Rabu, 22 Juni 2022

Semakin Berserah Kepada Tuhan

Mat 7:1-5

 

Ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik. Suatu hari, seorang pengusaha kaya ingin membeli kuda itu. Ia menawar kuda itu dengan harga yang sangat tinggi. Sayang si petani tidak menjualnya. Teman-temannya menyayangkan dan mengejek dia karena tidak menjual kudanya. Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandangnya. Maka teman-temannya berkata: “Sungguh jelek nasibmu, padahal kalau kemarin kudanya dijual pasti kamu sudah menjadi orang kaya”. Si petani miskin hanya diam saja. Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali bersama lima ekor kuda lainnya. Menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu, kawan-kawan petani berkata: “Wah beruntung sekalih nasibmu. Ternyata kudamu membawa keberuntungan”. Si petani hanya diam saja.

 

 Beberapa hari sesudahnya, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka, terjatuh dan kakinya patah. Kawan-kawannya berkata: “Rupanya kuda-kuda itu membawa sial. Lihat sekarang anakmu. Kakinya patah”. Si petani tetap diam dan tidak berkomentar. Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu. Semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang. Kecuali si anak petani karena tidak bisa berjalan. Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis: “Beruntung sekalih nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang. Kami harus kehilangan anak-anak kami”. Si petani pun berkomentar: “Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasi baik atau jelek. Semuanya adalah suati rangkaian proses. Syukuri dan terimalah keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok. Yang pasti Tuhan paling tahu yang terbaik untuk hidup kita. Lakukan apa yang menjadi tugas kita. Selanjutnya biarkan Allah melakukan juga apa yang menjadi bagiannya dalam hidup kita.

 

Manusia mempunyai kecenderungan menghakimi orang lain dengan tergesa-gesa. Manusia bisa menghakimi orang lain karena satu hal atau lebih. Tetapi ternyata seringkali ia tidak mampu melihat aneka kekurangan atau kesalahan yang ada dalam dirinya. Seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Kuman di seberang laut tampak. Leo Tolstoy pernah berkata: “Banyak orang yang berambisi ingin mengubah dunia. Banyak orang yang berambisi untuk mengubah hidup orang lain, tetapi terlalu sedikit orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri”. Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang demikian. Dan ini juga menjadi tantangan atau ujian bagi kita dalam hidup bersama sebagai umat Allah.

 

Yesus juga menegur dengan keras perilaku orang-orang yang suka menghakimi sesamanya. “Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi” (Mat7:1). Sikap menghakimi yang dimaksudkan dalam hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengkritik orang lain. Atau bukan berarti juga kita tidak boleh menegur kesalahan orang lain. Bukan berarti pula kita meniadakan nalar kritis kita untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah; mana yang baik dan mana yang jahat. Bukan juga maksudnya kita tidak peduli dengan kesalahan orang lain, menutup mata dengan kesalahan orang lain. Bukan demikian poinnya. Tetapi sikap menghakimi yang dimaksudkan di sini adalah lebih kepada sikap yang begitu fanatik dan agresif terhadap dosa-dosa orang lain, namun menjadi toleran dengan dosa-dosa sendiri. Sikap menghakimi di sini lebih kepada sikap yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak sadar bahwa dia sebenarnya juga memiliki kesalahan yang jauh lebih besar. Manusia begitu marah melihat dosa-dosa orang lain, tetapi tidak marah terhadap dosa-dosa sendiri. Meremehkan dosa-dosa sendiri adalah salah satu bentuk kemunafikan. Dosa kemunafikan adalah dosa yang paling sulit kita lihat. Paling sulit kita sadari, karena dosa ini membutakan diri kita sendiri. Dosa kemunafikan berakar dalam sikap pembenaran diri.

 

Sikap menghakimi dan munafik memiliki korelasi yang dekat. Orang yang suka menghakimi biasanya memiliki kecenderungan untuk bersikap munafik. Ia akan menutup rapat pelbagai kekurangan, kesalahan, dan dosa yang dipunyai. Bersamaan dengan itu, ia begitu gampang untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain. Setelah mendapat apa yang diinginkan, ia pun membangun kekuatan baik secara pribadi maupun secara kolektif untuk menyerang orang lain. Serangan yang menghakimi orang lain bisa dilakukan secara langsung. Bertemu orangnya dan langsung menyerang. Bisa juga tindakan main hakim dilaksanakan secara tidak langsung. Misalnya,melalui media daring (FB, twiiter, instagram. Menurut saya, sikap main hakim lewat media online ini sudah sangat menjamur, dianggap lebih mudah dilakukan tanpa beban karena tidak berhadapan muka. Dan tentu saja sudah masuk pada level yang sangat mengkuatirkan. Karena orang tidak peduli lagi dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Apalagi dengan ajaran agama. Orang mungkin bisa mendengkarkan, namun tidak bisa merealisasikan dalam perbuatan konkrit apa yang telah ditangkap oleh indra pendengar. Justru yang jamak terjadi adalah pengembangbiakan sikap munafik. Orang cenderung bermain aman dengan sikap munafik ketika hendak melakukan penghakiman terhadap sesamanya.

 

Marilah kita semakin berserah kepada Tuhan. Datanglah kepada Tuhan seperti pemungut cukai. Biarkan Tuhan mengeluarkan selumbar di matamu. Biarkan Tuhan menyingkap kesalahan dalam hidupmu. Biarkalah Ia meluruskan jalanmu. Setelah Tuhan mengeluarkan balok di dalam mata, maka kita dapat melihat bahwa Dia adalah satu-satunya Hakim yang benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar