Mrk 8:22-26
Mungkin
anda pernah mendengar pepatah Latin yang berbunyi vita est militia. Hidup adalah perjuangan. Tidak sedikit orang
melekatkan kalimat ini dalam curriculum
vitae (riwayat hidup) sebagai motto hidup. Kalau pun tidak sempat menulis
dalam biografi hidup, setidaknya secara lisan, banyak yang mengakui atau
menegaskan kata-kata latin ini sebagai motto hidup. Memang betul, vita est militia merupakan sebuah
kalimat yang terbentuk dari kata-kata yang sederhana. Namun pada dirinya
sendiri, mengandung makna yang sangat dalam. Bahkan kalau diulas lebih jauh,
bisa menghasilkan sebuah maha karya yang menginspirasi banyak orang.
Vita est militia adalah filosofi hidup yang mendeskripsikan
esensi sekaligus eksistensi hidup manusia yang sesungguhnya. Bahwa untuk
menggapai hidup yang penuh makna, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang
tidak kecil. Hidup adalah perjuangan merupakan sebuah proses kehidupan untuk
menegaskan eksistensi manusia yang hidup di atas dunia. Menjalani kehidupan itu
tidak mudah. Tidak instan seperti mie instan. Sekali masak langsung jadi. Hidup
itu harus diperjuangan dan dimenangkan dalam tahap demi tahap. Dan dalam setiap
tahap kehidupan, ada sekian tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi dan
ditaklukkan. Jiwa manusia tidak boleh lemah. Apalagi menjadi putus asa. Hidup
itu harus senantiasa diperjuangkan step
by step (tahap demi tahap) agar manusia sungguh mengerti betapa berartinya
sebuah kehidupan. Dalam kaca mata iman, kita percaya bahwa dalam ziarah
kehidupan manusia yang penuh dinamika dan kompleks, sebenarnya ada intervensi
Tuhan yang sementara mendidik pribadi manusia menjadi lebih matang dan dewasa.
Dalam
peristiwa penyembuhan seorang buta oleh Yesus di daerah Betsaida (Mrk 8:22-26)
diperlihatkan kepada kita semua sebuah kisah yang unik dan menarik. Orang buta
yang menjadi sasaran penyembuhan itu tidak langsung mengalami kesembuhan.
Secara rinci, penginjil Markus membeberkan tahap demi tahap penyembuhan itu.
pertama-tama, ada orang yang membawa si buta kepada Yesus dan memohon
kepada-Nya untuk menyembuhkan orang buta tersebut. Kemudian Yesus memegang
tangan si buta, menuntun dia ke luar kampung. Kemudian Yesus meludahi mata
orang buta dan meletakkan tangan atasnya. Namun, orang buta itu masih melihat
samar-samar alias belum jelas. Sekali lagi Yesus meletakkan tangan-Nya pada
mata orang buta itu. Dan mukjizat itu mencapai kesempurnaannya. Mata orang buta
itu menjadi sembuh sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
Bagi
saya, adegan penyembuhan ini terlihat tidak biasa. Biasanya, setiap aksi
fenomenal yang dilakukan Yesus itu langsung sekali jadi. Tidak membutuhkan
proses atau tahap demi tahap. Namun kita tidak seharusnya membaca kisah
penyembuhan ini secara tekstual semata. Kisah ini tidak hanya berhenti pada
adegan penyembuhan orang buta. Tentu ada pesan terselubung yang hendak
dititipkan oleh Markus dalam kisahnya kali ini. Sejatinya, orang buta tesebut
adalah lambang dari para murid pertama dan semua murid Yesus, yang memerlukan
sentuhan yang menyembuhkan (Tafsir Alkitab PB, hal.96). Untuk menjadi seorang
murid Yesus yang sejati, pasti tidak mudah. Tidak sekali jadi. Butuh proses
agar para murid sungguh mengenal dan memahami Yesus secara lebih mendalam. Para
murid harus disembuhkan dari kebutaannya agar mata mereka menjadi terbuka
melihat Diri Yesus yang sesungguhnya. Secara perlahan-lahan, para murid mulai
belajar mengenal siapa Yesus dan mengadopsi segala hal yang Ia katakan dan
perbuat. Pada akhirnya mereka juga dapat memahami misi perutusannya sendiri
untuk mewartakan Dia yang sungguh-sungguh mereka imani.
Tidak
hanya murid pertama. Demikian juga kita sebagai murid Yesus di era ini.
Walaupun sudah dikukuhkan menjadi anggota gereja melalui sakramen pembaptisan,
tidak bisa memberi garansi atau jaminan bagi kita menjadi murid yang sejati.
Secara formal kita adalah seorang murid Yesus, namun dalam praksisnya, belum
tentu gerak hati, pikiran, dan perbuatan kita selalu terarah kepada-Nya. Kita
memerlukan proses waktu untuk lebih dekat dan intim dengan-Nya. Dalam
percakapan rohani yang secara terus menerus dibangun bersama Dia, kita
membutuhkan sentuhan ilahi-Nya, agar mata hati dan pikiran kita menjadi
terbuka. Kita dapat sungguh-sungguh mengenal Yesus dan mengimaninya dengan
total. Mengimani tidak hanya dalam kata-kata, tetapi dibuahi dalam perbuatan
konkrit.
Pengalaman kebutaan tidak hanya dialami oleh si buta dalam Injil. Seringkali, kita juga menjadi buta dalam menyikapi aneka tantangan dan kesulitan yang kita hadapi dalam hidup. Kita gampang terperosok menjadi pribadi yang lemah dan cepat putus asa. Kita tidak tahan banting menghadapi badai cobaan dan tantangan yang datang mendera hidup. Hari ini, Tuhan memberi pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Melalui pengalaman dan kenyataan hidup yang gelap dan menyakitkan, sebenarnya Tuhan sementara menyembuhkan dan memulihkan jati diri kita menjadi pribadi yang tangguh dan matang dalam iman. Kita tidak boleh berkecil hati apalagi sampai mengundurkan diri dari kehidupan yang keras dan menantang ini. Karena di balik keburukan atau kekelaman hidup yang terjadi, Tuhan sementara mendesain hidup yang terbaik bagi kita. Dan itu jauh melampaui pikiran dan intuisi manusiawi kita. Marilah kita sungguh percaya dan mengimani dengan hati yang yang tulus dan total
Tidak ada komentar:
Posting Komentar