Mat 5: 38-42
Hari ini Gereja
Katolik sejagat memperingati seorang imam dan pujangga gereja yang telah
menjadi seorang kudus. Dia adalah Santo Antonius Padua. Antonius lahir di
Lisbon, Portugal pada tahun 1195, dari latar keluarga yang kaya dan terpandang.
Awalnya ia adalah seorang biarawan dari ordo Agustinian. Namun motivasinya
terlecut untuk menjadi biarawan dari ordo Fransiskan (OFM), ketika melihat
secara langsung relikwi (bagian tubuh atau barang-barang pribadi milik orang
kudus) Santo Bernardus Abas dan kawan-kawannya yang disemayamkan di kapel milik
Agustinian. Bernardus Abas dan kawan-kawannya menjadi martir di tanah Afrika.
Dan Antonius memiliki tekad yang kuat untuk menggantikan mereka; bermisi di
tanah Afrika.
Setelah mendapat
izin dari pimpinannya dari ordo Agustinian, akhirnya Antonius bergabung dengan
ordo Fransiskan pada tahun 1221. Di dorong oleh motivasi yang kuat untuk
menjadi misionaris di tanah Afrika, Antonius pun memenuhi nazarnya dengan
mendarat di tanah Maroko. Sebuah negara yang terletak di Afrika bagian utara.
Setibanya di Maroko, masalah pelik pun muncul. Antonius tidak bisa berkarya
ditempat itu, karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Ia terus
mengalami sakit sehingga pihak otoritas ordo Fransiskan memutuskan untuk
memulangkannya ke Portugal. Namun karena kapal laut yang ditumpanginya
terhalang oleh badai, Antonius tidak kembali negara asalnya, Portugal. Antonius
bersama awak kapal berhenti di Sisilia, Italia. Para Fransiskan yang ada di
sana memberi tumpangan dan mengajaknya bergabung dalam segala kegiatan mereka.
Pada awalnya, para Fransiskan di Italia tidak mengetahui potensi besar yang
dimiliki Antonius. Mereka hanya menganggapnya sebagai seorang biarawan biasa.
Apalagi dia hanya seorang asing yang membutuhkan tempat tinggal. Bakat besarnya
sebagai pengkotbah ulung baru terekspose ketika ia diminta untuk berkotbah
menggantikan pengkotbah lain yang berhalangan hadir. Semua orang merasa heran
dan kagum dengan kata-kata yang diucapkannya. Termasuk Fransiskus, seorang
biarawan Fransiskan yang kemudian dikenal dalam gereja Katolik sebagai orang
kudus dengan nama Santo Fransiskus Asisi. Oleh Fransiskus Asisi, Antonius
diberi tugas untuk mengajar dan berkotbah dalam banyak kesempatan. Secara
khusus, Antonius diberi tugas oleh Fransiskus Asisi untuk mengajar para bruder
Fransiskan.
Karena
kecakapannya dalam berbicara dan berkotbah, Antonius begitu dipuji, dikagumi,
dan disenangi oleh banyak orang. Setelah mendengar kotbahnya, banyak orang yang
tergerak untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan. Antonius juga memiliki
kecakapan lain untuk membuat mukjizat pertobatan. Banyak orang yang saling
bermusuhan bisa didamaikan olehnya. Banyak pengumpat dan pemfitnah meminta
maaf. Banyak pencuri dan pemeras yang bertobat. Mereka mengembalikan barang
hasil curian atau pemerasan kepada para korbannya. Tidak heran, Antonius Padua
dikenal sebagai santo pelindung bagi orang yang kehilangan barang. Dari sekian
tempat yang menjadi medan perutusannya, Antonius sangat merasa tertarik dan
betah untuk tinggal di daerah Padua. Kesetiaan iman yang kokoh dari umat Padua
menjadi salah satu pertimbangan dasar mengapa Antonius sangat mencintai wilayah
Padua. Di tempat inilah, pada tanggal 13 Juni 1231, Santo Antonius dari Padua
menghembuskan napasnya yang terakhir. Kesalehan hidup santo Antonius Padua
sungguh bercermin dari Sang Guru Ilahinya, Yesus Kristus. Terutama elemen
penting untuk mengasihi semua orang yang telah berbuat kejahatan. Kasih kepada
para musuh atau pelaku kejahatan dikonritkan dalam semangat pengampunan.
Semangat pengampunan itu tergambar secara nyata dalam kata-kata Yesus dalam
bacaan Injil hari ini (Mat 5:38-42). “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat
jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga
kepadanya pipi kirimu” (Mat 5:39). Santo Antonius tidak pernah membenci pribadi
para penjahat, pencuri, dan pemeras. Yang dia benci hanyalah sikap atau
perilaku dari orang-orang yang bertindak di luar kehendak Allah. Oleh karena
itu, Antonius berdoa kepada Allah agar para penjahat, pencuri, dan pemeras
segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Berkat efek doa yang dasyat,
banyak orang mengalami mukjizat pertobatan.
Kalau pada hari
ini, saya bertanya kepada anda sekalian, mampukah anda mengampuni semua orang
yang telah bersalah kepada kita? Saya sangat yakin bahwa sebagian besar dari
kita pasti menjawab sangat berat dan tidak mampu. Apalagi perbuatan jahat yang
ditimpakan itu menyerang area privasi dan begitu menyakitkan pribadi kita.
Secara manusiawi, tentu kita mengambil sikap resisten atau melawan. Kita tidak
menerima begitu saja sikap tidak baik dari orang lain. Prinsip gigi ganti gigi,
mata ganti mata ternyata bukan sekedar slogan. Karena sampai dengan saat ini,
ungkapan usang tersebut masih kita hidupi dalam realitas sehari-hari. Sangat
sulit kita memberi ampun atau maaf manakala kita mengalami langsung dampak dari
perilaku tidak baik yang dilakukan oleh orang lain. Hidup dalam semangat
pengampunan itu menjadi ciri khas hidup kekristenan kita. Kalau kita belum atau
tidak mampu hidup dalam spirit pengampunan, sejatinya kita belum menjadi
seorang murid Yesus yang sejati. Ini hal yang paling berat diperbuat manusia
yakni harus mengampuni orang yang telah bersalah. Namun seturut ajaran Yesus,
spirit pengampunan itu harus tergambar dalam kenyataan hidup sehari-hari, Tidak
sekedar diucapkan. Santo Antonius Padua telah memberi contoh nyata bagaimana ia
mengampuni para penjahat, pencuri, pemeras, pemfitnah, dan pengumpat dengan
cara mendoakan mereka supaya bertobat. Kita bukan seperti Santo Antonius yang
memiliki kharisma khusus untuk mentobatkan seseorang.
Namun minimal dengan mengelola sikap dan pikiran secara baik, tidak terprovokasi oleh situasi buruk, mulai membangun konstruksi berpikir yang positif, saya kira bisa menjadi langkah awal bagi kita untuk menghidupi spirit pengampunan dalam diri. Dalam ilmu psikologi, sikap pengampunan merupakan sebuah nilai positif dalam rangka membangun kepribadian yang kokoh. Hanya dengan mengampuni, seseorang dapat memperoleh kesehatan secara jasmani dan rohani. Dan dalam keyakinan iman kita, sikap pengampunan merupakan sikap mulia yang dikehendaki oleh Tuhan agar kita dapat mencapai kebaikan dan keselamatan hidup. Kerajaan Allah sungguh membumi karena kita tidak ragu menonjolkan semangat pengampunan. Mari kita membangun keadaban baru dalam hidup dengan spirit pengampunan. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar