Mat 5: 17-19
Santa Teresa
pernah berkata, “Kasih sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat
memberi”. Bagi Santa Teresa, ungkapan ini bukan sekedar kata-kata simbolik.
Tetapi sungguh ia hidupi dalam karya pelayanannya sebagai seorang biarawati di
kota Kalkuta, India. Sudah begitu banyak orang kecil dan orang sakit yang
merasakan sentuhan kasih dari Santa Teresa selama hidupnya. Tanpa memandang
latar dan status, Santa Teresa membagikan kasihnya kepada semua orang. Bagi
Santa Teresa, semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi.
Karena kasih itu berasal dari Allah yang kita terima secara gratis, maka
sejatinya semangat kasih itu harus dibagikan secara gratis dan tulus kepada
semua makhluk. Spirit kasih itu lebih dari sekedar seperangkat peraturan atau
tuntutan moral yang berlaku di tengah masyarakat. Ia harus keluar dari
kejernihan dan kedalaman jiwa untuk memberi, dan tanpa mengharapkan balasan.
Kecaman Yesus kepada para elit agama yang menaruh
prasangka kepada Diri-Nya hendak membuktikan bahwa Yesus tidak datang untuk
mengurangi, apalagi mau meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus
tidak hanya mau menggenapi apa yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi.
Lebih dari itu, Yesus hendak memberi spirit kasih di dalam kitab-kitab itu.
Spirit kasih menjadi substansi utama yang tidak boleh dianggap remeh dan
dilupakan begitu saja. Dan disinilah letak persoalannya sehingga menimbulkan
friksi dan konflik antara Yesus dan para pemimpin agama.
Sudah lama, bahkan jauh sebelum Yesus lahir, para
elit agama kala itu begitu leluasa dan bebas memperlakukan hukum agama sebagai
topeng memuluskan pelbagai kepentingan dan nafsu sesat mereka. Hukum agama
bukan lagi didasari oleh semangat kasih. Hukum agama berdiri hanya sebagai
seperangkat aturan yang kaku dan formal. Pelbagai aturan yang tertulis di
dalamnya dipakai oleh para elit agama untuk memberi tekanan, tuntutan dan
beban. Acapkali mereka berkoar-koar tentang hukum Taurat yang wajib ditaati
oleh umat, namun mereka sendiri tidak pernah melakukannya. Banyak terjadi
adalah hukum Taurat digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri. Dan lebih
fatal lagi, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Para
pemimpin agama lebih sibuk mengumpulkan pundi-pundi materi dan mencari prestise
pribadi. Mereka telah melupakan atau bersikap apatis terhadap satu nilai yang
lebih utama dalam hukum Taurat yakni nilai kasih.
Melihat realitas yang naif ini, Yesus tidak tinggal
diam. Dengan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya, Ia menentang dan mengecam keras
perilaku para pemimpin agama yang memperlakukan hukum Taurat tidak sesuai
dengan kebenaran utama yang tertulis di dalamnya. Sungguh tidak masuk akal dan
tidak adil apabila hukum Taurat itu bekerja tanpa roh yang menghidupinya.
Justru yang terjadi adalah ia akan kehilangan arah dan menindas banyak orang.
Oleh karena itu, dengan melawan arus, Yesus dengan sangat gigih membongkar
sistem yang mapan dan mental feodal yang dimiliki oleh para pemimpin agama.
Yesus mau supaya hukum Taurat dikembalikan kepada porsinya yang benar. Hukum
Taurat harus dilandasi oleh spirit kasih yang membebaskan sehingga sungguh
membawa kedamaian, keadilan, dan keselamatan dalam hidup umat. Terutama bagi mereka
yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil. Orang-orang yang dipandang
sebelah mata oleh para pemimpinnya.
Spirit kasih dalam hidup yang digaungkan oleh
Yesus, ternyata masih dihidupi oleh sebagian besar orang beriman di masa kini.
Lihat saja, di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh sesama saudara yang
terkena dampak bencana alam di wilayah kita, ada begitu banyak bantuan yang
datang. Entah itu secara pribadi maupun kelompok, mereka dengan tulus memberi
sesuatu dari kepunyaannya untuk membantu sesama saudara yang sementara
mengalami kesusahan dan penderitaan. Saya berkeyakinan bahwa, mereka yang
memberikan donasi dalam wujud apa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun,
selain kepentingan untuk meringankan duka dan nestapa yang sementara dihadapi
para korban. Kita semua menyaksikan dengan terang benderang, ada banyak
saudara/i kita yang sungguh mengalami sentuhan kasih. Walaupun memang masih ada
kekurangan dan kelemahan yang mestinya dievaluasi dan diperbaiki agar perhatian
dan bantuan itu betul-betul merata dan sesuai dengan prinsip keadilan.
Gugatan Yesus akan perilaku para pemimpin agama
yang meniadakan spirit kasih dalam hukum Taurat menjadi gugatan bagi diri kita
masing-masing. Bagaimana posisi kita secara individu memahami spirit kasih
Yesus dan mengimplementasikannya dalam hidup di tengah keluarga, basis,
lingkungan, dan di tempat kerja. Mungkin semua dari kita sudah memahami apa itu
spirit kasih yang telah diwartakan oleh Yesus. Tetapi, masih banyak dari kita
yang belum sungguh-sungguh menghidupi nilai kasih dalam hidup sehari-hari. Kita
memang seringkali sudah mempraktekkan berbagai wujud kasih, namun belum
dilandasi oleh spirit kasih Yesus yang sejati. Masih ada banyak pertimbangan
untung ruginya. Banyak kalkulasi baik secara ekonomi, sosial, maupun politik
turut berperan di dalamnya. Inilah tantangan-tantangan yang menghambat kita
untuk mewujudnyatakan spirit kasih Yesus yang sejati dalam hidup.
Hari ini Yesus mencerahkan dan mengarahkan pribadi
kita agar mau menghidupi spirit kasih yang sejati itu secara sungguh-sungguh
dalam hidup. Kita perlu membebaskan diri dari pelbagai tantangan dan hambatan
yang membatasi kita untuk memberi dan membagikan kasih yang sejati bagi mereka
yang berkekurangan dan menderita. Tantangan dan hambatan yang terbesar itu
sebenarnya muncul dari dalam diri sendiri seperti rasa gengsi, pemberian dengan
syarat tertentu, dan pertimbangan secara matematis yang bisa menguntungkan kita
secara ekonomi, sosial, dan politik. Mari kita menyadari diri pada hari ini
untuk membumikan spirit kasih sejati dari Yesus bagi siapa saja, terutama bagi
sesama yang sementara sakit. Karena “siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di
dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19). Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar