Selasa, 12 Januari 2021

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

 

(Mrk 1: 29-39)

Realitas membuktikan bahwa kekuasaan dan jabatan memberi banyak keuntungan. Tidak hanya secara finansial. Namun dalam aneka dimensi kehidupan. Secara sosial misalnya, status seseorang otomatis mengalami peningkatan. Dia mendapat pengakuan, disegani, dan dihormati. Tidak jarang, seseorang dengan status sosial yang sedikit mentereng, menjadi idola atau sumber kekuatan (pelindung) bagi keluarga dan orang-orang di sekitar. Jamak terjadi juga bahwa orang-orang yang memiliki jabatan dan kuasa seringkali atau biasanya mau dilayani daripada melayani.

 

Ada satu pengalaman berbeda yang saya alami. Di tempat saya bekerja, ada seorang senior yang cukup disegani. Usianya nyaris mendekati usia pensiun bagi seorang ASN. Ia telah mencapai pangkat dan golongan kerja yang tinggi. Lagipula, Ia memiliki jabatan atau kedudukan yang cukup mapan dalam kariernya sebagai seorang abdi negara. Ada sisi lain dari kepribadiannya yang sangat berkesan dan menginspirasi yakni semangat pelayanannya. Ia tipe pemimpin yang tidak mau dilayani. Kecuali dalam porsi tertentu sebagai seorang pemimpin dan dalam situasi yang formal, tentu ia membutuhkan para staf untuk membantunya. Di luar situasi itu, ia tampil sebagai seorang rekan, sahabat yang siap melayani dengan sepenuh hati. Banyak kali terjadi, dengan inisiatif pribadi, ia membawa makanan dan minuman untuk para stafnya. Ia pula sendiri yang membagi-bagikannya. Kalau ada problem yang dialami oleh para stafnya, dengan senang hati ia mau membantu dan mencari solusi atasnya. Ini tipe pemimpin yang sangat jarang saya temui. Semangat pelayanannya begitu tulus dan memotivasi banyak orang untuk dapat berlaku demikian.

 

Sebagai seorang pemimpin yang memiliki karunia ilahi, Yesus telah menampilkan semangat pelayanan dalam seluruh hidup dan karyanya. Dalam bacaan hari ini (Mrk 1:29-39), Yesus menunjukkan semangat pelayanannya dengan menyembuhkan ibu mertua Simon yang menderita sakit demam. Ketika mendapat informasi dari para murid-Nya, Yesus langsung bertindak dengan meredakan sakit demam perempuan itu. Kita juga mendapat informasi dari teks Kitab Suci bahwa setelah sembuh, ibu mertua Simon pula yang melayani Yesus dan para murid di rumahnya. Sebuah tindakan yang lahir bukan sekedar balas jasa dari kebaikan yang sudah dialaminya. Lebih dari itu, sebuah sikap pelayanan penuh ketulusan yang mau ditonjolkan. Sikap pelayanan juga ditunjukkan oleh Yesus ketika menyembuhkan banyak orang yang berkerumun di depan pintu rumah pada malam hari. Yesus tidak mengeluh atau menolak mereka yang berdesak-desakan di luar rumah. Dengan setia, sabar dan tulus, Ia menyembuhkan berbagai penyakit yang dialami oleh mereka.

 

Eforia tindakan mukjizat oleh Yesus berlanjut sampai pagi. Cerita dari mulut ke mulut dengan cepat beredar. Lebih banyak lagi orang datang untuk bertemu dengan Yesus. Mungkin ada yang minta disembuhkan dari sakitnya. Atau juga, tidak sedikit dari mereka yang sekedar ingin melihat dari dekat pemandangan yang tidak biasanya tersebut. Para murid dengan cemas menyusul Yesus yang sementara berdoa di suatu tempat yang sunyi. Mereka memberitahu kepada Yesus tentang banyak orang yang sedang mencari-Nya. Bukannya menjawabi rasa penasaran orang banyak dengan datang menemui mereka, Yesus malah mengajak para murid-Nya untuk segera bergeser ke daerah lain. Dalam hal ini, Yesus tidak mau bersikap ego dengan hanya memberikan pelayanan di satu tempat saja. Ada banyak orang di daerah lain juga membutuhkan perhatian dan kasih-Nya. Yesus tidak mau semangat dan karya pelayanan-Nya dibatasi pada satu titik saja. Ciri dan semangat pelayanan yang universal dari Yesus harus tetap mengalir kepada segenap makhluk yang mencari keselamatan.

 

Yesus sungguh menginspirasi dan mengajarkan kita tentang semangat pelayanan dalam panggilan hidup sebagai murid-Nya. Ada tiga kualifikasi semangat pelayanan yang bisa kita pelajari. Pertama, semangat pelayanan tanpa kompromi. Banyak orang Katolik yang gagal mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan karena terjebak dengan aneka kompromi. Ada saja alasan yang muncul sehingga menyebabkan orang tidak mau memberikan perhatian dan kasih kepada sesamanya. Semangat ini mendorong kita untuk tidak boleh menghindar atau menolak dengan berbagai alasan ketika hendak memberi pelayanan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, semangat pelayanan yang tulus dan ikhlas. Banyak orang Katolik yang kelihatan sungguh-sungguh melayani orang lain tetapi sebenarnya tidak dijiwai oleh semangat pelayanan yang tulus. Mereka bekerja hanya demi tuntutan profesi dan mengejar kesejahteraan finansial semata. Semangat pelayanan yang tulus memompa kita untuk lebih fokus dan serius memandang orang lain dan diri kita dalam kesetaraan sebagai citra Allah. Ketiga, semangat pelayanan yang universal. Tanpa membeda-bedakan suku, agama, daerah dan golongan. Acapkali kita lebih mengutamakan keluarga, sahabat, tetangga rumah, dan orang yang kita kenal. Dan tanpa malu-malu kita bersikap apatis dan kurang bersahabat dengan orang lain yang asing menurut kita. Semangat pelayanan universal membuka cakrawala berpikir agar kita seharusnya menempatkan dan memperlakukan diri demi terciptanya kebaikan dan keselamatan semua orang tanpa adanya diskriminasi.

 

Hari ini kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk meresapi semangat pelayanan tanpa kompromi, semangat pelayanan yang tulus, dan semangat pelayanan yang universal dalam hati kita masing-masing. Semoga kita mampu menginternalisasikan segala nilai tersebut dalam jiwa kita. Dan yang lebih penting, kita mampu mengolahnya dengan baik dan melaksanakannya dalam memberikan pelayanan yang prima kepada sesama yang membutuhkan. Tuhan senantiasa menjadikan kita sebagai alat-Nya untuk mewujudkan terciptanya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar