Mat 17:22-27
Hari ini kita merayakan pesta Santo
Dominikus, seorang imam saleh dan pengkotbah ulung. Santo Dominikus merupakan
pendiri ordo religius Dominikus. Atau dikenal dengan Ordo Praedicatorium (Ordo
para pengkotbah / Ordo Dominikan). Ordo Dominikan adalah sebuah tarekat atau kongregasi
yang menggabungkan corak hidup kontemplatif (Cara hidup yang mengutamakan
kehidupan penuh ketenangan, mati raga, bertapa, sehingga orang dapat berdoa dan
bersemadi dengan lebih mudah) dengan kehidupan aktif seperti mewartakan Injil
di luar komunitas, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar, dan
lain-lain. Santo Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol, dan
tutup usia di Bologna, Italia, pada tanggal 6 Agustus 1221. Ia menjadi santo
pelindung bagi para ibu yang sedang berharap dan para astronom.
Merenungkan perikop Injil hari ini, ada satu
bagian menarik yang nampaknya jarang direnungkan atau dibahas oleh banyak
orang. Berkaitan dengan membayar pajak, apa alasan Yesus supaya Petrus membayar
pajak bagi mereka berdua? Satu-satunya alasan yang terungkap dengan jelas dalam
teks Injil ini adalah: “Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka”
(Mat 17:27). Batu sandungan berarti menjadi penghambat bagi orang lain, bagi
sebuah aturan dan kebijakan tertentu dan bagi sebuah kebaikan bersama (Bonum commune). Maka Yesus meminta
Petrus untuk mencari koin dalam ikan di danau supaya mereka tidak menjadi batu
sandungan bagi orang lain.
Menjadi batu sandungan berarti menghambat
orang lain atau kelompok tertentu. Yesus mengingatkan Petrus agar karena hal
sederhana jangan sampai justru mereka malah menghambat orang lain. Mereka
menghalangi orang lain untuk maju dan berkembang. Ketika sebuah kebijakan atau
aturan sudah ditetapkan bersama, maka semua orang wajib untuk menghargai dan
menjalankan kebijakan atau aturan tersebut. Bahkan mereka yang berkuasa membuat
kebijakan dan aturan juga tidak bisa seenaknya untuk mengubah atau dia sendiri
tidak melaksanakannya.
Dalam kehidupan bersama, misalnya dalam
lingkungan Gereja, kita juga berhadapan dengan berbagai kebijakan bersama, Entah
di ranah lingkungan atau paroki. Tidak jarang dijumpai ada sekelompok orang
yang merasa tidak cocok dengan kebijakan itu. Karena tidak cocok, mereka
kemudian membuat gerakan untuk menciptakan kebijakan baru yang tidak sejalan
dengan kebijakan lama. Sementara sebagian besar umat masih merasa kebijakan
yang lama tetap relevan untuk diterapkan. Yang sering terjadi adalah sekelompok
orang ini memaksakan kehendak mereka. Inilah kiranya yang dikatakan oleh Yesus
sebagai “batu sandungan” bagi umat yang lain.
Contoh lain, dalam lingkup kerja. Kerap kita
menemui atau berhadapan dengan orang atau kelompok orang yang mengambil sikap
berseberangan dengan aturan yang berlaku atau kebijakan yang telah disepakati
bersama. Mungkin mereka merasa ada kepentingan secara pribadi atau kelompok
yang tidak terfasilitasi di dalamnya. Tentu aturan dan kebijakan yang
diterapkan memiliki tujuan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi para
pegawainya. Lain hal lagi, jikalau aturan atau kebijakan tertentu tidak dapat
memberikan rasa keadilan atau asas manfaat bagi kepentingan umum. Pasti akan
timbul penolakan dan petisi untuk mengevaluasinya. Akan tetapi, selama
kebijakan dan aturan itu memiliki tujuan yang baik dan mulia, walaupun mungkin
tidak mengakomodir semua kepentingan pribadi, seyogyanya semua pihak dapat
menerima dan menjalankannya.
Dalam kehidupan ini kiranya ada banyak hal
yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita. Ada banyak aturan dan
kebijakan yang mungkin dianggap tidak lagi sesuai. Jika kita mampu untuk
memperbaikinya, maka kita bisa melakukannya. Namun jika apa yang kita usulkan
justru menjadi perdebatan dan bahkan menimbulkan konflik dan perpecahan, maka
sebaiknya kita berpikir kembali. Kita hidup bersama dalam satu kesatuan bersama
orang lain. Ada kalanya kita harus bertindak demi kepentingan dan kebaikan
bersama. Namun sebaiknya kita tidak boleh bertindak atas nama kepentingan
pribadi atau kelompok, supaya jangan menjadi batu sandungan bagi semua orang.
Hari ini Yesus telah menginspirasi agar kita menjadi manusia yang bijaksana dalam hidup. Manusia yang tidak hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata. Manusia yang tidak hanya memfokuskan hidup demi pribadi dan kelompoknya. Apalagi sampai mengambil sikap oposan atau berlawanan dengan sebuah aturan dan kebijakan yang baik dan mulia demi kepentingan bersama. Jika ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan bersama. Kita harus mengasah dan menata diri untuk menjadi manusia yang bijaksana. Pertama, dalam menyikapi pelbagai hal, termasuk aturan dan kebijakan yang bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan kebaikan bersama, kita perlu bertindak dengan sikap rasional dan emosi yang matang. Dengan pendekatan yang lebih persuasif, dan bukan sebaliknya dengan intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan umum dengan mengutamakan kepentingang pribadi dan kelompok. Mari kita menata sikap dan hidup lebih bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar