Mrk 8: 11-13
Bertepatan dengan hari valentine’s day, 14 Februari (hari Minggu kemarin),
seorang sahabat mengirim ucapan kasih sayang. Yang menarik, sang sahabat
menghiasi ucapan selamatnya dengan menambahkan kata-kata yang inspiratif.
Kata-kata tersebut berisi 10 cara mengasihi yang memiliki dasar biblis.
Pertama, mendengar tanpa menyela (Amsal 18:13. Kedua, berbicara tanpa mencela
(Yakobus 1:19). Ketiga, memberi tanpa batas (Amsal 21:26). Keempat, mendoakan
tanpa henti (Kolose 1:9). Kelima, Menjawab tanpa berbantah (Amsal 17:1).
Keenam, mengasihi tanpa pura-pura (Roma 12:9). Ketujuh, mengerjakan tanpa
bersungut (Filipi 2:14). Kedelapan, Mempercayai tanpa ragu (1 Kor 13:7).
Kesembilan, mengampuni tanpa dendam (Kolose 3:13). Kesepuluh, berjanji tanpa
melupakan (Amsal 13:12).
Bagi saya, 10 cara mengasihi ini tidak sekedar mengandung pesan injil yang
indah. Kita tidak sekedar membaca. Tidak juga sebatas kagum akan kata-katanya
yang indah. Tetapi harus menjadi untaian permata yang tertanam kuat dalam hati
dan mampu diwujudnyatakan oleh setiap orang. Ini memang tugas dan panggilan
kristiani yang mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Dengan sikap iman
yang teguh kepada Tuhan, akan mampu mendorong agar kita bisa menjadi tanda yang
baik. Sebuah tanda ilahi yang membawa kebaikan dan kedamaian bagi setiap
makhluk ciptaan.
Yesus adalah sebuah tanda agung yang membawa misi keselamatan dari Bapa di
sorga. Yesus yang menyejarah dalam sejarah kehidupan umat manusia telah
menyatakan Diri-Nya sebagai tanda yang baik dan agung kepada setiap orang.
Tidak sedikit orang yang mampu membaca tanda agung yang menyata dalam diri
Yesus. Mereka sungguh mendengarkan sabda dan percaya kepada-Nya. Akibat dari
rasa kepercayaan yang kuat kepada Yesus, mereka kemudian mendapat anugerah atau
berkat dalam banyak hal. Mereka disembuhkan dari berbagai penyakit dan gangguan
atau kerasukan roh jahat. Mereka juga dikenyangkan ketika merasa lapar. Bahkan
mereka yang sudah mati juga bisa dibangkitkan oleh Yesus. Mereka sungguh
merasakan “tanda Yesus” yang membawa kebaikan dan keselamatan. Implikasi
lanjutnya, mereka semakin merasa kuat menjalani hidupnya di tengah kemiskinan
ekonomi dan ketidakadilan sosial yang mereka dapatkan dari para pemimpin negara
dan agama.
Di samping orang-orang yang percaya kepada Yesus, ada juga sebagian orang,
terutama dari kalangan atas yang terdiri dari para penguasa dan pemimpin agama
yang tidak mempercayai Yesus sebagai utusan Allah. Malah dengan berani mereka
menggugat otoritas ilahi yang digunakan Yesus. Mereka meminta sebuah tanda yang
melegitimasi berbagai tindakan yang dilakukan-Nya. Ini sebuah hal yang konyol.
Dengan terang benderang, Yesus telah menyatakan Diri-Nya sebagai sebuah tanda
lewat perkataan dan perbuatan-Nya yang penuh kuasa dan fenomenal. Anehnya,
bukannya percaya, mereka malah meragukan dan mengambil sikap tidak percaya
kepada-Nya.
Keragu-raguan dan ketidakpercayaan para penguasa dan pemimpin agama Yahudi
terhadap Yesus dilatari oleh sikap sombong. Mereka merasa diri lebih pintar dan
lebih hebat. Oleh karena sikap negatif demikian, pikiran dan hati mereka
menjadi buta. Mereka menjadi buta secara spiritual karena tidak dapat mengenali
Yesus sebagai seorang utusan sekaligus Anak Allah. Kehadiran Yesus dianggap
sebagai ancaman yang mengganggu zona nyaman atau situasi mapan yang telah
mereka raih. Mereka takut kehilangan muka atau pamor di hadapan orang banyak.
Mereka juga takut kehilangan keuntungan secara ekonomi, karena bisa saja semua
orang mendukung Yesus dan berbalik menyerang mereka. Di atas semua itu, sikap sombong menjadi
dasar dari sikap ragu-ragu dan ketidakpercayaan para penguasa dan elit agama
terhadap Yesus.
Kita juga acapkali dihinggapi oleh sikap sombong yang membuat kita tidak
menyadari tanda-tanda kebaikan yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri dalam hidup
kita. Mungkin kita pernah ditegur atau diberi nasihat oleh karena sikap atau
tindakan kita yang salah atau tidak pantas. Bisa saja kita berlaku indisipliner
karena melanggar segala aturan yang berlaku di tempat kerja. Atau bisa juga
tindakan kita mengarah kepada sikap amoral (tidak bermoral baik) yang
mengganggu kenyamanan dan keamanan, tidak saja secara personal (pribadi),
tetapi secara kolektif dalam hidup sosial. Kita lalu tidak menerimanya. Kita
bahkan menunjukkan sikap resisten (melawan), tidak mau mengalah dan tidak
mengakui kelemahan dan kekurangan kita di hadapan orang lain. Kita merasa lebih
hebat sehingga tidak perlu mengakui kesalahan. Justru kita merasa diri benar
karena didorong oleh sikap angkuh. Sikap negatif ini menutup jalan pikiran dan
hati sehingga kita tidak menyadari apa yang telah kita buat. Kita juga tidak
bisa mengenali campur tangan Tuhan lewat orang lain yang berusaha mengendalikan
dan mengarahkan jalan sesat yang telah kita tempuh.
Dalam refleksi pribadi, saya mengambil kesimpulan bahwa sikap sombong
terhadap orang lain dapat terjadi karena di hadapan Tuhan, kita juga
menunjukkan sikap demikian. Kita kurang membangun relasi yang akrab dengan-Nya
dengan berbagai alasan. Entah karena kemalasan, sikap jenuh, tidak mau tahu, dan
sebagainya. Dengan logika yang kosong, kita gampang terjerembab dalam
kepercayaan diri yang berlebihan. Kita merasa diri bisa sukses oleh karena
kemampuan pribadi. Bukan oleh campur tangan orang lain. Termasuk Tuhan sendiri.
Refleksi bacaan Injil hari ini membuka pikiran dan hati agar kita lebih
peka membaca segala tanda yang dihadirkan Tuhan dalam hidup. Yang bisa kita
lakukan adalah menyingkirkan sikap sombong dan membangun kerendahan hati di
hadapan Tuhan. Kita perlu waktu sejenak untuk mendengarkan sabda-Nya. Agar kita
lebih memahami dan meresapi kehadiran-Nya sebagai tanda yang baik dalam hidup
kita. Dalam segala peristiwa; tidak hanya sukacita dan kemenangan, tetapi yang
menantang dan mengguncang rasa manusiawi, kita selalu yakin akan kehadiran tanda
yang baik dari Tuhan untuk menuntun kita kepada kebaikan dan keselamatan.
Dengan mengenali dan mempercayai kehadiran Tuhan sebagai tanda yang baik
dalam hidup, kita juga akan mampu menjadi pelaku untuk menjadi tanda yang baik
bagi diri sendiri dan orang lain dalam segala peristiwa hidup yang kita alami.
Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar