Minggu, 28 Februari 2021

JADILAH MURAH HATI

 

Luk 6:36-38

Apa yang ada di benak anda ketika membayangkan seseorang yang memiliki sikap murah hati? Saya yakin kita pasti memiliki kriteria sendiri. Kriteria itu tentu saja tidak datang dari sebuah ruang kosong. Tetapi berangkat dari pengetahuan yang dimiliki dan pengalaman yang kita alami. Secara umum kualifikasi orang yang memiliki sikap murah hati ditandai dengan kebiasaannya untuk memberi. Entah bersifat materi / barang atau pun non materi. Non materi yang dimaksudkan di sini berupa jasa tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh seseorang. Misalnya pada saat kita sedang dirundung masalah, dan ada seseorang hadir memberi kita hiburan atau penguatan.

 

Atau contoh lain misalnya kita sedang mengalami kesulitan dalam mengerjakan sesuatu hal. Dan ada rekan kerja yang bersedia membagikan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki sehingga kita dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ini merupakan contoh-contoh kebaikan yang kita alami dari kemurahan hati orang lain. Di samping itu, sikap murah hati yang paling menonjol dan menyentuh hati adalah tatkala orang memberi bantuan berupa uang atau barang kepada orang lain. Apalagi bantuan itu diberikan kepada orang-orang yang betul membutuhkannya. Seketika si pemberi barang atau uang, dipuja-puja sebagai orang yang murah hati. Jadi sikap murah hati mengindikasikan bahwa orang dengan bebas, tahu dan mau memberikan sesuatu dari apa yang dia miliki kepada orang lain.

 

Hari ini Yesus mempresentasikan ciri orang murah hati lebih dari cara pandang manusiawi kita. Yesus menegaskan bahwa orang yang memiliki sikap murah hati itu sama seperti Bapa-Nya di sorga. Ini merupakan sesuatu yang istimewa. Bagaimana mungkin orang yang murah hati disamakan dengan Bapa yang ada di dalam sorga. Tetapi segala hal yang tidak mungkin di hadapan manusia, dapat menjadi mungkin di mata Tuhan. Ibarat matahari yang menyinari manusia tanpa henti. Atau seperti hujan yang turun membasahi bumi. Begitulah sikap murah hati yang ditunjukkan oleh Bapa. Walaupun sering manusia tidak menyadari dan bahkan menolak-Nya.

 

Lalu sikap murah hati macam apa yang diperlihatkan oleh Yesus? Pertama jangan menghakimi atau menghukum orang lain. Walaupun dalam kenyataan, seseorang memiliki kesalahan, kecerobohan atau kejahatan, kita tidak memiliki hak untuk memberi penghakiman atau hukuman. Kita tidak memiliki hak untuk menilai apakah seseorang itu bersalah atau tidak. Apakah seseorang itu berdosa atau tidak. Sikap murah hati mendorong agar kita lebih berhati-hati dalam melihat realitas persoalan yang sebenarnya. Kita tidak gegabah untuk menjatuhkan pilihan yang melukai perasaan atau martabat seseorang oleh karena perbuatannya yang buruk atau jahat. Dalam hal ini, pikiran positif (positive thinking) perlu dikedepenkan dalam menyikapi aneka persoalan.

 

Kedua, sikap pengampunan. Sikap ini yang menurut saya paling berat untuk kita laksanakan dalam hidup. Menurut Yesus, apabila kita mau menjadi orang yang murah hati maka kita harus bersedia mengampuni orang yang telah bersalah. Seberat apa pun kesalahan yang telah dilakukan, hati kita tetap terbuka untuk memberi pengampunan. Karena dengannya, kita pun mendapat ampun dari Bapa yang tidak kelihatan. Ketiga, sikap memberi. Sikap ini sudah jamak kita amati dan seringkali kita praktekkan dalam hidup. Dengan segala kelebihan, bakat, kemampuan, kita sudah turut berkontribusi membantu orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Namun yang ditekankan oleh Yesus dalam sikap ini adalah memberi dengan tulus dan tanpa mengharapkan balasan. Kita memberi bukan supaya nanti kita juga diberi. Kita memberi karena ada kepekaan dan kemauan dari hati untuk membantu atau menolong orang lain.

 

Sebagai manusia, kita mudah untuk jatuh dalam sikap menghakimi atau menghukum orang lain. Tidak hanya lewat tindakan, tetapi lebih banyak lewat tutur kata yang kejam. Seringkali kita suka menceritakan keburukan atau kejelekan yang dimiliki oleh kawan, sahabat, rekan kerja, dan anggota keluarga kita sendiri. Kita sangat lihai memainkan kata-kata, menambah berbagai bumbu dalam percakapan sehingga mengundang simpati dari orang lain yang mendengarnya. Kita juga sering berpura-pura menunjukkan rasa iba dan empati terhadap orang lain yang sementara mengalami kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya. Namun jauh di lubuh hati yang paling dalam, kita merasa bangga dan senang karena kita tidak mengalaminya.

 

Sikap menghakimi atau menghukum orang lain – entah orang itu bersalah atau tidak – menggiring kita untuk bersikap keras hati, tidak mau menerima orang lain sebagai sesama saudara. Kita enggan memberi ampun atau memaafkan orang lain yang mungkin telah bersalah kita. Kita merasa diri paling benar dan paling hebat sehingga menutup ruang hati untuk menerima orang lain. Kita juga kadang-kadang sangat susah meminta maaf karena kelalaian, kesalahan, atau kejahatan yang menyinggung, menyakiti dan melukai perasaan orang lain. Dengan enteng dan tanpa beban, kita mempertontonkan diri tanpa salah dan dosa. Tanpa disadari, kita terus menimbun banyak ngengat dan ulat dalam tubuh yang pada saatnya akan meledak dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

 

Yesus telah memberi inspirasi yang sangat baik kepada kita tentang sikap murah hati seorang kristiani. Sikap murah hati paling sejati dan merepresentasikan jati diri Allah sendiri. Sikap murah hati itu tidak hanya ditunjukkan dengan sikap memberi dengan tulus dan tanpa pamrih. Sikap murah hati dapat ditunjukkan oleh orang kristen dengan tidak menghakimi atau menghukum orang lain. Kita dintuntut untuk selalu berpikir positif dan bukan sebaliknya berpikir negatif kepada orang lain. Selain itu, sikap murah hati juga membentuk pribadi kita untuk mau memberi ampun atau maaf kepada sesama yang bersalah. Begitu juga, kita juga harus bersedia meminta maaf kepada orang lain akibat perbuatan atau tutur kita yang salah.

 

Marilah di pekan prapaskah yang kedua ini, bersama pemazmur kita berdoa kepada Tuhan: “Tolonglah kami, Ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu” (Mzm79:9). Semoga kita bisa menjadi anak-anak Tuhan yang murah hati. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 14 Februari 2021

TANDA YANG BAIK DARI TUHAN

 

Mrk 8: 11-13

Bertepatan dengan hari valentine’s day, 14 Februari (hari Minggu kemarin), seorang sahabat mengirim ucapan kasih sayang. Yang menarik, sang sahabat menghiasi ucapan selamatnya dengan menambahkan kata-kata yang inspiratif. Kata-kata tersebut berisi 10 cara mengasihi yang memiliki dasar biblis. Pertama, mendengar tanpa menyela (Amsal 18:13. Kedua, berbicara tanpa mencela (Yakobus 1:19). Ketiga, memberi tanpa batas (Amsal 21:26). Keempat, mendoakan tanpa henti (Kolose 1:9). Kelima, Menjawab tanpa berbantah (Amsal 17:1). Keenam, mengasihi tanpa pura-pura (Roma 12:9). Ketujuh, mengerjakan tanpa bersungut (Filipi 2:14). Kedelapan, Mempercayai tanpa ragu (1 Kor 13:7). Kesembilan, mengampuni tanpa dendam (Kolose 3:13). Kesepuluh, berjanji tanpa melupakan (Amsal 13:12).

 

Bagi saya, 10 cara mengasihi ini tidak sekedar mengandung pesan injil yang indah. Kita tidak sekedar membaca. Tidak juga sebatas kagum akan kata-katanya yang indah. Tetapi harus menjadi untaian permata yang tertanam kuat dalam hati dan mampu diwujudnyatakan oleh setiap orang. Ini memang tugas dan panggilan kristiani yang mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Dengan sikap iman yang teguh kepada Tuhan, akan mampu mendorong agar kita bisa menjadi tanda yang baik. Sebuah tanda ilahi yang membawa kebaikan dan kedamaian bagi setiap makhluk ciptaan.

 

Yesus adalah sebuah tanda agung yang membawa misi keselamatan dari Bapa di sorga. Yesus yang menyejarah dalam sejarah kehidupan umat manusia telah menyatakan Diri-Nya sebagai tanda yang baik dan agung kepada setiap orang. Tidak sedikit orang yang mampu membaca tanda agung yang menyata dalam diri Yesus. Mereka sungguh mendengarkan sabda dan percaya kepada-Nya. Akibat dari rasa kepercayaan yang kuat kepada Yesus, mereka kemudian mendapat anugerah atau berkat dalam banyak hal. Mereka disembuhkan dari berbagai penyakit dan gangguan atau kerasukan roh jahat. Mereka juga dikenyangkan ketika merasa lapar. Bahkan mereka yang sudah mati juga bisa dibangkitkan oleh Yesus. Mereka sungguh merasakan “tanda Yesus” yang membawa kebaikan dan keselamatan. Implikasi lanjutnya, mereka semakin merasa kuat menjalani hidupnya di tengah kemiskinan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang mereka dapatkan dari para pemimpin negara dan agama.

 

Di samping orang-orang yang percaya kepada Yesus, ada juga sebagian orang, terutama dari kalangan atas yang terdiri dari para penguasa dan pemimpin agama yang tidak mempercayai Yesus sebagai utusan Allah. Malah dengan berani mereka menggugat otoritas ilahi yang digunakan Yesus. Mereka meminta sebuah tanda yang melegitimasi berbagai tindakan yang dilakukan-Nya. Ini sebuah hal yang konyol. Dengan terang benderang, Yesus telah menyatakan Diri-Nya sebagai sebuah tanda lewat perkataan dan perbuatan-Nya yang penuh kuasa dan fenomenal. Anehnya, bukannya percaya, mereka malah meragukan dan mengambil sikap tidak percaya kepada-Nya.

 

Keragu-raguan dan ketidakpercayaan para penguasa dan pemimpin agama Yahudi terhadap Yesus dilatari oleh sikap sombong. Mereka merasa diri lebih pintar dan lebih hebat. Oleh karena sikap negatif demikian, pikiran dan hati mereka menjadi buta. Mereka menjadi buta secara spiritual karena tidak dapat mengenali Yesus sebagai seorang utusan sekaligus Anak Allah. Kehadiran Yesus dianggap sebagai ancaman yang mengganggu zona nyaman atau situasi mapan yang telah mereka raih. Mereka takut kehilangan muka atau pamor di hadapan orang banyak. Mereka juga takut kehilangan keuntungan secara ekonomi, karena bisa saja semua orang mendukung Yesus dan berbalik menyerang mereka.  Di atas semua itu, sikap sombong menjadi dasar dari sikap ragu-ragu dan ketidakpercayaan para penguasa dan elit agama terhadap Yesus.

 

Kita juga acapkali dihinggapi oleh sikap sombong yang membuat kita tidak menyadari tanda-tanda kebaikan yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri dalam hidup kita. Mungkin kita pernah ditegur atau diberi nasihat oleh karena sikap atau tindakan kita yang salah atau tidak pantas. Bisa saja kita berlaku indisipliner karena melanggar segala aturan yang berlaku di tempat kerja. Atau bisa juga tindakan kita mengarah kepada sikap amoral (tidak bermoral baik) yang mengganggu kenyamanan dan keamanan, tidak saja secara personal (pribadi), tetapi secara kolektif dalam hidup sosial. Kita lalu tidak menerimanya. Kita bahkan menunjukkan sikap resisten (melawan), tidak mau mengalah dan tidak mengakui kelemahan dan kekurangan kita di hadapan orang lain. Kita merasa lebih hebat sehingga tidak perlu mengakui kesalahan. Justru kita merasa diri benar karena didorong oleh sikap angkuh. Sikap negatif ini menutup jalan pikiran dan hati sehingga kita tidak menyadari apa yang telah kita buat. Kita juga tidak bisa mengenali campur tangan Tuhan lewat orang lain yang berusaha mengendalikan dan mengarahkan jalan sesat yang telah kita tempuh.

 

Dalam refleksi pribadi, saya mengambil kesimpulan bahwa sikap sombong terhadap orang lain dapat terjadi karena di hadapan Tuhan, kita juga menunjukkan sikap demikian. Kita kurang membangun relasi yang akrab dengan-Nya dengan berbagai alasan. Entah karena kemalasan, sikap jenuh, tidak mau tahu, dan sebagainya. Dengan logika yang kosong, kita gampang terjerembab dalam kepercayaan diri yang berlebihan. Kita merasa diri bisa sukses oleh karena kemampuan pribadi. Bukan oleh campur tangan orang lain. Termasuk Tuhan sendiri.

 

Refleksi bacaan Injil hari ini membuka pikiran dan hati agar kita lebih peka membaca segala tanda yang dihadirkan Tuhan dalam hidup. Yang bisa kita lakukan adalah menyingkirkan sikap sombong dan membangun kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita perlu waktu sejenak untuk mendengarkan sabda-Nya. Agar kita lebih memahami dan meresapi kehadiran-Nya sebagai tanda yang baik dalam hidup kita. Dalam segala peristiwa; tidak hanya sukacita dan kemenangan, tetapi yang menantang dan mengguncang rasa manusiawi, kita selalu yakin akan kehadiran tanda yang baik dari Tuhan untuk menuntun kita kepada kebaikan dan keselamatan.

 

Dengan mengenali dan mempercayai kehadiran Tuhan sebagai tanda yang baik dalam hidup, kita juga akan mampu menjadi pelaku untuk menjadi tanda yang baik bagi diri sendiri dan orang lain dalam segala peristiwa hidup yang kita alami. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 02 Februari 2021

PERSEMBAHAN DIRI KEPADA TUHAN

LUK 2:22-40

            Kita semua datang dan hidup dari sebuah tradisi yang kuat dan mengakar yang menanamkan jiwa kekatolikan kepada kita. Tanpa devosi dan tradisi, kehidupan umat beriman menjadi kering dan hambar. Tradisi dapat membentuk seseorang untuk keluar dari egoisme dirinya dan mengutamakan rencana dan Kehendak Allah. Keluarga Katolik zaman ini yang memperhatikan dengan sungguh tradisi keagamaan akan menghasilkan orang-orang yang bisa menjadi tiang dan pembawa berkat Allah bagi sesamanya. Tradisi keagamaan yang kita hidupkan saat ini telah dihidupi sebelumnya oleh Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna pada zamannya. Spirit kesetiaan dan persembahan diri kepada Tuhan menantang iman kita di zaman modern ini, Apakah kita masih setia dan merasa penting mempersembahkan diri kepada Allah untuk dijadikan agen pewarta kasih-Nya atau kita memilih bertuan kepada uang dan kekuasaan yang mencebur kita masuk dalam lumpur dosa?

            Hari ini Gereja Katolik memperingati pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Empat puluh hari setelah Natal, kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah atau menurut penginjil Lukas, ”Yesus diserahkan kepada Tuhan.” Injil menceriterakan  bahwa Yosef dan Maria sebagai orang tua, sadar betul bahwa kehadiran Yesus dalam keluarga mereka bukan karena karya atau kehendak mereka tetapi semata-mata karena rencana dan karya Tuhan bagi dunia. Yosef dan Maria melakukan tradisi untuk memenuhi hukum Musa, namun peristiwa yang biasa bagi keluarga Yahudi ini berubah makna karena kehadiran dan kesaksian Simeon dan Hanna di Kenisah. Simeon dan Hanna sebagai pribadi bersahaja yang menubuatkan kedatangan Tuhan, mereka  sadar bahwa janji Tuhan itu tidak akan sia-sia. Rencana keselamatan dari Tuhan mulai terpenuhi dalam sejarah umat manusia. Baik Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna memiliki disposisi batin yang mulia yakni mereka terus menerus memuliakan keagungan Tuhan dan bersyukur atas rahmat istimewa tersebut. Bahkan Simeon dan Hanna begitu terpesona akan kemuliaan Tuhan itu dan berani berkata di depan bayi Yesus: “Kami bersedia mati karena telah melihat keselamatan yang datang dari Allah.”

            Kesadaran bahwa Tuhan melakukan segala sesuatu bagi diri dan hidup kita, mendorong kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Kesadaran bahwa Allah bekerja dengan sangat dahsyat dalam seluruh sejarah hidup manusia, membangkitkan rasa syukur kita kepada-Nya. Simeon dan Hanna adalah sejumlah kecil orang yang setia memegang janji keselamatan Tuhan yang diwartakan oleh para nabi berabad-abad sebelumnya. Kesetiaan itu adalah perjuangan karena mereka harus menahan diri dari godaan duniawi. Mereka selalu setia datang ke Bait Allah untuk berdoa, hidup penuh mati raga dan puasa. Iman mereka utuh mengarah kepada Allah dan perjuangan kesetiaan mereka mendapat ganjaran karena mata iman mereka sanggup melihat pemenuhan janji Allah yang sedang berlangsung di dalam bayi Yesus, anak Yosef dan Maria. Simeon dan Hanna adalah contoh pribadi yang memiliki kepekaan hati yang sanggup membaca dan melihat siapa sebetulnya Yesus itu dalam hidup mereka.

            Setiap kita pasti merindukan keselamatan bagi jiwa kita masing-masing kelak. Untuk maksud ini, orang akan berusaha mencari cara dan pola hidup yang baik dan benar untuk menyukakan hati Tuhan. Simeon sang kakek yang saleh dalam hidupnya, memilih untuk mengabdikan diri untuk melayani di Kenisah Allah sebagai salah satu cara hidup yang menjadi jaminan bagi keselamatannya kelak. Pertemuannya dengan Yosef, Maria dan bayi Yesus di Kenisah, menjadi peneguhan atas apa yang dia rindukan selama ini, yakni ingin bertemu dengan Sang Juruselamat sebelum ia meninggal dunia. Ungkapan kebahagiaan hatinya ia nyatakan dalam ungkapan pujiannya “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hambamu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu. Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa. Cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”

            Seperti Simeon, kita juga memiliki kerinduan yang sama untuk berjumpa dengan Yesus agar bisa mengalami rahmat keselamatan. Meskipun kita tidak bertemu dengan Yesus secara nyata, tetapi harapan untuk berjumpa dengan-Nya kelak menjadi kerinduan akhir hidup semua orang beriman. Kita akan bertemu dengan Dia sesuai dengan janji-Nya bahwa, Ia menyiapkan tempat di rumah Bapa bagi kita yang percaya kepada-Nya. Kerinduan dan harapan itu harus terus menggema dalam hati dan menjiwai hidup kita, agar kita selalu konsisten mempersembahkan diri kita sebagai ungkapan iman kepada Allah. Ungkapan iman itu kita nyatakan dalam pelayanan dan kerja nyata kita membantu dan melayani sesama di sekitar kita tanpa membeda-bedakan suku, agama ras dan antar golongan sebab semua identitas yang kita sanjung dan banggakan di dunia ini tidak memberi jaminan pasti bahwa kita akan diselamatkan. Di mata Allah, hanya kebaikan tulus yang kita lakukan kepada sesama dan kehidupan doa yang teratur (wujud iman) yang mampu memberi jaminan hidup kekal.

            Kesaksian dan ramalan dua orang tua saleh di Kenisah membantu kita untuk merefleksikan secara lebih mendalam misteri kelahiran Yesus yang kita rayakan pada masa Natal. Yesus adalah jawaban kerinduan bangsa Israel, kerinduan Simeon dan Hanna serta kerinduan hati semua manusia akan keselamatan Allah. Bagi Simeon, bayi Yesus yang masuk ke Kenisah adalah terang yang menerangi bangsa-bangsa dan sumber kemuliaan bagi Israel.  Dalam misa kita menyaksikan ada upacara pemberkatan dan perarakan lilin bernyala yang melambangkan Terang Dunia masuk ke dalam Kenisah. Dengan memasuki Kenisah, Terang Dunia masuk ke dalam hati setiap orang dan berdiam di dalamnya. Terang Dunia datang ke tengah kegelapan untuk menghancurkan dosa dan kematian. Karena itu, kemana pun kita melangkah, Terang Dunia harus tetap diusung untuk menerangi langkah sesama kita. Kita jangan membiarkan Terang Dunia itu menerangi diri kita saja,  tetapi kekuatan Terang Dunia yang sama harus kita pancarkan bagi orang lain yang masih doyan hidup dalam kegelapan dosa.

            Sabda Tuhan hari ini sungguh-sungguh mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian, ketika kita mempersembahan diri secara total kepada-Nya maka Ia selalu menuntun dan membingbing kita menuju jalan keselamatan kekal. Kita jangan terjebak dengan pesona dunia, segala tawaran dan kenikmatan duniawi yang menjadikan uang dan materi sebagi pusat hidup manusia harus disikapi secara bijak karena keduanya akan menjerat dan menjadikan kita budak tawanannya. Persembahan diri kepada Allah adalah jalan sempurna yang menuntun kita pada pertobatan sejati. Kita mesti selalu menumbuhkembangkan kepekaan spiritual agar bisa membaca kehadiran Allah dalam hidup kita. Kepekaan spiritual hanya dapat dihidupkan lewat kegiatan doa, membaca Kitab Suci, rajin bekerja dengan intensi yang luhur, berpuasa dan matiraga. Hati yang setia kepada Tuhan memampukan kita secara tajam dapat menilai euforia dunia yang sedang menggiring orang beriman masuk dalam perangkap hedonisme. Kita berkomitmen mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan tetap setia melaksankan tugas-tugas pelayanan kita kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan dan sentuhan kasih kita sehingga mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang terpinggirkan benar-benar merasakan kehadiran dan cinta Allah yang membebaskan. Semoga. ***Bernard Wadan***