Selasa, 22 Juni 2021

Menjadi Pohon Yang Baik

                                                                            Mat 7:15-20

Salah satu fenomena yang sering terjadi dan akan terus terjadi di tengah kehidupan kita adalah semakin maraknya orang berpindah keyakinan atau agama. Memang menganut agama atau kepercayaan tertentu adalah sebuah hak asasi yang dasariah. Tidak dapat diganggu gugat. Termasuk di dalamnya, orang bebas memilih untuk berpindah dan memeluk agama dan kepercayaan sesuai dengan pilihan hatinya. Namun, dalam banyak kasus yang terjadi, ada orang Katolik yang berpindah keyakinannya karena ada kepentingan dan kompensasi yang didapatkan. Kalau misalnya, orang berpindah keyakinan karena alasan perkawinan, mau mengikuti keyakinan pasangannya, saya kira masih dalam taraf normal. Tidak ada masalah. Masih bisa diterima oleh akal sehat. Yang menjadi masalah dan tidak bisa diterima oleh publik adalah ketika orang mau berpindah keyakinan karena ada tawaran uang, materi, pekerjaan, jabatan, dan kemudahan atau fasilitas lain yang mentereng.

 

Dan kasus ini, walaupun masih sangat terselubung, tetapi sudah menjadi rahasia umum. Paling sering terjadi. Ada segelintir orang atau kelompok yang berasal dari aliran keagamaan tertentu, yang getol mencari jemaat baru dengan cara-cara murahan dan sesat seperti ini. Mereka sangat jeli membaca situasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh masyarakat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya, mereka membaca peluang ini. Dengan mudahnya mereka masuk dan memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan umat. Bantuan akan terus diberikan sehingga menyebabkan rasa simpati yang mendalam dari umat. Dalam situasi kebatinan umat seperti ini, orang-orang yang berasal dari kelompok atau aliran agama tertentu, mulai memainkan aksi mereka yang sebenarnya. Mereka menawarkan visi-misi aliran keagamaannya, dan mengajak umat lain untuk bergabung. Tanpa berpikir dua kali, umat kita pasti dengan senang hati mau bergabung. Yang ada dalam kepala umat adalah problem dan beban keluarga teratasi. Soal agama dan Tuhan, itu nomor dua. Toh, semua agama mengajarkan tentang Tuhan. Jadi sama saja, entah mau memeluk agama apa sesuai dengan selera, yang penting ia merasakan peningkatan dan kesejahteraan dalam hidupnya.

 

Ternyata jauh sebelumnya, Yesus sudah mewanti-wanti akan kedatangan para nabi palsu yang mengenakan jubah agama. “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). Model para nabi palsu ini tidak jauh beda dengan nabi yang asli. Kelihatan seperti asli, tetapi sesungguhnya tidak asli. Pernak-pernik dan atribut keagamaan yang dikenakan hanya sebatas tampilan. Tawaran kebaikan dan kenikmatan juga hanya sebagai modus untuk memuluskan tujuan yang ingin digapai. Mereka hadir di momen yang tepat. Di saat umat terlena akan pesona kebaikan dan tampilan fisik religius yang dimiliki. Melalui para pemimpin agama kala itulah, secara samar Yesus memberikan contoh, bagaimana mereka memperlakukan umat hanya demi meraup keuntungan secara pribadi dan kelompok. Umat hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk menaikan citra diri, mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan mendongkrak posisi tawar mereka secara politis di mata bangsa penjajah, Romawi.

 

Nabi-nabi palsu tersebut akan tetap hadir sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Walaupun mereka hadir di zaman yang berbeda dengan aneka modus, tetapi niat atau urgensinya tetap sama. Salah satu contohnya seperti yang digambarkan pada bagian awal di atas. Ada target untuk menambah atau menaikan populasi jemaat dengan cara-cara yang tidak fair. Mereka mengabaikan nilai yang paling utama yakni soal kemurnian dan panggilan hati untuk menjawab bisikan ilahi Tuhan. Secara social dan ekonomi, mereka juga mendapatkan keuntungan. Mereka akan dikenal sebagai tokoh hebat minimal secara internal di dalam kelompok atau aliran mereka. Apresiasi terhadap kerja keras dan nyata juga pasti mereka dapatkan dalam bentuk uang dan materi yang lain.

 

Contoh lain yang bisa diangkat adalah munculnya para “nabi” dadakan pada musim politik. Baik musim pilpres untuk memilih presiden maupun pilkada untuk memilih gubernur, walikota, dan bupati. Mereka adalah para politisi yang menampilkan diri seperti para nabi. Ada banyak orang baik dan suci yang mendatangi masyarakat secara pribadi dan kelompok untuk menawarkan kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan hidup secara cuma-cuma. Mereka juga hadir dengan tangan tidak hampa. Ada banyak uang dan materi yang dibagi-bagikan demi mendapat simpati dan pilihan pada saat hari “H”. Sayang seribu sayang, ketika sudah memimpin atau berada pada posisi yang diingikannnya, ada kecenderungan yang sangat kuat untuk tidak lagi mendengarkan, memperhatikan, dan mewujudnyatakan apa yanga sudah dicanangkan untuk membawa perbaikan dan perubahan yang lebih baik dalam masyarakat. Orang-orang model ini, yang dikategorikan Yesus sebagai nabi-nabi palsu yang harus dihindari.

 

Yesus mengajarkan supaya kita harus menjadi pohon yang baik. Pohon yang baik bersumber dari pokok atau akar yang baik pula. Pohon yang baik bertumpu dan mengais sumber makanan yang bergizi dari pokok atau akar. Dan sang pokok yang menjadi sumber kehidupan kita adalah Tuhan sendiri. Tidak ada pokok lain yang kuat dan hebat seperti Dia. Dari Tuhanlah, kita menimba sumber energi yang menghidupkan dan menyegarkan agar bisa menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan. Contoh-contoh buah yang baik adalah kita mampu menolak segala tawaran yang menggiurkan untuk dapat berpindah kepada keyakinan atau kepercayaan tertentu yang sangat asing dalam pemahaman kita. Kita tidak boleh menggadaikan Tuhan yang kita imani seperti Yudas yang lebih mencintai uang dan barang. Kita juga mampu bersikap kritis terhadap orang-orang yang belum teruji dan terbukti baik rekam jejaknya. Orang-orang ini biasanya sangat suka menghamburkan materi dan berpura-pura baik untuk mendapatkan keuntungan secara social dan politik.

 

Kita bisa menjadi pohon yang baik dengan cara semakin mendekatkan diri dengan Tuhan dalam doa dan mendengarkan firman-Nya. Dengan cara demikian, kita akan menghasilkan buah yang baik dalam setiap napas kehidupan. Kita tidak hanya memiliki iman yang kokoh kepada Tuhan. Kita juga mampu mendaratkan iman itu dalam setiap pengalaman, tugas, dan pengabdian dengan menjadi orang Katolik yang sungguh-sungguh Katolik. ***AKD***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar