Selasa, 21 Juni 2022

Hidup Dalam Semangat Pengampunan

Mat 5: 38-42

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati seorang imam dan pujangga gereja yang telah menjadi seorang kudus. Dia adalah Santo Antonius Padua. Antonius lahir di Lisbon, Portugal pada tahun 1195, dari latar keluarga yang kaya dan terpandang. Awalnya ia adalah seorang biarawan dari ordo Agustinian. Namun motivasinya terlecut untuk menjadi biarawan dari ordo Fransiskan (OFM), ketika melihat secara langsung relikwi (bagian tubuh atau barang-barang pribadi milik orang kudus) Santo Bernardus Abas dan kawan-kawannya yang disemayamkan di kapel milik Agustinian. Bernardus Abas dan kawan-kawannya menjadi martir di tanah Afrika. Dan Antonius memiliki tekad yang kuat untuk menggantikan mereka; bermisi di tanah Afrika.

 

Setelah mendapat izin dari pimpinannya dari ordo Agustinian, akhirnya Antonius bergabung dengan ordo Fransiskan pada tahun 1221. Di dorong oleh motivasi yang kuat untuk menjadi misionaris di tanah Afrika, Antonius pun memenuhi nazarnya dengan mendarat di tanah Maroko. Sebuah negara yang terletak di Afrika bagian utara. Setibanya di Maroko, masalah pelik pun muncul. Antonius tidak bisa berkarya ditempat itu, karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Ia terus mengalami sakit sehingga pihak otoritas ordo Fransiskan memutuskan untuk memulangkannya ke Portugal. Namun karena kapal laut yang ditumpanginya terhalang oleh badai, Antonius tidak kembali negara asalnya, Portugal. Antonius bersama awak kapal berhenti di Sisilia, Italia. Para Fransiskan yang ada di sana memberi tumpangan dan mengajaknya bergabung dalam segala kegiatan mereka. Pada awalnya, para Fransiskan di Italia tidak mengetahui potensi besar yang dimiliki Antonius. Mereka hanya menganggapnya sebagai seorang biarawan biasa. Apalagi dia hanya seorang asing yang membutuhkan tempat tinggal. Bakat besarnya sebagai pengkotbah ulung baru terekspose ketika ia diminta untuk berkotbah menggantikan pengkotbah lain yang berhalangan hadir. Semua orang merasa heran dan kagum dengan kata-kata yang diucapkannya. Termasuk Fransiskus, seorang biarawan Fransiskan yang kemudian dikenal dalam gereja Katolik sebagai orang kudus dengan nama Santo Fransiskus Asisi. Oleh Fransiskus Asisi, Antonius diberi tugas untuk mengajar dan berkotbah dalam banyak kesempatan. Secara khusus, Antonius diberi tugas oleh Fransiskus Asisi untuk mengajar para bruder Fransiskan.

 

Karena kecakapannya dalam berbicara dan berkotbah, Antonius begitu dipuji, dikagumi, dan disenangi oleh banyak orang. Setelah mendengar kotbahnya, banyak orang yang tergerak untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan. Antonius juga memiliki kecakapan lain untuk membuat mukjizat pertobatan. Banyak orang yang saling bermusuhan bisa didamaikan olehnya. Banyak pengumpat dan pemfitnah meminta maaf. Banyak pencuri dan pemeras yang bertobat. Mereka mengembalikan barang hasil curian atau pemerasan kepada para korbannya. Tidak heran, Antonius Padua dikenal sebagai santo pelindung bagi orang yang kehilangan barang. Dari sekian tempat yang menjadi medan perutusannya, Antonius sangat merasa tertarik dan betah untuk tinggal di daerah Padua. Kesetiaan iman yang kokoh dari umat Padua menjadi salah satu pertimbangan dasar mengapa Antonius sangat mencintai wilayah Padua. Di tempat inilah, pada tanggal 13 Juni 1231, Santo Antonius dari Padua menghembuskan napasnya yang terakhir. Kesalehan hidup santo Antonius Padua sungguh bercermin dari Sang Guru Ilahinya, Yesus Kristus. Terutama elemen penting untuk mengasihi semua orang yang telah berbuat kejahatan. Kasih kepada para musuh atau pelaku kejahatan dikonritkan dalam semangat pengampunan. Semangat pengampunan itu tergambar secara nyata dalam kata-kata Yesus dalam bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42). “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39). Santo Antonius tidak pernah membenci pribadi para penjahat, pencuri, dan pemeras. Yang dia benci hanyalah sikap atau perilaku dari orang-orang yang bertindak di luar kehendak Allah. Oleh karena itu, Antonius berdoa kepada Allah agar para penjahat, pencuri, dan pemeras segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Berkat efek doa yang dasyat, banyak orang mengalami mukjizat pertobatan.

 

Kalau pada hari ini, saya bertanya kepada anda sekalian, mampukah anda mengampuni semua orang yang telah bersalah kepada kita? Saya sangat yakin bahwa sebagian besar dari kita pasti menjawab sangat berat dan tidak mampu. Apalagi perbuatan jahat yang ditimpakan itu menyerang area privasi dan begitu menyakitkan pribadi kita. Secara manusiawi, tentu kita mengambil sikap resisten atau melawan. Kita tidak menerima begitu saja sikap tidak baik dari orang lain. Prinsip gigi ganti gigi, mata ganti mata ternyata bukan sekedar slogan. Karena sampai dengan saat ini, ungkapan usang tersebut masih kita hidupi dalam realitas sehari-hari. Sangat sulit kita memberi ampun atau maaf manakala kita mengalami langsung dampak dari perilaku tidak baik yang dilakukan oleh orang lain. Hidup dalam semangat pengampunan itu menjadi ciri khas hidup kekristenan kita. Kalau kita belum atau tidak mampu hidup dalam spirit pengampunan, sejatinya kita belum menjadi seorang murid Yesus yang sejati. Ini hal yang paling berat diperbuat manusia yakni harus mengampuni orang yang telah bersalah. Namun seturut ajaran Yesus, spirit pengampunan itu harus tergambar dalam kenyataan hidup sehari-hari, Tidak sekedar diucapkan. Santo Antonius Padua telah memberi contoh nyata bagaimana ia mengampuni para penjahat, pencuri, pemeras, pemfitnah, dan pengumpat dengan cara mendoakan mereka supaya bertobat. Kita bukan seperti Santo Antonius yang memiliki kharisma khusus untuk mentobatkan seseorang.

 

Namun minimal dengan mengelola sikap dan pikiran secara baik, tidak terprovokasi oleh situasi buruk, mulai membangun konstruksi berpikir yang positif, saya kira bisa menjadi langkah awal bagi kita untuk menghidupi spirit pengampunan dalam diri. Dalam ilmu psikologi, sikap pengampunan merupakan sebuah nilai positif dalam rangka membangun kepribadian yang kokoh. Hanya dengan mengampuni, seseorang dapat memperoleh kesehatan secara jasmani dan rohani. Dan dalam keyakinan iman kita, sikap pengampunan merupakan sikap mulia yang dikehendaki oleh Tuhan agar kita dapat mencapai kebaikan dan keselamatan hidup. Kerajaan Allah sungguh membumi karena kita tidak ragu menonjolkan semangat pengampunan. Mari kita membangun keadaban baru dalam hidup dengan spirit pengampunan. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar