Rabu, 03 Agustus 2022

Menjadi Pribadi Yang Matang Dalam Iman

                                                                Mat 13:1-9

 

Ada seorang sahabat pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia mengatakan bahwa dalam melakukan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) di tempat kerja, selalu berusaha meresapi dan melaksanakan kode etik yang termaktub dalam lima nilai budaya kerja. Lima nilai budaya kerja itu yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Integritas berkaitan dengan menjaga keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Profesionalitas memiliki makna bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Inovasi berhubungan dengan kegiatan menyempurnakan sesuatu hal yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Tanggung jawab berarti bekerja secara tuntas dan konsekuen. Sedangkan keteladanan menjadi nilai pamungkas dari empat nilai yang lain. Setiap orang harus menjadi contoh yang baik bagi orang lain dengan mengimplementasikan empat nilai di atas.

 

Kembali ke cerita sahabat saya. Tidak hanya memahami dan menerapkan lima nilai budaya kerja dalam Tupoksinya sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Dalam membangun relasi dengan sesama rekan kerja, ia juga berusaha selalu baik, ramah, dan peduli pada mereka. Setiap hari ia akan menerapkan 3S: Senyum, Sapa dan Salam kepada semua orang di tempat kerja. Ia tidak berpikir negatif tentang orang lain. Ia juga menaburkan sikap, tutur kata, dan perilaku yang baik. Namun seringkali ia menerima balasan yang menyakitkan. Ada segelintir rekannya yang masih saja menaruh sikap apatis, prasangka dan sentimen (iri hati) kepadanya. Menyikapi realitas negatif ini, sang sahabat memilih sikap diam dan tenang. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Ia senantiasa membangun pikiran-pikiran yang konstruktif dalam dirinya. Ia hanya menghibur hatinya dengan berpikir bahwa mereka yang membenci atau tidak suka kepada dirinya adalah tipe orang yang tidak memiliki kemampuan atau kompetensi.

 

Dalam bacaan Injil (Mat 13:1-9), Yesus membeberkan sejumlah tantangan atau hambatan kepada para rasul dan semua orang yang mengikuti-Nya. Tentu saja, tidak hanya kepada mereka. Kepada kita sebagai orang Katolik, tantangan atau hambatan itu acapkali menyasar dan menyerang pribadi kita. Tantangan atau hambatan itu diungkapkan secara simbolik dengan tiga media tumbuh kembang benih yang kurang baik. Media pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak berduri. Benih itu mewakili Sabda Allah. Sementara media, tempat jatuh benih merupakan setiap pribadi manusia yang menerima Sabda Allah. Memang benih itu sempat jatuh dan tumbuh. Namun pelbagai tantangan seperti tipisnya tanah, diterpa sinar matahari, dihimpit semak berduri, bahkan dimakan burung, membuat benih tidak berdaya. Ia hilang dan mati binasa.

 

Model atau bentuk tantangan dengan aneka karakteristiknya, menjadi faktor utama yang menjauhkan manusia dari firman Allah. Tantangan dan hambatan diklasifikasikan dalam dua jenis. Tantangan dari dalam dan tantangan dari luar. Tantangan dari dalam meliputi sikap rasio yang berlebihan sehingga membuat manusia sulit percaya dengan hal-hal di luar logika. Misalnya tidak percaya kepada Tuhan, karena orang merasa tidak pernah melihat dan merasakan efek Tuhan dalam hidupnya. Rasio memang dibutuhkan untuk memverifikasi pelbagai kenyataan atau realitas. Namun kalau tidak diimbangi dengan kekuatan yang lain maka rasio akan berjalan timpang. Tantangan berikutnya adalah sikap ego atau mementingkan diri sendiri. Merasa diri paling hebat dan benar. Selanjutnya sikap malas dan apatis. Orang sudah tidak mau peduli lagi dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan rohani. Tantangan lain dari dalam yang bisa disebut adalah sikap hedonis dan materialistis. Gaya hidup instan, pesta pora, dan sikap konsumtif (mengeluarkan uang melebihi pemasukan atau pendapatan) seakan menjadi agama baru bagi manusia. Tuhan bukan menjadi hal utama atau prioritas dalam hidup. Orang lebih men-Tuhan-kan hal-hal duniawi, Sehingga Tuhan yang diyakini dalam agama menjadi hilang. Efek domino yang ditimbulkan kemudian adalah orang-orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya. Orang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Orang gampang memandang rendah sesamanya. Orang mudah memanfaatkan sesamanya untuk mendapatkan keuntungan. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh agama otomatis menjadi hilang.

 

Tantangan dari luar dapat dideskripsikan sebagai berbagai gangguan atau hambatan yang datang dari luar diri manusia. Misalnya orang yang menjadi korban penghinaan dan penindasan lewat kata-kata barbar (kasar) dan tidak etis. Tidak cukup dengan kata-kata, orang juga bisa menjadi korban dari tindakan main hakim sendiri yang dilakukan sesamanya. Penindasan atau penghinaan atas nama agama juga seringkali terjadi. Orang merasa agama atau keyakinannya lebih benar kemudian dijadikan alasan untuk mendiskreditkan orang dan agama lain. Penindasan atas nama agama kerapkali terjadi bukan secara fisik. Justru yang lebih menusuk tajam adalah penindasan secara verbal. Melalui kata-kata yang diungkapkan baik secara langsung atau pun lewat media sosial, orang merasa tersakiti karena hal-hal yang menjadi prinsip dalam hidupnya diintervensi secara tidak adil. Sejumlah tantangan atau hambatan di atas menjadi kenyataan atau realitas yang dihadapi oleh dunia masa kini. Terutama kita sebagai orang Katolik, tantangan dan hambatan demikian terasa tidak pernah berakhir. Malahan semakin kuat getarannya. Tantangan itu begitu mengancam dan bisa menggerus hidup keimanan kita. Dan Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti kehadiran tantangan dan hambatan itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 13:9). Allah lewat sabda Yesus, sudah memperingatkan agar kita bersikap hati-hati terhadap pelbagai tantangan dan hambatan.

 

Namun sebagai orang Katolik, kita percaya Tuhan akan memberikan berkat-Nya. Menghadapi tantangan dari dalam diri, tawaran akan sikap tobat senantiasa dicurahkan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah berhenti menawarkan rahmat keselamatan kepada umat manusia. Walaupun umat manusia juga tidak pernah berhenti bersikap jahat dan tidak setia kepada-Nya. Kita senantiasa diarahkan oleh Tuhan untuk mematangkan iman. Salah satunya dengan belajar dari kesalahan untuk memperbaiki diri dan menjadi semakin baik. Menyikapi tantangan dari luar diri, Tuhan memang tidak menghilangkan tantangan atau hambatan itu. Ia hanya memberi rahmat kekuatan agar kita semakin kuat dan matang menghadapinya. Kita juga tidak akan mudah putus asa dan kehilangan harapan.

 

Sejatinya tantangan atau hambatan yang dihadapi semakin mematangkan hidup iman kekatolikan kita. Terutama dalam menjalankan Tupoksi di rumah besar ini (Rumah Sakit Bukit Lewoleba). Kita tetap bekerja dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki di unit kerja masing-masing dengan menghayati lima nilai budaya kerja; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Kita juga terus menerapkan budaya 3S, senyum, sapa, dan salam, kepada siapa saja, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan perhatian dari kita. Bagi sesama saudara yang sementara bergumul dengan pengalaman sakit di ruang-ruang pasien; entah ruang rawat nginap atau rawat jalan, jangan merasa cemas, panik, dan putus asa. Pengalaman sakit merupakan sebuah pengalaman iman. Dengannya kita semakin dikuatkan dalam iman dan tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan. Yakinlah, tidak ada yang mustahil dalam kemuliaan nama-Nya. Karena Ia akan membuka jalan kebaikan di tengah ketidakbaikan yang sementara kita alami. Mari ciptakan pribadi yang matang di dalam setiap tantangan atau hambatan hidup yang kita alami. Sehingga kita bisa menjadikan pribadi kita sebagai media tumbuh kembang firman Tuhan yang akan menghasilkan buah berlimpah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar