Rabu, 23 Februari 2022

Mengusung Sikap Toleransi

                                      Mrk 9:38-40

 

Toleransi adalah sikap manusia untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan baik antar individu maupun kelompok. Untuk menghadirkan perdamaian dalam keberagaman, perlu adanya sikap toleransi. Secara etimologi (asal-usu kata), kata toleransi berasal dari bahasa Latin Tolerare yang berarti sabar dan menahan diri. Kemudian kata Tolerare diadopsi ke dalam bahasa Inggris Tolerance yang berarti membiarkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata toleransi berarti sikap toleran, membiarkan, dan mendiamkan. Toleransi dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Tasamuh. Dengan demikian, hakikat sikap toleransi menunjuk pada sikap saling menerima adanya perbedaan entah suku, agama, golongan, etnis, dengan saling menghargai dan menghiormati satu sama lain. Jadi sejatinya, sikap toleransi melampaui sekat-sekat atau perbedaan yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat.

 

Sikap toleransi ternyata sudah berusia sangat tua. Pada zaman Yesus, sikap toleransi sebenarnya sudah dihidupi dan dipraktekkan. Dan Yesus sendiri menjadi inisiator sekaligus motivator yang menggerakkan para murid-Nya untuk tidak ragu-ragu menerapkan sikap toleransi dalam hidup. Dalam suatu kesempatan, salah seorang murid, yang bernama Yohanes, melakukan curhat dengan Yesus. “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita” (Mrk 9:38). Yohanes menyangka bahwa ia akan mendapat dukungan moril dari Yesus terkait dengan tindakannya itu. Namun, jawaban Yesus sungguh berbanding terbalik dengan harapannya. “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku” (Mrk 9:39).

 

Jawaban Yesus di atas, secara otomatis meredam pemikiran sempit para murid yang diwakili oleh Yohanes. Sekian lama berada dan meng”ada”bersama-sama dengan Yesus, menciptakan sikap ekslusif dikalangan dua belas rasul. Mereka merasa berbeda dengan orang lain pada umumnya. Mereka merasa diri lebih hebat, lebih memiliki kemampuan, kapasitas dan kapabilitas sebagai seorang murid Yesus. Karena rasa yang ekslusif demikian, para murid berpikir bahwa hanya dalam kalangan mereka saja yang bisa melakukan mukjizat atau tanda heran dalam nama Yesus. Mereka tidak mengakui ada orang lain di luar kelompok mereka yang bisa melakukan mukjizat.

 

Dan hal ini terbaca dalam diri Yohanes ketika secara eksplisit, ia bersama-sama dengan para murid yang lain mencegah orang lain yang melakukan mukjizat dalam nama Yesus. Dengan tegas, Yesus membuka cakrawala berpikir para murid-Nya, agar bisa melihat realitas secara proporsional, tidak sempit dan ekslusif. Belum tentu mereka yang melakukan mukjizat dalam nama-Nya, kemudian berbalik melawan diri-Nya. Justru menurut Yesus, orang lain di luar mereka, dapat menjadi bagian dari mereka. Karena ia melakukan sesuatu yang benar di mata Yesus. Walaupun belum tentu ia mengenal dan percaya kepada Yesus secara pribadi.

 

Dengan hal ini, pada hakikatnya, Yesus mau mengusung sikap toleransi dalam hidup manusia. Bahwa di tengah realitas sosial yang penuh keberagaman, sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan itu sangat penting. Kebenaran itu tidak bisa diklaim oleh salah satu kelompok saja. Dan tidak dengan serta merta seseorang atau kelompok orang tertentu mempersalahkan orang atau kelompok lain atas nama kebenaran pribadi atau kelompoknya. Seturut ajaran Yesus, kebenaran itu sifatnya universal. Barangsiapa melakukan prinsi-prinsip kebaikan dan kebenaran dalam hidupnya, ia adalah murid Yesus, walaupun ia tidak mengenal dan mengimani Yesus.

 

Gereja sebelum Konsili Vatikan II memang mengusung slogan extra ecclesiam nulla salus. Di luar gereja tidak ada kebenaran. Namun hasi keputusan Konsili Vatikan II (1962-1965) merekonstruksi slogan ekslusif di atas menjadi lebih inklusif. Slogan Gereja Katolik era Vatikan II kemudian dikenal sampai sekarang dengan istilah extra ecclesiam salus est (di luar gereja ada kebenaran). Gereja Katolik akhirnya mengakui bahwa di luar dirinya, ternyata ada kebenaran. Kebenaran itu milik siapa saja. Tidak terbatas dalam Gereja Katolik. Milik semua orang dan kelompok yang menghidupi, memperjuangkan dan membumikan prinsip-prinsip kebenaran demi kemaslahatan atau kebaikan bagi segenap makhluk. Dengan mengakui kebenaran yang ada pada orang atau kelompok lain, Gereja Katolik era Konsili Vatikan II semakin belajar untuk memahami dan menghidupi semangat toleransi yang sudah diwartakan dan dilakukan oleh Yesus.

 

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa realitas sering berkata lain. Walaupun pikiran kita sudah banyak dijejali dengan ajaran yang konstruktif untuk membangun semangat toleransi, ternyata belum sepenuhnya diimplementasikan dalam hidup. Kita masih cenderung berpikir dan berlaku demi kita saja. Dan dengan tegas kita menarik batas yang jelas dengan orang lain yang berbeda dengan kita. Entah berbeda dalam agama, daerah, suku, golongan, etnis, dan sebagainya. Kadang kita merasa dan berpikir paling benar sehingga mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang lain yang berbeda dengan kita. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang lain, tidak dirasa benar karena sudah diberi label berbeda. Karena dianggap berbeda, cenderung kita memperlakukan mereka secara berbeda pula. Ada sikap diskriminatif yang kita lakonkan sehingga mempertontonkan sikap tidak menghargai dan menghormati.

 

Hari ini kita mendapat inspirasi yang sangat bernilai dari Yesus sendiri untuk mengusung nilai toleransi dalam hidup. Kita mau hidup untuk membangun semangat toleransi dengan siapa saja yang berbeda dengan kita. Kita percaya, walaupun mereka tidak mengimani Yesus, namun sesungguhnya mereka adalah murid Yesus yang tergambar dalam sikap dan perbuatan mereka yang baik dan benar. St Yakobus mengingatkan kita dalam suratnya pada hari ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17). Oleh karena itu, bersama St. Polikarpus yang kita kenangkan pada hari ini, mari kita selalu mengusung sikap toleransi dalam hidup dengan melakukan banyak kebaikan bagi orang lain, tanpa memandang sekat-sekat yang membatasi.

Senin, 21 Februari 2022

Memahami Berkat Yang Tersembunyi

                                                              Mrk 8:22-26

 

Mungkin anda pernah mendengar pepatah Latin yang berbunyi vita est militia. Hidup adalah perjuangan. Tidak sedikit orang melekatkan kalimat ini dalam curriculum vitae (riwayat hidup) sebagai motto hidup. Kalau pun tidak sempat menulis dalam biografi hidup, setidaknya secara lisan, banyak yang mengakui atau menegaskan kata-kata latin ini sebagai motto hidup. Memang betul, vita est militia merupakan sebuah kalimat yang terbentuk dari kata-kata yang sederhana. Namun pada dirinya sendiri, mengandung makna yang sangat dalam. Bahkan kalau diulas lebih jauh, bisa menghasilkan sebuah maha karya yang menginspirasi banyak orang.

 

Vita est militia adalah filosofi hidup yang mendeskripsikan esensi sekaligus eksistensi hidup manusia yang sesungguhnya. Bahwa untuk menggapai hidup yang penuh makna, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak kecil. Hidup adalah perjuangan merupakan sebuah proses kehidupan untuk menegaskan eksistensi manusia yang hidup di atas dunia. Menjalani kehidupan itu tidak mudah. Tidak instan seperti mie instan. Sekali masak langsung jadi. Hidup itu harus diperjuangan dan dimenangkan dalam tahap demi tahap. Dan dalam setiap tahap kehidupan, ada sekian tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi dan ditaklukkan. Jiwa manusia tidak boleh lemah. Apalagi menjadi putus asa. Hidup itu harus senantiasa diperjuangkan step by step (tahap demi tahap) agar manusia sungguh mengerti betapa berartinya sebuah kehidupan. Dalam kaca mata iman, kita percaya bahwa dalam ziarah kehidupan manusia yang penuh dinamika dan kompleks, sebenarnya ada intervensi Tuhan yang sementara mendidik pribadi manusia menjadi lebih matang dan dewasa.

 

Dalam peristiwa penyembuhan seorang buta oleh Yesus di daerah Betsaida (Mrk 8:22-26) diperlihatkan kepada kita semua sebuah kisah yang unik dan menarik. Orang buta yang menjadi sasaran penyembuhan itu tidak langsung mengalami kesembuhan. Secara rinci, penginjil Markus membeberkan tahap demi tahap penyembuhan itu. pertama-tama, ada orang yang membawa si buta kepada Yesus dan memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan orang buta tersebut. Kemudian Yesus memegang tangan si buta, menuntun dia ke luar kampung. Kemudian Yesus meludahi mata orang buta dan meletakkan tangan atasnya. Namun, orang buta itu masih melihat samar-samar alias belum jelas. Sekali lagi Yesus meletakkan tangan-Nya pada mata orang buta itu. Dan mukjizat itu mencapai kesempurnaannya. Mata orang buta itu menjadi sembuh sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

 

Bagi saya, adegan penyembuhan ini terlihat tidak biasa. Biasanya, setiap aksi fenomenal yang dilakukan Yesus itu langsung sekali jadi. Tidak membutuhkan proses atau tahap demi tahap. Namun kita tidak seharusnya membaca kisah penyembuhan ini secara tekstual semata. Kisah ini tidak hanya berhenti pada adegan penyembuhan orang buta. Tentu ada pesan terselubung yang hendak dititipkan oleh Markus dalam kisahnya kali ini. Sejatinya, orang buta tesebut adalah lambang dari para murid pertama dan semua murid Yesus, yang memerlukan sentuhan yang menyembuhkan (Tafsir Alkitab PB, hal.96). Untuk menjadi seorang murid Yesus yang sejati, pasti tidak mudah. Tidak sekali jadi. Butuh proses agar para murid sungguh mengenal dan memahami Yesus secara lebih mendalam. Para murid harus disembuhkan dari kebutaannya agar mata mereka menjadi terbuka melihat Diri Yesus yang sesungguhnya. Secara perlahan-lahan, para murid mulai belajar mengenal siapa Yesus dan mengadopsi segala hal yang Ia katakan dan perbuat. Pada akhirnya mereka juga dapat memahami misi perutusannya sendiri untuk mewartakan Dia yang sungguh-sungguh mereka imani.

 

Tidak hanya murid pertama. Demikian juga kita sebagai murid Yesus di era ini. Walaupun sudah dikukuhkan menjadi anggota gereja melalui sakramen pembaptisan, tidak bisa memberi garansi atau jaminan bagi kita menjadi murid yang sejati. Secara formal kita adalah seorang murid Yesus, namun dalam praksisnya, belum tentu gerak hati, pikiran, dan perbuatan kita selalu terarah kepada-Nya. Kita memerlukan proses waktu untuk lebih dekat dan intim dengan-Nya. Dalam percakapan rohani yang secara terus menerus dibangun bersama Dia, kita membutuhkan sentuhan ilahi-Nya, agar mata hati dan pikiran kita menjadi terbuka. Kita dapat sungguh-sungguh mengenal Yesus dan mengimaninya dengan total. Mengimani tidak hanya dalam kata-kata, tetapi dibuahi dalam perbuatan konkrit.

 

Pengalaman kebutaan tidak hanya dialami oleh si buta dalam Injil. Seringkali, kita juga menjadi buta dalam menyikapi aneka tantangan dan kesulitan yang kita hadapi dalam hidup. Kita gampang terperosok menjadi pribadi yang lemah dan cepat putus asa. Kita tidak tahan banting menghadapi badai cobaan dan tantangan yang datang mendera hidup. Hari ini, Tuhan memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Melalui pengalaman dan kenyataan hidup yang gelap dan menyakitkan, sebenarnya Tuhan sementara menyembuhkan dan memulihkan jati diri kita menjadi pribadi yang tangguh dan matang dalam iman. Kita tidak boleh berkecil hati apalagi sampai mengundurkan diri dari kehidupan yang keras dan menantang ini. Karena di balik keburukan atau kekelaman hidup yang terjadi, Tuhan sementara mendesain hidup yang terbaik bagi kita. Dan itu jauh melampaui pikiran dan intuisi manusiawi kita. Marilah kita sungguh percaya dan mengimani dengan hati yang yang tulus dan total

Menghidupi Iman Dengan Cara Sederhana

 Mrk 6:53-56

 

Iman adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah. Iman juga merupakan sikap penyerahan diri yang total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas. Ia menyapa manusia dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah. Penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi pula. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman religius memang merupakan pengalaman dasar. Di atas pengalaman dasar itulah dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari dirinya sendiri tidak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. Dalam kitab Suci dikatakan, “Tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakan-Nya” (Mat 11:27).

 

Sikap iman yang total kepada Yesus ditunjukkan oleh orang-orang ketika melihat Yesus berada di daerah Genesaret. Tidak sekedar datang melihat Yesus. Mereka juga membawa orang-orang sakit ke hadapan Yesus. Mereka percaya, Yesus akan memberi kesembuhan kepada orang-orang sakit. Saking yakinnya, mereka memohon kepada Yesus untuk cukup saja menyentuh jumbai jubah-Nya. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan keselamatan. Hal ini memberi inspirasi kepada kita betapa orang-orang itu tidak hanya total menaruh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang itu juga menghidupi iman mereka dengan cara yang sederhana. Tidak rumit.

 

Sikap iman yang total dan sederhana dari orang-orang, ternyata kontras (berbanding terbalik) dengan sikap iman yang ditunjukkan oleh para murid. Sekian lama berada dan melihat banyak hal tentang Yesus, ternyata belum mampu mendongkrak kadar iman para murid akan Yesus. Dalam peristiwa sebelumnya, yang mengisahkan Yesus berjalan di atas air (Mrk 6:45-52), para murid sangat ketakutan dan mengira Yesus adalah hantu. Bahkan ketika Yesus sudah memperkenalkan diri dan naik ke perahu bersama-sama dengan mereka, itu belum cukup membuat mereka yakin. Injil mencatat ”Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu (Yesus memberi makan lima ribu orang) mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:51-52).

 

Sikap para murid yang belum mampu menunjukkan sikap percaya dan iman yang total kepada Yesus, sebenarnya mempresentasikan sikap iman kita dewasa ini. Sebagai seorang pengikut Yesus, kita acapkali belum atau tidak mampu menunjukkan iman yang total kepada Yesus dan Bapa-Nya. Kita lebih mengandalkan logika atau rasio dalam setiap pengalaman hidup yang kita alami. Pengalaman yang baik dilihat sebagai hal yang biasa saja. Dalam tiap keberhasilan atau kesuksesan yang diraih, kita lebih membanggakan usaha dan prestasi pribadi. Sebaliknya, dalam pengalaman kegagalan, penderitaan, dan keterpurukan, kadang kita lari dan tidak mau menghadapinya. Malahan, kita melempar tanggung jawab, sibuk mencari kambing hitam dan tidak lupa menegaskan pembenaran diri.

 

Dalam pengalaman sakit, yang mungkin pernah atau pada saat sekarang kita sedang mengalaminya, kita belum mau menunjukkan iman yang total kepada Yesus. Malahan kita mengambil jarak dengan Dia dengan tidak mau berdoa. Anehnya, kita lebih mengandalkan kekuatan-kekuatan luar selain kekuatan Yesus. Kita mencari paranormal atau dukun, orang pintar, dan orang hebat untuk mencari tahu dan menyembuhkan rasa sakit dan penyakit yang kita rasakan. Kita tidak mau pergi ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, karena kita lebih mempercayai dukun atau paranormal. Nanti tunggu rasa sakit semakin menjadi-jadi dan tidak diatasi oleh dukun barulah tergopoh-gopoh kita pergi ke fasilitas kesehatan.

 

Orang-orang Genesaret telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Sikap iman kepada Tuhan itu harus dihidupi tanpa adanya sikap kompromi, ragu-ragu, apatis dan sombong. Kita perlu belajar dari orang-orang Genesaret untuk menghidupi iman kita kepada Tuhan dengan sikap iman yang sederhana. Sikap iman yang sederhana menunjuk pada sikap iman yang tulus dan total. Kita mau datang kepada Tuhan dengan cara-cara yang sederhana dan tidak rumit. Kita mau mempercakapkan banyak hal tentang kehidupan kita kepada-Nya dengan kata-kata yang sederhana. Tidak dengan kata-kata yang tinggi dan sulit dimengerti. Bahkan Tuhan sendiri juga bingung dengan aneka istilah yang kita gunakan. Kita butuh waktu yang sederhana, singkat, dan tidak bertele-tele. Dalam kesendirian dan kesunyian, kita mau menyerahkan diri secara total agar Ia mau mendengar segala keluh kesah kita. Kita percaya Tuhan akan menindaklanjuti apa yang kita sampaikan dengan cara-Nya yang penuh misteri, rahasia tetapi sungguh memberi kelegaan dan keselamatan. 

Dan melalui para dokter, para perawat, para bidan, dan semua orang yang bertugas di rumah sakit ini, Tuhan sementara menyingkapkan tindakan-Nya yang penuh misteri agar kita sungguh menyadari kehadiran-Nya di tempat ini. Tuhan sungguh menjawab apa yang kita sampaikan kepada-Nya melalui para tenaga kesehatan yang sementara bertugas di tempat ini. Mereka sebenarnya adalah representasi (perwakilan) dari Tuhan sendiri yang datang untuk memberi kesembuhan dan keselamatan bagi kita yang sementara mengalami sakit. Menghidupi iman yang sederhana berarti pula kita menyadari kehadiran Tuhan yang sungguh misteri, serentak pula menyadari kehadiran-Nya yang sungguh nyata di tempat ini. Kita percaya, Tuhan akan menjawab segala doa yang kita panjatkan kepada-Nya dengan kebijaksanaan ilahi-Nya. Mari kita menyerahkan diri kepada Tuhan dengan menghidupi iman kita secara sederhana. 

Minggu, 13 Februari 2022

Menjaga Kehalalan Diri

 

Mrk 7:14-23

 

Pernah suatu saat, saya diberi beberapa buah mangga yang hampir masak. Dari kulit luar tampak warna merah kekuning-kuningan. Saya sangat yakin buah ini sangat gurih dan nikmat. Ketika sampai di rumah, saya buru-buru mengupas buah mangga itu. Tanpa berpikir panjang saya langsung melahap satu irisan yang cukup besar. Tak disangka, rasanya sangat asam. Gigi saya terasa ngilu, rasanya mau copot; akibat efek dari buah mangga yang asam. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, ini buah makan jenis apa. Dari kulit luar kelihatan sangat menarik. Tetapi isi dalamnya, sangat mengecewakan. Ternyata setelah saya mendengar informasi dari orang yang cukup ahli dalam dunia buah-buahan, memang ada jenis mangga tertentu yang tampak sudah masak dari kulit luar. Padahal sebenarnya, isinya belum masak. Butuh waktu yang cukup agar buah mangga itu benar-benar masak saat dipetik dari pohonnya.

Ilustrasi sederhana tentang buah mangga di atas, mengingatkan saya akan teks Injil pada hari ini (Mrk 7:14-23). Yesus mengkritik perilaku orang-orang, terutama para elit agama, yang memainkan kesalehen palsu dalam hidup. Dari tampang kelihatan kudus, tetapi hati mereka penuh kebusukan. Mereka sangat mengutamakan hal-hal lahiriah seperti kewajiban melakukan ritus dan tradisi serta menjauhi segala larangan atau pantangan. Misalnya kewajiban untuk menaati prosedur ketika hendak makan. Atau sampai kepada larangan untuk makan makanan tertentu yang najis (tidak halal). Namun mereka tidak memiliki hati yang bersih untuk sungguh-sungguh melaksanakan kehendak Allah. Secara fisik, kelihatan mereka sangat dekat dengan Allah, padahal hati mereka sangat jauh dari Allah.

Yesus sebenarnya tidak mempermasahkan segala aturan yang berkaitan dengan kewajiban dan larangan dalam agama. Kewajiban dan larangan yang tertulis dalam Kitab Suci dan tradisi itu baik adanya. Kehadiran dan pemberlakuannya sebagai sarana untuk mendekatkan relasi antara manusia dengan Tuhan. Namun, fakta yang terjadi sangat kontras. Orang-orang, terkhusus para elit agama kala itu, gagal menimba spirit yang paling fundamental dari segala aturan dan tradisi tersebut. Pelaksanaan kewajiban dan larangan dalam agama harus diseimbangkan dengan implementasi nilai-nilai kemanusiaan yang memanusiakan manusia. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang muncul dari dalam hati, itulah yang harus diperjuangkan dan dimenangkan dalam hidup. Bukan fokus pada pelaksanaan segala aturan dan kewajiban agama semata.

Secara eksplisit Yesus mengatakan: “Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mr 7:14). Sekilas kita memahami bahwa Yesus melegalkan segala jenis makanan yang dimakan oleh umat saat itu. Namun pada prinsipnya, Yesus tidak melarang hal itu. Hukum, aturan, dan tradisi tetap berjalan sesuai dengan porsinya. Dan orang-orang wajib untuk menaatinya. Yang menjadi problem nyata adalah membiasnya sikap palsu dalam hidup keagamaan. Karena dari dalam hati tetap timbul hal-hal yang destruktif. Kitab suci mencatat, hal-hal yang destruktif terekspose dalam pikiran yang jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kekebalan.

Menurut Yesus, sejatinya hal-hal destruktif demikian yang seharusnya dikategorikan ke dalam sikap dan perbuatan yang najis. Karena tanpa atau dengan sengaja, orang-orang telah membiarkan dirinya untuk berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Dengan kata lain, orang-orang telah menajiskan dirinya dengan perbuatan yang tidak benar di hadapan Allah. Jikalau benar orang-orang telah mencemarkan atau menajiskan dirinya dengan hal-hal yang tidak baik dan benar, apa untungnya mereka mengikuti bahkan turut mengkampanyekan ritus-ritus lahiriah yang tertulis rapih dalam kitab suci dan tradisi suci? Tidak mengherankan, mereka ingin mencari keuntungan, entah secara pribadi atau kelompok. Mereka ingin dilabeli sebagal orang-orang suci. Mereka ingin mendapatkan keuntungan secara sosial dan politik. Bahkan juga mendapat keuntungan secara ekonomi. Kalkulasinya jelas. Mereka akan mendapat simpati publik, disegani, dihormati, diberi kekayaan, dan prestise atau pamor diri di muka publik akan terdongrak.

Hari ini, kita semua diingatkan oleh Yesus akan dua hal. Pertama, penting bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan antara ketaatan pada ritus dan tradisi keagamaan di satu sisi, dan ketaatan untuk mengamalkan kasih dan kebenaran Allah di lain pihak. Sebagai orang Katolik, kita tetap memenuhi kewajiban agama untuk pergi ke gereja pada hari Minggu, berdoa secara pribadi di rumah, atau berdoa secara kolektif di KBG atau lingkungan. Aspek ini akan mendapat kepenuhannya apabila kita sungguh-sungguh menjaga hati dan pikiran untuk tetap berpikir dan melaksanakan hal-hal yang positif sesuai dengan kehendak Allah. Kedua, hal prinsip yang ditegaskan oleh Yesus adalah soal najis atau haram. Bahwa yang membuat seseorang itu terperosok menjadi pribadi najis atau haram itu bukan terletak pada soal makanan atau minuman yang masuk dalam tubuh, melainkan terdeteksi melalui pikiran dan perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Mari kita senantiasa menjaga kehalalan diri kita dengan berpikir dan berbuat yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Jangan Takut Berbuat Baik dan Benar

 

Mrk 4:1-20

 

Suatu hari, ada anak seorang lelaki miskin, penjual asongan dari pintu ke pintu, tidak memiliki uang untuk membeli makanan dan minuman. Dia sangat lelah dan lapar. Akhirnya dia memutuskan untuk meminta makanan di rumah berikutnya. Akan tetapi, anak tersebut kehilangan keberanian. Pada saat yang hampir bersamaan, seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan. Dia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak laki-laki itu pasti lapar. Oleh karena itu dia membawakan segelas susu. Dan anak lelaki tersebut meminumnya dengan perlahan. Kemudian dia bertanya: “Berapa aku harus membayar untuk segelas susu ini?” Wanita itu menjawab: “Kamu tidak perlu bayar apa pun. Agama saya mengajarkan untuk jangan menerima bayaran untuk sebuah kebaikan”. Kemudian anak laki-laki itu menghabiskan susunya. Ia berkata: “Terima kasih atas kebaikan ibu. Semoga Allah membalas kebaikan yang tulus ini dengan berlipat ganda”. “Sama-sama. Kita saling mendoakan. Kamu juga harus jadi orang sukses”, wanita itu menimpali.

 

Sekian tahun berlalu ternyata wanita baik tersebut mengalami sakit jantung yang serius. Para dokter ahli di kotanya sudah tidak sanggup menangani penyakitnya. Akhirnya, wanita itu dirujuk ke Jakarta untuk bisa ditangani oleh dokter ahli spesialis jantung yang lebih berpengalaman. Singkat cerita, sang dokter ahli spesialis jantung dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Ketika membaca profil wanita yang menjadi pasiennya, sontak dokter itu sedikit kaget. Rupanya wanita itu sekampung dengannya. Terbersit dalam pikirannya, bayangan seorang wanita mulia yang pernah menolongnya. Segera beliau bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit menuju kamar rawat wanita itu.Dengan berpakaian jubah kedokteran, dia menemui wanita itu. Akhirnya, sang dokter pun langsung mengenali wanita itu dengan sekali pandang. Sejak hari itu, dia selalu memberikan perhatian khusus untuk wanita tersebut. Setelah melalui proses perjuangan yang panjang, akhirnya penyakit wanita itu dapat diatasi. Wanita itu pun dinyatakan sembuh dari penyakitnya.

 

Kemudian, sang dokter ahli meminta bagian administrasi rumah sakit agar mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan wanita itu kepadanya. Dokter melihat biaya tagihan dan menulis sesuatu pada pojok di atas lembaran tagihan tersebut. Lalu dia mengirimkannya ke kamar pasien wanita itu. Saat menerima resep tagihan, sang wanita sangat gelisah. Ia kuatir tidak bisa membayar biaya yang tercantum di dalamnya, sekali pun harus dicicil seumur hidup. Namun dia memberanikan diri untuk membuka tagihan itu. Ternyata pada pojok atas lembar tagihan itu ada tertera tulisan “Telah Dibayar Lunas Dengan Segelas Susu. Tertanda Dokter Spesialis Jantung”. Air mata kebahagiaan menbanjiri mata wanita itu. Anda tahu siapa dokter spesialis jantung itu? Dia adalah anak penjual asongan yang pernah diberi segelas susu oleh sang wanita.

 

Bacaan Injil hari ini (Luk 10:1-9) membentangkan kisah penunjukkan 70 murid oleh Yesus. Mereka akan disebarkan ke daerah-daerah misi untuk mewartakan Sabda Tuhan. Hal yang menjadi perhatian adalah sebelum pergi untuk menjalani misi perutusan, mereka diberi semacam pembekalan atau penguatan khusus. Yesus mewanti-wanti para murid tentang situasi atau keadaan daerah misi.Yesus menggambarkan kehadiran mereka di daerah misi ibarat domba-domba yang dikirim ke tengah-tengah serigala. Para murid rupanya sementara ditantang oleh Yesus bahwa misi yang akan mereka jalani ini sangat berbahaya. Nyawa menjadi taruhan. Mereka harus siap dimangsa oleh serigala yang sedang siap menanti. Ada banyak tantangan, kesulitan, dan hambatan yang akan menerpa diri mereka. Mereka siap dihina, dicemooh, dikejar, dianiaya, dan dibunuh.

 

Para murid juga diingatkan oleh Yesus untuk tidak membawa pundi-pundi, bekal, atau kasut, dan jangan memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Ini yang aneh dan tidak masuk akal menurut kita. Sebenarnya, Yesus sedang menekankan pentingnya nilai kesehajaan atau kesederhanaan hidup. Para murid harus membebaskan diri dari keterikatan dengan hal-hal yang bersifat materi. Sehingga apa yang menjadi fokus dari misi mereka tetap terjaga. Mereka tidak boleh diganggu atau disibukkan dengan hal-hal materi yang pada gilirannya dapat menghilangkan konsentrasi akan tujuan perjalanan. Memang di satu sisi materi itu penting dalam kehidupan, namun tidak menjadi fokus dan lokus bagi seseorang yang mau mengikuti Yesus. Berkenaan dengan arahan untuk tidak memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan, kita semua tentu berkeberatan. Masa, saya tidak boleh menegur atau sekedar bercengkerama dengan orang yang saya temui. Bagaimana kalau nanti saya tersesat. Pasti saya membutuhkan orang-orang yang saya temui untuk bertanya kepada mereka. Saya kira, kita tidak boleh menafsir secara lurus apa yang dikatakan oleh Yesus dalam firman-Nya. Butuh kedalaman jiwa untuk menganalisa subtansi utama yang dimaksud oleh Yesus. Esensi menegur atau menyapa orang dalam perjalanan sebenarnya tidak hilang. Para murid tentu boleh bertegur sapa dengan siapa saja dalam perjalanan. Asalkan tidak mengganggu atau bahkan membelokkan misi utama yang menjadi tujuan. Bisa saja dalam percakapan, para murid dipengaruhi oleh orang lain untuk tidak boleh pergi bermisi. Apalagi kalau isi pengaruhnya ditambahkan juga dengan tawaran materi. Hal-hal sepele inilah yang diantisipasi oleh Yesus supaya para murid tidak terjebak dan terkubur di dalamnya.

 

Dari hal-hal yang digambarkan di atas, menjadi nyata kepada kita bahwa sebenarnya ada dua jenis tantangan yang seharusnya kita waspadai sebagai seorang murid Yesus. Pertama, tantangan yang datang dari luar diri. Misalnya kita mendapat bully, hinaan, ancaman, siksaan, atau bahkan nyawa menjadi taruhan ketika hendak memperjuangkan sebuah kebenaran atau kebaikan. Kedua, tantangan yang datang dari dalam diri sendiri. Ini lebih kepada soal integritas atau bagaimana menjaga ketahanan diri dari pelbagai situasi, godaan atau tawaran yang memberi kenyamanan dan kenikmatan. Saya berkeyakinan bahwa tantangan dari dalam diri ini, memiliki daya kejut yang lebih besar. Banyak dari kita yang acapkali terseret oleh arusnya. Dan banyak orang Katolik seringkali menggadaikan agama dan ajaran imannya demi memiliki kenyamanan, kekayaan, dan kenikmatan dalam hidupnya. Banyak umat Katolik tidak kuat menolak atau menerima dengan sukacita ketika diberi uang, barang, jabatan, kuasa, dan prestise diri. Imbasnya, mereka harus rela menanggalkan spirit kebenaran dan kebaikan yang mestinya diperjuangan dan terus dikobarkan dalam hidup.

 

Tuhan Yesus telah memberi pengajaran yang sangat bernilai pada hari ini. Kita senantiasa diingatkan oleh Yesus bahwa mengikuti Diri-Nya itu tidak gampang. Ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan hidup yang harus kita lewati. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Yang menjadi luar biasa adalah ketika kita bangkit untuk mulai memperbaiki diri dan menjadi lebih baik dan benar. Kita tidak perlu takut mewartakan kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Karena kita selalu yakin, kebaikan dan kebenaran itu selalu membimbing dan menguatkan iman kita kepada Dia, Sang Tuhan, Pemberi kehidupan umat manusia