Luk 4:24-30
Salah
satu ciri khas sikap manusia adalah cenderung merasa tidak puas dengan apa yang
dimiliki. Oleh karena itu dengan berbagai cara dan usaha yang keras, manusia
berusaha memenuhi apa yang menjadi target, kebutuhan atau bahkan sekedar
keinginan yang tidak penting. Manusia tidak saja tidak merasa puas dengan apa
yang dimilikinya secara pribadi. Manusia acapkali juga merasa tidak puas, merasa
tidak senang, merasa tidak bahagia dengan segala kepunyaan yang dimiliki orang
lain. Dalam konteks ini, sikap negatif yang ditampilkan manusia adalah sikap
iri hati. Orang yang mengidap jenis penyakit ini, tidak menghendaki orang lain
memiliki kelebihan atau keunggulan dalam bidang tertentu. Apalagi jika ia
sendiri tidak mampu mencapai level itu. Tentu, kadar iri hatinya semakin besar.
Perlakuan
tidak adil dan tidak manusiawi dialami Yesus dalam peristiwa Injil kali ini
(Luk 2:24-30). Dan ironisnya lagi, pengalaman tidak mengenakan itu justru
dialami Yesus di kampung halaman-Nya sendiri yakni Nazaret. Yesus ditolak oleh
keluarga dan orang-orang sekampung-Nya setelah mereka melihat pelbagai hal
hebat dan ajaib yang dilakukan oleh-Nya. Bukannya memberikan dukungan moril dan
merasa bangga, malahan mereka merespon dengan sikap negatif. Mereka menolak
kehadiran Yesus dan berencana membunuhnya. Orang-orang Nazaret beralasan bahwa
mereka sangat mengenal latar keluarga Yesus. Ia hanyalah anak seorang tukang kayu
miskin yang bernama Yosef. Ibunya, Maria, memiliki kehidupan yang sangat
sederhana. Tidak mungkin dari keluarga kecil ini bisa melahirkan seseorang yang
hebat dan cerdas. Maklum pada saat itu, secara sosial budaya, hanya orang kaya
dan berasal dari kalangan atas yang memiliki akses untuk mengenyam pendidikan
yang lebih tinggi. Dan hanya dari kalangan inilah akan muncul orang hebat,
cerdas, dan pintar.
Ketidaksesuaian
antara latar kehidupan dan segala hal fenomenal yang melekat dalam diri Yesus
inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang Israel tidak menerima Yesus.
Dengan kata lain, mereka bersikap iri hati kepada-Nya. Sehingga tidak heran
apabila Yesus membuat persamaan antara apa yang dilakukan oleh orang Israel
dulu dan orang Israel pada zaman-Nya. Yesus mengingatkan orang-orang
sekampung-Nya bahwa apa yang mereka lakukan terhadap diri-Nya, sama persis
dengan tindakan orang Israel tempo dulu terhadap nabi Elia dan Elisa. Dua nabi
besar ini berasal dari Israel. Namun sungguh aneh karena keduanya tidak diakui
dan tidak diterima dalam kalangan orang Israel sendiri. Justru kedua nabi besar
ini mendapat penerimaan dan kepercayaan dari bangsa lain yang dianggap sebagai
bangsa kafir oleh orang Israel. Misalnya Elia yang menolong seorang janda di
Sarfat, tanah sidon (Luk 4:26). Atau Elisa yang menyembuhkan Naaman, orang
Siria, dari sakit kusta (Luk 4:27). Mereka ditolong oleh dua nabi besar ini
(Elia dan Elisa) karena kehadiran mereka lebih diterima di tempat lain, bukan
di tanah Israel.
Perilaku
destruktif yang dilakukan oleh Israel zaman Yesus, seolah-olah menulis ulang
cerita kelam yang dialami oleh para nabi utusan Allah di tanah Israel. Bahwa
mereka sungguh tidak diterima dan tidak dipercayai. Diterima saja tidak,
apalagi mendapat kepercayaan. Ternyata sikap iri hati memainkan peran yang
sangat menonjol. Orang Nazaret – yang adalah juga Israel – tidak menerima
kemampuan fenomenal yang dimiliki Yesus. Mungkin sebatas kagum, heran, dan
bingung. Lain dari pada itu, mereka tidak mengakui dan menolak Yesus dengan
tegas. Mereka merasa iri karena mungkin beberapa hal berikut. Pertama, hanya
Yesus dari kalangan bawah yang memiliki anugerah demikian. Kedua, mereka tidak
memiliki kapasitas dan kapabilitas seperti Yesus. Ketiga, para kaum ulama di
kampung Nazaret merasa takut akan kehilangan jabatan, prestise dan simpati
publik.
Sikap
iri hati memang tidak pernah lekang oleh waktu. Ia tetap ada sepanjang segala
zaman yang berbeda. Dan kita yang mengaku sebagai pengikut Yesus masa kini,
kadang-kadang atau seringkali menjadi aktor utama dari sikap negatif ini.
Acapkali kita merasa susah dengan kesenangan yang dimiliki orang lain. Bisa
juga di lain waktu, kita merasa senang dengan kesusahan yang dialami oleh
sesama. Kita tidak tahan diri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Entah
itu bersifat materi atau keunggulan lain dalam kompetensi, minat atau bakat
tertentu. Kita gampang berlaku iri hati dengan orang yang memiliki sesuatu.
Tidak hanya secara samar-samar. Bisa juga secara eksplisit atau terang
benderang, kita nyatakan rasa iri hati dalam kata-kata dan perbuatan yang
menyakiti, merendahkan, dan membunuh karakter. Kita tidak mau orang lain
memiliki sesuatu dan merasa bahagia. Kita hanya mau apabila mereka hanya
ditimpa kegagalan dan kesusahan. Kita tidak mau orang lain melewati kita dengan
keunggulan atau kelebihan dalam hal tertentu. Kita hanya mau mereka tetap
berada di bawah. Atau lebih parah lagi, di bawah telapak kaki.