Mat 7:1-5
Ada seorang
petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik. Suatu hari,
seorang pengusaha kaya ingin membeli kuda itu. Ia menawar kuda itu dengan harga
yang sangat tinggi. Sayang si petani tidak menjualnya. Teman-temannya
menyayangkan dan mengejek dia karena tidak menjual kudanya. Keesokan harinya,
kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-temannya berkata: “Sungguh jelek
nasibmu, padahal kalau kemarin kudanya dijual pasti kamu sudah menjadi orang
kaya”. Si petani miskin hanya diam saja. Beberapa hari kemudian, kuda si petani
kembali bersama lima ekor kuda lainnya. Menyaksikan pemandangan yang tidak
biasa itu, kawan-kawan petani berkata: “Wah beruntung sekalih nasibmu. Ternyata
kudamu membawa keberuntungan”. Si petani hanya diam saja.
Beberapa hari sesudahnya, anak si petani yang
sedang melatih kuda-kuda baru mereka, terjatuh dan kakinya patah.
Kawan-kawannya berkata: “Rupanya kuda-kuda itu membawa sial. Lihat sekarang
anakmu. Kakinya patah”. Si petani tetap diam dan tidak berkomentar. Seminggu
kemudian terjadi peperangan di wilayah itu. Semua anak muda di desa dipaksa
untuk berperang. Kecuali si anak petani karena tidak bisa berjalan.
Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis: “Beruntung sekalih nasibmu
karena anakmu tidak ikut berperang. Kami harus kehilangan anak-anak kami”. Si
petani pun berkomentar: “Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan
mengatakan nasi baik atau jelek. Semuanya adalah suati rangkaian proses.
Syukuri dan terimalah keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik
hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu
buruk untuk hari esok. Yang pasti Tuhan paling tahu yang terbaik untuk hidup
kita. Lakukan apa yang menjadi tugas kita. Selanjutnya biarkan Allah melakukan
juga apa yang menjadi bagiannya dalam hidup kita.
Manusia mempunyai
kecenderungan menghakimi orang lain dengan tergesa-gesa. Manusia bisa
menghakimi orang lain karena satu hal atau lebih. Tetapi ternyata seringkali ia
tidak mampu melihat aneka kekurangan atau kesalahan yang ada dalam dirinya.
Seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Kuman di seberang
laut tampak. Leo Tolstoy pernah berkata: “Banyak orang yang berambisi ingin
mengubah dunia. Banyak orang yang berambisi untuk mengubah hidup orang lain,
tetapi terlalu sedikit orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”.
Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang demikian. Dan ini juga menjadi
tantangan atau ujian bagi kita dalam hidup bersama sebagai umat Allah.
Yesus juga
menegur dengan keras perilaku orang-orang yang suka menghakimi sesamanya.
“Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi” (Mat7:1). Sikap menghakimi
yang dimaksudkan dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengkritik orang
lain. Atau bukan berarti juga kita tidak boleh menegur kesalahan orang lain.
Bukan berarti pula kita meniadakan nalar kritis kita untuk membedakan mana yang
benar dan mana yang salah; mana yang baik dan mana yang jahat. Bukan juga
maksudnya kita tidak peduli dengan kesalahan orang lain, menutup mata dengan
kesalahan orang lain. Bukan demikian poinnya. Tetapi sikap menghakimi yang
dimaksudkan di sini adalah lebih kepada sikap yang begitu fanatik dan agresif
terhadap dosa-dosa orang lain, namun menjadi toleran dengan dosa-dosa sendiri.
Sikap menghakimi di sini lebih kepada sikap yang suka mencari-cari kesalahan
orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak sadar bahwa dia sebenarnya juga
memiliki kesalahan yang jauh lebih besar. Manusia begitu marah melihat
dosa-dosa orang lain, tetapi tidak marah terhadap dosa-dosa sendiri. Meremehkan
dosa-dosa sendiri adalah salah satu bentuk kemunafikan. Dosa kemunafikan adalah
dosa yang paling sulit kita lihat. Paling sulit kita sadari, karena dosa ini
membutakan diri kita sendiri. Dosa kemunafikan berakar dalam sikap pembenaran
diri.
Sikap menghakimi
dan munafik memiliki korelasi yang dekat. Orang yang suka menghakimi biasanya
memiliki kecenderungan untuk bersikap munafik. Ia akan menutup rapat pelbagai
kekurangan, kesalahan, dan dosa yang dipunyai. Bersamaan dengan itu, ia begitu
gampang untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Setelah
mendapat apa yang diinginkan, ia pun membangun kekuatan baik secara pribadi
maupun secara kolektif untuk menyerang orang lain. Serangan yang menghakimi
orang lain bisa dilakukan secara langsung. Bertemu orangnya dan langsung
menyerang. Bisa juga tindakan main hakim dilaksanakan secara tidak langsung.
Misalnya,melalui media daring (FB, twiiter, instagram. Menurut saya, sikap main
hakim lewat media online ini sudah sangat menjamur, dianggap lebih mudah
dilakukan tanpa beban karena tidak berhadapan muka. Dan tentu saja sudah masuk
pada level yang sangat mengkuatirkan. Karena orang tidak peduli lagi dengan
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Apalagi dengan ajaran agama. Orang
mungkin bisa mendengkarkan, namun tidak bisa merealisasikan dalam perbuatan
konkrit apa yang telah ditangkap oleh indra pendengar. Justru yang jamak
terjadi adalah pengembangbiakan sikap munafik. Orang cenderung bermain aman
dengan sikap munafik ketika hendak melakukan penghakiman terhadap sesamanya.
Marilah kita
semakin berserah kepada Tuhan. Datanglah kepada Tuhan seperti pemungut cukai.
Biarkan Tuhan mengeluarkan selumbar di matamu. Biarkan Tuhan menyingkap
kesalahan dalam hidupmu. Biarkalah Ia meluruskan jalanmu. Setelah Tuhan
mengeluarkan balok di dalam mata, maka kita dapat melihat bahwa Dia adalah
satu-satunya Hakim yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar