Luk 21:1-4
Dalam moment persiapan suksesi acara syukuran imam
baru yang sudah berlangsung sekitar tiga pekan yang lalu, saya membawa
sumbangan atau kontribusi dari instansi tempat saya bernaung (Kementerian Agama
Kab. Lembata). Jumlah nominalnya tidak seberapa. Namun dalam lingkup acara
keluarga yang sederhana, nominal sumbangan itu dilihat sebagai angka yang cukup
besar. Ada beberapa orang yang berseloroh bahwa kantor agama itu urusannya soal
agama jadi pantas kalau mereka menyumbang demikian untuk sebuah pesta iman
(syukuran imam baru). Saya hanya tersenyum. Mencoba mengamini saja apa yang
mereka sampaikan. Sebenarnya terbersit dalam hati dan pikiran alasan yang lebih
rasional dan mulia, daripada sekedar alasan di atas.
Para sahabat saya di instansi Kementerian Agama
memberi kontribusi karena dilatari oleh beberapa alasan. Pertama, sudah ada
semacam kesepakatan lisan di antara kami untuk turut bersolider satu sama lain
dalam pelbagai urusan yang penting. Kedua, ada filosofi do ut des. Saya memberi supaya kamu juga memberi. Memang prinsip
dengan pamrih itu harus kita hindari dalam memberi sesuatu. Namun, dalam
realitas tidak bisa dipungkiri bahwa semangat solidaritas dan tolong menolong
itu harus mendapat tempat pertama dan utama. Walaupun tidak bersifat memaksa,
namun tentu ada kepekaan dan kepedulian yang mendorong orang untuk saling
berpartisipasi. Ketiga, spirit memberi sudah menjadi bagian dari tradisi
kehidupan instansi kementerian agama. Ini bukan suatu yang berlebihan. Atau
bukan juga ada kehendak ingin mengagungkan instansi yang bersangkutan. Ada
spirit tertentu yang sudah, sedang, dan akan terus dihidupi. Spirit itu adalah
spirit ikhlas beramal. Segala hal yang hendak diberikan, entah sedikit atau
banyak, tetap menjadi bagian yang tulus dan tidak terpisahkan dalam nuansa
kebersamaan.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengkontraskan
tindakan memberi persembahan yang dilakukan oleh dua kelompok sosial yang
berbeda. Kelompok yang pertama adalah
orang kaya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah orang miskin, yang diwakili
oleh seorang janda miskin. Bagi Yesus, menjadi hal yang lazim ketika orang kaya
menyumbang. Dia menyumbang karena tentu memiliki kelebihan. Yang menjadi tidak
biasa dan menggugah nurani adalah ketika melihat seorang janda miskin turut
menyumbang. Si janda adalah perempuan yang hidup sendirian karena sudah
ditinggal mati atau cerai oleh suaminya. Stereotip atau cap yang disematkan
bagi seorang janda cenderung negatif. Karena sudah dtinggal oleh suaminya, praktis
ia tidak lagi memiliki sandaran dalam kehidupannya. Termasuk dalam sisi
ekonomi. Pasti seorang janda tidak lagi memiliki apa-apa. Ia tidak hanya
menjadi janda. Namun janda yang miskin. Walaupun realitas tidak selalu
menyatakan demikian. Karena ada banyak juga janda-janda yang hidupnya
berkecukupan dan bahkan bergelimang harta.
Namun yang dilihat oleh Yesus pasti sungguh-sungguh
seorang janda miskin. Dalam kesulitan dan kemiskinannya, ia masih mampu
berpikir untuk berderma dari kekurangannya. Berbeda dengan orang-orang kaya
yang dilihat oleh Yesus. Rupanya Yesus sudah mengetahui latar atau rekam jejak
dari para penyumbang elitis tersebut. Mereka menyumbang karena pertama mereka
memiliki kelebihan. Kedua, mereka menyumbang dengan motivasi yang tidak murni.
Mereka ingin dilihat dan diakui oleh banyak orang. mereka mau mencari hormat
dan sembah sujud dari orang yang melihatnya. Sebesar apa pun sumbangan yang
mereka berikan, tentu berbeda nilainya dengan sumbangan si janda miskin. Si
janda miskin memberi dari kekurangannya dengan ihklas. Sedangkan orang-orang
kaya memberi dari kelimpahan, tetapi tidak memiliki niat dan motivasi yang
tulus. “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi
janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Mrk
21:4).
Bagi saya, dan saya kira kita semua sepakat, tolok
ukur dalam memberi atau berderma tidak bisa dilihat dari besar kecilnya jumlah
atau nilai yang terkandung di dalam pemberian itu. Yang paling penting dan
mengatasi semua entitas pemberian itu adalah spirit ketulusan dan keikhlasan.
Orang harus melepaskan segala keterikatan manusiawinya ketika hendak memberikan
sesuatu. Orang harus dibebaskan dari sikap ego, angkuh, dan kepentingan untuk
mencari pamor atau popularitas diri. Sikap tulus atau ikhlas mendorong kita
untuk tidak jumawa atau merasa diri paling hebat atau berjasa. Sikap tulus atau
ikhlas menghalangi kepentingan ego untuk berpikir tentang pamrih atau balas
jasa. Dan sikap tulus membebaskan ambisi pribadi untuk mencari prestise dan
rasa gengsi.
Paus Fransiskus pernah berkata: “Hidup itu baik
ketika anda berbahagia. Namun alangkah lebih baik apabila, orang merasa
berbahagia karena kebaikan yang anda lakukan”. Salah satu kebaikan yang kita
lakukan adalah memberi dengan sikap yang tulus. Tanpa ada kepentingan
menyimpang yang bermain di dalamnya. Saya memberi atau menyumbang karena
dilandasi oleh sikap moral mau berbela rasa atau peduli dengan orang lain yang
sementara menderita atau sakit. Dan yang lebih utama adalah saya memberi karena
diajarkan oleh Tuhan yang saya imani dalam hidup. “Sesungguhnya segala sesuatu
yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini,
kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).
Hari ini kita memperingati Santa Sesilia yang
membaktikan kemurnian seluruh diri dan hidupnya demi Tuhan. Karena ketulusan
dan kesalehan hidupnya yang mempesona, Sesilia berhasil membawa suaminya
Valerianus dan Tiburtius saudara suaminya, menjadi seorang pengikut dan martir
Tuhan yang sejati. Pada akhirnya juga, Santa Sesilia harus mempertaruhkan
nyawanya sebagai seorang martir demi mempertahankan iman dan ketulusan hidupnya
bagi Tuhan. Bersama Santa Sesilia, mari kita mempersembahkan seluruh diri dan
hidup demi kemuliaan nama Allah di atas bumi dan di dalam Sorga. Tentu tidak
harus sebanding seperti apa yang sudah dilakukan oleh Sesilia. Dengan hal-hal
kecil yang bisa membuat orang lain tersenyum, dikuatkan dan diteguhkan,
sebenarnya kita sementara memberi diri dengan baik dan tulus bagi Tuhan. Amin.
***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar