Selasa, 26 Januari 2021

MENJADI TANAH DAN PENABUR YANG BAIK

 

Mrk 4: 1-20

Ada seorang sahabat dari tempat yang jauh menceritakan pengalamannya mengenai seorang pastor yang berkarya di parokinya. Menurut sahabat saya ini, sang pastor tersebut sangat cerdas secara intelektual. Namun ia sering mendapat kritik karena kurang mengenal umatnya. Ia jarang mengunjungi dan berinteraksi secara sosial dengan mereka. Perilaku sang pastor demikian kalau dihubungkan dengan bahasa gaul (sehari-hari) di tengah masyarakat, dikenal dengan istilah jaim, jaga imej. Jaga wibawa supaya tetap disegani dan mendapat tempat terhormat. Kira-kita begitu tafsiran bebas dari frase jaga imej. Ada hal lain yang menambah rasa antipati umat adalah isi kotbah sang pastor yang kurang menyentuh dengan persoalan kontekstual yang dihadapi umat. Ia sangat suka menggunakan istilah-istilah ilmiah dan kata-kata puitis. Padahal rata-rata umat di paroki itu berpendidikan rendah sehingga pastinya mereka tidak paham dengan isi kotbah sang pastor. Intinya, kotbah sang pastor mengawang tinggi di langit dan tidak mendarat di bumi untuk menjawabi situasi aktual dan konkrit di tengah umat.

 

Bacaan hari ini (Mrk 4:1-20) mengetengahkan kotbah Yesus yang menggunakan perumpamaan. “Perumpamaan adalah suatu metafora atau persamaan yang diambil dari alam atau kehidupan biasa, memikat pendengar oleh gambarannya yang hidup dan aneh, dan membiarkan pikiran bertanya-tanya mengenai apa persis penerapannya” (Tafsir Alkitab PB, hal 88.). Yesus dengan jeli menangkap situasi praktis dan konkrit yang dialami oleh umat Israel saat itu. Kemudian Ia mengangkat pengetahuan dan pengalaman umat yang sederhana itu dalam isi pengajaran-Nya sebagai bahasa perumpamaan. Agar umat bisa memahami entitas Allah dan kerajaan ilahi yang ada di dalamnya. Yesus sengaja menggunakan bahasa perumpamaan untuk merangsang pengetahuan umat yang terbatas sehingga mereka dapat mengenali wujud Allah dan kerajaan-Nya.

 

Pada kesempatan kali ini, Yesus memakai kata penabur sebagai kata kunci untuk menjelaskan pengajaran-Nya. Kata penabur merupakan sebuah istilah familiar karena pada umumnya umat Israel kala itu memiliki pekerjaan sebagai petani. Petani dapat dikatakan juga sebagai penabur karena esensi pekerjaannya adalah menabur benih di ladang. Selain kata penabur, ada dua kata kunci lain dalam kotbah Yesus. Dua kata itu adalah benih dan tanah. Tiga kata kunci ini (penabur, benih, dan tanah) merupakan ungkapan simbolik untuk menjelaskan hakikat Allah dan perwujudan karya-Nya. Kata penabur merepresentasikan wujud Allah. Kata benih mewakili wujud firman atau sabda yang ditaburkan Allah. Sedangkan kata tanah merujuk pada pribadi manusia yang menerima firman atau sabda Allah.

 

Dalam isi wejangan-Nya, Yesus menyampaikan bahwa ada seorang penabur keluar dari rumahnya untuk pergi menabur benih. Entah disengaja atau tidak tetapi benih-benih yang dibawa itu jatuh di empat area yang berbeda-beda. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan. Jatuh di tanah yang berbatu-batu. Jatuh dalam semak belukar. Dan ada benih yang jatuh di tanah yang baik. Dari keempat area tersebut, hanya area keempat yang bisa mengakomodir benih itu tumbuh dan menghasilkan buah yang banyak. Area itu tanah yang baik. Sedangkan tiga area yang lain yakni area pinggir jalan, tanah berbatu-batu, dan semak belukar, merupakan tiga lokasi kurang strategis karena menghambat dan mematikan benih yang tumbuh.

