Minggu, 14 Februari 2021

TANDA YANG BAIK DARI TUHAN

 

Mrk 8: 11-13

Bertepatan dengan hari valentine’s day, 14 Februari (hari Minggu kemarin), seorang sahabat mengirim ucapan kasih sayang. Yang menarik, sang sahabat menghiasi ucapan selamatnya dengan menambahkan kata-kata yang inspiratif. Kata-kata tersebut berisi 10 cara mengasihi yang memiliki dasar biblis. Pertama, mendengar tanpa menyela (Amsal 18:13. Kedua, berbicara tanpa mencela (Yakobus 1:19). Ketiga, memberi tanpa batas (Amsal 21:26). Keempat, mendoakan tanpa henti (Kolose 1:9). Kelima, Menjawab tanpa berbantah (Amsal 17:1). Keenam, mengasihi tanpa pura-pura (Roma 12:9). Ketujuh, mengerjakan tanpa bersungut (Filipi 2:14). Kedelapan, Mempercayai tanpa ragu (1 Kor 13:7). Kesembilan, mengampuni tanpa dendam (Kolose 3:13). Kesepuluh, berjanji tanpa melupakan (Amsal 13:12).

 

Bagi saya, 10 cara mengasihi ini tidak sekedar mengandung pesan injil yang indah. Kita tidak sekedar membaca. Tidak juga sebatas kagum akan kata-katanya yang indah. Tetapi harus menjadi untaian permata yang tertanam kuat dalam hati dan mampu diwujudnyatakan oleh setiap orang. Ini memang tugas dan panggilan kristiani yang mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Dengan sikap iman yang teguh kepada Tuhan, akan mampu mendorong agar kita bisa menjadi tanda yang baik. Sebuah tanda ilahi yang membawa kebaikan dan kedamaian bagi setiap makhluk ciptaan.

 

Yesus adalah sebuah tanda agung yang membawa misi keselamatan dari Bapa di sorga. Yesus yang menyejarah dalam sejarah kehidupan umat manusia telah menyatakan Diri-Nya sebagai tanda yang baik dan agung kepada setiap orang. Tidak sedikit orang yang mampu membaca tanda agung yang menyata dalam diri Yesus. Mereka sungguh mendengarkan sabda dan percaya kepada-Nya. Akibat dari rasa kepercayaan yang kuat kepada Yesus, mereka kemudian mendapat anugerah atau berkat dalam banyak hal. Mereka disembuhkan dari berbagai penyakit dan gangguan atau kerasukan roh jahat. Mereka juga dikenyangkan ketika merasa lapar. Bahkan mereka yang sudah mati juga bisa dibangkitkan oleh Yesus. Mereka sungguh merasakan “tanda Yesus” yang membawa kebaikan dan keselamatan. Implikasi lanjutnya, mereka semakin merasa kuat menjalani hidupnya di tengah kemiskinan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang mereka dapatkan dari para pemimpin negara dan agama.

 

Di samping orang-orang yang percaya kepada Yesus, ada juga sebagian orang, terutama dari kalangan atas yang terdiri dari para penguasa dan pemimpin agama yang tidak mempercayai Yesus sebagai utusan Allah. Malah dengan berani mereka menggugat otoritas ilahi yang digunakan Yesus. Mereka meminta sebuah tanda yang melegitimasi berbagai tindakan yang dilakukan-Nya. Ini sebuah hal yang konyol. Dengan terang benderang, Yesus telah menyatakan Diri-Nya sebagai sebuah tanda lewat perkataan dan perbuatan-Nya yang penuh kuasa dan fenomenal. Anehnya, bukannya percaya, mereka malah meragukan dan mengambil sikap tidak percaya kepada-Nya.

 

Keragu-raguan dan ketidakpercayaan para penguasa dan pemimpin agama Yahudi terhadap Yesus dilatari oleh sikap sombong. Mereka merasa diri lebih pintar dan lebih hebat. Oleh karena sikap negatif demikian, pikiran dan hati mereka menjadi buta. Mereka menjadi buta secara spiritual karena tidak dapat mengenali Yesus sebagai seorang utusan sekaligus Anak Allah. Kehadiran Yesus dianggap sebagai ancaman yang mengganggu zona nyaman atau situasi mapan yang telah mereka raih. Mereka takut kehilangan muka atau pamor di hadapan orang banyak. Mereka juga takut kehilangan keuntungan secara ekonomi, karena bisa saja semua orang mendukung Yesus dan berbalik menyerang mereka.  Di atas semua itu, sikap sombong menjadi dasar dari sikap ragu-ragu dan ketidakpercayaan para penguasa dan elit agama terhadap Yesus.

 

Kita juga acapkali dihinggapi oleh sikap sombong yang membuat kita tidak menyadari tanda-tanda kebaikan yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri dalam hidup kita. Mungkin kita pernah ditegur atau diberi nasihat oleh karena sikap atau tindakan kita yang salah atau tidak pantas. Bisa saja kita berlaku indisipliner karena melanggar segala aturan yang berlaku di tempat kerja. Atau bisa juga tindakan kita mengarah kepada sikap amoral (tidak bermoral baik) yang mengganggu kenyamanan dan keamanan, tidak saja secara personal (pribadi), tetapi secara kolektif dalam hidup sosial. Kita lalu tidak menerimanya. Kita bahkan menunjukkan sikap resisten (melawan), tidak mau mengalah dan tidak mengakui kelemahan dan kekurangan kita di hadapan orang lain. Kita merasa lebih hebat sehingga tidak perlu mengakui kesalahan. Justru kita merasa diri benar karena didorong oleh sikap angkuh. Sikap negatif ini menutup jalan pikiran dan hati sehingga kita tidak menyadari apa yang telah kita buat. Kita juga tidak bisa mengenali campur tangan Tuhan lewat orang lain yang berusaha mengendalikan dan mengarahkan jalan sesat yang telah kita tempuh.

 

Dalam refleksi pribadi, saya mengambil kesimpulan bahwa sikap sombong terhadap orang lain dapat terjadi karena di hadapan Tuhan, kita juga menunjukkan sikap demikian. Kita kurang membangun relasi yang akrab dengan-Nya dengan berbagai alasan. Entah karena kemalasan, sikap jenuh, tidak mau tahu, dan sebagainya. Dengan logika yang kosong, kita gampang terjerembab dalam kepercayaan diri yang berlebihan. Kita merasa diri bisa sukses oleh karena kemampuan pribadi. Bukan oleh campur tangan orang lain. Termasuk Tuhan sendiri.

 

Refleksi bacaan Injil hari ini membuka pikiran dan hati agar kita lebih peka membaca segala tanda yang dihadirkan Tuhan dalam hidup. Yang bisa kita lakukan adalah menyingkirkan sikap sombong dan membangun kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kita perlu waktu sejenak untuk mendengarkan sabda-Nya. Agar kita lebih memahami dan meresapi kehadiran-Nya sebagai tanda yang baik dalam hidup kita. Dalam segala peristiwa; tidak hanya sukacita dan kemenangan, tetapi yang menantang dan mengguncang rasa manusiawi, kita selalu yakin akan kehadiran tanda yang baik dari Tuhan untuk menuntun kita kepada kebaikan dan keselamatan.

 

Dengan mengenali dan mempercayai kehadiran Tuhan sebagai tanda yang baik dalam hidup, kita juga akan mampu menjadi pelaku untuk menjadi tanda yang baik bagi diri sendiri dan orang lain dalam segala peristiwa hidup yang kita alami. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar