Selasa, 08 Juni 2021

Spirit Kasih Yesus Dalam Hidup

                                                                    Mat 5: 17-19

 

Santa Teresa pernah berkata, “Kasih sejati tidak pernah menuntut, tetapi ia hanya dapat memberi”. Bagi Santa Teresa, ungkapan ini bukan sekedar kata-kata simbolik. Tetapi sungguh ia hidupi dalam karya pelayanannya sebagai seorang biarawati di kota Kalkuta, India. Sudah begitu banyak orang kecil dan orang sakit yang merasakan sentuhan kasih dari Santa Teresa selama hidupnya. Tanpa memandang latar dan status, Santa Teresa membagikan kasihnya kepada semua orang. Bagi Santa Teresa, semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus dikasihi. Karena kasih itu berasal dari Allah yang kita terima secara gratis, maka sejatinya semangat kasih itu harus dibagikan secara gratis dan tulus kepada semua makhluk. Spirit kasih itu lebih dari sekedar seperangkat peraturan atau tuntutan moral yang berlaku di tengah masyarakat. Ia harus keluar dari kejernihan dan kedalaman jiwa untuk memberi, dan tanpa mengharapkan balasan.

 

Kecaman Yesus kepada para elit agama yang menaruh prasangka kepada Diri-Nya hendak membuktikan bahwa Yesus tidak datang untuk mengurangi, apalagi mau meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi. Yesus tidak hanya mau menggenapi apa yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi. Lebih dari itu, Yesus hendak memberi spirit kasih di dalam kitab-kitab itu. Spirit kasih menjadi substansi utama yang tidak boleh dianggap remeh dan dilupakan begitu saja. Dan disinilah letak persoalannya sehingga menimbulkan friksi dan konflik antara Yesus dan para pemimpin agama.

 

Sudah lama, bahkan jauh sebelum Yesus lahir, para elit agama kala itu begitu leluasa dan bebas memperlakukan hukum agama sebagai topeng memuluskan pelbagai kepentingan dan nafsu sesat mereka. Hukum agama bukan lagi didasari oleh semangat kasih. Hukum agama berdiri hanya sebagai seperangkat aturan yang kaku dan formal. Pelbagai aturan yang tertulis di dalamnya dipakai oleh para elit agama untuk memberi tekanan, tuntutan dan beban. Acapkali mereka berkoar-koar tentang hukum Taurat yang wajib ditaati oleh umat, namun mereka sendiri tidak pernah melakukannya. Banyak terjadi adalah hukum Taurat digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri. Dan lebih fatal lagi, dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Para pemimpin agama lebih sibuk mengumpulkan pundi-pundi materi dan mencari prestise pribadi. Mereka telah melupakan atau bersikap apatis terhadap satu nilai yang lebih utama dalam hukum Taurat yakni nilai kasih.

 

Melihat realitas yang naif ini, Yesus tidak tinggal diam. Dengan kuasa ilahi yang dimiliki-Nya, Ia menentang dan mengecam keras perilaku para pemimpin agama yang memperlakukan hukum Taurat tidak sesuai dengan kebenaran utama yang tertulis di dalamnya. Sungguh tidak masuk akal dan tidak adil apabila hukum Taurat itu bekerja tanpa roh yang menghidupinya. Justru yang terjadi adalah ia akan kehilangan arah dan menindas banyak orang. Oleh karena itu, dengan melawan arus, Yesus dengan sangat gigih membongkar sistem yang mapan dan mental feodal yang dimiliki oleh para pemimpin agama. Yesus mau supaya hukum Taurat dikembalikan kepada porsinya yang benar. Hukum Taurat harus dilandasi oleh spirit kasih yang membebaskan sehingga sungguh membawa kedamaian, keadilan, dan keselamatan dalam hidup umat. Terutama bagi mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil. Orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh para pemimpinnya.

 

Spirit kasih dalam hidup yang digaungkan oleh Yesus, ternyata masih dihidupi oleh sebagian besar orang beriman di masa kini. Lihat saja, di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh sesama saudara yang terkena dampak bencana alam di wilayah kita, ada begitu banyak bantuan yang datang. Entah itu secara pribadi maupun kelompok, mereka dengan tulus memberi sesuatu dari kepunyaannya untuk membantu sesama saudara yang sementara mengalami kesusahan dan penderitaan. Saya berkeyakinan bahwa, mereka yang memberikan donasi dalam wujud apa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun, selain kepentingan untuk meringankan duka dan nestapa yang sementara dihadapi para korban. Kita semua menyaksikan dengan terang benderang, ada banyak saudara/i kita yang sungguh mengalami sentuhan kasih. Walaupun memang masih ada kekurangan dan kelemahan yang mestinya dievaluasi dan diperbaiki agar perhatian dan bantuan itu betul-betul merata dan sesuai dengan prinsip keadilan.

 

Gugatan Yesus akan perilaku para pemimpin agama yang meniadakan spirit kasih dalam hukum Taurat menjadi gugatan bagi diri kita masing-masing. Bagaimana posisi kita secara individu memahami spirit kasih Yesus dan mengimplementasikannya dalam hidup di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan di tempat kerja. Mungkin semua dari kita sudah memahami apa itu spirit kasih yang telah diwartakan oleh Yesus. Tetapi, masih banyak dari kita yang belum sungguh-sungguh menghidupi nilai kasih dalam hidup sehari-hari. Kita memang seringkali sudah mempraktekkan berbagai wujud kasih, namun belum dilandasi oleh spirit kasih Yesus yang sejati. Masih ada banyak pertimbangan untung ruginya. Banyak kalkulasi baik secara ekonomi, sosial, maupun politik turut berperan di dalamnya. Inilah tantangan-tantangan yang menghambat kita untuk mewujudnyatakan spirit kasih Yesus yang sejati dalam hidup.

 

Hari ini Yesus mencerahkan dan mengarahkan pribadi kita agar mau menghidupi spirit kasih yang sejati itu secara sungguh-sungguh dalam hidup. Kita perlu membebaskan diri dari pelbagai tantangan dan hambatan yang membatasi kita untuk memberi dan membagikan kasih yang sejati bagi mereka yang berkekurangan dan menderita. Tantangan dan hambatan yang terbesar itu sebenarnya muncul dari dalam diri sendiri seperti rasa gengsi, pemberian dengan syarat tertentu, dan pertimbangan secara matematis yang bisa menguntungkan kita secara ekonomi, sosial, dan politik. Mari kita menyadari diri pada hari ini untuk membumikan spirit kasih sejati dari Yesus bagi siapa saja, terutama bagi sesama yang sementara sakit. Karena “siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:19). Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar