Luk 5:17-26
Mengunjungi beberapa keluarga - baik keluarga
Katolik maupun non Katolik – memiliki pengalaman dan makna tersendiri dalam
hidup saya secara pribadi. Saya menjalaninya bukan sekedar tugas pokok sebagai
seorang penyuluh agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata.
Lebih dari itu, saya memahaminya sebagai sebuah panggilan jiwa untuk membawa
kasih dan pelayanan kepada orang lain. Datang, duduk, dengar, dan berbagi kisah
dengan keluarga-keluarga yang saya kunjungi menjadi aktualisasi atau wujud
nyata iman saya akan Tuhan. Kehadiran saya setidak-tidaknya membawa
penghiburan, kekuatan, dan peneguhan bagi mereka untuk tetap bertahan dalam
mengarungi kerasnya kehidupan. Walaupun memang, saya bukan seorang superman
yang bisa membawa solusi atas pelbagai persoalan yang mereka hadapi. Dalam
kebersamaan dan percakapan sederhana yang kami bangun, iman komuniter sangat
kental terasa. Ada timbal balik “keselamatan” yang sama-sama kami alami. Mereka
sungguh diteguhkan dan dikuatkan. Begitu juga sebaliknya, saya mengalami hal
yang sama.
Pengalaman iman komuniter ternyata kita temukan
juga dalam bacaan Injil hari ini. Beberapa orang dengan tulus sekaligus berani
mengusung saudara mereka yang lumpuh kepada Yesus. Niatnya cuma satu. Supaya
saudara yang lumpuh itu dapat sembuh dan berjalan. Karena tidak menemui celah
untuk menerobos kerumusan banyak orang, mereka nekat memutuskan untuk
memasukkan si lumpuh lewat atap rumah yang dibongkar. Ternyata usaha mereka
tidak sia-sia. Yesus kagum dengan sikap iman yang telah mereka tunjukkan
kepada-Nya. Maka tanpa ragu-ragu Ia memberi pengampunan atas dosa-dosa mereka.
Dan kepada si lumpuh, Yesus juga menyembuhkan penyakitnya. Tidak hanya si
lumpuh, namun semua orang yang menyaksikan secara langsung peristiwa fenomenal
itu, mengucap syukur dan memuliakan nama Allah.
Ada dua catatan penting yang bisa dipetik dari
kisah Injil hari ini. Pertama, karena memiliki kuasa ilahi, maka Yesus memiliki
legitimasi untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan orang yang lumpuh. Jikalau ia
tidak memiliki kuasa demikian, tentu ia tidak bisa mengampuni, apalagi
menyembuhkan orang sakit. Para pemimpin Yahudi (ahli-ahli taurat dan orang
Farisi) sangat gusar dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Mereka terkejut dan
mengira Yesus menghujat nama Allah. Kita bisa memaklumi hal ini karena pikiran
dan hati mereka belum terbuka untuk mengenal siapa sosok Yesus sebenarnya.
Afirmasi Yesus jelas terbaca dalam sabda-Nya. “Tetapi supaya kamu tahu bahwa di
dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Luk 5:24). Anak Manusia
menunjuk diri jati diri Yesus. Karena datang dan diutus oleh Allah, maka Yesus
memiliki kuasa ilahi untuk mengampuni dan menyelamatkan semua orang.
Kedua, sikap kerjasama yang ditunjukkan oleh
orang-orang yang membantu si lumpuh. Si lumpuh bisa dipastikan tidak akan
selamat apabila tidak dibantu oleh sesama saudaranya. Ia tetap akan tinggal
dalam kesendirian dan ketidakselamatan karena tidak ditolong oleh orang lain.
Berkat rasa simpati, empati, dan perhatian dari orang lain, si lumpuh akhirnya
dapat berjumpah dengan Yesus. Dan ia pun – bersama dengan para pengusungnya –
mendapatkan keselamatan. Sikap kerjasama dan mau membantu inilah yang menjadi
ciri khas kehidupan iman komuniter. Ciri khas iman yang komuniter menjadi lebih
hidup dan bermakna karena orang sungguh percaya akan karya Allah yang turut
ikut campur dalam kehidupan manusia. Tanpa percaya kepada Allah, iman komuniter
itu tidak akan tumbuh. Ia hanya akan menjadi sebuah komunitas biasa. Komunitas
tanpa spiritualitas Allah.
Orang-orang yang datang kepada Yesus membawa si
lumpuh adalah karakteristik orang-orang yang sementara membangun iman yang
komuniter. Mereka sungguh percaya kepada Yesus. Melalui penyerahan diri yang
total kepada Yesus, mereka percaya hidupnya akan diselamatkan. Tidak hanya si
lumpuh. Namun mereka semua yang hidup dan tumbuh dalam komunitas iman itu.
Mereka juga menyadari bahwa tanpa kepercayaan kepada Yesus, keselamatan itu
tetap tinggal dalam sebuah harapan kosong.
Sebagai pengikut Kristus, acapkali kita juga kurang
atau tidak menghidupi ciri iman komuniter dalam kehidupan. Lebih banyak kita
berjuang sendiri mencari keselamatan. Kita bersikap tidak peduli dan tidak mau
tahu dengan situasi yang dialami oleh orang lain. Kita memiliki prinsip untuk
mendahulukan kepentingan diri sendiri. Hari ini kita diteguhkan untuk lebih
bersikap terbuka dalam membangun iman komuniter bersama orang-orang yang ada
dan hidup bersama kita. Keselamatan itu semestinya tidak bersifat personal.
Tidak diperjuangkan secara pribadi. Namun sejatinya dibangun dan diperjuangkan
bersama-sama dengan orang lain.
Kini kita telah memasuki masa Adven yang kedua.
Sebuah pekan dimana kita menghayati nilai kesetiaan untuk mempersiapkan jalan
kedatangan bagi Tuhan. Dalam makna kesetiaan itu, mari kita membangun sikap
iman yang komuniter. Semoga mata hati kita lebih terbuka untuk melihat pelbagai
keprihatinan sosial yang ada di sekitar kita. Sehingga tanpa ragu, kita datang
“menyembuhkan” mereka walaupun dengan hal-hal yang kecil dan sederhana. Semoga.
***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar