Rabu, 30 Juni 2021

IMAN HARUS LAHIR DARI PERGUMULAN PRIBADI

MAT 16:13-19

 

Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan pesta St. Petrus dan Paulus Rasul. Sejak permulaan, Gereja merayakan Pesta Santo Petrus dan Paulus secara bersamaan karena keduanya merupakan tokoh penting dalam sejarah Gereja Katolik. Petrus adalah putra seorang nelayan dari kampung Betsaida di tepi danau Genasareth. Dia tidak berpendidikan karena pekerjaan pokoknya adalah nelayan, tetapi merupakan orang kepercayaan Yesus. Sementara itu, Paulus lahir di Tarsus dari keturunan Yahudi tetapi warga negara Romawi. Dia seorang terdidik dan belajar Kitab Suci pada Gamaliel. Sebagai seorang Farisi yang fanatik, dia selalu mengejar pengikut-pengikut Kristus dan menganiaya mereka. Dalam perjalanannya ke Damaskus, Yesus memanggilnya dan menjadi rasul bagi bangsa kafir. Baik Petrus maupun Paulus mengalami banyak sekali penderitaan, penganiayaan dan ancaman mati karena mengikuti Yesus Kristus. Keduanya mati sebagai martir karena iman akan Yesus Kristus. Pertanyaan reflektif bagi kita masing-masing: sejauhmana tanggapan imanku akan Yesus?

 

            Berbicara tentang arti sebuah kesetiaan, maka pada saat yang bersamaan kita wajib melakukan introspeksi diri terhadap pergumulan hidup iman kita secara pribadi. Mengapa? Karena iman itu bukan soal gosip atau apa kata orang dan iman pun tidak ada begitu saja meniadakan proses. Iman itu menyangkut hakekat hidup seseorang yang perlu dibangun dalam diri bukan berdasarkan cerita atau bahan gosip jalanan/murahan. Jika iman adalah hakikat hidup setiap orang maka jawaban iman itu harus lahir dari pergumulan hidup nyata kita.

            Injil yang baru saja kita dengar tadi dimana Yesus ingin mengetahui seberapa besar iman dan kepercayaan para murid-Nya kepada Dia sebagai Guru dan Tuhan. Maka Ia bertanya:”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Bagi Yesus, orang kebanyakan boleh saja berpendapat tentang siapakah Dia tetapi sebagai murid-Nya, Yesus ingin mengetahui seberapa jauh iman para murid tentang Dia. Pertanyaan Yesus ini penting agar kita sebagai murid-muridNya dapat mengukur kedalaman iman kita berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Gereja dan pergumulan pribadi dalam terang Sabda Tuhan. Iman memang mesti lahir dari pergumulan pribadi bukan berdasarkan “apa kata orang”. Para murid dituntut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Yesus, “siapakah Aku ini?”. Jawaban para murid adalah ukuran kedalaman iman mereka akan Yesus. Kebersamaan hidup para murid dengan Yesus bukanlah jaminan pasti bahwa pengenalan dan pengakuan akan diri Yesus dapat diketahui dengan pasti. Untuk menggali informasi tentang diri-Nya, Yesus menggunakan metode deduktif dimana pertanyaannya bersifat umum-khusus. (apa kata orang pada umumnya tentang Dia dan apa kata para murid-Nya tentang keberadaannya). Terlihat jelas dari jawaban-jawaban mereka ketika Yesus bertanya: “Siapakah Putra Manusia itu menurut pendapat orang?” Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan   Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban-jawaban tersebut mau menunjukkan kegagalan mereka dalam memahami pribadi Yesus, mereka seolah orang baru yang belum pernah menyaksikan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Yesus seolah menggiring para murid-Nya untuk mengetahui kedalaman iman para murid. Dia mengingkan jawaban yang jujur dari kedalaman hati mereka, bukan kata orang tentang diri-Nya. Oleh karena itu, ia mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik kepada murid-Nya bukan untuk mencobai mereka tetapi untuk mengetahui sejauh mana iman mereka akan Dia.Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”. Terhadap pertanyaan ini, Simon Petrus oleh dorongan Roh Kudus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Putera Allah yang hidup!” Jawaban jitu dari seorang rasul yang tidak berpendidikan namun memiliki refleksi iman yang mendalam. Kepada Petrus, Yesus memberikan kunci Kerajaan Surga kepadanya. Ternyata orang yang dianggap bodoh dan sederhana, mampu mengetahui rahasia dan misteri kerajaan surga.

 

            Iman dan kepercayaan kita kepada Yesus adalah faktor terpenting yang dituntut dari seseorang yang telah dibaptis dan yang telah dikukuhkan menjadi anggota Gereja dan anak-anak Allah. Sabda Tuhan hari ini mesti meneguhkan iman kita untuk selalu memberi jawaban atas iman kita dalam kesaksian hidup yang benar bahwa “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup”. Petrus berdasarkan dorongan Roh Kudus memberi jawaban yang tepat tentang siapakah Yesus. Jawaban Petrus ini harus menjadi jawaban kita masing-masing dalam pergumulan hidup setiap hari bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Jawaban ini akan membantu kita dalam menampilkan kemuridan kita sebagai pembawa hidup bagi sesama yang membutuhkan uluran kasih, jamahan tangan dan kemurahan hati kita di saat sesama kita meminta pertolongan dan bantuan kita. Kesempatan hari ini adalah kesempatan emas yang tak akan terulang kedua kalinya bagi kita untuk menebarkan kasih dan berkat bagi sesama yang membutuhkan senyum dan ketulusan hati kita dalam menolong mereka teristimewa bagi mereka yang sakit, miskin dan yang terpinggirkan.

 

            Bertepatan dengan pesta St. Petrus dan Paulus yang kita rayakan hari ini menginspirasi hidup iman kita agar lebih militan dalam memberikan kesaksian hidup yang lebih nyata dan aktual. St. Petrus dan Paulus mati sebagai martir karena iman mereka akan Yesus. Pilihan hidup mereka dalam mengikuti Yesus jauh lebih ekstrim, namun kita sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati di jaman ini, kemartiran tidak selalu berarti mengorbankan nyawa karena iman akan Kristus. Kemartiran dalam perspektif yang lebih luas berarti mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi demi menghayati nilai-nilai Injili. Semoga berkat doa kedua rasul agung kita hari ini, memotivasi kita sekalian untuk mengikuti Yesus secara konsekuen tanpa paksaan dan tekanan dari pihak mana pun.***BW***

Selasa, 22 Juni 2021

Menjadi Pohon Yang Baik

                                                                            Mat 7:15-20

Salah satu fenomena yang sering terjadi dan akan terus terjadi di tengah kehidupan kita adalah semakin maraknya orang berpindah keyakinan atau agama. Memang menganut agama atau kepercayaan tertentu adalah sebuah hak asasi yang dasariah. Tidak dapat diganggu gugat. Termasuk di dalamnya, orang bebas memilih untuk berpindah dan memeluk agama dan kepercayaan sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, dalam banyak kasus yang terjadi, ada orang Katolik yang berpindah keyakinannya karena ada kepentingan dan kompensasi yang didapatkan. Kalau misalnya, orang berpindah keyakinan karena alasan perkawinan, mau mengikuti keyakinan pasangannya, saya kira masih dalam taraf normal. Tidak ada masalah. Masih bisa diterima oleh akal sehat. Yang menjadi masalah dan tidak bisa diterima oleh publik adalah ketika orang mau berpindah keyakinan karena ada tawaran uang, materi, pekerjaan, jabatan, dan kemudahan atau fasilitas lain yang mentereng.

 

Dan kasus ini, walaupun masih sangat terselubung, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Paling sering terjadi. Ada segelintir orang atau kelompok yang berasal dari aliran keagamaan tertentu, yang getol mencari jemaat baru dengan cara-cara murahan dan sesat seperti ini. Mereka sangat jeli membaca situasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya, mereka membaca peluang ini. Dengan mudahnya mereka masuk dan memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan umat. Bantuan akan terus diberikan sehingga menyebabkan rasa simpati yang mendalam dari umat. Dalam situasi kebatinan umat seperti ini, orang-orang yang berasal dari kelompok atau aliran agama tertentu, mulai memainkan aksi mereka yang sebenarnya. Mereka menawarkan visi-misi aliran keagamaannya, dan mengajak umat lain untuk bergabung. Tanpa berpikir dua kali, umat kita pasti dengan senang hati mau bergabung. Yang ada dalam kepala umat adalah problem dan beban keluarga teratasi. Soal agama dan Tuhan, itu nomor dua. Toh, semua agama mengajarkan tentang Tuhan. Jadi sama saja, entah mau memeluk agama apa sesuai dengan selera, yang penting ia merasakan peningkatan dan kesejahteraan dalam hidupnya.

 

Ternyata jauh sebelumnya, Yesus sudah mewanti-wanti akan kedatangan para nabi palsu yang mengenakan jubah agama. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Model para nabi palsu ini tidak jauh beda dengan nabi yang asli. Kelihatan seperti asli, tetapi sesungguhnya tidak asli. Pernak-pernik dan atribut keagamaan yang dikenakan hanya sebatas tampilan. Tawaran kebaikan dan kenikmatan juga hanya sebagai modus untuk memuluskan tujuan yang ingin digapai. Mereka hadir di momen yang tepat. Di saat umat terlena akan pesona kebaikan dan tampilan fisik religius yang dimiliki. Melalui para pemimpin agama kala itulah, secara samar Yesus memberikan contoh, bagaimana mereka memperlakukan umat hanya demi meraup keuntungan secara pribadi dan kelompok. Umat hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk menaikan citra diri, mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan mendongkrak posisi tawar mereka secara politis di mata bangsa penjajah, Romawi.

 

Nabi-nabi palsu tersebut akan tetap hadir sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun mereka hadir di zaman yang berbeda dengan aneka modus, tetapi niat atau urgensinya tetap sama. Salah satu contohnya seperti yang digambarkan pada bagian awal di atas. Ada target untuk menambah atau menaikan populasi jemaat dengan cara-cara yang tidak fair. Mereka mengabaikan nilai yang paling utama yakni soal kemurnian dan panggilan hati untuk menjawab bisikan ilahi Tuhan. Secara social dan ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan. Mereka akan dikenal sebagai tokoh hebat minimal secara internal di dalam kelompok atau aliran mereka. Apresiasi terhadap kerja keras dan nyata juga pasti mereka dapatkan dalam bentuk uang dan materi yang lain.

 

Contoh lain yang bisa diangkat adalah munculnya para “nabi” dadakan pada musim politik. Baik musim pilpres untuk memilih presiden maupun pilkada untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati. Mereka adalah para politisi yang menampilkan diri seperti para nabi. Ada banyak orang baik dan suci yang mendatangi masyarakat secara pribadi dan kelompok untuk menawarkan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan hidup secara cuma-cuma. Mereka juga hadir dengan tangan tidak hampa. Ada banyak uang dan materi yang dibagi-bagikan demi mendapat simpati dan pilihan pada saat hari “H”. Sayang seribu sayang, ketika sudah memimpin atau berada pada posisi yang diingikannnya, ada kecenderungan yang sangat kuat untuk tidak lagi mendengarkan, memperhatikan, dan mewujudnyatakan apa yanga sudah dicanangkan untuk membawa perbaikan dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat. Orang-orang model ini, yang dikategorikan Yesus sebagai nabi-nabi palsu yang harus dihindari.

 

Yesus mengajarkan supaya kita harus menjadi pohon yang baik. Pohon yang baik bersumber dari pokok atau akar yang baik pula. Pohon yang baik bertumpu dan mengais sumber makanan yang bergizi dari pokok atau akar. Dan sang pokok yang menjadi sumber kehidupan kita adalah Tuhan sendiri. Tidak ada pokok lain yang kuat dan hebat seperti Dia. Dari Tuhanlah, kita menimba sumber energi yang menghidupkan dan menyegarkan agar bisa menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan. Contoh-contoh buah yang baik adalah kita mampu menolak segala tawaran yang menggiurkan untuk dapat berpindah kepada keyakinan atau kepercayaan tertentu yang sangat asing dalam pemahaman kita. Kita tidak boleh menggadaikan Tuhan yang kita imani seperti Yudas yang lebih mencintai uang dan barang. Kita juga mampu bersikap kritis terhadap orang-orang yang belum teruji dan terbukti baik rekam jejaknya. Orang-orang ini biasanya sangat suka menghamburkan materi dan berpura-pura baik untuk mendapatkan keuntungan secara social dan politik.

 

Kita bisa menjadi pohon yang baik dengan cara semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa dan mendengarkan firman-Nya. Dengan cara demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam setiap napas kehidupan. Kita tidak hanya memiliki iman yang kokoh kepada Tuhan. Kita juga mampu mendaratkan iman itu dalam setiap pengalaman, tugas, dan pengabdian dengan menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh Katolik. ***AKD***


Selasa, 08 Juni 2021

Spirit Kasih Yesus Dalam Hidup

                                                                    Mat 5: 17-19

 

Santa Teresa pernah berkata, “Kasih sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat memberi”. Bagi Santa Teresa, ungkapan ini bukan sekedar kata-kata simbolik. Tetapi sungguh ia hidupi dalam karya pelayanannya sebagai seorang biarawati di kota Kalkuta, India. Sudah begitu banyak orang kecil dan orang sakit yang merasakan sentuhan kasih dari Santa Teresa selama hidupnya. Tanpa memandang latar dan status, Santa Teresa membagikan kasihnya kepada semua orang. Bagi Santa Teresa, semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi. Karena kasih itu berasal dari Allah yang kita terima secara gratis, maka sejatinya semangat kasih itu harus dibagikan secara gratis dan tulus kepada semua makhluk. Spirit kasih itu lebih dari sekedar seperangkat peraturan atau tuntutan moral yang berlaku di tengah masyarakat. Ia harus keluar dari kejernihan dan kedalaman jiwa untuk memberi, dan tanpa mengharapkan balasan.

 

Kecaman Yesus kepada para elit agama yang menaruh prasangka kepada Diri-Nya hendak membuktikan bahwa Yesus tidak datang untuk mengurangi, apalagi mau meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus tidak hanya mau menggenapi apa yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Lebih dari itu, Yesus hendak memberi spirit kasih di dalam kitab-kitab itu. Spirit kasih menjadi substansi utama yang tidak boleh dianggap remeh dan dilupakan begitu saja. Dan disinilah letak persoalannya sehingga menimbulkan friksi dan konflik antara Yesus dan para pemimpin agama.

 

Sudah lama, bahkan jauh sebelum Yesus lahir, para elit agama kala itu begitu leluasa dan bebas memperlakukan hukum agama sebagai topeng memuluskan pelbagai kepentingan dan nafsu sesat mereka. Hukum agama bukan lagi didasari oleh semangat kasih. Hukum agama berdiri hanya sebagai seperangkat aturan yang kaku dan formal. Pelbagai aturan yang tertulis di dalamnya dipakai oleh para elit agama untuk memberi tekanan, tuntutan dan beban. Acapkali mereka berkoar-koar tentang hukum Taurat yang wajib ditaati oleh umat, namun mereka sendiri tidak pernah melakukannya. Banyak terjadi adalah hukum Taurat digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri. Dan lebih fatal lagi, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Para pemimpin agama lebih sibuk mengumpulkan pundi-pundi materi dan mencari prestise pribadi. Mereka telah melupakan atau bersikap apatis terhadap satu nilai yang lebih utama dalam hukum Taurat yakni nilai kasih.

 

Melihat realitas yang naif ini, Yesus tidak tinggal diam. Dengan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya, Ia menentang dan mengecam keras perilaku para pemimpin agama yang memperlakukan hukum Taurat tidak sesuai dengan kebenaran utama yang tertulis di dalamnya. Sungguh tidak masuk akal dan tidak adil apabila hukum Taurat itu bekerja tanpa roh yang menghidupinya. Justru yang terjadi adalah ia akan kehilangan arah dan menindas banyak orang. Oleh karena itu, dengan melawan arus, Yesus dengan sangat gigih membongkar sistem yang mapan dan mental feodal yang dimiliki oleh para pemimpin agama. Yesus mau supaya hukum Taurat dikembalikan kepada porsinya yang benar. Hukum Taurat harus dilandasi oleh spirit kasih yang membebaskan sehingga sungguh membawa kedamaian, keadilan, dan keselamatan dalam hidup umat. Terutama bagi mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil. Orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh para pemimpinnya.

 

Spirit kasih dalam hidup yang digaungkan oleh Yesus, ternyata masih dihidupi oleh sebagian besar orang beriman di masa kini. Lihat saja, di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh sesama saudara yang terkena dampak bencana alam di wilayah kita, ada begitu banyak bantuan yang datang. Entah itu secara pribadi maupun kelompok, mereka dengan tulus memberi sesuatu dari kepunyaannya untuk membantu sesama saudara yang sementara mengalami kesusahan dan penderitaan. Saya berkeyakinan bahwa, mereka yang memberikan donasi dalam wujud apa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun, selain kepentingan untuk meringankan duka dan nestapa yang sementara dihadapi para korban. Kita semua menyaksikan dengan terang benderang, ada banyak saudara/i kita yang sungguh mengalami sentuhan kasih. Walaupun memang masih ada kekurangan dan kelemahan yang mestinya dievaluasi dan diperbaiki agar perhatian dan bantuan itu betul-betul merata dan sesuai dengan prinsip keadilan.

 

Gugatan Yesus akan perilaku para pemimpin agama yang meniadakan spirit kasih dalam hukum Taurat menjadi gugatan bagi diri kita masing-masing. Bagaimana posisi kita secara individu memahami spirit kasih Yesus dan mengimplementasikannya dalam hidup di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan di tempat kerja. Mungkin semua dari kita sudah memahami apa itu spirit kasih yang telah diwartakan oleh Yesus. Tetapi, masih banyak dari kita yang belum sungguh-sungguh menghidupi nilai kasih dalam hidup sehari-hari. Kita memang seringkali sudah mempraktekkan berbagai wujud kasih, namun belum dilandasi oleh spirit kasih Yesus yang sejati. Masih ada banyak pertimbangan untung ruginya. Banyak kalkulasi baik secara ekonomi, sosial, maupun politik turut berperan di dalamnya. Inilah tantangan-tantangan yang menghambat kita untuk mewujudnyatakan spirit kasih Yesus yang sejati dalam hidup.

 

Hari ini Yesus mencerahkan dan mengarahkan pribadi kita agar mau menghidupi spirit kasih yang sejati itu secara sungguh-sungguh dalam hidup. Kita perlu membebaskan diri dari pelbagai tantangan dan hambatan yang membatasi kita untuk memberi dan membagikan kasih yang sejati bagi mereka yang berkekurangan dan menderita. Tantangan dan hambatan yang terbesar itu sebenarnya muncul dari dalam diri sendiri seperti rasa gengsi, pemberian dengan syarat tertentu, dan pertimbangan secara matematis yang bisa menguntungkan kita secara ekonomi, sosial, dan politik. Mari kita menyadari diri pada hari ini untuk membumikan spirit kasih sejati dari Yesus bagi siapa saja, terutama bagi sesama yang sementara sakit. Karena “siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19). Amin. ***AKD***