Mat 13:44-46
Seorang ibu
pernah bertanya, apa itu Kerajaan Sorga. Dan apakah sesudah mati baru orang
mengalami Kerajaana Sorga itu. Secara sederhana saya menjelaskan bahwa Kerajaan
Sorga adalah suatu keadaan atau situasi di mana Allah sungguh meraja dan
memerintah atasnya. Kerajaan Sorga itu memang akan mengalami kepenuhannya saat
orang “beralih dari dunia ini”. Tetapi bukan berarti orang tidak mengalami
Kerajaan Sorga saat ia masih hidup di dunia. Kerajaan sorga itu ada di tengah
dunia, bahkan dalam diri manusia sendiri, Kerajaan Sorga itu bisa menyata.
Walaupun sifatnya temporer atau sementara. Kebanyakan orang memang belum
menyadari arti Kerajaan Sorga. Kemudian soal keberadaan Kerajaan Sorga, lebih
banyak orang memahaminya sebagai suatu situasi yang akan diperoleh saat manusia
sudah meninggalkan dunia. Pertanyaan paling fundamental adalah seperti apa
model Kerajaan Sorga itu. Atau apa indikasinya atau tanda-tanda yang
menggambarkan bahwa Kerajaan Sorga itu sungguh ada.
Karena Kerajaan
Sorga adalah Allah yang sungguh hadir dan meraja maka orang akan mengalami
situasi hidup yang membahagiakan, aman, damai, penuh sukacita dan kegembiraan.
Situasi-situasi ini sudah dimulai pada saat ini, ketika manusia masih merasakan
napas kehidupan di atas dunia. Walaupun memang ada pergumulan, pergulatan, dan
keterpurukan dalam hidup, namun ketika manusia bisa menghadapinya dengan tenang
dan bisa menemukan jalan keluar yang baik, itu juga menjadi bagian dari tanda
Kerajaan Sorga menyata dalam hidup manusia. Dalam diri manusia Kerajaan Sorga
juga bisa nampak, Ketika manusia memperlakukan diri dan hidupnya sebagai sarana
untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, di situ juga cahaya Kerajaan Sorga
akan muncul di tengah dunia. Jadi Kerajaan Sorga bukan hanya bersifat
eskatologis (masa depan), saat manusia kembali ke haribaan Tuhan. Namun sudah,
sedang, dan akan terjadi secara nyata dalam hidup manusia.
Kerajaan Sorga
menjadi wacana yang sangat menarik. Sehingga ketika memaparkannya, Yesus sampai
menggunakan dua perumpamaan. Pertama, Kerajaan Sorga yang dianalogikan sebagai
harta yang terpendam di ladang. Harta itu kemudian ditemukan orang, lalu
ditanamnya lagi. Barulah kemudian, ia menjual seluruh miliknya untuk
mendapatkan ladang beserta harta yang terpendam di dalamnya. Memang dari sisi
kehidupan sosial budaya orang Israel pada saat itu, menyimpan harta di dalam
tanah merupakan suatu hal yang lazim. Situasi kehidupan yang seringkali tidak
aman, menuntun orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Pilihan untuk menyembunyikan harta dalam tanah merupakan pilihan yang terbaik
pada saa itu. Yang menjadi persoalan apabila si pemilik tanah sudah lupa atau
meninggal sehingga hartanya tetap tertanam di dalam tanah. Orang yang
menemukannya tidak serta merta membawanya pulang ke rumah. Karena hukum Yahudi
melarangnya. Kalau hendak mengambil dan memiliki harta tersebut, orang harus
membeli ladang itu dahulu.
Kedua, Kerajaan
Sorga itu dianalogikan sebagai mutiara yang indah. Lagi-lagi berawal dari
kebiasaan orang Israel yang suka mengoleksi mutiara. Mereka akan melakukan apa
saja untuk mendapatkan mutiara tersebut. Termasuk dengan menjual seluruh harta
yang dimilikinya. Tidak peduli bahwa hartanya akan habis. Asalkan mereka merasa
puas dan senang karena sudah memiliki mutiara yang didambakan. Menarik sekalih.
Dari dua perumpamaan Yesus, yang membeberkan tentang Kerajaan Sorga, kita dapat
menarik kesimpulan bahwa Kerajaan Sorga itu tidak hanya indah, tetapi mempunyai
harga yang sangat mahal. Tidak mudah untuk memperolehnya. Orang harus berjuang
dan berjibaku. Tidak setengah-setengah. Harus total dan fokus.
Dalam realitas
kehidupan duniawi, Kerajaan Sorga menunjuk pada pelbagai aspek yang menjadi
fokus dan lokus kita. Entah itu menyangkut kehidupan keluarga, pekerjaan,
ekonomi, pendidikan dan kesehatan, relasi sosial dengan sesama, dan sebagainya.
Ada hal yang tentu saja menjadi fokus kita masing-masing, tetapi tetap menjadi
bagian integral (tidak terpisahkan) dengan keimanan kita akan Tuhan dan segala
ajaran-Nya yang menjadi kompas kehidupan. Dalam menata kehidupan keluarga, ada
garis komando yang sama-sama kita ikuti dalam status sebagai suami, istri dan
anak. Ada sikap saling menghargai, menghormati, memahami satu sama lain
sehingga tercipta nuansa kehidupan keluarga yang bahagia. Dalam mengelola
pekerjaan yang berdampak pada kehidupan ekonomi pribadi dan keluarga, perlu
adanya sikap total dan kerja keras. Tidak malas dan tidak berorientasi pada
sikap hedonis atau konsumtif semata. Perlu ada pemahaman bahwa pekerjaan yang
kita miliki adalah sebuah amanah suci dari Tuhan. Berapa pun hasil yang kita
terima, pasti akan membawa nilai yang sangat berarti bagi pribadi dan keluarga.
Dalam membangun
relasi dengan sesama, sikap rendah hati, saling menerima apa adanya, saling
menghargai, saling menolong, menjadi deretan hal-hal konkrit yang bisa kita
lakukan untuk menciptakan suasana hidup yang menyenangkan dan membawa
kedamaian. Inilah beberapa contoh yang hendak menggambarkan bahwa Kerajaa Sorga
itu sungguh ada dan menyata dalam kehidupan kita di tengah dunia. Namun untuk
memperolehnya, kita harus “menjual” apa yang kita miliki. Kata menjual dalam
konteks ini berarti melepaskan. Kita harus berani melepaskan, memotong, dan
menghilangkan sikap-sikap destruktif (negatif) yang menjadi penghalang bagi
terciptanya Kerajaan Sorga di tengah dunia. Sikap destruktif itu seperti sikap
ego (mementingkan diri), sombong, apatis, merasa diri paling benar dan hebat,
sikap malas, tidak disiplin, sikap hedonis (mengutamakan kenikmatan duniawi),
dan sebagainya.
Kerajaan Sorga yang kita alami di dunia sejatinya mengungkapkan kehidupan Kerajaan Sorga yang paripurna yakni saat nanti di dalam kehidupan akhirat. Mari kita senantiasa menciptakan suasana Kerajaan Sorga di tengah dunia dengan menginventasikan atau menabung banyak kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Sehingga pada saat nanti, kita sungguh merasakan Kerajaan Sorga yang tidak lagi bersifat temporal tetapi sungguh-sungguh berada dalam keabadian. ***