Mrk 4: 1-20
Ada seorang sahabat dari tempat yang jauh menceritakan pengalamannya
mengenai seorang pastor yang berkarya di parokinya. Menurut sahabat saya ini,
sang pastor tersebut sangat cerdas secara intelektual. Namun ia sering mendapat
kritik karena kurang mengenal umatnya. Ia jarang mengunjungi dan berinteraksi
secara sosial dengan mereka. Perilaku sang pastor demikian kalau dihubungkan
dengan bahasa gaul (sehari-hari) di
tengah masyarakat, dikenal dengan istilah jaim,
jaga imej. Jaga wibawa supaya tetap disegani dan mendapat tempat terhormat.
Kira-kita begitu tafsiran bebas dari frase jaga imej. Ada hal lain yang
menambah rasa antipati umat adalah isi kotbah sang pastor yang kurang menyentuh
dengan persoalan kontekstual yang dihadapi umat. Ia sangat suka menggunakan
istilah-istilah ilmiah dan kata-kata puitis. Padahal rata-rata umat di paroki
itu berpendidikan rendah sehingga pastinya mereka tidak paham dengan isi kotbah
sang pastor. Intinya, kotbah sang pastor mengawang tinggi di langit dan tidak
mendarat di bumi untuk menjawabi situasi aktual dan konkrit di tengah umat.
Bacaan hari ini (Mrk 4:1-20) mengetengahkan kotbah Yesus yang menggunakan
perumpamaan. “Perumpamaan adalah suatu metafora atau persamaan yang diambil
dari alam atau kehidupan biasa, memikat pendengar oleh gambarannya yang hidup
dan aneh, dan membiarkan pikiran bertanya-tanya mengenai apa persis
penerapannya” (Tafsir Alkitab PB, hal 88.). Yesus dengan jeli menangkap situasi
praktis dan konkrit yang dialami oleh umat Israel saat itu. Kemudian Ia mengangkat
pengetahuan dan pengalaman umat yang sederhana itu dalam isi pengajaran-Nya
sebagai bahasa perumpamaan. Agar umat bisa memahami entitas Allah dan kerajaan
ilahi yang ada di dalamnya. Yesus sengaja menggunakan bahasa perumpamaan untuk
merangsang pengetahuan umat yang terbatas sehingga mereka dapat mengenali wujud
Allah dan kerajaan-Nya.
Pada kesempatan kali ini, Yesus memakai kata penabur sebagai kata kunci
untuk menjelaskan pengajaran-Nya. Kata penabur merupakan sebuah istilah
familiar karena pada umumnya umat Israel kala itu memiliki pekerjaan sebagai
petani. Petani dapat dikatakan juga sebagai penabur karena esensi pekerjaannya
adalah menabur benih di ladang. Selain kata penabur, ada dua kata kunci lain
dalam kotbah Yesus. Dua kata itu adalah benih dan tanah. Tiga kata kunci ini
(penabur, benih, dan tanah) merupakan ungkapan simbolik untuk menjelaskan
hakikat Allah dan perwujudan karya-Nya. Kata penabur merepresentasikan wujud
Allah. Kata benih mewakili wujud firman atau sabda yang ditaburkan Allah.
Sedangkan kata tanah merujuk pada pribadi manusia yang menerima firman atau
sabda Allah.
Dalam isi wejangan-Nya, Yesus menyampaikan bahwa ada seorang penabur keluar
dari rumahnya untuk pergi menabur benih. Entah disengaja atau tidak tetapi
benih-benih yang dibawa itu jatuh di empat area yang berbeda-beda. Ada benih
yang jatuh di pinggir jalan. Jatuh di tanah yang berbatu-batu. Jatuh dalam
semak belukar. Dan ada benih yang jatuh di tanah yang baik. Dari keempat area
tersebut, hanya area keempat yang bisa mengakomodir benih itu tumbuh dan
menghasilkan buah yang banyak. Area itu tanah yang baik. Sedangkan tiga area
yang lain yakni area pinggir jalan, tanah berbatu-batu, dan semak belukar,
merupakan tiga lokasi kurang strategis karena menghambat dan mematikan benih
yang tumbuh.
Kata penabur dalam perumpamaan itu adalah Allah sendiri yang datang ke
dunia dalam diri Yesus untuk mewartakan sabda Allah agar semua umat menjadi
selamat dan masuk dalam Kerajaan Allah. Dalam pewartaan-Nya tentu tidak
berjalan mulus. Ada banyak tantangan dan hambatan yang menahan laju kembang
firman Tuhan. Namun patut disyukuri bahwa ada banyak orang yang mengalami
penerangan, bertobat dan percaya kepada Allah. Walaupun jumlahnya sangat
minimalis, namun cukup efektif. Mereka adalah golongan orang yang memiliki
konsistensi dan komitmen untuk menyediakan dirinya sebagai ladang pesemaian
yang baik. Mereka juga memperlakukan benih itu dengan baik. Mereka menjaga dan
memberi pupuk sehingga benih itu terus tumbuh dan berkembang. Dan bahkan menghasilkan
banyak buah. Menjaga dan memberi pupuk memiliki makna bahwa orang-orang yang
menerima sabda itu sungguh-sungguh mendengarkan, meresapi dan menghayati firman
yang datang di dalam hati. Mereka tidak terpengaruh dengan berbagai tantangan
dan halangan yang datang. Mereka sungguh percaya kepada Allah dengan
melaksanakan segala kehendak-Nya dan menjauhi segala hal yang menjadi
larangan-Nya.
Tantangan dan hambatan dalam menerima pewartaan dilukiskan oleh benih yang
jatuh di pinggir jalan, benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan benih
yang jatuh dalam semak berduri. Sekian tantangan dan hambatan bisa disebutkan,
misalnya: yang pertama, ketidakseriusan atau kemalasan orang untuk mendengarkan
sabda. Firman Allah yang didengar itu hanya numpang
lewat saja. Selanjutnya akan hilang bersamaan dengan angin yang berhembus.
Kedua, firman yang didengar itu hanya bertahan dalam tataran pikiran atau
pengetahuan. Tidak merasuk jauh ke dalam hati. Oleh karena itu ia akan gampang
menguap dan dilupakan. Ketiga, rasa kuatir dan cemas akan adanyan penindasan
dan penganiayaan. Orang gampang menggadaikan imannya manakala menghadapi aneka
tantangan berupa hinaan, ancaman, penindasan, dan penganiayaan. Tidak hanya
kekerasan secara fisik tetapi secara verbal (melalui kata-kata), orang gampang
melepaskan imannya yang sudah bertumbuh dan berkembang.
Keempat, tantangan hidup dalam budaya materialisme, hedonisme dan
konsumerisme. Saya pikir jenis tantangan ini yang paling berbahaya dalam hidup
iman kita. Budaya materialisme itu budaya hidup yang mementingkan materi dan
kekayaan. Banyak cara termasuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Orang bisa melakukan korupsi, penipuan dan memanfaatkan kepolosan orang lain
untuk mendapatkan harta atau kekayaan apa saja. Budaya hedonisme adalah corak
hidup yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan. Pesta pora, mabuk-mabukan,
judi adalah sebagian tipe hidup dalam hedonisme. Dan budaya konsumerisme
mengutamakan hidup penuh konsumtif. Tidak produktif. Orang hanya memiliki mental
santai. Mau makan dan minum enak tetapi tidak mau bekerja. Apalagi berkerja
keras. Kalau tiga virus ini sudah menghinggapi hidup maka tidak menjadi heran
kalau orang tidak menganggap Tuhan dan agama sebagai elemen penting dalam
hidupnya. Mereka sudah menemukan “tuhan dan agama baru” dalam perilaku hidup
yang tidak benar dan menyesatkan.
Hari ini kita semua diberi penerangan dan penguatan oleh Tuhan agar kita
mampu menyiapkan ladang hati sebagai tempat tumbuhkembang benih Sabda Allah.
Kita senantiasa membersihkan kerikil-kerikil dan duri-duri tajam yang
menghambat hidup iman kita dengan tidak pernah bosan mendengar curahan sabda
dan meresapi-Nya jauh di kedalaman hati. Kita juga perlu membangun komunikasi
yang semakin akrab dengan Tuhan melalui doa secara pribadi atau pun kolektif.
Kita tidak perlu ragu untuk meminta petunjuk dan bimbingan Tuhan agar kita
tetap diberi kemudahan dalam banyak hal. Andaikan kita mendapat kesulitan, kita
memohon kekuatan-Nya agar kita tidak jatuh terpuruk dan lari dari pada-Nya. Dalam
iman kita yakin Tuhan sementara merancang hidup lebih baik yang tidak pernah
kita pikir atau bayangkan.
Tentu kita tidak berhenti pada level menyiapkan ladang hati yang baik. Kita
juga seharusnya menjadi penabur-penabur kecil yang mewartakan Sabda Allah
dengan memberi kesaksian hidup yang baik lewat kata-kata dan perbuatan. Dengan
demikian kita semakin dilayakkan menjadi mitra Tuhan dalam rangka mewujudkan
Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar