Minggu, 19 Februari 2023

Menjadi Manusia Yang Berkesadaran

Mat 19:16-22

Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, kita memiliki kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anak untuk memiliki sikap yang baik. Baik tidak hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga dalam lingkup pergaulan sosialnya bersama orang lain. Tentu dengan pelbagai pendekatan dan metode yang berbeda. Ada pendekatan yang lembut, tegas, dan tidak jarang orang tua mendidik anak-anak dengan kata-kata yang keras dan kasar. Kata-kata kunci seperti jangan, tidak, harus, wajib, menjadi kata-kata lumrah dan terus menghiasi dinamika hidup harian kita. Terutama berhadapan dengan anak-anak, kata-kata ini dipakai untuk memberi batasan agar mereka tidak melenceng dari hidup yang sudah digariskan oleh hukum moral dan ajaran agama. Kata-kata demikian, menjadi lebih efektif apabila ditambahkan dengan keterangan yang menjelaskan dampak dari sebuah perbuatan. Misalnya, jangan mencuri karena Tuhan akan murka. Kamu tidak boleh menghina sesamamu karena kamu akan mendapat celaka. Anda harus menolong orang lain agar Tuhan mengasihimu. Anda wajib menolong orang miskin agar kelak masuk sorga. Dan masih banyak contoh kalimat yang lain.

 

            Nasihat seperti ini merupakan contoh penerapan metode reward (hadiah) dan punishment (hukuman) untuk memotivasi seseorang. Metode ini memang terbukti efektif dalam berbagai bidang kehidupan manusia termasuk dalam urusan rohani. Kebanyakan orang melakukan hal-hal baik dan benar seturut ajaran moral dan agama dengan motivasi tertentu. Agar ia mendapat berkat dan keselamatan dari Tuhan. Agar ia bisa diterima dalam keluarga dan masyarakat. Agar ia bisa disenangi dan mendapat simpati dari publik. Agar ia bisa diberi apresiasi dan kenaikan jabatan. Penghayatan nilai-nilai iman dan moral yang berlandaskan pada aspek reward dan punishment sah-sah saja. Tetapi model penghayatan seperti ini bukanlah sebuah penghayatan hidup yang sejati. Orang-orang masih dibebani atau diikat dengan pelbagai konsekuensi yang harus diterimanya. Kenyataannya, orang tidak melakukan sesuatu berdasarkan kemauan dan kesadaran pribadi.

 

            Hari ini kita berjumpa dengan seorang muda yang kaya, baik, dan saleh. Dia meminta nasihat Yesus tentang perbuatan baik yang menjamin masa depannya, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Permintaannya mencerminkan asumsi bahwa hidup kekal itu merupakan ganjaran atas perbuatan baik manusia. Ia menganggap relasi dengan Tuhan sebagai barter komersial (bisnis) antara perbuatan baiknya dengan ganjaran hidup kekal. Kebaikan dilihatnya hanya sebatas ketaatan pada hukum. Oleh Yesus, Dia ditantang untuk membebaskan diri dari ikatan hartanya. Ia harus rela membagikan harta itu kepada orang-orang miskin lalu mengikuti Yesus. Ini bukan merupakan syarat hidup yang kekal, melainkan tujuan utama hidup yang harus dilakukan. Dalam iman, tujuan hidup demikian selaras dengan maksud mulia Allah menciptakan manusia. Sayangnya orang muda ini tidak berani menanggapi jalan kesempurnaan ini. Ia masih lebih mencintai harta duniawi miliknya. Ia belum mampu membebaskan dirinya dari segala keterikatan hidup duniawi. Ia belum memiliki kesadaran penuh untuk memperoleh hidup kekal. Ia hanya menjalani secara rutinitas dan formalitas belaka segala hal yang ditetapkan oleh ajaran agama.

 

            Mungkin sebagai orang beriman kita masih memperlihatkan hidup seperti orang muda yang kaya ini. Segala hal baik dan benar yang kita tunjukkan masih berada pada tataran formalitas atau sekedar rutinitas belaka. Kita melakukan hal yang baik dan benar karena ada kepentingan atau tujuan yang lebih bersifat pragmatis. Jauh dari kata ideal. Kita menunjukkan kebaikan kepada orang lain supaya dicap sebagai orang baik. Kita rajin ke gereja pada hari Minggu supaya dikatakan sebagai orang religius. Kita disiplin dalam waktu supaya tidak mendapat complain dari atasan atau pimpinan. Kita menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam, supaya diapresiasi sebagai orang yang ramah. Kita menyumbang atau memberi derma supaya menaikan gengsi sosial. Kita sering menolong orang miskin dan tertindas supaya Tuhan berkenan memberi berkat. Saya kira masih banyak litani kehidupan yang bisa kita catat dan refleksi secara pribadi yang pada intinya menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan masih berada pada tataran formalitas dan memiliki tujuan pragmatis.

 

              Kita masih belum sungguh-sungguh merdeka untuk melakukan segala kebaikan dan kebenaran dalam kesadaran sejati. Kesadaran sebagai makhluk beriman yang diciptakan Tuhan untuk sungguh-sungguh berada secara total di jalan kebenaran Tuhan. Hari ini Tuhan mengatakan kepada kita: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga”. Statement Yesus ini bukanlah sebuah syarat  hidup yang pragmatis. Kata-kata Yesus ini merupakan sebuah idealisme yang harus digapai oleh setiap kita. Dan menjual harta milik tidak ditafsir secara harafiah semata. Menjual harta milik bersinonim dengan membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi dan kepentingan pribadi. Kita melakukan segala hal baik dan benar sesuai anjuran hukum moral dan agama karena dibentuk oleh sebuah kesadaran. Kesadaran untuk memaknai hidup lebih bermakna. Dan yang pasti kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang sementara berziarah menuju keabadian hidup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar