(Mrk 1: 29-39)
Realitas membuktikan bahwa kekuasaan dan jabatan memberi banyak keuntungan.
Tidak hanya secara finansial. Namun dalam aneka dimensi kehidupan. Secara
sosial misalnya, status seseorang otomatis mengalami peningkatan. Dia mendapat
pengakuan, disegani, dan dihormati. Tidak jarang, seseorang dengan status
sosial yang sedikit mentereng, menjadi idola atau sumber kekuatan (pelindung)
bagi keluarga dan orang-orang di sekitar. Jamak terjadi juga bahwa orang-orang
yang memiliki jabatan dan kuasa seringkali atau biasanya mau dilayani daripada
melayani.
Ada satu pengalaman berbeda yang saya alami. Di tempat saya bekerja, ada
seorang senior yang cukup disegani. Usianya nyaris mendekati usia pensiun bagi
seorang ASN. Ia telah mencapai pangkat dan golongan kerja yang tinggi.
Lagipula, Ia memiliki jabatan atau kedudukan yang cukup mapan dalam kariernya
sebagai seorang abdi negara. Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sangat
berkesan dan menginspirasi yakni semangat pelayanannya. Ia tipe pemimpin yang
tidak mau dilayani. Kecuali dalam porsi tertentu sebagai seorang pemimpin dan
dalam situasi yang formal, tentu ia membutuhkan para staf untuk membantunya. Di
luar situasi itu, ia tampil sebagai seorang rekan, sahabat yang siap melayani
dengan sepenuh hati. Banyak kali terjadi, dengan inisiatif pribadi, ia membawa
makanan dan minuman untuk para stafnya. Ia pula sendiri yang
membagi-bagikannya. Kalau ada problem yang dialami oleh para stafnya, dengan
senang hati ia mau membantu dan mencari solusi atasnya. Ini tipe pemimpin yang
sangat jarang saya temui. Semangat pelayanannya begitu tulus dan memotivasi
banyak orang untuk dapat berlaku demikian.
Sebagai seorang pemimpin yang memiliki karunia ilahi, Yesus telah
menampilkan semangat pelayanan dalam seluruh hidup dan karyanya. Dalam bacaan
hari ini (Mrk 1:29-39), Yesus menunjukkan semangat pelayanannya dengan
menyembuhkan ibu mertua Simon yang menderita sakit demam. Ketika mendapat
informasi dari para murid-Nya, Yesus langsung bertindak dengan meredakan sakit
demam perempuan itu. Kita juga mendapat informasi dari teks Kitab Suci bahwa
setelah sembuh, ibu mertua Simon pula yang melayani Yesus dan para murid di
rumahnya. Sebuah tindakan yang lahir bukan sekedar balas jasa dari kebaikan
yang sudah dialaminya. Lebih dari itu, sebuah sikap pelayanan penuh ketulusan
yang mau ditonjolkan. Sikap pelayanan juga ditunjukkan oleh Yesus ketika
menyembuhkan banyak orang yang berkerumun di depan pintu rumah pada malam hari.
Yesus tidak mengeluh atau menolak mereka yang berdesak-desakan di luar rumah.
Dengan setia, sabar dan tulus, Ia menyembuhkan berbagai penyakit yang dialami
oleh mereka.
Eforia tindakan mukjizat oleh Yesus berlanjut sampai pagi. Cerita dari
mulut ke mulut dengan cepat beredar. Lebih banyak lagi orang datang untuk
bertemu dengan Yesus. Mungkin ada yang minta disembuhkan dari sakitnya. Atau
juga, tidak sedikit dari mereka yang sekedar ingin melihat dari dekat
pemandangan yang tidak biasanya tersebut. Para murid dengan cemas menyusul
Yesus yang sementara berdoa di suatu tempat yang sunyi. Mereka memberitahu
kepada Yesus tentang banyak orang yang sedang mencari-Nya. Bukannya menjawabi
rasa penasaran orang banyak dengan datang menemui mereka, Yesus malah mengajak
para murid-Nya untuk segera bergeser ke daerah lain. Dalam hal ini, Yesus tidak
mau bersikap ego dengan hanya memberikan pelayanan di satu tempat saja. Ada
banyak orang di daerah lain juga membutuhkan perhatian dan kasih-Nya. Yesus
tidak mau semangat dan karya pelayanan-Nya dibatasi pada satu titik saja. Ciri
dan semangat pelayanan yang universal dari Yesus harus tetap mengalir kepada
segenap makhluk yang mencari keselamatan.
Yesus sungguh menginspirasi dan mengajarkan kita tentang semangat pelayanan
dalam panggilan hidup sebagai murid-Nya. Ada tiga kualifikasi semangat pelayanan
yang bisa kita pelajari. Pertama, semangat pelayanan tanpa kompromi. Banyak
orang Katolik yang gagal mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan karena
terjebak dengan aneka kompromi. Ada saja alasan yang muncul sehingga
menyebabkan orang tidak mau memberikan perhatian dan kasih kepada sesamanya.
Semangat ini mendorong kita untuk tidak boleh menghindar atau menolak dengan
berbagai alasan ketika hendak memberi pelayanan kepada orang yang membutuhkan.
Kedua, semangat pelayanan yang tulus dan ikhlas. Banyak orang Katolik yang
kelihatan sungguh-sungguh melayani orang lain tetapi sebenarnya tidak dijiwai
oleh semangat pelayanan yang tulus. Mereka bekerja hanya demi tuntutan profesi
dan mengejar kesejahteraan finansial semata. Semangat pelayanan yang tulus
memompa kita untuk lebih fokus dan serius memandang orang lain dan diri kita
dalam kesetaraan sebagai citra Allah. Ketiga, semangat pelayanan yang
universal. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, daerah dan golongan. Acapkali
kita lebih mengutamakan keluarga, sahabat, tetangga rumah, dan orang yang kita
kenal. Dan tanpa malu-malu kita bersikap apatis dan kurang bersahabat dengan
orang lain yang asing menurut kita. Semangat pelayanan universal membuka
cakrawala berpikir agar kita seharusnya menempatkan dan memperlakukan diri demi
terciptanya kebaikan dan keselamatan semua orang tanpa adanya diskriminasi.
Hari ini kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk meresapi semangat pelayanan
tanpa kompromi, semangat pelayanan yang tulus, dan semangat pelayanan yang
universal dalam hati kita masing-masing. Semoga kita mampu menginternalisasikan
segala nilai tersebut dalam jiwa kita. Dan yang lebih penting, kita mampu
mengolahnya dengan baik dan melaksanakannya dalam memberikan pelayanan yang
prima kepada sesama yang membutuhkan. Tuhan senantiasa menjadikan kita sebagai
alat-Nya untuk mewujudkan terciptanya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. Tuhan
memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar