Senin, 15 Agustus 2022

Hidup Dalam Kerajaan Sorga

                                                                        Mat 13:44-46

 

Seorang ibu pernah bertanya, apa itu Kerajaan Sorga. Dan apakah sesudah mati baru orang mengalami Kerajaana Sorga itu. Secara sederhana saya menjelaskan bahwa Kerajaan Sorga adalah suatu keadaan atau situasi di mana Allah sungguh meraja dan memerintah atasnya. Kerajaan Sorga itu memang akan mengalami kepenuhannya saat orang “beralih dari dunia ini”. Tetapi bukan berarti orang tidak mengalami Kerajaan Sorga saat ia masih hidup di dunia. Kerajaan sorga itu ada di tengah dunia, bahkan dalam diri manusia sendiri, Kerajaan Sorga itu bisa menyata. Walaupun sifatnya temporer atau sementara. Kebanyakan orang memang belum menyadari arti Kerajaan Sorga. Kemudian soal keberadaan Kerajaan Sorga, lebih banyak orang memahaminya sebagai suatu situasi yang akan diperoleh saat manusia sudah meninggalkan dunia. Pertanyaan paling fundamental adalah seperti apa model Kerajaan Sorga itu. Atau apa indikasinya atau tanda-tanda yang menggambarkan bahwa Kerajaan Sorga itu sungguh ada.

 

Karena Kerajaan Sorga adalah Allah yang sungguh hadir dan meraja maka orang akan mengalami situasi hidup yang membahagiakan, aman, damai, penuh sukacita dan kegembiraan. Situasi-situasi ini sudah dimulai pada saat ini, ketika manusia masih merasakan napas kehidupan di atas dunia. Walaupun memang ada pergumulan, pergulatan, dan keterpurukan dalam hidup, namun ketika manusia bisa menghadapinya dengan tenang dan bisa menemukan jalan keluar yang baik, itu juga menjadi bagian dari tanda Kerajaan Sorga menyata dalam hidup manusia. Dalam diri manusia Kerajaan Sorga juga bisa nampak, Ketika manusia memperlakukan diri dan hidupnya sebagai sarana untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, di situ juga cahaya Kerajaan Sorga akan muncul di tengah dunia. Jadi Kerajaan Sorga bukan hanya bersifat eskatologis (masa depan), saat manusia kembali ke haribaan Tuhan. Namun sudah, sedang, dan akan terjadi secara nyata dalam hidup manusia.

 

Kerajaan Sorga menjadi wacana yang sangat menarik. Sehingga ketika memaparkannya, Yesus sampai menggunakan dua perumpamaan. Pertama, Kerajaan Sorga yang dianalogikan sebagai harta yang terpendam di ladang. Harta itu kemudian ditemukan orang, lalu ditanamnya lagi. Barulah kemudian, ia menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan ladang beserta harta yang terpendam di dalamnya. Memang dari sisi kehidupan sosial budaya orang Israel pada saat itu, menyimpan harta di dalam tanah merupakan suatu hal yang lazim. Situasi kehidupan yang seringkali tidak aman, menuntun orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pilihan untuk menyembunyikan harta dalam tanah merupakan pilihan yang terbaik pada saa itu. Yang menjadi persoalan apabila si pemilik tanah sudah lupa atau meninggal sehingga hartanya tetap tertanam di dalam tanah. Orang yang menemukannya tidak serta merta membawanya pulang ke rumah. Karena hukum Yahudi melarangnya. Kalau hendak mengambil dan memiliki harta tersebut, orang harus membeli ladang itu dahulu.

 

Kedua, Kerajaan Sorga itu dianalogikan sebagai mutiara yang indah. Lagi-lagi berawal dari kebiasaan orang Israel yang suka mengoleksi mutiara. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan mutiara tersebut. Termasuk dengan menjual seluruh harta yang dimilikinya. Tidak peduli bahwa hartanya akan habis. Asalkan mereka merasa puas dan senang karena sudah memiliki mutiara yang didambakan. Menarik sekalih. Dari dua perumpamaan Yesus, yang membeberkan tentang Kerajaan Sorga, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kerajaan Sorga itu tidak hanya indah, tetapi mempunyai harga yang sangat mahal. Tidak mudah untuk memperolehnya. Orang harus berjuang dan berjibaku. Tidak setengah-setengah. Harus total dan fokus.

 

Dalam realitas kehidupan duniawi, Kerajaan Sorga menunjuk pada pelbagai aspek yang menjadi fokus dan lokus kita. Entah itu menyangkut kehidupan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, relasi sosial dengan sesama, dan sebagainya. Ada hal yang tentu saja menjadi fokus kita masing-masing, tetapi tetap menjadi bagian integral (tidak terpisahkan) dengan keimanan kita akan Tuhan dan segala ajaran-Nya yang menjadi kompas kehidupan. Dalam menata kehidupan keluarga, ada garis komando yang sama-sama kita ikuti dalam status sebagai suami, istri dan anak. Ada sikap saling menghargai, menghormati, memahami satu sama lain sehingga tercipta nuansa kehidupan keluarga yang bahagia. Dalam mengelola pekerjaan yang berdampak pada kehidupan ekonomi pribadi dan keluarga, perlu adanya sikap total dan kerja keras. Tidak malas dan tidak berorientasi pada sikap hedonis atau konsumtif semata. Perlu ada pemahaman bahwa pekerjaan yang kita miliki adalah sebuah amanah suci dari Tuhan. Berapa pun hasil yang kita terima, pasti akan membawa nilai yang sangat berarti bagi pribadi dan keluarga.

 

Dalam membangun relasi dengan sesama, sikap rendah hati, saling menerima apa adanya, saling menghargai, saling menolong, menjadi deretan hal-hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk menciptakan suasana hidup yang menyenangkan dan membawa kedamaian. Inilah beberapa contoh yang hendak menggambarkan bahwa Kerajaa Sorga itu sungguh ada dan menyata dalam kehidupan kita di tengah dunia. Namun untuk memperolehnya, kita harus “menjual” apa yang kita miliki. Kata menjual dalam konteks ini berarti melepaskan. Kita harus berani melepaskan, memotong, dan menghilangkan sikap-sikap destruktif (negatif) yang menjadi penghalang bagi terciptanya Kerajaan Sorga di tengah dunia. Sikap destruktif itu seperti sikap ego (mementingkan diri), sombong, apatis, merasa diri paling benar dan hebat, sikap malas, tidak disiplin, sikap hedonis (mengutamakan kenikmatan duniawi), dan sebagainya.

 

 Kerajaan Sorga yang kita alami di dunia sejatinya mengungkapkan kehidupan Kerajaan Sorga yang paripurna yakni saat nanti di dalam kehidupan akhirat. Mari kita senantiasa menciptakan suasana Kerajaan Sorga di tengah dunia dengan menginventasikan atau menabung banyak kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Sehingga pada saat nanti, kita sungguh merasakan Kerajaan Sorga yang tidak lagi bersifat temporal tetapi sungguh-sungguh berada dalam keabadian. ***

Rabu, 03 Agustus 2022

Menjadi Pribadi Yang Matang Dalam Iman

                                                                Mat 13:1-9

 

Ada seorang sahabat pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia mengatakan bahwa dalam melakukan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) di tempat kerja, selalu berusaha meresapi dan melaksanakan kode etik yang termaktub dalam lima nilai budaya kerja. Lima nilai budaya kerja itu yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Integritas berkaitan dengan menjaga keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Profesionalitas memiliki makna bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Inovasi berhubungan dengan kegiatan menyempurnakan sesuatu hal yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Tanggung jawab berarti bekerja secara tuntas dan konsekuen. Sedangkan keteladanan menjadi nilai pamungkas dari empat nilai yang lain. Setiap orang harus menjadi contoh yang baik bagi orang lain dengan mengimplementasikan empat nilai di atas.

 

Kembali ke cerita sahabat saya. Tidak hanya memahami dan menerapkan lima nilai budaya kerja dalam Tupoksinya sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Dalam membangun relasi dengan sesama rekan kerja, ia juga berusaha selalu baik, ramah, dan peduli pada mereka. Setiap hari ia akan menerapkan 3S: Senyum, Sapa dan Salam kepada semua orang di tempat kerja. Ia tidak berpikir negatif tentang orang lain. Ia juga menaburkan sikap, tutur kata, dan perilaku yang baik. Namun seringkali ia menerima balasan yang menyakitkan. Ada segelintir rekannya yang masih saja menaruh sikap apatis, prasangka dan sentimen (iri hati) kepadanya. Menyikapi realitas negatif ini, sang sahabat memilih sikap diam dan tenang. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Ia senantiasa membangun pikiran-pikiran yang konstruktif dalam dirinya. Ia hanya menghibur hatinya dengan berpikir bahwa mereka yang membenci atau tidak suka kepada dirinya adalah tipe orang yang tidak memiliki kemampuan atau kompetensi.

 

Dalam bacaan Injil (Mat 13:1-9), Yesus membeberkan sejumlah tantangan atau hambatan kepada para rasul dan semua orang yang mengikuti-Nya. Tentu saja, tidak hanya kepada mereka. Kepada kita sebagai orang Katolik, tantangan atau hambatan itu acapkali menyasar dan menyerang pribadi kita. Tantangan atau hambatan itu diungkapkan secara simbolik dengan tiga media tumbuh kembang benih yang kurang baik. Media pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak berduri. Benih itu mewakili Sabda Allah. Sementara media, tempat jatuh benih merupakan setiap pribadi manusia yang menerima Sabda Allah. Memang benih itu sempat jatuh dan tumbuh. Namun pelbagai tantangan seperti tipisnya tanah, diterpa sinar matahari, dihimpit semak berduri, bahkan dimakan burung, membuat benih tidak berdaya. Ia hilang dan mati binasa.

 

Model atau bentuk tantangan dengan aneka karakteristiknya, menjadi faktor utama yang menjauhkan manusia dari firman Allah. Tantangan dan hambatan diklasifikasikan dalam dua jenis. Tantangan dari dalam dan tantangan dari luar. Tantangan dari dalam meliputi sikap rasio yang berlebihan sehingga membuat manusia sulit percaya dengan hal-hal di luar logika. Misalnya tidak percaya kepada Tuhan, karena orang merasa tidak pernah melihat dan merasakan efek Tuhan dalam hidupnya. Rasio memang dibutuhkan untuk memverifikasi pelbagai kenyataan atau realitas. Namun kalau tidak diimbangi dengan kekuatan yang lain maka rasio akan berjalan timpang. Tantangan berikutnya adalah sikap ego atau mementingkan diri sendiri. Merasa diri paling hebat dan benar. Selanjutnya sikap malas dan apatis. Orang sudah tidak mau peduli lagi dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan rohani. Tantangan lain dari dalam yang bisa disebut adalah sikap hedonis dan materialistis. Gaya hidup instan, pesta pora, dan sikap konsumtif (mengeluarkan uang melebihi pemasukan atau pendapatan) seakan menjadi agama baru bagi manusia. Tuhan bukan menjadi hal utama atau prioritas dalam hidup. Orang lebih men-Tuhan-kan hal-hal duniawi, Sehingga Tuhan yang diyakini dalam agama menjadi hilang. Efek domino yang ditimbulkan kemudian adalah orang-orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya. Orang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Orang gampang memandang rendah sesamanya. Orang mudah memanfaatkan sesamanya untuk mendapatkan keuntungan. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh agama otomatis menjadi hilang.

 

Tantangan dari luar dapat dideskripsikan sebagai berbagai gangguan atau hambatan yang datang dari luar diri manusia. Misalnya orang yang menjadi korban penghinaan dan penindasan lewat kata-kata barbar (kasar) dan tidak etis. Tidak cukup dengan kata-kata, orang juga bisa menjadi korban dari tindakan main hakim sendiri yang dilakukan sesamanya. Penindasan atau penghinaan atas nama agama juga seringkali terjadi. Orang merasa agama atau keyakinannya lebih benar kemudian dijadikan alasan untuk mendiskreditkan orang dan agama lain. Penindasan atas nama agama kerapkali terjadi bukan secara fisik. Justru yang lebih menusuk tajam adalah penindasan secara verbal. Melalui kata-kata yang diungkapkan baik secara langsung atau pun lewat media sosial, orang merasa tersakiti karena hal-hal yang menjadi prinsip dalam hidupnya diintervensi secara tidak adil. Sejumlah tantangan atau hambatan di atas menjadi kenyataan atau realitas yang dihadapi oleh dunia masa kini. Terutama kita sebagai orang Katolik, tantangan dan hambatan demikian terasa tidak pernah berakhir. Malahan semakin kuat getarannya. Tantangan itu begitu mengancam dan bisa menggerus hidup keimanan kita. Dan Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti kehadiran tantangan dan hambatan itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 13:9). Allah lewat sabda Yesus, sudah memperingatkan agar kita bersikap hati-hati terhadap pelbagai tantangan dan hambatan.

 

Namun sebagai orang Katolik, kita percaya Tuhan akan memberikan berkat-Nya. Menghadapi tantangan dari dalam diri, tawaran akan sikap tobat senantiasa dicurahkan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah berhenti menawarkan rahmat keselamatan kepada umat manusia. Walaupun umat manusia juga tidak pernah berhenti bersikap jahat dan tidak setia kepada-Nya. Kita senantiasa diarahkan oleh Tuhan untuk mematangkan iman. Salah satunya dengan belajar dari kesalahan untuk memperbaiki diri dan menjadi semakin baik. Menyikapi tantangan dari luar diri, Tuhan memang tidak menghilangkan tantangan atau hambatan itu. Ia hanya memberi rahmat kekuatan agar kita semakin kuat dan matang menghadapinya. Kita juga tidak akan mudah putus asa dan kehilangan harapan.

 

Sejatinya tantangan atau hambatan yang dihadapi semakin mematangkan hidup iman kekatolikan kita. Terutama dalam menjalankan Tupoksi di rumah besar ini (Rumah Sakit Bukit Lewoleba). Kita tetap bekerja dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki di unit kerja masing-masing dengan menghayati lima nilai budaya kerja; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Kita juga terus menerapkan budaya 3S, senyum, sapa, dan salam, kepada siapa saja, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan perhatian dari kita. Bagi sesama saudara yang sementara bergumul dengan pengalaman sakit di ruang-ruang pasien; entah ruang rawat nginap atau rawat jalan, jangan merasa cemas, panik, dan putus asa. Pengalaman sakit merupakan sebuah pengalaman iman. Dengannya kita semakin dikuatkan dalam iman dan tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan. Yakinlah, tidak ada yang mustahil dalam kemuliaan nama-Nya. Karena Ia akan membuka jalan kebaikan di tengah ketidakbaikan yang sementara kita alami. Mari ciptakan pribadi yang matang di dalam setiap tantangan atau hambatan hidup yang kita alami. Sehingga kita bisa menjadikan pribadi kita sebagai media tumbuh kembang firman Tuhan yang akan menghasilkan buah berlimpah.