Mat 7:15-20
Salah satu
fenomena yang sering terjadi dan akan terus terjadi di tengah kehidupan kita
adalah semakin maraknya orang berpindah keyakinan atau agama. Memang menganut
agama atau kepercayaan tertentu adalah sebuah hak asasi yang dasariah. Tidak
dapat diganggu gugat. Termasuk di dalamnya, orang bebas memilih untuk berpindah
dan memeluk agama dan kepercayaan sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, dalam
banyak kasus yang terjadi, ada orang Katolik yang berpindah keyakinannya karena
ada kepentingan dan kompensasi yang didapatkan. Kalau misalnya, orang berpindah
keyakinan karena alasan perkawinan, mau mengikuti keyakinan pasangannya, saya
kira masih dalam taraf normal. Tidak ada masalah. Masih bisa diterima oleh akal
sehat. Yang menjadi masalah dan tidak bisa diterima oleh publik adalah ketika
orang mau berpindah keyakinan karena ada tawaran uang, materi, pekerjaan,
jabatan, dan kemudahan atau fasilitas lain yang mentereng.
Dan kasus ini, walaupun masih sangat terselubung,
tetapi sudah menjadi rahasia umum. Paling sering terjadi. Ada segelintir orang
atau kelompok yang berasal dari aliran keagamaan tertentu, yang getol mencari
jemaat baru dengan cara-cara murahan dan sesat seperti ini. Mereka sangat jeli
membaca situasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Ketika
masyarakat mengalami kesulitan, kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya,
mereka membaca peluang ini. Dengan mudahnya mereka masuk dan memberi bantuan
sesuai dengan kebutuhan umat. Bantuan akan terus diberikan sehingga menyebabkan
rasa simpati yang mendalam dari umat. Dalam situasi kebatinan umat seperti ini,
orang-orang yang berasal dari kelompok atau aliran agama tertentu, mulai
memainkan aksi mereka yang sebenarnya. Mereka menawarkan visi-misi aliran
keagamaannya, dan mengajak umat lain untuk bergabung. Tanpa berpikir dua kali,
umat kita pasti dengan senang hati mau bergabung. Yang ada dalam kepala umat
adalah problem dan beban keluarga teratasi. Soal agama dan Tuhan, itu nomor
dua. Toh, semua agama mengajarkan tentang Tuhan. Jadi sama saja, entah mau
memeluk agama apa sesuai dengan selera, yang penting ia merasakan peningkatan
dan kesejahteraan dalam hidupnya.
Ternyata jauh sebelumnya, Yesus sudah mewanti-wanti
akan kedatangan para nabi palsu yang mengenakan jubah agama. “Waspadalah
terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba,
tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Model para
nabi palsu ini tidak jauh beda dengan nabi yang asli. Kelihatan seperti asli,
tetapi sesungguhnya tidak asli. Pernak-pernik dan atribut keagamaan yang
dikenakan hanya sebatas tampilan. Tawaran kebaikan dan kenikmatan juga hanya
sebagai modus untuk memuluskan tujuan yang ingin digapai. Mereka hadir di momen
yang tepat. Di saat umat terlena akan pesona kebaikan dan tampilan fisik
religius yang dimiliki. Melalui para pemimpin agama kala itulah, secara samar
Yesus memberikan contoh, bagaimana mereka memperlakukan umat hanya demi meraup
keuntungan secara pribadi dan kelompok. Umat hanya dimanfaatkan sebagai alat
untuk menaikan citra diri, mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan
mendongkrak posisi tawar mereka secara politis di mata bangsa penjajah, Romawi.
Nabi-nabi palsu tersebut akan tetap hadir sepanjang
sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun mereka hadir di zaman yang berbeda
dengan aneka modus, tetapi niat atau urgensinya tetap sama. Salah satu
contohnya seperti yang digambarkan pada bagian awal di atas. Ada target untuk
menambah atau menaikan populasi jemaat dengan cara-cara yang tidak fair. Mereka mengabaikan nilai yang
paling utama yakni soal kemurnian dan panggilan hati untuk menjawab bisikan
ilahi Tuhan. Secara social dan ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan.
Mereka akan dikenal sebagai tokoh hebat minimal secara internal di dalam
kelompok atau aliran mereka. Apresiasi terhadap kerja keras dan nyata juga
pasti mereka dapatkan dalam bentuk uang dan materi yang lain.
Contoh lain yang bisa diangkat adalah munculnya
para “nabi” dadakan pada musim politik. Baik musim pilpres untuk memilih
presiden maupun pilkada untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati. Mereka
adalah para politisi yang menampilkan diri seperti para nabi. Ada banyak orang
baik dan suci yang mendatangi masyarakat secara pribadi dan kelompok untuk
menawarkan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan hidup secara cuma-cuma.
Mereka juga hadir dengan tangan tidak hampa. Ada banyak uang dan materi yang
dibagi-bagikan demi mendapat simpati dan pilihan pada saat hari “H”. Sayang
seribu sayang, ketika sudah memimpin atau berada pada posisi yang diingikannnya,
ada kecenderungan yang sangat kuat untuk tidak lagi mendengarkan,
memperhatikan, dan mewujudnyatakan apa yanga sudah dicanangkan untuk membawa
perbaikan dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat. Orang-orang model
ini, yang dikategorikan Yesus sebagai nabi-nabi palsu yang harus dihindari.
Yesus mengajarkan supaya kita harus menjadi pohon
yang baik. Pohon yang baik bersumber dari pokok atau akar yang baik pula. Pohon
yang baik bertumpu dan mengais sumber makanan yang bergizi dari pokok atau
akar. Dan sang pokok yang menjadi sumber kehidupan kita adalah Tuhan sendiri.
Tidak ada pokok lain yang kuat dan hebat seperti Dia. Dari Tuhanlah, kita
menimba sumber energi yang menghidupkan dan menyegarkan agar bisa menghasilkan
buah yang baik dalam kehidupan. Contoh-contoh buah yang baik adalah kita mampu
menolak segala tawaran yang menggiurkan untuk dapat berpindah kepada keyakinan
atau kepercayaan tertentu yang sangat asing dalam pemahaman kita. Kita tidak
boleh menggadaikan Tuhan yang kita imani seperti Yudas yang lebih mencintai
uang dan barang. Kita juga mampu bersikap kritis terhadap orang-orang yang
belum teruji dan terbukti baik rekam jejaknya. Orang-orang ini biasanya sangat
suka menghamburkan materi dan berpura-pura baik untuk mendapatkan keuntungan secara
social dan politik.
Kita bisa menjadi pohon yang baik dengan cara
semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa dan mendengarkan firman-Nya.
Dengan cara demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam setiap napas
kehidupan. Kita tidak hanya memiliki iman yang kokoh kepada Tuhan. Kita juga
mampu mendaratkan iman itu dalam setiap pengalaman, tugas, dan pengabdian
dengan menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh Katolik. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar