Mrk 9:38-40
Toleransi adalah
sikap manusia untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan baik antar
individu maupun kelompok. Untuk menghadirkan perdamaian dalam keberagaman,
perlu adanya sikap toleransi. Secara etimologi (asal-usu kata), kata toleransi
berasal dari bahasa Latin Tolerare
yang berarti sabar dan menahan diri. Kemudian kata Tolerare diadopsi ke dalam bahasa Inggris Tolerance yang berarti membiarkan. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kata toleransi berarti sikap toleran, membiarkan, dan mendiamkan.
Toleransi dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Tasamuh. Dengan demikian, hakikat sikap toleransi menunjuk pada
sikap saling menerima adanya perbedaan entah suku, agama, golongan, etnis,
dengan saling menghargai dan menghiormati satu sama lain. Jadi sejatinya, sikap
toleransi melampaui sekat-sekat atau perbedaan yang melekat dalam kehidupan
sosial masyarakat.
Sikap toleransi
ternyata sudah berusia sangat tua. Pada zaman Yesus, sikap toleransi sebenarnya
sudah dihidupi dan dipraktekkan. Dan Yesus sendiri menjadi inisiator sekaligus
motivator yang menggerakkan para murid-Nya untuk tidak ragu-ragu menerapkan
sikap toleransi dalam hidup. Dalam suatu kesempatan, salah seorang murid, yang
bernama Yohanes, melakukan curhat
dengan Yesus. “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan
demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita” (Mrk
9:38). Yohanes menyangka bahwa ia akan mendapat dukungan moril dari Yesus
terkait dengan tindakannya itu. Namun, jawaban Yesus sungguh berbanding
terbalik dengan harapannya. “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang
telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku”
(Mrk 9:39).
Jawaban Yesus di
atas, secara otomatis meredam pemikiran sempit para murid yang diwakili oleh
Yohanes. Sekian lama berada dan meng”ada”bersama-sama dengan Yesus, menciptakan
sikap ekslusif dikalangan dua belas rasul. Mereka merasa berbeda dengan orang
lain pada umumnya. Mereka merasa diri lebih hebat, lebih memiliki kemampuan,
kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang murid Yesus. Karena rasa yang
ekslusif demikian, para murid berpikir bahwa hanya dalam kalangan mereka saja
yang bisa melakukan mukjizat atau tanda heran dalam nama Yesus. Mereka tidak
mengakui ada orang lain di luar kelompok mereka yang bisa melakukan mukjizat.
Dan hal ini
terbaca dalam diri Yohanes ketika secara eksplisit, ia bersama-sama dengan para
murid yang lain mencegah orang lain yang melakukan mukjizat dalam nama Yesus.
Dengan tegas, Yesus membuka cakrawala berpikir para murid-Nya, agar bisa
melihat realitas secara proporsional, tidak sempit dan ekslusif. Belum tentu
mereka yang melakukan mukjizat dalam nama-Nya, kemudian berbalik melawan
diri-Nya. Justru menurut Yesus, orang lain di luar mereka, dapat menjadi bagian
dari mereka. Karena ia melakukan sesuatu yang benar di mata Yesus. Walaupun
belum tentu ia mengenal dan percaya kepada Yesus secara pribadi.
Dengan hal ini,
pada hakikatnya, Yesus mau mengusung sikap toleransi dalam hidup manusia. Bahwa
di tengah realitas sosial yang penuh keberagaman, sikap saling menghargai dan
menghormati perbedaan itu sangat penting. Kebenaran itu tidak bisa diklaim oleh
salah satu kelompok saja. Dan tidak dengan serta merta seseorang atau kelompok
orang tertentu mempersalahkan orang atau kelompok lain atas nama kebenaran
pribadi atau kelompoknya. Seturut ajaran Yesus, kebenaran itu sifatnya
universal. Barangsiapa melakukan prinsi-prinsip kebaikan dan kebenaran dalam
hidupnya, ia adalah murid Yesus, walaupun ia tidak mengenal dan mengimani
Yesus.
Gereja sebelum
Konsili Vatikan II memang mengusung slogan extra
ecclesiam nulla salus. Di luar gereja tidak ada kebenaran. Namun hasi
keputusan Konsili Vatikan II (1962-1965) merekonstruksi slogan ekslusif di atas
menjadi lebih inklusif. Slogan Gereja Katolik era Vatikan II kemudian dikenal
sampai sekarang dengan istilah extra
ecclesiam salus est (di luar gereja ada kebenaran). Gereja Katolik akhirnya
mengakui bahwa di luar dirinya, ternyata ada kebenaran. Kebenaran itu milik
siapa saja. Tidak terbatas dalam Gereja Katolik. Milik semua orang dan kelompok
yang menghidupi, memperjuangkan dan membumikan prinsip-prinsip kebenaran demi
kemaslahatan atau kebaikan bagi segenap makhluk. Dengan mengakui kebenaran yang
ada pada orang atau kelompok lain, Gereja Katolik era Konsili Vatikan II
semakin belajar untuk memahami dan menghidupi semangat toleransi yang sudah
diwartakan dan dilakukan oleh Yesus.
Tidak bisa
dipungkiri memang bahwa realitas sering berkata lain. Walaupun pikiran kita
sudah banyak dijejali dengan ajaran yang konstruktif untuk membangun semangat
toleransi, ternyata belum sepenuhnya diimplementasikan dalam hidup. Kita masih
cenderung berpikir dan berlaku demi kita saja. Dan dengan tegas kita menarik
batas yang jelas dengan orang lain yang berbeda dengan kita. Entah berbeda dalam
agama, daerah, suku, golongan, etnis, dan sebagainya. Kadang kita merasa dan
berpikir paling benar sehingga mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang
lain yang berbeda dengan kita. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang lain,
tidak dirasa benar karena sudah diberi label berbeda. Karena dianggap berbeda,
cenderung kita memperlakukan mereka secara berbeda pula. Ada sikap
diskriminatif yang kita lakonkan sehingga mempertontonkan sikap tidak
menghargai dan menghormati.
Hari ini kita mendapat inspirasi yang sangat bernilai dari Yesus sendiri untuk mengusung nilai toleransi dalam hidup. Kita mau hidup untuk membangun semangat toleransi dengan siapa saja yang berbeda dengan kita. Kita percaya, walaupun mereka tidak mengimani Yesus, namun sesungguhnya mereka adalah murid Yesus yang tergambar dalam sikap dan perbuatan mereka yang baik dan benar. St Yakobus mengingatkan kita dalam suratnya pada hari ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17). Oleh karena itu, bersama St. Polikarpus yang kita kenangkan pada hari ini, mari kita selalu mengusung sikap toleransi dalam hidup dengan melakukan banyak kebaikan bagi orang lain, tanpa memandang sekat-sekat yang membatasi.