Selasa, 19 Januari 2021

CURIGA NO, SIKAP KASIH YES !

Mrk 3: 1-6

 

Manusia secara kodrati adalah pribadi yang terbentuk dari dua kutub yang berbeda. Dua kutub itu yakni kutub positif dan negatif. Dua kutub ini secara konseptual dipandang sebagai dua kekuatan sekaligus potensi yang inheren (melekat) dalam diri manusia. Kutub positif memberi ruang bagi manusia untuk melakukan hal-hal yang baik. Sementara kutub negatif membuka kemungkinan bagi manusia untuk bertindak jahat atau buruk. Oleh karena itu karekteristik pribadi seorang manusia diteropong dari sejauh mana dia memberdayakan dua kekuatan dan potensi itu. Jikalau seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub positif maka dia menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, apabila seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub negatif maka otomatis dia menjadi pribadi yang jahat.

 

Contoh sikap negatif yang ada dalam diri manusia adalah sikap menaru curiga dan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap menaru curiga dilandasi oleh cara pandang individu yang subyektif. Cara pandang yang masih dalam tataran dugaan; dan bisa dikategorikan juga sebagai rumor atau gosip. Karena belum atau tidak memiliki kebenaran yang sahih. Cara pandang demikian dapat menggiring seseorang untuk selalu mencari-cari kesalahan yang dimiliki oleh sesamanya. Orang gampang memvonis dan menghakimi sesamanya karena di sisi lain ia merasa paling benar. Dan kenyamanannya terusik dengan kehadiran orang lain.

 

Buntut dari ketidaknyaman dan ketidaksukaan kepada Yesus, dipamerkan oleh para elit agama Yahudi (orang Farisi) yang merasa diri paling benar. Mereka mengklaim diri sebagai penjaga tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam agama Yahudi. Ketika melihat Yesus bertindak berseberangan dengan segala aturan dan ketentuan yang berlaku, timbul rasa cemas dan tidak nyaman dalam diri mereka. Mereka kemudian mulai melakukan perlawanan dengan mencari-cari kesalahan-Nya. Sudah dua kali kesempatan Yesus mempermalukan sekaligus membungkam mereka di depan publik. Ketika bersoal jawab tentang esensi puasa dan hari Sabat pada dua bacaan sebelumnya, Yesus mengafirmasi perlunya menjaga martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Daripada sekedar menonjolkan segala aturan dan tradisi yang pada gilirannya hanya menekan dan menindas manusia. Hati mereka semakin panas karena tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menjerat Yesus.

 

Para elit agama terus mengikuti dan mengamati pergerakan Yesus ke mana saja Ia pergi. Mereka terus berupaya mencari celah agar dapat menemukan kesalahan-Nya. Hingga pada suatu waktu di hari Sabat, di dalam rumah ibadat, mereka menyaksikan Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya. Inilah moment yang ditunggu. Mereka telah menemukan kesalahan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari Sabat. Sebuah tindakan yang digolongkan dalam jenis pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Rupanya Yesus sudah mengetahui kalau ada orang yang tidak sepakat dengan perbuatan-Nya. Maka sebelum melakukan aksi mukjizat-Nya, Ia menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk tampil ke tengah orang banyak. Lalu Ia berkata: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4).

 

Dengan menampilkan si sakit di tengah publik, Yesus ingin semua orang mengetahui bahwa ada orang yang sementara menderita dan sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan. Di satu sisi walaupun ada aturan dan tradisi yang membatasi, namun di sisi lain ada nilai kemanusiaan yang harus dikedepankan. Ada martabat manusia yang harus mendapat prioritas daripada sekedar mempertahankan aturan dan tradisi. Tanpa menunggu respon dari orang lebih lanjut, Yesus segera menunjukkan tindakan kasih-Nya dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangan-Nya. Secara implisit Yesus telah menegaskan kepada semua orang bahwa Ia telah hadir sebagai repsesentasi Allah sendiri dengan melampaui segala aturan dan tradisi yang ada. Selain itu, Yesus ingin menyampaikan pesan bahwa tindakan kasih yang Ia lakukan kepada orang sakit jauh lebih penting daripada segala aturan yang ada. Yesus telah berusaha menghilangkan segala kecurigaan yang tidak berdasar dari orang-orang yang tidak menyukai-Nya. Dengan menghilangkan segala kecurigaan dan memberi pemahaman kepada semua orang akan nilai kasih Allah yang jauh lebih tinggi dari segala aturan dan tradisi yang dibuat manusia, diharapkan tidak akan muncul mispersepsi dan penghakiman yang tidak benar kepada diri-Nya.

 

Sebagai manusia biasa yang secara kodrati memiliki potensi untuk berbuat jahat, kita seringkali suka mengembangkan sikap curiga dan selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Kita gampang menaru curiga kepada sesama manakala kita merasa tersaingi. Kita merasa ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar, dan “lebih banyak memiliki” daripada yang ada pada kita. Kita merasa tidak nyaman dan terusik. Kemudian kita terjebak dalam sikap menghakimi orang lain tanpa dasar. Kita dengan mudah mempersalahkan orang lain tanpa melihat hal-hal obyektif dan fakta-fakta yang berbicara atasnya. Tidak hanya kepada manusia, sikap curiga dan mencari kesalahan juga bisa saja kita alamatkan kepada Tuhan manakala kita dihadapkan dengan problem hidup yang berat dan tak kunjung usai. Kita bisa dengan mudah mencurigai dan mengkambinghitamkan Tuhan atas segala penderitaan, dukacita, dan segala keterpurukan hidup yang kita alami.

 

Tindakan kasih yang dilakukan oleh Yesus kepada orang yang mati sebelah tangan-Nya pada hari Sabat, semakin membuka pikiran dan meyakinkan hati kita untuk tidak lagi mencurigai dan gampang mempersalahkan Tuhan dalam hidup. Sebenarnya, Tuhan selalu ada dalam setiap napas dan pengalaman hidup. Dalam setiap pergulatan, kesulitan, kegalauan dan penderitaan, Tuhan selalu hadir memberi kekuatan agar kita tidak mudah putus asa dan jatuh. Tuhan juga memberi bimbingan dan arahan. Melalui tangan-tangan orang lain, Tuhan sementara menjadikan mereka alat-alat-Nya untuk membawa kita keluar dari sebuah persoalan. Oleh karena itu, jadikan orang lain sebagai partner yang senantiasa membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Dan bukan sebaliknya menaru curiga dan mendiskreditkan mereka. Tanamkan dalam diri sikap positif agar kita lebih mudah memahami dan memberi apresiasi atas prestasi yang dimiliki oleh orang lain.

 

Sikap positif akan melahirkan perbuatan-perbuatan kasih tanpa ada sekat-sekat yang menghalangi. Tidak ada lagi rasa ego yang mementingkan diri. Tidak ada lagi kerikil-kerikil bahkan batu besar yang menjadi penghalang bagi kita untuk melaksanakan perbuatan kasih kepada orang lain. Karena kita percaya, kasih Tuhan jauh lebih dasyat untuk memberi kebaikan, kebahagiaan, kenyamanan dan keselamatan bagi semua orang. Mari kita menghentikan sikap curiga kepada orang lain dan mengimplementasikan nilai kasih demi terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar