Senin, 21 Maret 2022

Menjauhi Sikap Iri Hati

Luk 4:24-30

 

Salah satu ciri khas sikap manusia adalah cenderung merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Oleh karena itu dengan berbagai cara dan usaha yang keras, manusia berusaha memenuhi apa yang menjadi target, kebutuhan atau bahkan sekedar keinginan yang tidak penting. Manusia tidak saja tidak merasa puas dengan apa yang dimilikinya secara pribadi. Manusia acapkali juga merasa tidak puas, merasa tidak senang, merasa tidak bahagia dengan segala kepunyaan yang dimiliki orang lain. Dalam konteks ini, sikap negatif yang ditampilkan manusia adalah sikap iri hati. Orang yang mengidap jenis penyakit ini, tidak menghendaki orang lain memiliki kelebihan atau keunggulan dalam bidang tertentu. Apalagi jika ia sendiri tidak mampu mencapai level itu. Tentu, kadar iri hatinya semakin besar.

 

Perlakuan tidak adil dan tidak manusiawi dialami Yesus dalam peristiwa Injil kali ini (Luk 2:24-30). Dan ironisnya lagi, pengalaman tidak mengenakan itu justru dialami Yesus di kampung halaman-Nya sendiri yakni Nazaret. Yesus ditolak oleh keluarga dan orang-orang sekampung-Nya setelah mereka melihat pelbagai hal hebat dan ajaib yang dilakukan oleh-Nya. Bukannya memberikan dukungan moril dan merasa bangga, malahan mereka merespon dengan sikap negatif. Mereka menolak kehadiran Yesus dan berencana membunuhnya. Orang-orang Nazaret beralasan bahwa mereka sangat mengenal latar keluarga Yesus. Ia hanyalah anak seorang tukang kayu miskin yang bernama Yosef. Ibunya, Maria, memiliki kehidupan yang sangat sederhana. Tidak mungkin dari keluarga kecil ini bisa melahirkan seseorang yang hebat dan cerdas. Maklum pada saat itu, secara sosial budaya, hanya orang kaya dan berasal dari kalangan atas yang memiliki akses untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Dan hanya dari kalangan inilah akan muncul orang hebat, cerdas, dan pintar.

 

Ketidaksesuaian antara latar kehidupan dan segala hal fenomenal yang melekat dalam diri Yesus inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang Israel tidak menerima Yesus. Dengan kata lain, mereka bersikap iri hati kepada-Nya. Sehingga tidak heran apabila Yesus membuat persamaan antara apa yang dilakukan oleh orang Israel dulu dan orang Israel pada zaman-Nya. Yesus mengingatkan orang-orang sekampung-Nya bahwa apa yang mereka lakukan terhadap diri-Nya, sama persis dengan tindakan orang Israel tempo dulu terhadap nabi Elia dan Elisa. Dua nabi besar ini berasal dari Israel. Namun sungguh aneh karena keduanya tidak diakui dan tidak diterima dalam kalangan orang Israel sendiri. Justru kedua nabi besar ini mendapat penerimaan dan kepercayaan dari bangsa lain yang dianggap sebagai bangsa kafir oleh orang Israel. Misalnya Elia yang menolong seorang janda di Sarfat, tanah sidon (Luk 4:26). Atau Elisa yang menyembuhkan Naaman, orang Siria, dari sakit kusta (Luk 4:27). Mereka ditolong oleh dua nabi besar ini (Elia dan Elisa) karena kehadiran mereka lebih diterima di tempat lain, bukan di tanah Israel.

 

Perilaku destruktif yang dilakukan oleh Israel zaman Yesus, seolah-olah menulis ulang cerita kelam yang dialami oleh para nabi utusan Allah di tanah Israel. Bahwa mereka sungguh tidak diterima dan tidak dipercayai. Diterima saja tidak, apalagi mendapat kepercayaan. Ternyata sikap iri hati memainkan peran yang sangat menonjol. Orang Nazaret – yang adalah juga Israel – tidak menerima kemampuan fenomenal yang dimiliki Yesus. Mungkin sebatas kagum, heran, dan bingung. Lain dari pada itu, mereka tidak mengakui dan menolak Yesus dengan tegas. Mereka merasa iri karena mungkin beberapa hal berikut. Pertama, hanya Yesus dari kalangan bawah yang memiliki anugerah demikian. Kedua, mereka tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas seperti Yesus. Ketiga, para kaum ulama di kampung Nazaret merasa takut akan kehilangan jabatan, prestise dan simpati publik.

 

Sikap iri hati memang tidak pernah lekang oleh waktu. Ia tetap ada sepanjang segala zaman yang berbeda. Dan kita yang mengaku sebagai pengikut Yesus masa kini, kadang-kadang atau seringkali menjadi aktor utama dari sikap negatif ini. Acapkali kita merasa susah dengan kesenangan yang dimiliki orang lain. Bisa juga di lain waktu, kita merasa senang dengan kesusahan yang dialami oleh sesama. Kita tidak tahan diri dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Entah itu bersifat materi atau keunggulan lain dalam kompetensi, minat atau bakat tertentu. Kita gampang berlaku iri hati dengan orang yang memiliki sesuatu. Tidak hanya secara samar-samar. Bisa juga secara eksplisit atau terang benderang, kita nyatakan rasa iri hati dalam kata-kata dan perbuatan yang menyakiti, merendahkan, dan membunuh karakter. Kita tidak mau orang lain memiliki sesuatu dan merasa bahagia. Kita hanya mau apabila mereka hanya ditimpa kegagalan dan kesusahan. Kita tidak mau orang lain melewati kita dengan keunggulan atau kelebihan dalam hal tertentu. Kita hanya mau mereka tetap berada di bawah. Atau lebih parah lagi, di bawah telapak kaki.

 

Kini kita telah memasuki masa prapaskah minggu ketiga. Semoga kita mendapat inspirasi yang baik pada hari ini untuk segera membongkar dan melepaskan sikap iri hati yang masih bercokol dalam hati dan pikiran. Kita mulai menanamkan sikap saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam bingkai membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan. Kita mau saling belajar untuk terus maju dan berkembang dari segala kelebihan dan keunggulan yang dimiliki masing-masing. Dan di atas semua itu, kita mau bertobat dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena kita yakin, Tuhan sementara menulis ulang segala hal baik yang akan kita alami di dalam kehidupan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar