Mat 13:1-9
Ada seorang
sahabat pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia mengatakan bahwa dalam
melakukan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) di tempat kerja, selalu berusaha
meresapi dan melaksanakan kode etik yang termaktub dalam lima nilai budaya
kerja. Lima nilai budaya kerja itu yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung
jawab dan keteladanan. Integritas berkaitan dengan menjaga keselarasan antara
hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Profesionalitas
memiliki makna bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil
terbaik. Inovasi berhubungan dengan kegiatan menyempurnakan sesuatu hal yang
sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Tanggung jawab berarti
bekerja secara tuntas dan konsekuen. Sedangkan keteladanan menjadi nilai
pamungkas dari empat nilai yang lain. Setiap orang harus menjadi contoh yang
baik bagi orang lain dengan mengimplementasikan empat nilai di atas.
Kembali ke cerita
sahabat saya. Tidak hanya memahami dan menerapkan lima nilai budaya kerja dalam
Tupoksinya sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Dalam membangun relasi
dengan sesama rekan kerja, ia juga berusaha selalu baik, ramah, dan peduli pada
mereka. Setiap hari ia akan menerapkan 3S: Senyum, Sapa dan Salam kepada semua
orang di tempat kerja. Ia tidak berpikir negatif tentang orang lain. Ia juga
menaburkan sikap, tutur kata, dan perilaku yang baik. Namun seringkali ia
menerima balasan yang menyakitkan. Ada segelintir rekannya yang masih saja
menaruh sikap apatis, prasangka dan sentimen (iri hati) kepadanya. Menyikapi
realitas negatif ini, sang sahabat memilih sikap diam dan tenang. Ia tetap
fokus dengan pekerjaannya. Ia senantiasa membangun pikiran-pikiran yang
konstruktif dalam dirinya. Ia hanya menghibur hatinya dengan berpikir bahwa
mereka yang membenci atau tidak suka kepada dirinya adalah tipe orang yang
tidak memiliki kemampuan atau kompetensi.
Dalam bacaan
Injil (Mat 13:1-9), Yesus membeberkan sejumlah tantangan atau hambatan kepada
para rasul dan semua orang yang mengikuti-Nya. Tentu saja, tidak hanya kepada
mereka. Kepada kita sebagai orang Katolik, tantangan atau hambatan itu acapkali
menyasar dan menyerang pribadi kita. Tantangan atau hambatan itu diungkapkan
secara simbolik dengan tiga media tumbuh kembang benih yang kurang baik. Media
pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak berduri. Benih itu mewakili Sabda
Allah. Sementara media, tempat jatuh benih merupakan setiap pribadi manusia
yang menerima Sabda Allah. Memang benih itu sempat jatuh dan tumbuh. Namun
pelbagai tantangan seperti tipisnya tanah, diterpa sinar matahari, dihimpit semak
berduri, bahkan dimakan burung, membuat benih tidak berdaya. Ia hilang dan mati
binasa.
Model atau bentuk
tantangan dengan aneka karakteristiknya, menjadi faktor utama yang menjauhkan
manusia dari firman Allah. Tantangan dan hambatan diklasifikasikan dalam dua
jenis. Tantangan dari dalam dan tantangan dari luar. Tantangan dari dalam
meliputi sikap rasio yang berlebihan sehingga membuat manusia sulit percaya
dengan hal-hal di luar logika. Misalnya tidak percaya kepada Tuhan, karena
orang merasa tidak pernah melihat dan merasakan efek Tuhan dalam hidupnya.
Rasio memang dibutuhkan untuk memverifikasi pelbagai kenyataan atau realitas.
Namun kalau tidak diimbangi dengan kekuatan yang lain maka rasio akan berjalan
timpang. Tantangan berikutnya adalah sikap ego atau mementingkan diri sendiri.
Merasa diri paling hebat dan benar. Selanjutnya sikap malas dan apatis. Orang
sudah tidak mau peduli lagi dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan rohani.
Tantangan lain dari dalam yang bisa disebut adalah sikap hedonis dan
materialistis. Gaya hidup instan, pesta pora, dan sikap konsumtif (mengeluarkan
uang melebihi pemasukan atau pendapatan) seakan menjadi agama baru bagi
manusia. Tuhan bukan menjadi hal utama atau prioritas dalam hidup. Orang lebih
men-Tuhan-kan hal-hal duniawi, Sehingga Tuhan yang diyakini dalam agama menjadi
hilang. Efek domino yang ditimbulkan kemudian adalah orang-orang menjadi tidak
peduli dengan sesamanya. Orang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Orang
gampang memandang rendah sesamanya. Orang mudah memanfaatkan sesamanya untuk
mendapatkan keuntungan. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh
agama otomatis menjadi hilang.
Tantangan dari
luar dapat dideskripsikan sebagai berbagai gangguan atau hambatan yang datang
dari luar diri manusia. Misalnya orang yang menjadi korban penghinaan dan
penindasan lewat kata-kata barbar (kasar) dan tidak etis. Tidak cukup dengan
kata-kata, orang juga bisa menjadi korban dari tindakan main hakim sendiri yang
dilakukan sesamanya. Penindasan atau penghinaan atas nama agama juga seringkali
terjadi. Orang merasa agama atau keyakinannya lebih benar kemudian dijadikan
alasan untuk mendiskreditkan orang dan agama lain. Penindasan atas nama agama
kerapkali terjadi bukan secara fisik. Justru yang lebih menusuk tajam adalah
penindasan secara verbal. Melalui kata-kata yang diungkapkan baik secara
langsung atau pun lewat media sosial, orang merasa tersakiti karena hal-hal
yang menjadi prinsip dalam hidupnya diintervensi secara tidak adil. Sejumlah
tantangan atau hambatan di atas menjadi kenyataan atau realitas yang dihadapi
oleh dunia masa kini. Terutama kita sebagai orang Katolik, tantangan dan
hambatan demikian terasa tidak pernah berakhir. Malahan semakin kuat
getarannya. Tantangan itu begitu mengancam dan bisa menggerus hidup keimanan
kita. Dan Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti kehadiran tantangan dan hambatan
itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 13:9). Allah lewat sabda
Yesus, sudah memperingatkan agar kita bersikap hati-hati terhadap pelbagai tantangan
dan hambatan.
Namun sebagai
orang Katolik, kita percaya Tuhan akan memberikan berkat-Nya. Menghadapi
tantangan dari dalam diri, tawaran akan sikap tobat senantiasa dicurahkan oleh
Tuhan. Tuhan tidak pernah berhenti menawarkan rahmat keselamatan kepada umat
manusia. Walaupun umat manusia juga tidak pernah berhenti bersikap jahat dan
tidak setia kepada-Nya. Kita senantiasa diarahkan oleh Tuhan untuk mematangkan
iman. Salah satunya dengan belajar dari kesalahan untuk memperbaiki diri dan
menjadi semakin baik. Menyikapi tantangan dari luar diri, Tuhan memang tidak
menghilangkan tantangan atau hambatan itu. Ia hanya memberi rahmat kekuatan
agar kita semakin kuat dan matang menghadapinya. Kita juga tidak akan mudah
putus asa dan kehilangan harapan.
Sejatinya tantangan atau hambatan yang dihadapi semakin mematangkan hidup iman kekatolikan kita. Terutama dalam menjalankan Tupoksi di rumah besar ini (Rumah Sakit Bukit Lewoleba). Kita tetap bekerja dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki di unit kerja masing-masing dengan menghayati lima nilai budaya kerja; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Kita juga terus menerapkan budaya 3S, senyum, sapa, dan salam, kepada siapa saja, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan perhatian dari kita. Bagi sesama saudara yang sementara bergumul dengan pengalaman sakit di ruang-ruang pasien; entah ruang rawat nginap atau rawat jalan, jangan merasa cemas, panik, dan putus asa. Pengalaman sakit merupakan sebuah pengalaman iman. Dengannya kita semakin dikuatkan dalam iman dan tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan. Yakinlah, tidak ada yang mustahil dalam kemuliaan nama-Nya. Karena Ia akan membuka jalan kebaikan di tengah ketidakbaikan yang sementara kita alami. Mari ciptakan pribadi yang matang di dalam setiap tantangan atau hambatan hidup yang kita alami. Sehingga kita bisa menjadikan pribadi kita sebagai media tumbuh kembang firman Tuhan yang akan menghasilkan buah berlimpah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar