Mrk 3:1-6
Ada pepatah latin yang berbunyi cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya
ada. Apa yang kita pikirkan sebenarnya menggambarkan siapa diri kita yang
sebenarnya. Jika konstruksi berpikir kita positif maka dengan sendirinya
mengalirkan kebaikan dalam pribadi. Sebaliknya, jikalau bangunan berpikir kita
negatif maka akan mengalirkan ketidakbaikan dalam diri. Sebagai contoh,
misalnya, apabila saya memandang seseorang sebagai sahabat, terlepas dari
segala kekurangan yang melekat dalam dirinya, maka saya akan memperlakukan dia
sebagai seorang sahabat. Sebaliknya, apabila saya selalu memandang orang lain
sebagai ancaman atau musuh, maka selanjutnya saya akan terus memperlakukan dia
sebagai musuh yang harus dihindari atau dilawan. Sebesar apa pun kebaikan yang
ditampilkan oleh seseorang, tidak akan membawa dampak positif bagi orang lain
yang sudah terlanjur memberi cap negatif.
Konstruksi berpikir negatif demikian, diperankan
oleh orang-orang Farisi yang sudah terlanjur melihat Yesus sebagai musuh
bersama yang harus dijegal. Dan bahkan kalau ada peluang langsung dilenyapkan.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Yesus memberi arah baru dalam pola
idealisme beragama. Banyak kelaziman yang berlaku dalam ajaran kitab suci dan
tradisi Yahudi didekontruksi dan diperbarui lagi oleh Yesus. Dan Yesus memiliki
alasan yang jelas dan rasional. Bahwa aturan dan tradisi itu memberangus
nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Dalam bahasa yang
lebih sederhana, aturan dan tradisi yang diberlakukan oleh para pemimpin agama
tidak sesuai dengan spirit kasih yang dikampanyekan oleh Allah sendiri. Menurut
Yesus, aturan dan tradisi itu tidak salah. Karena di dalamnya telah terkandung
spirit kasih yang memanusiakan manusia. Hanya pelbagai kepentingan duniawi
saja, yang menjadikan aturan dan tradisi itu berjalan timpang, tidak sesuai
dengak spirit kasih. Dengan terang benderang, Yesus menunjuk para elit agama
sebagai aktor-aktor utama yang menyusupkan pelbagai kepentingan mereka yang
tidak benar di dalam aturan dan tradisi.
Para elit agama membungkus kemunafikan dan
kesesatan mereka di balik aturan dan tradisi yang mengekang dan menindas umat.
Salah satunya adalah aturan tentang hari Sabat. Hari Sabat adalah hari yang
dikuduskan oleh umat Yahudi. Pada hari itu, semua aktivitas duniawi dihentikan
agar orang tetap fokus untuk beribadah kepada Allah dan memberi korban di Bait
Allah. Ada banyak sekalih larangan yang diberlakukan khusus pada hari Sabat.
Misalnya larangan untuk bekerja. Dalam item pekerjaan juga, terdistribusi
sekian banyak jenis pekerjaan yang tidak boleh dilakukan. Termasuk di dalamnya
larangan untuk menyembuhkan orang sakit. Di luar hari Sabat, tindakan
menyembuhkan atau menyelamatkan orang sakit boleh dilakukan. Namun khusus pada
hari Sabat, tindakan tersebut dilarang keras.
Hal ini yang menjadi titik perbedaan dan memantik
konflik panas di antara dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Kekuatan
ortodoks yang ingin mempertahankan status quo yakni para elit agama. Dan
kekuatan berikutnya adalah Yesus sendiri, yang mewakili kekuatan reformasi.
Kekuatan yang ingin membawa perubahan, agar aturan dan tradisi itu harus
dikembalikan sesuai dengan spiritnya yang ideal yakni spirit kasih Allah.
Namun, para elit agama tetap bersikukuh dengan pandangan dan sikap mereka.
Mereka tetap merasa diri paling benar karena gengsi pribadi dan kekuasaan yang
terpatri dalam diri. Mengikuti kata-kata Yesus berarti kiamat telah menghampiri
hidup. Mereka pasti akan kehilangan simpati dan rasa hormat yang ditunjukkan
oleh publik. Tidak hanya itu, mereka juga akan kehilangan sumber-sumber
pendapatan yang bernilai ekonomi. Mereka tidak akan mendapat bagian lagi dari
persembahan dan pajak yang diberikan oleh umat.
Bagi Yesus, kebenaran harus tetap menjadi sebuah
kebenaran. Kebenaran itu tidak boleh dipermainkan atas nama kepentingan sesaat
yang membawa sesat. Dimensi hari sabat tetap diletakkan sesuai dengan porsinya dalam aturan dan
tradisi. Namun seiring dengan itu, tidak menghilangkan spirit kasih yang
membawa kebaikan dan keselamatan bagi semua orang. Aturan dan tradisi diciptakan
oleh karena hadirnya manusia. Dan bukan manusia diciptakan karena adanya aturan
dan tradisi. Dengan demikian, aturan dan tradisi tentang hari Sabat bukannya
mengekang jiwa-jiwa manusia, namun semakin membuka ruang terciptanya kebaikan
dan keselamatan. Kebaikan dan keselamatan inilah yang diinspirasi dan dijiwai
oleh spirit kasih Allah. Tindakan Yesus pada hari Sabat yang membawa
keselamatan bagi orang yang mati sebelah tangannya adalah tindakan yang
diinspirasi sekaligus dijiwai oleh spirit kasih Allah. Dengan aksi fenomenal
dan heroik ini, Yesus mau menegaskan bahwa spirit kasih Allah melebihi atau
melampaui segala jenis aturan dan tradisi yang dibuat oleh manusia. Dan manusia
harus tunduk untuk mengikuti spirit kasih Allah itu agar dapat tercipta
keselamatan dan kebaikan dalam hidup.
Atas nama gengsi pribadi, status dan jabatan,
seringkali kita menggadaikan hidup untuk memenuhi nafsu, keinginan, dan
ketamakan duniawi. Kita tidak rela mengamalkan nilai kasih dalam hidup sosial
karena pikiran dan laku masih ditunggangi oleh pelbagai kepentingan. Kita takut
tidak dihormati atau disegani lagi. Kita merasa malu bergaul dengan orang-orang
yang tidal selevel dengan kita. Kita masih bersikap ego untuk menumpuk kekayaan
dengan memanfaatkan situasi. Bahkan seringkali dengan tindakan yang tidak jujur
dan menindas orang lain. Kita masih sibuk mencari jabatan dan kekuasaan
sehingga melalaikan semangat kasih. Hari ini Tuhan sungguh mencerahkan dan
meneguhkan hidup kita. Pertama-pata, Tuhan merefresh dan menguppgrade pikiran
kita agar kita mampu berpikir positif tentang situasi dan orang lain di
sekitar. Dengan pikiran yang positif, sebenarnya memampukan kita melepaskan
keterikatan-keterikatan duniawi yang membelenggu hidup. Keterikatan-keterikatan
tersebut ibarat aturan hari Sabat yang membelenggu sehingga menutup mata kita
terhadap spirit kasih Allah. kedua, Tuhan menghendaki agar kita berani keluar
dari zona nyaman sehingga benar-benar bebas mengimplementasikan nilai kasih itu
bagi siapa saja, terutama bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Allah itu
adalah kasih. Dan kita meyakini bahwa setiap tindakan kasih yang kita nyatakan,
Tuhan pasti ada dan selalu membawa berkat dalam hidup kita. Mari kita selalu
membawa spirit kasih dalam hidup kita. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar