Luk 4:38-44
Banyak cara seseorang bisa mendapatkan
penguatan dan peneguhan dalam kehidupan imannya. Baik itu berupa refleksi
pengetahuan dan ajaran iman. Maupun juga lahir dari setiap pengalaman yang
dilihat dari orang lain atau dialami secara langsung. Karena setiap pengalaman
kehidupan adalah peristiwa iman yang mengandung nutrisi bagi kehidupan iman
manusia. Saya sangat meyakini itu karena berangkat dari pengalaman yang saya
alami secara pribadi. Ketika melayani pendampingan rohani bagi pasien di
ruang-ruang Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba, hal positif pertama yang saya
alami adalah merasakan energi yang baik dalam diri. Indikasinya saya merasa
nyaman, bisa berkomunikasi dengan baik dengan pasien, dan menjadi pendengar
yang setia bagi mereka.
Selanjutnya,
dari sisi iman, saya merasa sangat dikuatkan. Begitu juga, pengalaman iman yang
sama dialami juga oleh mereka. Mereka turut dikuatkan dan diteguhkan dalam iman
untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup. Terutama dalam pengalaman sakit
yang sementara dialami. Ada satu pengalaman yang berkesan ketika saya
mendampingi seorang kepala dinas yang sementara sakit. Ia bersama istrinya
sangat ramah menerima kehadiran saya. Dalam suasana doa, mereka sangat khusyuk
melarutkan diri. Bahkan dengan penuh keyakinan mereka turut pula mendaraskan
doa dengan suara yang nyaring. Dalam hati saya kagum dengan iman sepasang suami
istri ini. Dan saya percaya bahwa oleh keteguhan iman, sang suami dapat
memperoleh kesehatannya kembali. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar
bahwa sang kepala dinas telah pulih dari sakitnya; dan bersama sang istri,
mereka telah kembali ke rumahnya. Sungguh sebuah pengalaman iman yang sangat
meneguhkan.
Pengalaman iman yang sama saya alami
ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan. Memang miris ketika melihat anak-anak
kecil dan remaja yang harus menjalani kehidupan tanpa orang tua kandung di usia
mereka yang sangat belia. Mereka sebenarnya tidak pernah menginginkan harus
dilahirkan. Apalagi menjalani kehidupan demikian. Namun situasi yang menuntut
mereka harus kuat dan matang, melampaui usia mereka yang belum matang. Terlepas
dari gambaran di atas, ternyata situasi riil yang mereka jalani sangat kontras
dengan takdir yang terberi dalam diri mereka sebagai anak-anak panti. Mereka
kelihatan sangat bahagia dan penuh sukacita bersama ibu pengasuh. Hal ini
tergambar juga ketika kami semua bersatu dalam doa dan syering bersama. Dengan
penuh semangat dan kegembiraan, kami semua dapat melewati setiap tahapan
kegiatan dengan baik dan lancar. Mereka sungguh dikuatkan dalam iman kepada
Tuhan. Begitu pun sebaliknya. Saya juga sungguh dikuatkan dalam iman.
Dua pengalaman kecil ini, setidaknya
mewakili juga pengalaman-pengalaman yang lain, memberi afirmasi atau penegasan
terhadap kata-kata Yesus: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil
Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Tentu apa yang saya lakukan,
sangat jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh Yesus dalam bacaan
Injil. Tidak bisa juga dibuat perbandingan karena memang tidak bisa disandingkan.
Ia sangat sempurna di dalam kemahakuasaan ilahi. Namun, pengalaman sederhana
yang saya alami boleh dikatakan sementara mengarah kepada apa yang dicanangkan
oleh Tuhan sendiri. Mewartakan kasih tanpa batas dan melampau sekat. Manusia
harus meninggalkan zona nyaman kehidupannya demi mewartakan kasih dan kehendak
Tuhan. Terlepas dari pelbagai kekurangan yang melingkupinya. “Karena itu yang
penting bukanlah menanam atau menyiram, melainkan Allah yang memberi
pertumbuhan” (1 Kor 3:7). Tugas kita hanyalah menanam dan merawat apa yang
telah ditaburkan. Selebihnya biarlah Tuhan yang akan menumbuhkembangkannya.
Merefleksikan dan menghayati
panggilan tugas dan karya pribadi masing-masing adalah sebuah keniscayaan. Di
dalamnya, tanpa pernah berhenti dan bosan, kita terus didekatkan untuk
menemukan rahasia Tuhan yang berbicara dalam setiap pengalaman atau peristiwa
hidup. Dengan ini, kita semakin menyadari diri sebagai makhluk terbatas yang
memiliki pengalaman tidak terbatas tentang Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita memiliki
banyak keterbatasan dan kekurangan. Namun, dengan pengalaman ketidakterbatasan,
kita akan mampu menemukan Tuhan yang sedang berbicara dalam setiap kejadian
atau peristiwa hidup. Terutama dalam menghayati tugas dan panggilan kita
masing-masing. Sebenarnya apa yang sementara dikehendaki atau direncanakan oleh
Tuhan dalam hidup kita.
Hidup, karya, dan panggilan kita
adalah sebuah amanat atau titipan suci. Hidup, karya, dan panggilan untuk
mewartakan kasih dan kebaikan Allah tanpa batas dan melampaui sekat. Karena
hidup tidak sekedar hidup. Ia adalah untaian pengalaman iman yang sementara
mengungkapkan misteri iman kepada segenap umat manusia. Ketika orang lain
merasa bahagia, terhibur, tertolong dan dikuatkan oleh karena karya dan
pelayanan kita, sadar atau tidak, misteri Tuhan sementara terungkap di sana.
Ketika sesama belum merasa bahagia, terhibur, dikuatkan atau diselamatkan, kita
perlu bertanya dan berefleksi, sudahkah kita menghidup karya dan panggilan diri
sesuai dengan amanat Tuhan?
Kisah kasih Tuhan kepada ibu mertua
Simon dan orang banyak mendorong kita untuk tidak pernah berhenti mewartakan
kasih Tuhan tanpa batas dan sekat. Karena di dalam setiap pengalaman hidup yang
kita jalani, terselip pengalaman iman yang meneguhkan jati diri keimanan kita
kepada Dia yang kita sembah. Semoga setiap orang yang kita layani dapat
merasakan kehadiran Tuhan yang menghibur, meneguhkan, dan menguatkan perjalanan
kehidupan mereka di dunia ini.