 

Kata penabur dalam perumpamaan itu adalah Allah sendiri yang datang ke dunia dalam diri Yesus untuk mewartakan sabda Allah agar semua umat menjadi selamat dan masuk dalam Kerajaan Allah. Dalam pewartaan-Nya tentu tidak berjalan mulus. Ada banyak tantangan dan hambatan yang menahan laju kembang firman Tuhan. Namun patut disyukuri bahwa ada banyak orang yang mengalami penerangan, bertobat dan percaya kepada Allah. Walaupun jumlahnya sangat minimalis, namun cukup efektif. Mereka adalah golongan orang yang memiliki konsistensi dan komitmen untuk menyediakan dirinya sebagai ladang pesemaian yang baik. Mereka juga memperlakukan benih itu dengan baik. Mereka menjaga dan memberi pupuk sehingga benih itu terus tumbuh dan berkembang. Dan bahkan menghasilkan banyak buah. Menjaga dan memberi pupuk memiliki makna bahwa orang-orang yang menerima sabda itu sungguh-sungguh mendengarkan, meresapi dan menghayati firman yang datang di dalam hati. Mereka tidak terpengaruh dengan berbagai tantangan dan halangan yang datang. Mereka sungguh percaya kepada Allah dengan melaksanakan segala kehendak-Nya dan menjauhi segala hal yang menjadi larangan-Nya.

 

Tantangan dan hambatan dalam menerima pewartaan dilukiskan oleh benih yang jatuh di pinggir jalan, benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan benih yang jatuh dalam semak berduri. Sekian tantangan dan hambatan bisa disebutkan, misalnya: yang pertama, ketidakseriusan atau kemalasan orang untuk mendengarkan sabda. Firman Allah yang didengar itu hanya numpang lewat saja. Selanjutnya akan hilang bersamaan dengan angin yang berhembus. Kedua, firman yang didengar itu hanya bertahan dalam tataran pikiran atau pengetahuan. Tidak merasuk jauh ke dalam hati. Oleh karena itu ia akan gampang menguap dan dilupakan. Ketiga, rasa kuatir dan cemas akan adanyan penindasan dan penganiayaan. Orang gampang menggadaikan imannya manakala menghadapi aneka tantangan berupa hinaan, ancaman, penindasan, dan penganiayaan. Tidak hanya kekerasan secara fisik tetapi secara verbal (melalui kata-kata), orang gampang melepaskan imannya yang sudah bertumbuh dan berkembang.

 

Keempat, tantangan hidup dalam budaya materialisme, hedonisme dan konsumerisme. Saya pikir jenis tantangan ini yang paling berbahaya dalam hidup iman kita. Budaya materialisme itu budaya hidup yang mementingkan materi dan kekayaan. Banyak cara termasuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Orang bisa melakukan korupsi, penipuan dan memanfaatkan kepolosan orang lain untuk mendapatkan harta atau kekayaan apa saja. Budaya hedonisme adalah corak hidup yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan. Pesta pora, mabuk-mabukan, judi adalah sebagian tipe hidup dalam hedonisme. Dan budaya konsumerisme mengutamakan hidup penuh konsumtif. Tidak produktif. Orang hanya memiliki mental santai. Mau makan dan minum enak tetapi tidak mau bekerja. Apalagi berkerja keras. Kalau tiga virus ini sudah menghinggapi hidup maka tidak menjadi heran kalau orang tidak menganggap Tuhan dan agama sebagai elemen penting dalam hidupnya. Mereka sudah menemukan “tuhan dan agama baru” dalam perilaku hidup yang tidak benar dan menyesatkan.

 

Hari ini kita semua diberi penerangan dan penguatan oleh Tuhan agar kita mampu menyiapkan ladang hati sebagai tempat tumbuhkembang benih Sabda Allah. Kita senantiasa membersihkan kerikil-kerikil dan duri-duri tajam yang menghambat hidup iman kita dengan tidak pernah bosan mendengar curahan sabda dan meresapi-Nya jauh di kedalaman hati. Kita juga perlu membangun komunikasi yang semakin akrab dengan Tuhan melalui doa secara pribadi atau pun kolektif. Kita tidak perlu ragu untuk meminta petunjuk dan bimbingan Tuhan agar kita tetap diberi kemudahan dalam banyak hal. Andaikan kita mendapat kesulitan, kita memohon kekuatan-Nya agar kita tidak jatuh terpuruk dan lari dari pada-Nya. Dalam iman kita yakin Tuhan sementara merancang hidup lebih baik yang tidak pernah kita pikir atau bayangkan.

 

Tentu kita tidak berhenti pada level menyiapkan ladang hati yang baik. Kita juga seharusnya menjadi penabur-penabur kecil yang mewartakan Sabda Allah dengan memberi kesaksian hidup yang baik lewat kata-kata dan perbuatan. Dengan demikian kita semakin dilayakkan menjadi mitra Tuhan dalam rangka mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

 

Selasa, 19 Januari 2021

CURIGA NO, SIKAP KASIH YES !

Mrk 3: 1-6

 

Manusia secara kodrati adalah pribadi yang terbentuk dari dua kutub yang berbeda. Dua kutub itu yakni kutub positif dan negatif. Dua kutub ini secara konseptual dipandang sebagai dua kekuatan sekaligus potensi yang inheren (melekat) dalam diri manusia. Kutub positif memberi ruang bagi manusia untuk melakukan hal-hal yang baik. Sementara kutub negatif membuka kemungkinan bagi manusia untuk bertindak jahat atau buruk. Oleh karena itu karekteristik pribadi seorang manusia diteropong dari sejauh mana dia memberdayakan dua kekuatan dan potensi itu. Jikalau seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub positif maka dia menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, apabila seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub negatif maka otomatis dia menjadi pribadi yang jahat.

 

Contoh sikap negatif yang ada dalam diri manusia adalah sikap menaru curiga dan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap menaru curiga dilandasi oleh cara pandang individu yang subyektif. Cara pandang yang masih dalam tataran dugaan; dan bisa dikategorikan juga sebagai rumor atau gosip. Karena belum atau tidak memiliki kebenaran yang sahih. Cara pandang demikian dapat menggiring seseorang untuk selalu mencari-cari kesalahan yang dimiliki oleh sesamanya. Orang gampang memvonis dan menghakimi sesamanya karena di sisi lain ia merasa paling benar. Dan kenyamanannya terusik dengan kehadiran orang lain.

 

Buntut dari ketidaknyaman dan ketidaksukaan kepada Yesus, dipamerkan oleh para elit agama Yahudi (orang Farisi) yang merasa diri paling benar. Mereka mengklaim diri sebagai penjaga tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam agama Yahudi. Ketika melihat Yesus bertindak berseberangan dengan segala aturan dan ketentuan yang berlaku, timbul rasa cemas dan tidak nyaman dalam diri mereka. Mereka kemudian mulai melakukan perlawanan dengan mencari-cari kesalahan-Nya. Sudah dua kali kesempatan Yesus mempermalukan sekaligus membungkam mereka di depan publik. Ketika bersoal jawab tentang esensi puasa dan hari Sabat pada dua bacaan sebelumnya, Yesus mengafirmasi perlunya menjaga martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Daripada sekedar menonjolkan segala aturan dan tradisi yang pada gilirannya hanya menekan dan menindas manusia. Hati mereka semakin panas karena tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menjerat Yesus.

 

Para elit agama terus mengikuti dan mengamati pergerakan Yesus ke mana saja Ia pergi. Mereka terus berupaya mencari celah agar dapat menemukan kesalahan-Nya. Hingga pada suatu waktu di hari Sabat, di dalam rumah ibadat, mereka menyaksikan Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya. Inilah moment yang ditunggu. Mereka telah menemukan kesalahan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari Sabat. Sebuah tindakan yang digolongkan dalam jenis pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Rupanya Yesus sudah mengetahui kalau ada orang yang tidak sepakat dengan perbuatan-Nya. Maka sebelum melakukan aksi mukjizat-Nya, Ia menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk tampil ke tengah orang banyak. Lalu Ia berkata: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4).

 

Dengan menampilkan si sakit di tengah publik, Yesus ingin semua orang mengetahui bahwa ada orang yang sementara menderita dan sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan. Di satu sisi walaupun ada aturan dan tradisi yang membatasi, namun di sisi lain ada nilai kemanusiaan yang harus dikedepankan. Ada martabat manusia yang harus mendapat prioritas daripada sekedar mempertahankan aturan dan tradisi. Tanpa menunggu respon dari orang lebih lanjut, Yesus segera menunjukkan tindakan kasih-Nya dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangan-Nya. Secara implisit Yesus telah menegaskan kepada semua orang bahwa Ia telah hadir sebagai repsesentasi Allah sendiri dengan melampaui segala aturan dan tradisi yang ada. Selain itu, Yesus ingin menyampaikan pesan bahwa tindakan kasih yang Ia lakukan kepada orang sakit jauh lebih penting daripada segala aturan yang ada. Yesus telah berusaha menghilangkan segala kecurigaan yang tidak berdasar dari orang-orang yang tidak menyukai-Nya. Dengan menghilangkan segala kecurigaan dan memberi pemahaman kepada semua orang akan nilai kasih Allah yang jauh lebih tinggi dari segala aturan dan tradisi yang dibuat manusia, diharapkan tidak akan muncul mispersepsi dan penghakiman yang tidak benar kepada diri-Nya.

 

Sebagai manusia biasa yang secara kodrati memiliki potensi untuk berbuat jahat, kita seringkali suka mengembangkan sikap curiga dan selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Kita gampang menaru curiga kepada sesama manakala kita merasa tersaingi. Kita merasa ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar, dan “lebih banyak memiliki” daripada yang ada pada kita. Kita merasa tidak nyaman dan terusik. Kemudian kita terjebak dalam sikap menghakimi orang lain tanpa dasar. Kita dengan mudah mempersalahkan orang lain tanpa melihat hal-hal obyektif dan fakta-fakta yang berbicara atasnya. Tidak hanya kepada manusia, sikap curiga dan mencari kesalahan juga bisa saja kita alamatkan kepada Tuhan manakala kita dihadapkan dengan problem hidup yang berat dan tak kunjung usai. Kita bisa dengan mudah mencurigai dan mengkambinghitamkan Tuhan atas segala penderitaan, dukacita, dan segala keterpurukan hidup yang kita alami.

 

Tindakan kasih yang dilakukan oleh Yesus kepada orang yang mati sebelah tangan-Nya pada hari Sabat, semakin membuka pikiran dan meyakinkan hati kita untuk tidak lagi mencurigai dan gampang mempersalahkan Tuhan dalam hidup. Sebenarnya, Tuhan selalu ada dalam setiap napas dan pengalaman hidup. Dalam setiap pergulatan, kesulitan, kegalauan dan penderitaan, Tuhan selalu hadir memberi kekuatan agar kita tidak mudah putus asa dan jatuh. Tuhan juga memberi bimbingan dan arahan. Melalui tangan-tangan orang lain, Tuhan sementara menjadikan mereka alat-alat-Nya untuk membawa kita keluar dari sebuah persoalan. Oleh karena itu, jadikan orang lain sebagai partner yang senantiasa membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Dan bukan sebaliknya menaru curiga dan mendiskreditkan mereka. Tanamkan dalam diri sikap positif agar kita lebih mudah memahami dan memberi apresiasi atas prestasi yang dimiliki oleh orang lain.

 

Sikap positif akan melahirkan perbuatan-perbuatan kasih tanpa ada sekat-sekat yang menghalangi. Tidak ada lagi rasa ego yang mementingkan diri. Tidak ada lagi kerikil-kerikil bahkan batu besar yang menjadi penghalang bagi kita untuk melaksanakan perbuatan kasih kepada orang lain. Karena kita percaya, kasih Tuhan jauh lebih dasyat untuk memberi kebaikan, kebahagiaan, kenyamanan dan keselamatan bagi semua orang. Mari kita menghentikan sikap curiga kepada orang lain dan mengimplementasikan nilai kasih demi terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 12 Januari 2021

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

 

(Mrk 1: 29-39)

Realitas membuktikan bahwa kekuasaan dan jabatan memberi banyak keuntungan. Tidak hanya secara finansial. Namun dalam aneka dimensi kehidupan. Secara sosial misalnya, status seseorang otomatis mengalami peningkatan. Dia mendapat pengakuan, disegani, dan dihormati. Tidak jarang, seseorang dengan status sosial yang sedikit mentereng, menjadi idola atau sumber kekuatan (pelindung) bagi keluarga dan orang-orang di sekitar. Jamak terjadi juga bahwa orang-orang yang memiliki jabatan dan kuasa seringkali atau biasanya mau dilayani daripada melayani.

 

Ada satu pengalaman berbeda yang saya alami. Di tempat saya bekerja, ada seorang senior yang cukup disegani. Usianya nyaris mendekati usia pensiun bagi seorang ASN. Ia telah mencapai pangkat dan golongan kerja yang tinggi. Lagipula, Ia memiliki jabatan atau kedudukan yang cukup mapan dalam kariernya sebagai seorang abdi negara. Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sangat berkesan dan menginspirasi yakni semangat pelayanannya. Ia tipe pemimpin yang tidak mau dilayani. Kecuali dalam porsi tertentu sebagai seorang pemimpin dan dalam situasi yang formal, tentu ia membutuhkan para staf untuk membantunya. Di luar situasi itu, ia tampil sebagai seorang rekan, sahabat yang siap melayani dengan sepenuh hati. Banyak kali terjadi, dengan inisiatif pribadi, ia membawa makanan dan minuman untuk para stafnya. Ia pula sendiri yang membagi-bagikannya. Kalau ada problem yang dialami oleh para stafnya, dengan senang hati ia mau membantu dan mencari solusi atasnya. Ini tipe pemimpin yang sangat jarang saya temui. Semangat pelayanannya begitu tulus dan memotivasi banyak orang untuk dapat berlaku demikian.

 

Sebagai seorang pemimpin yang memiliki karunia ilahi, Yesus telah menampilkan semangat pelayanan dalam seluruh hidup dan karyanya. Dalam bacaan hari ini (Mrk 1:29-39), Yesus menunjukkan semangat pelayanannya dengan menyembuhkan ibu mertua Simon yang menderita sakit demam. Ketika mendapat informasi dari para murid-Nya, Yesus langsung bertindak dengan meredakan sakit demam perempuan itu. Kita juga mendapat informasi dari teks Kitab Suci bahwa setelah sembuh, ibu mertua Simon pula yang melayani Yesus dan para murid di rumahnya. Sebuah tindakan yang lahir bukan sekedar balas jasa dari kebaikan yang sudah dialaminya. Lebih dari itu, sebuah sikap pelayanan penuh ketulusan yang mau ditonjolkan. Sikap pelayanan juga ditunjukkan oleh Yesus ketika menyembuhkan banyak orang yang berkerumun di depan pintu rumah pada malam hari. Yesus tidak mengeluh atau menolak mereka yang berdesak-desakan di luar rumah. Dengan setia, sabar dan tulus, Ia menyembuhkan berbagai penyakit yang dialami oleh mereka.

 

Eforia tindakan mukjizat oleh Yesus berlanjut sampai pagi. Cerita dari mulut ke mulut dengan cepat beredar. Lebih banyak lagi orang datang untuk bertemu dengan Yesus. Mungkin ada yang minta disembuhkan dari sakitnya. Atau juga, tidak sedikit dari mereka yang sekedar ingin melihat dari dekat pemandangan yang tidak biasanya tersebut. Para murid dengan cemas menyusul Yesus yang sementara berdoa di suatu tempat yang sunyi. Mereka memberitahu kepada Yesus tentang banyak orang yang sedang mencari-Nya. Bukannya menjawabi rasa penasaran orang banyak dengan datang menemui mereka, Yesus malah mengajak para murid-Nya untuk segera bergeser ke daerah lain. Dalam hal ini, Yesus tidak mau bersikap ego dengan hanya memberikan pelayanan di satu tempat saja. Ada banyak orang di daerah lain juga membutuhkan perhatian dan kasih-Nya. Yesus tidak mau semangat dan karya pelayanan-Nya dibatasi pada satu titik saja. Ciri dan semangat pelayanan yang universal dari Yesus harus tetap mengalir kepada segenap makhluk yang mencari keselamatan.

 

Yesus sungguh menginspirasi dan mengajarkan kita tentang semangat pelayanan dalam panggilan hidup sebagai murid-Nya. Ada tiga kualifikasi semangat pelayanan yang bisa kita pelajari. Pertama, semangat pelayanan tanpa kompromi. Banyak orang Katolik yang gagal mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan karena terjebak dengan aneka kompromi. Ada saja alasan yang muncul sehingga menyebabkan orang tidak mau memberikan perhatian dan kasih kepada sesamanya. Semangat ini mendorong kita untuk tidak boleh menghindar atau menolak dengan berbagai alasan ketika hendak memberi pelayanan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, semangat pelayanan yang tulus dan ikhlas. Banyak orang Katolik yang kelihatan sungguh-sungguh melayani orang lain tetapi sebenarnya tidak dijiwai oleh semangat pelayanan yang tulus. Mereka bekerja hanya demi tuntutan profesi dan mengejar kesejahteraan finansial semata. Semangat pelayanan yang tulus memompa kita untuk lebih fokus dan serius memandang orang lain dan diri kita dalam kesetaraan sebagai citra Allah. Ketiga, semangat pelayanan yang universal. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, daerah dan golongan. Acapkali kita lebih mengutamakan keluarga, sahabat, tetangga rumah, dan orang yang kita kenal. Dan tanpa malu-malu kita bersikap apatis dan kurang bersahabat dengan orang lain yang asing menurut kita. Semangat pelayanan universal membuka cakrawala berpikir agar kita seharusnya menempatkan dan memperlakukan diri demi terciptanya kebaikan dan keselamatan semua orang tanpa adanya diskriminasi.

 

Hari ini kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk meresapi semangat pelayanan tanpa kompromi, semangat pelayanan yang tulus, dan semangat pelayanan yang universal dalam hati kita masing-masing. Semoga kita mampu menginternalisasikan segala nilai tersebut dalam jiwa kita. Dan yang lebih penting, kita mampu mengolahnya dengan baik dan melaksanakannya dalam memberikan pelayanan yang prima kepada sesama yang membutuhkan. Tuhan senantiasa menjadikan kita sebagai alat-Nya untuk mewujudkan terciptanya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***