Minggu, 21 November 2021

MEMBERI DENGAN TULUS

Luk 21:1-4

 

Dalam moment persiapan suksesi acara syukuran imam baru yang sudah berlangsung sekitar tiga pekan yang lalu, saya membawa sumbangan atau kontribusi dari instansi tempat saya bernaung (Kementerian Agama Kab. Lembata). Jumlah nominalnya tidak seberapa. Namun dalam lingkup acara keluarga yang sederhana, nominal sumbangan itu dilihat sebagai angka yang cukup besar. Ada beberapa orang yang berseloroh bahwa kantor agama itu urusannya soal agama jadi pantas kalau mereka menyumbang demikian untuk sebuah pesta iman (syukuran imam baru). Saya hanya tersenyum. Mencoba mengamini saja apa yang mereka sampaikan. Sebenarnya terbersit dalam hati dan pikiran alasan yang lebih rasional dan mulia, daripada sekedar alasan di atas.

 

Para sahabat saya di instansi Kementerian Agama memberi kontribusi karena dilatari oleh beberapa alasan. Pertama, sudah ada semacam kesepakatan lisan di antara kami untuk turut bersolider satu sama lain dalam pelbagai urusan yang penting. Kedua, ada filosofi do ut des. Saya memberi supaya kamu juga memberi. Memang prinsip dengan pamrih itu harus kita hindari dalam memberi sesuatu. Namun, dalam realitas tidak bisa dipungkiri bahwa semangat solidaritas dan tolong menolong itu harus mendapat tempat pertama dan utama. Walaupun tidak bersifat memaksa, namun tentu ada kepekaan dan kepedulian yang mendorong orang untuk saling berpartisipasi. Ketiga, spirit memberi sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan instansi kementerian agama. Ini bukan suatu yang berlebihan. Atau bukan juga ada kehendak ingin mengagungkan instansi yang bersangkutan. Ada spirit tertentu yang sudah, sedang, dan akan terus dihidupi. Spirit itu adalah spirit ikhlas beramal. Segala hal yang hendak diberikan, entah sedikit atau banyak, tetap menjadi bagian yang tulus dan tidak terpisahkan dalam nuansa kebersamaan.

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengkontraskan tindakan memberi persembahan yang dilakukan oleh dua kelompok sosial yang berbeda. Kelompok yang  pertama adalah orang kaya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah orang miskin, yang diwakili oleh seorang janda miskin. Bagi Yesus, menjadi hal yang lazim ketika orang kaya menyumbang. Dia menyumbang karena tentu memiliki kelebihan. Yang menjadi tidak biasa dan menggugah nurani adalah ketika melihat seorang janda miskin turut menyumbang. Si janda adalah perempuan yang hidup sendirian karena sudah ditinggal mati atau cerai oleh suaminya. Stereotip atau cap yang disematkan bagi seorang janda cenderung negatif. Karena sudah dtinggal oleh suaminya, praktis ia tidak lagi memiliki sandaran dalam kehidupannya. Termasuk dalam sisi ekonomi. Pasti seorang janda tidak lagi memiliki apa-apa. Ia tidak hanya menjadi janda. Namun janda yang miskin. Walaupun realitas tidak selalu menyatakan demikian. Karena ada banyak juga janda-janda yang hidupnya berkecukupan dan bahkan bergelimang harta.

Namun yang dilihat oleh Yesus pasti sungguh-sungguh seorang janda miskin. Dalam kesulitan dan kemiskinannya, ia masih mampu berpikir untuk berderma dari kekurangannya. Berbeda dengan orang-orang kaya yang dilihat oleh Yesus. Rupanya Yesus sudah mengetahui latar atau rekam jejak dari para penyumbang elitis tersebut. Mereka menyumbang karena pertama mereka memiliki kelebihan. Kedua, mereka menyumbang dengan motivasi yang tidak murni. Mereka ingin dilihat dan diakui oleh banyak orang. mereka mau mencari hormat dan sembah sujud dari orang yang melihatnya. Sebesar apa pun sumbangan yang mereka berikan, tentu berbeda nilainya dengan sumbangan si janda miskin. Si janda miskin memberi dari kekurangannya dengan ihklas. Sedangkan orang-orang kaya memberi dari kelimpahan, tetapi tidak memiliki niat dan motivasi yang tulus. “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Mrk 21:4).

 

Bagi saya, dan saya kira kita semua sepakat, tolok ukur dalam memberi atau berderma tidak bisa dilihat dari besar kecilnya jumlah atau nilai yang terkandung di dalam pemberian itu. Yang paling penting dan mengatasi semua entitas pemberian itu adalah spirit ketulusan dan keikhlasan. Orang harus melepaskan segala keterikatan manusiawinya ketika hendak memberikan sesuatu. Orang harus dibebaskan dari sikap ego, angkuh, dan kepentingan untuk mencari pamor atau popularitas diri. Sikap tulus atau ikhlas mendorong kita untuk tidak jumawa atau merasa diri paling hebat atau berjasa. Sikap tulus atau ikhlas menghalangi kepentingan ego untuk berpikir tentang pamrih atau balas jasa. Dan sikap tulus membebaskan ambisi pribadi untuk mencari prestise dan rasa gengsi.

 

Paus Fransiskus pernah berkata: “Hidup itu baik ketika anda berbahagia. Namun alangkah lebih baik apabila, orang merasa berbahagia karena kebaikan yang anda lakukan”. Salah satu kebaikan yang kita lakukan adalah memberi dengan sikap yang tulus. Tanpa ada kepentingan menyimpang yang bermain di dalamnya. Saya memberi atau menyumbang karena dilandasi oleh sikap moral mau berbela rasa atau peduli dengan orang lain yang sementara menderita atau sakit. Dan yang lebih utama adalah saya memberi karena diajarkan oleh Tuhan yang saya imani dalam hidup. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

 

Hari ini kita memperingati Santa Sesilia yang membaktikan kemurnian seluruh diri dan hidupnya demi Tuhan. Karena ketulusan dan kesalehan hidupnya yang mempesona, Sesilia berhasil membawa suaminya Valerianus dan Tiburtius saudara suaminya, menjadi seorang pengikut dan martir Tuhan yang sejati. Pada akhirnya juga, Santa Sesilia harus mempertaruhkan nyawanya sebagai seorang martir demi mempertahankan iman dan ketulusan hidupnya bagi Tuhan. Bersama Santa Sesilia, mari kita mempersembahkan seluruh diri dan hidup demi kemuliaan nama Allah di atas bumi dan di dalam Sorga. Tentu tidak harus sebanding seperti apa yang sudah dilakukan oleh Sesilia. Dengan hal-hal kecil yang bisa membuat orang lain tersenyum, dikuatkan dan diteguhkan, sebenarnya kita sementara memberi diri dengan baik dan tulus bagi Tuhan. Amin. ***AKD***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar