Mrk 6:53-56
Iman
adalah tanggapan manusia atas wahyu Allah. Iman juga merupakan sikap penyerahan
diri yang total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa,
melainkan dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa
Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas. Ia
menyapa manusia dan memanggilnya. Iman berarti jawaban atas panggilan Allah.
Penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi pula.
Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi Hidup. Pengalaman
religius memang merupakan pengalaman dasar. Di atas pengalaman dasar itulah
dibangun iman, penyerahan kepada Allah, pertemuan dengan Allah. Manusia dari
dirinya sendiri tidak mungkin mengenal Allah. Umat Kristen mengenal Allah secara
pribadi sebagai Bapa, melalui Yesus. Dalam kitab Suci dikatakan, “Tidak seorang
pun mengenal Bapa, selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan
menyatakan-Nya” (Mat 11:27).
Sikap
iman yang total kepada Yesus ditunjukkan oleh orang-orang ketika melihat Yesus
berada di daerah Genesaret. Tidak sekedar datang melihat Yesus. Mereka juga
membawa orang-orang sakit ke hadapan Yesus. Mereka percaya, Yesus akan memberi
kesembuhan kepada orang-orang sakit. Saking yakinnya, mereka memohon kepada
Yesus untuk cukup saja menyentuh jumbai jubah-Nya. Dengan begitu, mereka akan
mendapatkan keselamatan. Hal ini memberi inspirasi kepada kita betapa
orang-orang itu tidak hanya total menaruh iman mereka kepada Yesus. Orang-orang
itu juga menghidupi iman mereka dengan cara yang sederhana. Tidak rumit.
Sikap
iman yang total dan sederhana dari orang-orang, ternyata kontras (berbanding
terbalik) dengan sikap iman yang ditunjukkan oleh para murid. Sekian lama
berada dan melihat banyak hal tentang Yesus, ternyata belum mampu mendongkrak
kadar iman para murid akan Yesus. Dalam peristiwa sebelumnya, yang mengisahkan
Yesus berjalan di atas air (Mrk 6:45-52), para murid sangat ketakutan dan
mengira Yesus adalah hantu. Bahkan ketika Yesus sudah memperkenalkan diri dan
naik ke perahu bersama-sama dengan mereka, itu belum cukup membuat mereka
yakin. Injil mencatat ”Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah
peristiwa roti itu (Yesus memberi makan lima ribu orang) mereka belum juga
mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:51-52).
Sikap
para murid yang belum mampu menunjukkan sikap percaya dan iman yang total
kepada Yesus, sebenarnya mempresentasikan sikap iman kita dewasa ini. Sebagai
seorang pengikut Yesus, kita acapkali belum atau tidak mampu menunjukkan iman
yang total kepada Yesus dan Bapa-Nya. Kita lebih mengandalkan logika atau rasio
dalam setiap pengalaman hidup yang kita alami. Pengalaman yang baik dilihat
sebagai hal yang biasa saja. Dalam tiap keberhasilan atau kesuksesan yang
diraih, kita lebih membanggakan usaha dan prestasi pribadi. Sebaliknya, dalam
pengalaman kegagalan, penderitaan, dan keterpurukan, kadang kita lari dan tidak
mau menghadapinya. Malahan, kita melempar tanggung jawab, sibuk mencari kambing
hitam dan tidak lupa menegaskan pembenaran diri.
Dalam
pengalaman sakit, yang mungkin pernah atau pada saat sekarang kita sedang
mengalaminya, kita belum mau menunjukkan iman yang total kepada Yesus. Malahan
kita mengambil jarak dengan Dia dengan tidak mau berdoa. Anehnya, kita lebih
mengandalkan kekuatan-kekuatan luar selain kekuatan Yesus. Kita mencari
paranormal atau dukun, orang pintar, dan orang hebat untuk mencari tahu dan
menyembuhkan rasa sakit dan penyakit yang kita rasakan. Kita tidak mau pergi ke
fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, karena kita lebih
mempercayai dukun atau paranormal. Nanti tunggu rasa sakit semakin menjadi-jadi
dan tidak diatasi oleh dukun barulah tergopoh-gopoh kita pergi ke fasilitas
kesehatan.
Orang-orang Genesaret telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Sikap iman kepada Tuhan itu harus dihidupi tanpa adanya sikap kompromi, ragu-ragu, apatis dan sombong. Kita perlu belajar dari orang-orang Genesaret untuk menghidupi iman kita kepada Tuhan dengan sikap iman yang sederhana. Sikap iman yang sederhana menunjuk pada sikap iman yang tulus dan total. Kita mau datang kepada Tuhan dengan cara-cara yang sederhana dan tidak rumit. Kita mau mempercakapkan banyak hal tentang kehidupan kita kepada-Nya dengan kata-kata yang sederhana. Tidak dengan kata-kata yang tinggi dan sulit dimengerti. Bahkan Tuhan sendiri juga bingung dengan aneka istilah yang kita gunakan. Kita butuh waktu yang sederhana, singkat, dan tidak bertele-tele. Dalam kesendirian dan kesunyian, kita mau menyerahkan diri secara total agar Ia mau mendengar segala keluh kesah kita. Kita percaya Tuhan akan menindaklanjuti apa yang kita sampaikan dengan cara-Nya yang penuh misteri, rahasia tetapi sungguh memberi kelegaan dan keselamatan.
Dan melalui para dokter, para perawat, para bidan, dan semua orang yang bertugas di rumah sakit ini, Tuhan sementara menyingkapkan tindakan-Nya yang penuh misteri agar kita sungguh menyadari kehadiran-Nya di tempat ini. Tuhan sungguh menjawab apa yang kita sampaikan kepada-Nya melalui para tenaga kesehatan yang sementara bertugas di tempat ini. Mereka sebenarnya adalah representasi (perwakilan) dari Tuhan sendiri yang datang untuk memberi kesembuhan dan keselamatan bagi kita yang sementara mengalami sakit. Menghidupi iman yang sederhana berarti pula kita menyadari kehadiran Tuhan yang sungguh misteri, serentak pula menyadari kehadiran-Nya yang sungguh nyata di tempat ini. Kita percaya, Tuhan akan menjawab segala doa yang kita panjatkan kepada-Nya dengan kebijaksanaan ilahi-Nya. Mari kita menyerahkan diri kepada Tuhan dengan menghidupi iman kita secara sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar