Luk 6:36-38
Apa yang ada di benak anda ketika membayangkan seseorang yang memiliki
sikap murah hati? Saya yakin kita pasti memiliki kriteria sendiri. Kriteria itu
tentu saja tidak datang dari sebuah ruang kosong. Tetapi berangkat dari
pengetahuan yang dimiliki dan pengalaman yang kita alami. Secara umum
kualifikasi orang yang memiliki sikap murah hati ditandai dengan kebiasaannya
untuk memberi. Entah bersifat materi / barang atau pun non materi. Non materi
yang dimaksudkan di sini berupa jasa tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh
seseorang. Misalnya pada saat kita sedang dirundung masalah, dan ada seseorang
hadir memberi kita hiburan atau penguatan.
Atau contoh lain misalnya kita sedang mengalami kesulitan dalam mengerjakan
sesuatu hal. Dan ada rekan kerja yang bersedia membagikan kemampuan atau
keterampilan yang dimiliki sehingga kita dapat menyelesaikan pekerjaan dengan
baik. Ini merupakan contoh-contoh kebaikan yang kita alami dari kemurahan hati
orang lain. Di samping itu, sikap murah hati yang paling menonjol dan menyentuh
hati adalah tatkala orang memberi bantuan berupa uang atau barang kepada orang
lain. Apalagi bantuan itu diberikan kepada orang-orang yang betul
membutuhkannya. Seketika si pemberi barang atau uang, dipuja-puja sebagai orang
yang murah hati. Jadi sikap murah hati mengindikasikan bahwa orang dengan
bebas, tahu dan mau memberikan sesuatu dari apa yang dia miliki kepada orang
lain.
Hari ini Yesus mempresentasikan ciri orang murah hati lebih dari cara
pandang manusiawi kita. Yesus menegaskan bahwa orang yang memiliki sikap murah
hati itu sama seperti Bapa-Nya di sorga. Ini merupakan sesuatu yang istimewa.
Bagaimana mungkin orang yang murah hati disamakan dengan Bapa yang ada di dalam
sorga. Tetapi segala hal yang tidak mungkin di hadapan manusia, dapat menjadi
mungkin di mata Tuhan. Ibarat matahari yang menyinari manusia tanpa henti. Atau
seperti hujan yang turun membasahi bumi. Begitulah sikap murah hati yang
ditunjukkan oleh Bapa. Walaupun sering manusia tidak menyadari dan bahkan
menolak-Nya.
Lalu sikap murah hati macam apa yang diperlihatkan oleh Yesus? Pertama
jangan menghakimi atau menghukum orang lain. Walaupun dalam kenyataan,
seseorang memiliki kesalahan, kecerobohan atau kejahatan, kita tidak memiliki
hak untuk memberi penghakiman atau hukuman. Kita tidak memiliki hak untuk
menilai apakah seseorang itu bersalah atau tidak. Apakah seseorang itu berdosa
atau tidak. Sikap murah hati mendorong agar kita lebih berhati-hati dalam
melihat realitas persoalan yang sebenarnya. Kita tidak gegabah untuk menjatuhkan
pilihan yang melukai perasaan atau martabat seseorang oleh karena perbuatannya
yang buruk atau jahat. Dalam hal ini, pikiran positif (positive thinking) perlu dikedepenkan dalam menyikapi aneka
persoalan.
Kedua, sikap pengampunan. Sikap ini yang menurut saya paling berat untuk
kita laksanakan dalam hidup. Menurut Yesus, apabila kita mau menjadi orang yang
murah hati maka kita harus bersedia mengampuni orang yang telah bersalah.
Seberat apa pun kesalahan yang telah dilakukan, hati kita tetap terbuka untuk
memberi pengampunan. Karena dengannya, kita pun mendapat ampun dari Bapa yang
tidak kelihatan. Ketiga, sikap memberi. Sikap ini sudah jamak kita amati dan
seringkali kita praktekkan dalam hidup. Dengan segala kelebihan, bakat,
kemampuan, kita sudah turut berkontribusi membantu orang lain yang membutuhkan
uluran tangan kita. Namun yang ditekankan oleh Yesus dalam sikap ini adalah
memberi dengan tulus dan tanpa mengharapkan balasan. Kita memberi bukan supaya
nanti kita juga diberi. Kita memberi karena ada kepekaan dan kemauan dari hati
untuk membantu atau menolong orang lain.
Sebagai manusia, kita mudah untuk jatuh dalam sikap menghakimi atau
menghukum orang lain. Tidak hanya lewat tindakan, tetapi lebih banyak lewat
tutur kata yang kejam. Seringkali kita suka menceritakan keburukan atau
kejelekan yang dimiliki oleh kawan, sahabat, rekan kerja, dan anggota keluarga
kita sendiri. Kita sangat lihai memainkan kata-kata, menambah berbagai bumbu
dalam percakapan sehingga mengundang simpati dari orang lain yang mendengarnya.
Kita juga sering berpura-pura menunjukkan rasa iba dan empati terhadap orang
lain yang sementara mengalami kesusahan dan keterpurukan dalam hidupnya. Namun
jauh di lubuh hati yang paling dalam, kita merasa bangga dan senang karena kita
tidak mengalaminya.
Sikap menghakimi atau menghukum orang lain – entah orang itu bersalah atau
tidak – menggiring kita untuk bersikap keras hati, tidak mau menerima orang
lain sebagai sesama saudara. Kita enggan memberi ampun atau memaafkan orang
lain yang mungkin telah bersalah kita. Kita merasa diri paling benar dan paling
hebat sehingga menutup ruang hati untuk menerima orang lain. Kita juga
kadang-kadang sangat susah meminta maaf karena kelalaian, kesalahan, atau
kejahatan yang menyinggung, menyakiti dan melukai perasaan orang lain. Dengan
enteng dan tanpa beban, kita mempertontonkan diri tanpa salah dan dosa. Tanpa
disadari, kita terus menimbun banyak ngengat dan ulat dalam tubuh yang pada
saatnya akan meledak dan menimbulkan bau yang tidak sedap.
Yesus telah memberi inspirasi yang sangat baik kepada kita tentang sikap
murah hati seorang kristiani. Sikap murah hati paling sejati dan
merepresentasikan jati diri Allah sendiri. Sikap murah hati itu tidak hanya
ditunjukkan dengan sikap memberi dengan tulus dan tanpa pamrih. Sikap murah
hati dapat ditunjukkan oleh orang kristen dengan tidak menghakimi atau
menghukum orang lain. Kita dintuntut untuk selalu berpikir positif dan bukan
sebaliknya berpikir negatif kepada orang lain. Selain itu, sikap murah hati juga
membentuk pribadi kita untuk mau memberi ampun atau maaf kepada sesama yang
bersalah. Begitu juga, kita juga harus bersedia meminta maaf kepada orang lain
akibat perbuatan atau tutur kita yang salah.
Marilah di pekan prapaskah yang kedua ini, bersama pemazmur kita berdoa
kepada Tuhan: “Tolonglah kami, Ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan
nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu”
(Mzm79:9). Semoga kita bisa menjadi anak-anak Tuhan yang murah hati. Amin.
***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar