Mat 9:18-26
Setiap kita pasti mempunyai tokoh idola. Tokoh yang
kita sukai, kita senangi, dan kita banggakan. Selain itu, tokoh idola dapat
memberi inspirasi dan keteladanan yang baik dalam hidup kita. Banyak orang
memiliki niat atau motivasi yang berbeda-beda dari tokoh idola yang dimiliki.
Ada yang mungkin hanya sekedar melihat penampilan fisiknya. Ada yang mungkin
mengagumi keunggulan intelektual dan cara berkomunikasi yang mumpuni dari sang
tokoh idola. Dan ada yang mungkin merasa terpanggil untuk mengikuti cara hidup
sang tokoh idola yang baik dan penuh keteladanan.
Yesus telah menjadi tokoh idola bagi orang. Banyak
orang datang dari berbagai daerah dan mengikuti-Nya ke mana saja Dia pergi.
Namun orang banyak mengikuti Yesus, mempunyai niat dan motivasi yang berbeda-beda
pula. Ada yang datang karena merasa heran dengan aksi mukjizat yang telah
dilakukan-Nya. Ada juga yang merasa kagum dengan kebijaksanaan dan cara
berbicara-Nya yang luar biasa. Rasa penasaran telah mendorong mereka untuk
terus mengikuti dan menikmati apa yang hendak dikatakan dan dilakukan-Nya.
Dari sekian banyak orang yang mengikuti Yesus,
sangat jarang orang memiliki niat atau motivasi karena iman. Dalam bacaan hari
ini (Mat 9:18-26), dibentangkan dua sikap orang yang memiliki iman yang kokoh
kepada Yesus. Pertama, seorang kepala rumah ibadat yang baru saja kehilangan
anak perempuannya karena meninggal dunia. Kedua, seorang perempuan yang
mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun. Bagi kedua orang ini, tidak ada
yang mustahil karena mengikuti Yesus dengan iman. Mereka percaya bahwa apa yang
menjadi harapan dan cita-cita pasti akan terwujud dalam nama Yesus.
Kepada rumah ibadat sudah mengetahui bahwa anaknya
telah meninggal dunia. Dan dapat dipastikan bahwa tidak ada peluang lagi bagi
anaknya untuk hidup lagi. Ia juga seorang tokoh agama yang pasti mengetahui
seluk beluk ajaran agamanya dengan sangat baik. Sehingga, ia tidak gampang
terpengaruh dengan orang lain. Namun karena imannya yang kuat kepada Yesus, ia
bertindak melampaui segala keyakinan pribadi dan prestise hidup yang dimiliki
sebagai seorang tokoh agama. Berkat imannya kepada Yesus, anaknya menjadi hidup
kembali.
Dan seorang perempuan yang telah mengalami sakit
pendarahan selama 12 tahun adalah seorang yang berani dan nekat. Ia tidak malu-malu
mendekati Yesus dan menyentuh jumbai jubah-Nya. Ia sangat percaya, aksinya itu
akan mendatangkan keselamatan dalam hidupnya. Walaupun dilakukan secara
diam-diam, pada akhirnya Yesus memuji aksi perempuan itu. “Teguhkanlah hatimu,
hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:22). Karena imannya
kepada Yesus, ia pun dibebaskan dari sakit pendarahan.
Dewasa ini, banyak orang Katolik tidak lagi
mengidolakan Yesus dalam hidupnya. Ruang-ruang hati mereka telah diisi oleh
model atau gaya hidup baru yang lebih membawa kesenangan dan kenikmatan
duniawi. Orang lebih mengidolakan uang dan materi lainnya. Dan orang lebih suka
berperilaku hedonis. Gaya hidup yang memprioritaskan kesenangan dan kenikmatan.
Dengan dua kecenderungan yang telah menjadi idola hidup, manusia semakin
diseret untuk semakin menjauhi idola hidupnya yang paling benar yakni Yesus
Kristus.
Dua idola hidup duniawi yakni materialisme dan
hedonisme telah menginvasi hidup manusia, termasuk orang Katolik. Manusia
dituntut untuk bekerja lebih keras demi mendapatkan materi. Bahkan seringkali
dengan cara-cara kotor dan sesat seperti mencuri, merampok, dan korupsi. Pada
akhirnya, semua materi ini pasti bersinggungan dengan gaya hidup hedonis.
Manusia memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk pesta pora, mabuk-mabukkan,
judi, dan kesenangan lainnya.
Badai Covid-19 yang masih melanda negeri dan
wilayah kita menyiratkan pesan yang sangat mendalam. Pandemi Covid-19
sebenarnya sementara menguji dan menantang kadar keimanan kita kepada Tuhan.
Kita diajak untuk menepi dan berdiam dalam kesendirian untuk mencari Tuhan dan
kembali membangun relasi pribadi yang lebih akrab dengan-Nya. Mungkin sebelum
badai ini datang, kita lebih sibuk untuk mengejar materi dan berperilaku
hedonis. Dan kita entah sengaja atau tidak melupakan Dia yang telah menjadikan
kita di atas dunia ini. Ketika kita sudah berada dalam pusaran badai ini, kita
diarahkan untuk kembali kepada idola hidup yang sejati yakni Allah dan Yesus
Kristus.
Melihat realitas hidup yang terjadi belakangan ini,
jujur harus kita akui bahwa masih banyak orang Katolik yang belum kembali
kepada idola hidup mereka yang sebenarnya. Ketika diberi ruang untuk
menyelenggarakan pesta iman (permandian, komuni suci, dan perkawinan), banyak
orang Katolik yang merayakannya dengan mengundang banyak orang dan membuat
resepsi yang besar. Tentu saja dengan anggaran yang tidak sedikit pula.
Walaupun sudah dibatasi dengan aturan atau protocol kesehatan, tetapi ada saja
celah yang dipakai oleh manusia untuk memuluskan apa yang menjadi harapan dan
keinginannya. Dalam hal ini, manusia masih mengidolakan pola hidup
materialistis dan hedonis sehingga tidak akan mudah melepas atau
meninggalkannya.
Hari ini, sebagai orang beriman, kita semua diajak
untuk menemukan kembali idola hidup yang yang paling sejati yakni Tuhan Allah
dan Tuhan Yesus Kristus. Kita kembali kepada hakekat Dwitunggal oleh karena
iman, dan bukan karena kepentingan yang lain. Kita mau membangun relasi yang
lebih intim dengan Dia, karena kita yakin dalam iman, kita pasti mendapatkan
kebaikan. Terutama dalam badai Covid-19, kita semua akan dikuatkan dan diberi
keselamatan. Di atas semua itu, sebagai orang Katolik, kita akan semakin
dicerahkan untuk berperilaku sebagai orang yang sungguh-sungguh Katolik. Kita
mau meninggalkan idola hidup lama yang tidak benar, dan kembali kepada idola
hidup kita yang paling hakiki. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar