Minggu, 31 Juli 2022

Selalu Bersyukur Kepada Tuhan

                                                                     Mat 11:25-27

 

Mengucap syukur karena mengalami sukacita dalam hidup merupakan hal yang biasa kita lakukan. Ada banyak pengalaman baik atau positif yang kita alami. Kita mendapat rezeki dan apresiasi yang baik dari pekerjaan, anak-anak mendapatkan hasil yang memuaskan dalam pendidikan, ada kemelut hidup yang berhasil diatasi, ada harapan atau cita-cita yang berhasil digapai, dan sebagainya. Dan sebagai bentuk ekspresi, kita mengucap syukur atas semuanya. Kita mengucap syukur kepada Tuhan atas segala anugerah positif yang kita dapatkan dalam hidup.

 

Lalu bagaimana kalau kita mengalami pengalaman yang tidak mengenakan dalam hidup? Apakah kita pernah bersyukur kepada Tuhan atasnya. Saya pikir hal ini sangat sulit. Karena kerap terjadi adalah ungkapan kekecewaan, marah, sakit hati, dan bahkan orang bisa mengalami putus asa dan kehilangan harapan. Dalam tataran manusiawi, hal ini wajar. Oleh karena itu, menjadi hal yang luar biasa, apabila ada orang yang merespon kegagalan dan keterpurukan dalam hidupnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Dalam kepercayaan iman kita, mengucap syukur kepada Tuhan itu tidak terbatas pada pengalaman yang baik atau positif saja. Ucapan syukur kepada Tuhan menembus aneka pengalaman kehidupan. Entah yang baik atau pun tidak baik. Baik yang mengenakan maupun yang tidak mengenakan. Entah itu positif atau pun negatif.

 

Ungkapan syukur juga dilakukan oleh Yesus dalam bacaan Injil (Mat 11:25-27).. Ada dua hal yang dilakukan oleh Yesus. Pertama-tama, Yesus beryukur dan memuji Bapa di Sorga. Ia berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Kedua, Yesus mengenal diri-Nya sebagai Anak dan Allah sebagai Bapa-Nya. Mereka saling mengenal satu sama lain. Yesus berkata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27).

 

Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya atas anugerah ilahi yang telah diterima-Nya sebagai Putera Allah. Dan dengan identitas Putera Allah itu, Allah telah mengutus Diri-Nya ke muka bumi untuk menjadi “kecil” sama seperti umat manusia. Dengan kekecilan yang tampak sebagai makhluk yang miskin dan hina, diharapkan agar umat manusia dapat menerima dan mengikuti segala hal yang Ia sampaikan. Yesus bersyukur karena dengan penampakan Diri-Nya yang sederhana dan miskin, telah menarik banyak orang kecil dan miskin untuk percaya kepada-Nya. Hanya orang yang tinggi hati dan “kepala batu” yang tidak percaya dan menolak kehadiran-Nya. Orang-orang ini yang merasa dirinya sebagai orang bijak dan pandai. Mereka merasa tidak selevel dengan Yesus dengan jabatan dan kuasa mentereng yang melekat dalam dirinya. Rasa gengsi dan arogan menjadi tembok penghalang bagi mereka untuk melihat kuasa ilahi dalam diri Yesus. Berbeda dengan orang-orang kecil, karena tidak memiliki kepentingan apa-apa selain kepentingan untuk mengalami Yesus sebagai sumber pengharapan dan keselamatan.

 

Ucapan syukur dikumandangkan juga oleh Yesus karena kedekatan atau keintiman relasi yang terbangun antara Yesus dan Allah. Yesus sungguh mengenal Allah sebagai Bapa-Nya. Dan Allah sungguh mengenal Yesus sebagai Anak-Nya. Karena kelekatan relasi itu, maka apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus adalah kehendak Bapa-Nya. Demikian juga apa yang dikehendaki oleh Sang Bapa, sudah termanifestasi atau terwujud dalam diri Yesus, Sang Anak. Yesus bersyukur karena kumpulan orang yang percaya kepada-Nya adalah juga kumpulan orang yang percaya kepada Allah. Demikian juga mereka yang tidak percaya dan menolak Yesus sama artinya dengan tidak percaya dan menolak Allah.

 

Ungkapan syukur yang dilakukan Yesus, sejatinya menjadi salah satu pokok ajaran dalam hidup iman kita sebagai orang Katolik. Mengucap syukur harus menjadi hal biasa yang senantiasa kita ungkapkan dalam setiap pengalaman hidup. Ungkapan syukur kepada Tuhan harus mendarah daging dalam jati diri setiap orang Katolik. Kita mengucap syukur atas segala anugerah hidup yang terjadi dalam hidup. Pada satu sisi, ucapan syukur kita sampaikan kepada Tuhan berkat segala kebaikan, keberhasilan, kesuksesan, dan sukacita yang terjadi. Tentu tidak menafikan (menghilangkan) peran manusiawi kita. Namun kita percaya bahwa atas intervensi Tuhan, kita boleh mengalami hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pada sisi yang lain, ungkapan syukur juga patut kita gaungkan kepada Tuhan atas pengalaman kegagalan, kesulitan, pergumulan, dan bahkan keterpurukan dalam hidup. Ada kalanya, Tuhan membiarkan pengalaman-pengamalan demikian untuk mematangkan dan mendewasakan pribadi kita. Supaya kita menjadi pribadi yang kuat, tahan banting, tidak mudah goyah dan patah dalam mengarungi alam kehidupan fana yang tidak mudah ini.

 

Ungkapan syukur kepada Tuhan mempresentasikan pengalaman tidak terbatas pribadi kita sebagai makhluk terbatas di hadapan Tuhan. Banyak pengalaman yang kita alami dalam kehidupan tidaklah cukup ditangkap dan dimengerti dengan indrawi manusiawi. Kita membutuhkan pengertian dan pemahaman  yang melampaui batas indrawi agar kita bisa memahami makna hidup yang paling hakiki. Karena di dalamnya, ada entitas adikodrati yang bernama Tuhan. Tuhan yang kita imani sebagai orang Katolik. Ungkapan syukur kepada Tuhan menjadi jalan bagi kita sebagai orang beriman untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Dan kita tidak salah memilih. Karena ungkapan syukur kepada-Nya, dapat menguatkan pribadi dan membawa keselamatan dalam hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar