Minggu, 26 Februari 2023

Pengalaman Iman Yang Meneguhkan Iman

Luk 4:38-44

           

            Banyak cara seseorang bisa mendapatkan penguatan dan peneguhan dalam kehidupan imannya. Baik itu berupa refleksi pengetahuan dan ajaran iman. Maupun juga lahir dari setiap pengalaman yang dilihat dari orang lain atau dialami secara langsung. Karena setiap pengalaman kehidupan adalah peristiwa iman yang mengandung nutrisi bagi kehidupan iman manusia. Saya sangat meyakini itu karena berangkat dari pengalaman yang saya alami secara pribadi. Ketika melayani pendampingan rohani bagi pasien di ruang-ruang Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba, hal positif pertama yang saya alami adalah merasakan energi yang baik dalam diri. Indikasinya saya merasa nyaman, bisa berkomunikasi dengan baik dengan pasien, dan menjadi pendengar yang setia bagi mereka.

 

Selanjutnya, dari sisi iman, saya merasa sangat dikuatkan. Begitu juga, pengalaman iman yang sama dialami juga oleh mereka. Mereka turut dikuatkan dan diteguhkan dalam iman untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup. Terutama dalam pengalaman sakit yang sementara dialami. Ada satu pengalaman yang berkesan ketika saya mendampingi seorang kepala dinas yang sementara sakit. Ia bersama istrinya sangat ramah menerima kehadiran saya. Dalam suasana doa, mereka sangat khusyuk melarutkan diri. Bahkan dengan penuh keyakinan mereka turut pula mendaraskan doa dengan suara yang nyaring. Dalam hati saya kagum dengan iman sepasang suami istri ini. Dan saya percaya bahwa oleh keteguhan iman, sang suami dapat memperoleh kesehatannya kembali. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar bahwa sang kepala dinas telah pulih dari sakitnya; dan bersama sang istri, mereka telah kembali ke rumahnya. Sungguh sebuah pengalaman iman yang sangat meneguhkan.

 

            Pengalaman iman yang sama saya alami ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan. Memang miris ketika melihat anak-anak kecil dan remaja yang harus menjalani kehidupan tanpa orang tua kandung di usia mereka yang sangat belia. Mereka sebenarnya tidak pernah menginginkan harus dilahirkan. Apalagi menjalani kehidupan demikian. Namun situasi yang menuntut mereka harus kuat dan matang, melampaui usia mereka yang belum matang. Terlepas dari gambaran di atas, ternyata situasi riil yang mereka jalani sangat kontras dengan takdir yang terberi dalam diri mereka sebagai anak-anak panti. Mereka kelihatan sangat bahagia dan penuh sukacita bersama ibu pengasuh. Hal ini tergambar juga ketika kami semua bersatu dalam doa dan syering bersama. Dengan penuh semangat dan kegembiraan, kami semua dapat melewati setiap tahapan kegiatan dengan baik dan lancar. Mereka sungguh dikuatkan dalam iman kepada Tuhan. Begitu pun sebaliknya. Saya juga sungguh dikuatkan dalam iman.

 

            Dua pengalaman kecil ini, setidaknya mewakili juga pengalaman-pengalaman yang lain, memberi afirmasi atau penegasan terhadap kata-kata Yesus: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Tentu apa yang saya lakukan, sangat jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh Yesus dalam bacaan Injil. Tidak bisa juga dibuat perbandingan karena memang tidak bisa disandingkan. Ia sangat sempurna di dalam kemahakuasaan ilahi. Namun, pengalaman sederhana yang saya alami boleh dikatakan sementara mengarah kepada apa yang dicanangkan oleh Tuhan sendiri. Mewartakan kasih tanpa batas dan melampau sekat. Manusia harus meninggalkan zona nyaman kehidupannya demi mewartakan kasih dan kehendak Tuhan. Terlepas dari pelbagai kekurangan yang melingkupinya. “Karena itu yang penting bukanlah menanam atau menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor 3:7). Tugas kita hanyalah menanam dan merawat apa yang telah ditaburkan. Selebihnya biarlah Tuhan yang akan menumbuhkembangkannya.

 

            Merefleksikan dan menghayati panggilan tugas dan karya pribadi masing-masing adalah sebuah keniscayaan. Di dalamnya, tanpa pernah berhenti dan bosan, kita terus didekatkan untuk menemukan rahasia Tuhan yang berbicara dalam setiap pengalaman atau peristiwa hidup. Dengan ini, kita semakin menyadari diri sebagai makhluk terbatas yang memiliki pengalaman tidak terbatas tentang Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Namun, dengan pengalaman ketidakterbatasan, kita akan mampu menemukan Tuhan yang sedang berbicara dalam setiap kejadian atau peristiwa hidup. Terutama dalam menghayati tugas dan panggilan kita masing-masing. Sebenarnya apa yang sementara dikehendaki atau direncanakan oleh Tuhan dalam hidup kita.

 

            Hidup, karya, dan panggilan kita adalah sebuah amanat atau titipan suci. Hidup, karya, dan panggilan untuk mewartakan kasih dan kebaikan Allah tanpa batas dan melampaui sekat. Karena hidup tidak sekedar hidup. Ia adalah untaian pengalaman iman yang sementara mengungkapkan misteri iman kepada segenap umat manusia. Ketika orang lain merasa bahagia, terhibur, tertolong dan dikuatkan oleh karena karya dan pelayanan kita, sadar atau tidak, misteri Tuhan sementara terungkap di sana. Ketika sesama belum merasa bahagia, terhibur, dikuatkan atau diselamatkan, kita perlu bertanya dan berefleksi, sudahkah kita menghidup karya dan panggilan diri sesuai dengan amanat Tuhan?

 

            Kisah kasih Tuhan kepada ibu mertua Simon dan orang banyak mendorong kita untuk tidak pernah berhenti mewartakan kasih Tuhan tanpa batas dan sekat. Karena di dalam setiap pengalaman hidup yang kita jalani, terselip pengalaman iman yang meneguhkan jati diri keimanan kita kepada Dia yang kita sembah. Semoga setiap orang yang kita layani dapat merasakan kehadiran Tuhan yang menghibur, meneguhkan, dan menguatkan perjalanan kehidupan mereka di dunia ini.

Minggu, 19 Februari 2023

Menjadi Manusia Yang Berkesadaran

Mat 19:16-22

Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, kita memiliki kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anak untuk memiliki sikap yang baik. Baik tidak hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga dalam lingkup pergaulan sosialnya bersama orang lain. Tentu dengan pelbagai pendekatan dan metode yang berbeda. Ada pendekatan yang lembut, tegas, dan tidak jarang orang tua mendidik anak-anak dengan kata-kata yang keras dan kasar. Kata-kata kunci seperti jangan, tidak, harus, wajib, menjadi kata-kata lumrah dan terus menghiasi dinamika hidup harian kita. Terutama berhadapan dengan anak-anak, kata-kata ini dipakai untuk memberi batasan agar mereka tidak melenceng dari hidup yang sudah digariskan oleh hukum moral dan ajaran agama. Kata-kata demikian, menjadi lebih efektif apabila ditambahkan dengan keterangan yang menjelaskan dampak dari sebuah perbuatan. Misalnya, jangan mencuri karena Tuhan akan murka. Kamu tidak boleh menghina sesamamu karena kamu akan mendapat celaka. Anda harus menolong orang lain agar Tuhan mengasihimu. Anda wajib menolong orang miskin agar kelak masuk sorga. Dan masih banyak contoh kalimat yang lain.

 

            Nasihat seperti ini merupakan contoh penerapan metode reward (hadiah) dan punishment (hukuman) untuk memotivasi seseorang. Metode ini memang terbukti efektif dalam berbagai bidang kehidupan manusia termasuk dalam urusan rohani. Kebanyakan orang melakukan hal-hal baik dan benar seturut ajaran moral dan agama dengan motivasi tertentu. Agar ia mendapat berkat dan keselamatan dari Tuhan. Agar ia bisa diterima dalam keluarga dan masyarakat. Agar ia bisa disenangi dan mendapat simpati dari publik. Agar ia bisa diberi apresiasi dan kenaikan jabatan. Penghayatan nilai-nilai iman dan moral yang berlandaskan pada aspek reward dan punishment sah-sah saja. Tetapi model penghayatan seperti ini bukanlah sebuah penghayatan hidup yang sejati. Orang-orang masih dibebani atau diikat dengan pelbagai konsekuensi yang harus diterimanya. Kenyataannya, orang tidak melakukan sesuatu berdasarkan kemauan dan kesadaran pribadi.

 

            Hari ini kita berjumpa dengan seorang muda yang kaya, baik, dan saleh. Dia meminta nasihat Yesus tentang perbuatan baik yang menjamin masa depannya, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Permintaannya mencerminkan asumsi bahwa hidup kekal itu merupakan ganjaran atas perbuatan baik manusia. Ia menganggap relasi dengan Tuhan sebagai barter komersial (bisnis) antara perbuatan baiknya dengan ganjaran hidup kekal. Kebaikan dilihatnya hanya sebatas ketaatan pada hukum. Oleh Yesus, Dia ditantang untuk membebaskan diri dari ikatan hartanya. Ia harus rela membagikan harta itu kepada orang-orang miskin lalu mengikuti Yesus. Ini bukan merupakan syarat hidup yang kekal, melainkan tujuan utama hidup yang harus dilakukan. Dalam iman, tujuan hidup demikian selaras dengan maksud mulia Allah menciptakan manusia. Sayangnya orang muda ini tidak berani menanggapi jalan kesempurnaan ini. Ia masih lebih mencintai harta duniawi miliknya. Ia belum mampu membebaskan dirinya dari segala keterikatan hidup duniawi. Ia belum memiliki kesadaran penuh untuk memperoleh hidup kekal. Ia hanya menjalani secara rutinitas dan formalitas belaka segala hal yang ditetapkan oleh ajaran agama.

 

            Mungkin sebagai orang beriman kita masih memperlihatkan hidup seperti orang muda yang kaya ini. Segala hal baik dan benar yang kita tunjukkan masih berada pada tataran formalitas atau sekedar rutinitas belaka. Kita melakukan hal yang baik dan benar karena ada kepentingan atau tujuan yang lebih bersifat pragmatis. Jauh dari kata ideal. Kita menunjukkan kebaikan kepada orang lain supaya dicap sebagai orang baik. Kita rajin ke gereja pada hari Minggu supaya dikatakan sebagai orang religius. Kita disiplin dalam waktu supaya tidak mendapat complain dari atasan atau pimpinan. Kita menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam, supaya diapresiasi sebagai orang yang ramah. Kita menyumbang atau memberi derma supaya menaikan gengsi sosial. Kita sering menolong orang miskin dan tertindas supaya Tuhan berkenan memberi berkat. Saya kira masih banyak litani kehidupan yang bisa kita catat dan refleksi secara pribadi yang pada intinya menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan masih berada pada tataran formalitas dan memiliki tujuan pragmatis.

 

              Kita masih belum sungguh-sungguh merdeka untuk melakukan segala kebaikan dan kebenaran dalam kesadaran sejati. Kesadaran sebagai makhluk beriman yang diciptakan Tuhan untuk sungguh-sungguh berada secara total di jalan kebenaran Tuhan. Hari ini Tuhan mengatakan kepada kita: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga”. Statement Yesus ini bukanlah sebuah syarat  hidup yang pragmatis. Kata-kata Yesus ini merupakan sebuah idealisme yang harus digapai oleh setiap kita. Dan menjual harta milik tidak ditafsir secara harafiah semata. Menjual harta milik bersinonim dengan membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi dan kepentingan pribadi. Kita melakukan segala hal baik dan benar sesuai anjuran hukum moral dan agama karena dibentuk oleh sebuah kesadaran. Kesadaran untuk memaknai hidup lebih bermakna. Dan yang pasti kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang sementara berziarah menuju keabadian hidup. 

Rabu, 08 Februari 2023

Menjadi Pribadi Bijaksana

                                                     Mat 17:22-27

           

            Hari ini kita merayakan pesta Santo Dominikus, seorang imam saleh dan pengkotbah ulung. Santo Dominikus merupakan pendiri ordo religius Dominikus. Atau dikenal dengan Ordo Praedicatorium (Ordo para pengkotbah / Ordo Dominikan). Ordo Dominikan adalah sebuah tarekat atau kongregasi yang menggabungkan corak hidup kontemplatif (Cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan, mati raga, bertapa, sehingga orang dapat berdoa dan bersemadi dengan lebih mudah) dengan kehidupan aktif seperti mewartakan Injil di luar komunitas, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar, dan lain-lain. Santo Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol, dan tutup usia di Bologna, Italia, pada tanggal 6 Agustus 1221. Ia menjadi santo pelindung bagi para ibu yang sedang berharap dan para astronom.

 

Merenungkan perikop Injil hari ini, ada satu bagian menarik yang nampaknya jarang direnungkan atau dibahas oleh banyak orang. Berkaitan dengan membayar pajak, apa alasan Yesus supaya Petrus membayar pajak bagi mereka berdua? Satu-satunya alasan yang terungkap dengan jelas dalam teks Injil ini adalah: “Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka” (Mat 17:27). Batu sandungan berarti menjadi penghambat bagi orang lain, bagi sebuah aturan dan kebijakan tertentu dan bagi sebuah kebaikan bersama (Bonum commune). Maka Yesus meminta Petrus untuk mencari koin dalam ikan di danau supaya mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

Menjadi batu sandungan berarti menghambat orang lain atau kelompok tertentu. Yesus mengingatkan Petrus agar karena hal sederhana jangan sampai justru mereka malah menghambat orang lain. Mereka menghalangi orang lain untuk maju dan berkembang. Ketika sebuah kebijakan atau aturan sudah ditetapkan bersama, maka semua orang wajib untuk menghargai dan menjalankan kebijakan atau aturan tersebut. Bahkan mereka yang berkuasa membuat kebijakan dan aturan juga tidak bisa seenaknya untuk mengubah atau dia sendiri tidak melaksanakannya.

 

Dalam kehidupan bersama, misalnya dalam lingkungan Gereja, kita juga berhadapan dengan berbagai kebijakan bersama, Entah di ranah lingkungan atau paroki. Tidak jarang dijumpai ada sekelompok orang yang merasa tidak cocok dengan kebijakan itu. Karena tidak cocok, mereka kemudian membuat gerakan untuk menciptakan kebijakan baru yang tidak sejalan dengan kebijakan lama. Sementara sebagian besar umat masih merasa kebijakan yang lama tetap relevan untuk diterapkan. Yang sering terjadi adalah sekelompok orang ini memaksakan kehendak mereka. Inilah kiranya yang dikatakan oleh Yesus sebagai “batu sandungan” bagi umat yang lain.

 

Contoh lain, dalam lingkup kerja. Kerap kita menemui atau berhadapan dengan orang atau kelompok orang yang mengambil sikap berseberangan dengan aturan yang berlaku atau kebijakan yang telah disepakati bersama. Mungkin mereka merasa ada kepentingan secara pribadi atau kelompok yang tidak terfasilitasi di dalamnya. Tentu aturan dan kebijakan yang diterapkan memiliki tujuan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi para pegawainya. Lain hal lagi, jikalau aturan atau kebijakan tertentu tidak dapat memberikan rasa keadilan atau asas manfaat bagi kepentingan umum. Pasti akan timbul penolakan dan petisi untuk mengevaluasinya. Akan tetapi, selama kebijakan dan aturan itu memiliki tujuan yang baik dan mulia, walaupun mungkin tidak mengakomodir semua kepentingan pribadi, seyogyanya semua pihak dapat menerima dan menjalankannya.

 

Dalam kehidupan ini kiranya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita. Ada banyak aturan dan kebijakan yang mungkin dianggap tidak lagi sesuai. Jika kita mampu untuk memperbaikinya, maka kita bisa melakukannya. Namun jika apa yang kita usulkan justru menjadi perdebatan dan bahkan menimbulkan konflik dan perpecahan, maka sebaiknya kita berpikir kembali. Kita hidup bersama dalam satu kesatuan bersama orang lain. Ada kalanya kita harus bertindak demi kepentingan dan kebaikan bersama. Namun sebaiknya kita tidak boleh bertindak atas nama kepentingan pribadi atau kelompok, supaya jangan menjadi batu sandungan bagi semua orang.

 

Hari ini Yesus telah menginspirasi agar kita menjadi manusia yang bijaksana dalam hidup. Manusia yang tidak hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata. Manusia yang tidak hanya memfokuskan hidup demi pribadi dan kelompoknya. Apalagi sampai mengambil sikap oposan atau berlawanan dengan sebuah aturan dan kebijakan yang baik dan mulia demi kepentingan bersama. Jika ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan bersama. Kita harus mengasah dan menata diri untuk menjadi manusia yang bijaksana. Pertama, dalam menyikapi pelbagai hal, termasuk aturan dan kebijakan yang bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan kebaikan bersama, kita perlu bertindak dengan sikap rasional dan emosi yang matang. Dengan pendekatan yang lebih persuasif, dan bukan sebaliknya dengan intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan umum dengan mengutamakan kepentingang pribadi dan kelompok. Mari kita menata sikap dan hidup lebih bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.