dan menikmati apa yang hendak dikatakan dan dilakukan-Nya.

 

Dari sekian banyak orang yang mengikuti Yesus, sangat jarang orang memiliki niat atau motivasi karena iman. Dalam bacaan hari ini (Mat 9:18-26), dibentangkan dua sikap orang yang memiliki iman yang kokoh kepada Yesus. Pertama, seorang kepala rumah ibadat yang baru saja kehilangan anak perempuannya karena meninggal dunia. Kedua, seorang perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun. Bagi kedua orang ini, tidak ada yang mustahil karena mengikuti Yesus dengan iman. Mereka percaya bahwa apa yang menjadi harapan dan cita-cita pasti akan terwujud dalam nama Yesus.

 

Kepada rumah ibadat sudah mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia. Dan dapat dipastikan bahwa tidak ada peluang lagi bagi anaknya untuk hidup lagi. Ia juga seorang tokoh agama yang pasti mengetahui seluk beluk ajaran agamanya dengan sangat baik. Sehingga, ia tidak gampang terpengaruh dengan orang lain. Namun karena imannya yang kuat kepada Yesus, ia bertindak melampaui segala keyakinan pribadi dan prestise hidup yang dimiliki sebagai seorang tokoh agama. Berkat imannya kepada Yesus, anaknya menjadi hidup kembali.

 

Dan seorang perempuan yang telah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun adalah seorang yang berani dan nekat. Ia tidak malu-malu mendekati Yesus dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Ia sangat percaya, aksinya itu akan mendatangkan keselamatan dalam hidupnya. Walaupun dilakukan secara diam-diam, pada akhirnya Yesus memuji aksi perempuan itu. “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Karena imannya kepada Yesus, ia pun dibebaskan dari sakit pendarahan.

Dewasa ini, banyak orang Katolik tidak lagi mengidolakan Yesus dalam hidupnya. Ruang-ruang hati mereka telah diisi oleh model atau gaya hidup baru yang lebih membawa kesenangan dan kenikmatan duniawi. Orang lebih mengidolakan uang dan materi lainnya. Dan orang lebih suka berperilaku hedonis. Gaya hidup yang memprioritaskan kesenangan dan kenikmatan. Dengan dua kecenderungan yang telah menjadi idola hidup, manusia semakin diseret untuk semakin menjauhi idola hidupnya yang paling benar yakni Yesus Kristus.

 

Dua idola hidup duniawi yakni materialisme dan hedonisme telah menginvasi hidup manusia, termasuk orang Katolik. Manusia dituntut untuk bekerja lebih keras demi mendapatkan materi. Bahkan seringkali dengan cara-cara kotor dan sesat seperti mencuri, merampok, dan korupsi. Pada akhirnya, semua materi ini pasti bersinggungan dengan gaya hidup hedonis. Manusia memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk pesta pora, mabuk-mabukkan, judi, dan kesenangan lainnya.

 

Badai Covid-19 yang masih melanda negeri dan wilayah kita menyiratkan pesan yang sangat mendalam. Pandemi Covid-19 sebenarnya sementara menguji dan menantang kadar keimanan kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk menepi dan berdiam dalam kesendirian untuk mencari Tuhan dan kembali membangun relasi pribadi yang lebih akrab dengan-Nya. Mungkin sebelum badai ini datang, kita lebih sibuk untuk mengejar materi dan berperilaku hedonis. Dan kita entah sengaja atau tidak melupakan Dia yang telah menjadikan kita di atas dunia ini. Ketika kita sudah berada dalam pusaran badai ini, kita diarahkan untuk kembali kepada idola hidup yang sejati yakni Allah dan Yesus Kristus.

 

Melihat realitas hidup yang terjadi belakangan ini, jujur harus kita akui bahwa masih banyak orang Katolik yang belum kembali kepada idola hidup mereka yang sebenarnya. Ketika diberi ruang untuk menyelenggarakan pesta iman (permandian, komuni suci, dan perkawinan), banyak orang Katolik yang merayakannya dengan mengundang banyak orang dan membuat resepsi yang besar. Tentu saja dengan anggaran yang tidak sedikit pula. Walaupun sudah dibatasi dengan aturan atau protocol kesehatan, tetapi ada saja celah yang dipakai oleh manusia untuk memuluskan apa yang menjadi harapan dan keinginannya. Dalam hal ini, manusia masih mengidolakan pola hidup materialistis dan hedonis sehingga tidak akan mudah melepas atau meninggalkannya.

 

Hari ini, sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk menemukan kembali idola hidup yang yang paling sejati yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kita kembali kepada hakekat Dwitunggal oleh karena iman, dan bukan karena kepentingan yang lain. Kita mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia, karena kita yakin dalam iman, kita pasti mendapatkan kebaikan. Terutama dalam badai Covid-19, kita semua akan dikuatkan dan diberi keselamatan. Di atas semua itu, sebagai orang Katolik, kita akan semakin dicerahkan untuk berperilaku sebagai orang yang sungguh-sungguh Katolik. Kita mau meninggalkan idola hidup lama yang tidak benar, dan kembali kepada idola hidup kita yang paling hakiki. Amin. ***AKD***