Kamis, 20 Januari 2022

Tuhan Ada Dalam Spirit Kasih

Mrk 3:1-6

 

Ada pepatah latin yang berbunyi cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada. Apa yang kita pikirkan sebenarnya menggambarkan siapa diri kita yang sebenarnya. Jika konstruksi berpikir kita positif maka dengan sendirinya mengalirkan kebaikan dalam pribadi. Sebaliknya, jikalau bangunan berpikir kita negatif maka akan mengalirkan ketidakbaikan dalam diri. Sebagai contoh, misalnya, apabila saya memandang seseorang sebagai sahabat, terlepas dari segala kekurangan yang melekat dalam dirinya, maka saya akan memperlakukan dia sebagai seorang sahabat. Sebaliknya, apabila saya selalu memandang orang lain sebagai ancaman atau musuh, maka selanjutnya saya akan terus memperlakukan dia sebagai musuh yang harus dihindari atau dilawan. Sebesar apa pun kebaikan yang ditampilkan oleh seseorang, tidak akan membawa dampak positif bagi orang lain yang sudah terlanjur memberi cap negatif.

 

Konstruksi berpikir negatif demikian, diperankan oleh orang-orang Farisi yang sudah terlanjur melihat Yesus sebagai musuh bersama yang harus dijegal. Dan bahkan kalau ada peluang langsung dilenyapkan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Yesus memberi arah baru dalam pola idealisme beragama. Banyak kelaziman yang berlaku dalam ajaran kitab suci dan tradisi Yahudi didekontruksi dan diperbarui lagi oleh Yesus. Dan Yesus memiliki alasan yang jelas dan rasional. Bahwa aturan dan tradisi itu memberangus nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, aturan dan tradisi yang diberlakukan oleh para pemimpin agama tidak sesuai dengan spirit kasih yang dikampanyekan oleh Allah sendiri. Menurut Yesus, aturan dan tradisi itu tidak salah. Karena di dalamnya telah terkandung spirit kasih yang memanusiakan manusia. Hanya pelbagai kepentingan duniawi saja, yang menjadikan aturan dan tradisi itu berjalan timpang, tidak sesuai dengak spirit kasih. Dengan terang benderang, Yesus menunjuk para elit agama sebagai aktor-aktor utama yang menyusupkan pelbagai kepentingan mereka yang tidak benar di dalam aturan dan tradisi.

 

Para elit agama membungkus kemunafikan dan kesesatan mereka di balik aturan dan tradisi yang mengekang dan menindas umat. Salah satunya adalah aturan tentang hari Sabat. Hari Sabat adalah hari yang dikuduskan oleh umat Yahudi. Pada hari itu, semua aktivitas duniawi dihentikan agar orang tetap fokus untuk beribadah kepada Allah dan memberi korban di Bait Allah. Ada banyak sekalih larangan yang diberlakukan khusus pada hari Sabat. Misalnya larangan untuk bekerja. Dalam item pekerjaan juga, terdistribusi sekian banyak jenis pekerjaan yang tidak boleh dilakukan. Termasuk di dalamnya larangan untuk menyembuhkan orang sakit. Di luar hari Sabat, tindakan menyembuhkan atau menyelamatkan orang sakit boleh dilakukan. Namun khusus pada hari Sabat, tindakan tersebut dilarang keras.

 

Hal ini yang menjadi titik perbedaan dan memantik konflik panas di antara dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Kekuatan ortodoks yang ingin mempertahankan status quo yakni para elit agama. Dan kekuatan berikutnya adalah Yesus sendiri, yang mewakili kekuatan reformasi. Kekuatan yang ingin membawa perubahan, agar aturan dan tradisi itu harus dikembalikan sesuai dengan spiritnya yang ideal yakni spirit kasih Allah. Namun, para elit agama tetap bersikukuh dengan pandangan dan sikap mereka. Mereka tetap merasa diri paling benar karena gengsi pribadi dan kekuasaan yang terpatri dalam diri. Mengikuti kata-kata Yesus berarti kiamat telah menghampiri hidup. Mereka pasti akan kehilangan simpati dan rasa hormat yang ditunjukkan oleh publik. Tidak hanya itu, mereka juga akan kehilangan sumber-sumber pendapatan yang bernilai ekonomi. Mereka tidak akan mendapat bagian lagi dari persembahan dan pajak yang diberikan oleh umat.

 

Bagi Yesus, kebenaran harus tetap menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran itu tidak boleh dipermainkan atas nama kepentingan sesaat yang membawa sesat. Dimensi hari sabat tetap diletakkan  sesuai dengan porsinya dalam aturan dan tradisi. Namun seiring dengan itu, tidak menghilangkan spirit kasih yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi semua orang. Aturan dan tradisi diciptakan oleh karena hadirnya manusia. Dan bukan manusia diciptakan karena adanya aturan dan tradisi. Dengan demikian, aturan dan tradisi tentang hari Sabat bukannya mengekang jiwa-jiwa manusia, namun semakin membuka ruang terciptanya kebaikan dan keselamatan. Kebaikan dan keselamatan inilah yang diinspirasi dan dijiwai oleh spirit kasih Allah. Tindakan Yesus pada hari Sabat yang membawa keselamatan bagi orang yang mati sebelah tangannya adalah tindakan yang diinspirasi sekaligus dijiwai oleh spirit kasih Allah. Dengan aksi fenomenal dan heroik ini, Yesus mau menegaskan bahwa spirit kasih Allah melebihi atau melampaui segala jenis aturan dan tradisi yang dibuat oleh manusia. Dan manusia harus tunduk untuk mengikuti spirit kasih Allah itu agar dapat tercipta keselamatan dan kebaikan dalam hidup.

 

Atas nama gengsi pribadi, status dan jabatan, seringkali kita menggadaikan hidup untuk memenuhi nafsu, keinginan, dan ketamakan duniawi. Kita tidak rela mengamalkan nilai kasih dalam hidup sosial karena pikiran dan laku masih ditunggangi oleh pelbagai kepentingan. Kita takut tidak dihormati atau disegani lagi. Kita merasa malu bergaul dengan orang-orang yang tidal selevel dengan kita. Kita masih bersikap ego untuk menumpuk kekayaan dengan memanfaatkan situasi. Bahkan seringkali dengan tindakan yang tidak jujur dan menindas orang lain. Kita masih sibuk mencari jabatan dan kekuasaan sehingga melalaikan semangat kasih. Hari ini Tuhan sungguh mencerahkan dan meneguhkan hidup kita. Pertama-pata, Tuhan merefresh dan menguppgrade pikiran kita agar kita mampu berpikir positif tentang situasi dan orang lain di sekitar. Dengan pikiran yang positif, sebenarnya memampukan kita melepaskan keterikatan-keterikatan duniawi yang membelenggu hidup. Keterikatan-keterikatan tersebut ibarat aturan hari Sabat yang membelenggu sehingga menutup mata kita terhadap spirit kasih Allah. kedua, Tuhan menghendaki agar kita berani keluar dari zona nyaman sehingga benar-benar bebas mengimplementasikan nilai kasih itu bagi siapa saja, terutama bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Allah itu adalah kasih. Dan kita meyakini bahwa setiap tindakan kasih yang kita nyatakan, Tuhan pasti ada dan selalu membawa berkat dalam hidup kita. Mari kita selalu membawa spirit kasih dalam hidup kita. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 11 Januari 2022

Selalu Mencari Tuhan

Mrk 1:29-39

 

Ketika disodorkan sebuah pertanyaan, sudahkah anda menemukan Yesus dalam hidup anda? Mungkin sebagian dari kita secara spontan menjawab iya, tanpa mengetahui dengan jelas alasan apa mendasarinya. Mungkin juga ada segelintir orang yang sudah secara matang telah menemukan Yesus dalam hidupnya, sehingga mereka tidak ragu-ragu menjawab iya. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak dari kita yang mungkin belum menemukan Yesus dalam hidupnya. Setelah sekian lama mencari dan terus mencari tentang sosok Yesus, ternyata kita belum menemukan figur Yesus yang mempengaruhi hidup kita. Kesaksian hidup seperti ini memang sungguh kontras jikalau diucapkan oleh seorang Kristen atau pengikut Kristus. Tetapi inilah kenyataan yang membentang di hadapan kita. Bahwa banyak orang Kristen yang belum mengenal Kristus dalam hidupnya. Mengenal saja belum. Apalagi sungguh merasakan daya pikat-Nya yang mengintervensi hidup manusia.

 

Daya pikat atau pesona yang ditunjukkan oleh Yesus betul-betul dialami oleh orang-orang sezaman Yesus. Tidak hanya dengan kata-kata, melainkan dengan aksi fenomenal-Nya, kehadiran Yesus begitu dinanti-nantikan. Dalam bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), kita mengetahui bahwa setelah Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dari penyakit demamnya, berita tentang kedatangan Yesus dan aksi mukjizat-Nya dengan cepat menyebar. Dan sepertinya tidak menunggu terlalu lama karena segera sesudah itu, banyak orang secara massal datang untuk bertemu dengan Yesus. Mayoritas yang datang karena mereka memiliki kepentingan untuk disembuhkan oleh Yesus. Mereka datang dengan pelbagai penyakit dan mengharapkan pertolongan dari Yesus. Yesus tidak menolak mereka. Ia menerima kehadiran mereka dengan kasih yang tulus. Dan dengan semangat kasih itu pula, Ia menyembuhkan segala penyakit yang mendera mereka.

 

Spirit kasih yang ditunjukkan oleh Yesus tidak ekslusif menyasar wilayah tertentu saja. Spirit kasih itu tentu berciri universal. Dan Yesus sungguh menyadari bahwa Ia datang bukan hanya untuk satu kelompok manusia saja melainkan semua orang yang selalu mencari dan merindukan kehadiran Diri-Nya di mana dan kapan saja Ia berada. Oleh karena itu tidak heran bahwa menjelang pagi hari (waktu hari masih pagi-pagi benar), Yesus segera menyingkir untuk pergi ke daerah lain. Ketika Simon menemukan Yesus dan mengatakan bahwa semua orang mencari-Nya, Yesus dengan tegas berkata: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang” (Mrk 1:38).

 

Semangat “selalu mencari Yesus” yang diperlihatkan oleh orang-orang Israel membuktikan bahwa pertama, orang Israel sudah mengetahui siapa sosok Yesus sebenarnya. Ternyata Yesus bukan orang sembarangan. Kalau Ia tidak memiliki keistimewaan, pasti orang-orang sezaman-Nya tidak akan mencari dan mengikuti Dia. Keistimewaan Yesus itu terletak pada kata-kata dan perbuatan ajaib-Nya. Kata-kata-Nya begitu meneguhkan dan memberi penguatan terutama bagi orang-orang kecil dan miskin di kala itu. Orang-orang juga mengenal Yesus karena Ia selalu melakukan aksi mukjizat. Misalnya dengan menyembuhkan orang sakit, orang lumpuh, orang yang kerasukan roh jahat, dan bahkan membangkitkan orang mati. Kedua, orang-orang Israel dengan inisiatif sendiri atau ajakan orang lain, mau datang dengan kerelaan hati untuk menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Mereka terbuka kepada keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Tidak hanya keselamatan secara fisik, namun secara rohani. Mereka mau percaya dengan total kepada Yesus dan mengikuti segala ajaran-Nya. Memang ada juga orang-orang yang bersikap pragmatis dan oportunis. Mereka hanya memanfaatkan momentum untuk mencari keselamatan fisik semata. Setelah pulang, belum tentu mereka mau mengikuti Yesus dan segala ajaran-Nya.

 

Berbicara tentang agama dan Tuhan di masa kini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kita sebagai orang-orang yang beragama. Terutama bagi kita penganut iman kristiani, Orang-orang Kristen sepertinya tidak merasa tertarik lagi dengan segala hal yang berbau agama dan Tuhan. Orang lebih merasa kepemilikian agama dan Tuhan itu sesuatu hal yang sangat privasi. Tidak boleh diumbar atau diperlihatkan baik dalam kata-kata atau pun perbuatan. Kita sepakat dengan pernyataan ini. Namun menjadi non sense dan tidak benar apabila orang-orang Kristen hendak berlindung di balik pernyataan itu untuk tidak mau lagi melibatkan diri dalam segala urusan yang berbau rohani. Lebih miris lagi, kalau kita melihat dan menyaksikan banyak orang Kristen yang hidupnya sudah tidak kristiani lagi. Mereka suka melakukan tipu daya, berlaku tidak adil terhadap orang lain, melakukan korupsi, mencari keuntungan dan prestise diri dengan cara yang tidak halal, berlaku munafik, bersikap pongah atau sombong dan tidak jujur dalam hidupnya.

 

Hari ini kita semua diundang untuk tidak berhenti mencari Tuhan dalam hidup. Kita mencari Tuhan bukan saja karena kita ingin mendapatkan keselamatan. Lebih dari itu, kita ingin membangun percakapan yang lebih akrab dengan Diri-Nya. Kita ingin bersatu lebih dalam dengan Tuhan untuk mau mendengarkan dan meresapi segala hal yang telah dikatakan-Nya. Kita mau mengambil langkah yang lebih baik dan benar dalam hidup. Agar hidup kita lebih bernilai dan bermartabat di mata Tuhan dan sesama. Selalu mencari Tuhan dalam hidup adalah setia melakukan perjalanan spiritual untuk mendengarkan sabda-Nya, berdoa dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mencari jawaban ilahi dari setiap pergalaman atau pergulatan hidup yang kita alami. Amin. ***AKD***