Mrk 3: 1-6
Manusia secara kodrati adalah pribadi yang terbentuk dari dua kutub yang
berbeda. Dua kutub itu yakni kutub positif dan negatif. Dua kutub ini secara
konseptual dipandang sebagai dua kekuatan sekaligus potensi yang inheren
(melekat) dalam diri manusia. Kutub positif memberi ruang bagi manusia untuk
melakukan hal-hal yang baik. Sementara kutub negatif membuka kemungkinan bagi
manusia untuk bertindak jahat atau buruk. Oleh karena itu karekteristik pribadi
seorang manusia diteropong dari sejauh mana dia memberdayakan dua kekuatan dan
potensi itu. Jikalau seseorang lebih memberi fokus kehidupannya pada kutub
positif maka dia menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, apabila seseorang lebih
memberi fokus kehidupannya pada kutub negatif maka otomatis dia menjadi pribadi
yang jahat.
Contoh sikap negatif yang ada dalam diri manusia adalah sikap menaru curiga
dan suka mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap menaru curiga dilandasi oleh
cara pandang individu yang subyektif. Cara pandang yang masih dalam tataran
dugaan; dan bisa dikategorikan juga sebagai rumor atau gosip. Karena belum atau
tidak memiliki kebenaran yang sahih. Cara pandang demikian dapat menggiring
seseorang untuk selalu mencari-cari kesalahan yang dimiliki oleh sesamanya.
Orang gampang memvonis dan menghakimi sesamanya karena di sisi lain ia merasa
paling benar. Dan kenyamanannya terusik dengan kehadiran orang lain.
Buntut dari ketidaknyaman dan ketidaksukaan kepada Yesus, dipamerkan oleh
para elit agama Yahudi (orang Farisi) yang merasa diri paling benar. Mereka
mengklaim diri sebagai penjaga tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam
agama Yahudi. Ketika melihat Yesus bertindak berseberangan dengan segala aturan
dan ketentuan yang berlaku, timbul rasa cemas dan tidak nyaman dalam diri
mereka. Mereka kemudian mulai melakukan perlawanan dengan mencari-cari
kesalahan-Nya. Sudah dua kali kesempatan Yesus mempermalukan sekaligus
membungkam mereka di depan publik. Ketika bersoal jawab tentang esensi puasa
dan hari Sabat pada dua bacaan sebelumnya, Yesus mengafirmasi perlunya menjaga
martabat dan nilai-nilai kemanusiaan. Daripada sekedar menonjolkan segala
aturan dan tradisi yang pada gilirannya hanya menekan dan menindas manusia.
Hati mereka semakin panas karena tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk
menjerat Yesus.
Para elit agama terus mengikuti dan mengamati pergerakan Yesus ke mana saja
Ia pergi. Mereka terus berupaya mencari celah agar dapat menemukan
kesalahan-Nya. Hingga pada suatu waktu di hari Sabat, di dalam rumah ibadat,
mereka menyaksikan Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya.
Inilah moment yang ditunggu. Mereka telah menemukan kesalahan Yesus karena
menyembuhkan orang pada hari Sabat. Sebuah tindakan yang digolongkan dalam
jenis pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Rupanya Yesus sudah mengetahui
kalau ada orang yang tidak sepakat dengan perbuatan-Nya. Maka sebelum melakukan
aksi mukjizat-Nya, Ia menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk tampil
ke tengah orang banyak. Lalu Ia berkata: “Manakah yang diperbolehkan pada hari
Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh
orang?” (Mrk 3:4).
Dengan menampilkan si sakit di tengah publik, Yesus ingin semua orang
mengetahui bahwa ada orang yang sementara menderita dan sungguh-sungguh membutuhkan
pertolongan. Di satu sisi walaupun ada aturan dan tradisi yang membatasi, namun
di sisi lain ada nilai kemanusiaan yang harus dikedepankan. Ada martabat
manusia yang harus mendapat prioritas daripada sekedar mempertahankan aturan
dan tradisi. Tanpa menunggu respon dari orang lebih lanjut, Yesus segera
menunjukkan tindakan kasih-Nya dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah
tangan-Nya. Secara implisit Yesus telah menegaskan kepada semua orang bahwa Ia
telah hadir sebagai repsesentasi Allah sendiri dengan melampaui segala aturan
dan tradisi yang ada. Selain itu, Yesus ingin menyampaikan pesan bahwa tindakan
kasih yang Ia lakukan kepada orang sakit jauh lebih penting daripada segala
aturan yang ada. Yesus telah berusaha menghilangkan segala kecurigaan yang
tidak berdasar dari orang-orang yang tidak menyukai-Nya. Dengan menghilangkan
segala kecurigaan dan memberi pemahaman kepada semua orang akan nilai kasih
Allah yang jauh lebih tinggi dari segala aturan dan tradisi yang dibuat
manusia, diharapkan tidak akan muncul mispersepsi dan penghakiman yang tidak
benar kepada diri-Nya.
Sebagai manusia biasa yang secara kodrati memiliki potensi untuk berbuat
jahat, kita seringkali suka mengembangkan sikap curiga dan selalu mencari-cari
kesalahan orang lain. Kita gampang menaru curiga kepada sesama manakala kita
merasa tersaingi. Kita merasa ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar,
dan “lebih banyak memiliki” daripada yang ada pada kita. Kita merasa tidak
nyaman dan terusik. Kemudian kita terjebak dalam sikap menghakimi orang lain
tanpa dasar. Kita dengan mudah mempersalahkan orang lain tanpa melihat hal-hal
obyektif dan fakta-fakta yang berbicara atasnya. Tidak hanya kepada manusia,
sikap curiga dan mencari kesalahan juga bisa saja kita alamatkan kepada Tuhan
manakala kita dihadapkan dengan problem hidup yang berat dan tak kunjung usai.
Kita bisa dengan mudah mencurigai dan mengkambinghitamkan Tuhan atas segala
penderitaan, dukacita, dan segala keterpurukan hidup yang kita alami.
Tindakan kasih yang dilakukan oleh Yesus kepada orang yang mati sebelah
tangan-Nya pada hari Sabat, semakin membuka pikiran dan meyakinkan hati kita
untuk tidak lagi mencurigai dan gampang mempersalahkan Tuhan dalam hidup.
Sebenarnya, Tuhan selalu ada dalam setiap napas dan pengalaman hidup. Dalam
setiap pergulatan, kesulitan, kegalauan dan penderitaan, Tuhan selalu hadir
memberi kekuatan agar kita tidak mudah putus asa dan jatuh. Tuhan juga memberi
bimbingan dan arahan. Melalui tangan-tangan orang lain, Tuhan sementara
menjadikan mereka alat-alat-Nya untuk membawa kita keluar dari sebuah
persoalan. Oleh karena itu, jadikan orang lain sebagai partner yang senantiasa
membawa kebaikan dan keselamatan dalam hidup kita. Dan bukan sebaliknya menaru
curiga dan mendiskreditkan mereka. Tanamkan dalam diri sikap positif agar kita
lebih mudah memahami dan memberi apresiasi atas prestasi yang dimiliki oleh
orang lain.
Sikap positif akan melahirkan perbuatan-perbuatan kasih
tanpa ada sekat-sekat yang menghalangi. Tidak ada lagi rasa ego yang mementingkan
diri. Tidak ada lagi kerikil-kerikil bahkan batu besar yang menjadi penghalang
bagi kita untuk melaksanakan perbuatan kasih kepada orang lain. Karena kita
percaya, kasih Tuhan jauh lebih dasyat untuk memberi kebaikan, kebahagiaan,
kenyamanan dan keselamatan bagi semua orang. Mari kita menghentikan sikap
curiga kepada orang lain dan mengimplementasikan nilai kasih demi terwujudnya
Kerajaan Allah di muka bumi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar