LUK 2:22-40
Kita semua datang dan
hidup dari sebuah tradisi yang kuat dan mengakar yang menanamkan jiwa
kekatolikan kepada kita. Tanpa devosi dan tradisi, kehidupan umat beriman
menjadi kering dan hambar. Tradisi dapat membentuk seseorang untuk keluar dari
egoisme dirinya dan mengutamakan rencana dan Kehendak Allah. Keluarga Katolik
zaman ini yang memperhatikan dengan sungguh tradisi keagamaan akan menghasilkan
orang-orang yang bisa menjadi tiang dan pembawa berkat Allah bagi sesamanya.
Tradisi keagamaan yang kita hidupkan saat ini telah dihidupi sebelumnya oleh
Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna pada zamannya. Spirit kesetiaan dan
persembahan diri kepada Tuhan menantang iman kita di zaman modern ini, Apakah
kita masih setia dan merasa penting mempersembahkan diri kepada Allah untuk
dijadikan agen pewarta kasih-Nya atau kita memilih bertuan kepada uang dan
kekuasaan yang mencebur kita masuk dalam lumpur dosa?
Hari ini Gereja Katolik
memperingati pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Empat puluh hari setelah
Natal, kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah atau menurut
penginjil Lukas, ”Yesus diserahkan kepada Tuhan.” Injil menceriterakan bahwa Yosef dan Maria sebagai orang tua,
sadar betul bahwa kehadiran Yesus dalam keluarga mereka bukan karena karya atau
kehendak mereka tetapi semata-mata karena rencana dan karya Tuhan bagi dunia.
Yosef dan Maria melakukan tradisi untuk memenuhi hukum Musa, namun peristiwa
yang biasa bagi keluarga Yahudi ini berubah makna karena kehadiran dan
kesaksian Simeon dan Hanna di Kenisah. Simeon dan Hanna sebagai pribadi
bersahaja yang menubuatkan kedatangan Tuhan, mereka sadar bahwa janji Tuhan itu tidak akan
sia-sia. Rencana keselamatan dari Tuhan mulai terpenuhi dalam sejarah umat
manusia. Baik Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna memiliki disposisi batin
yang mulia yakni mereka terus menerus memuliakan keagungan Tuhan dan bersyukur
atas rahmat istimewa tersebut. Bahkan Simeon dan Hanna begitu terpesona akan
kemuliaan Tuhan itu dan berani berkata di depan bayi Yesus: “Kami bersedia mati
karena telah melihat keselamatan yang datang dari Allah.”
Kesadaran bahwa
Tuhan melakukan segala sesuatu bagi diri dan hidup kita, mendorong kita untuk
mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Kesadaran bahwa Allah bekerja
dengan sangat dahsyat dalam seluruh sejarah hidup manusia, membangkitkan rasa
syukur kita kepada-Nya. Simeon dan Hanna adalah sejumlah kecil orang yang setia
memegang janji keselamatan Tuhan yang diwartakan oleh para nabi berabad-abad
sebelumnya. Kesetiaan itu adalah perjuangan karena mereka harus menahan diri
dari godaan duniawi. Mereka selalu setia datang ke Bait Allah untuk berdoa,
hidup penuh mati raga dan puasa. Iman mereka utuh mengarah kepada Allah dan
perjuangan kesetiaan mereka mendapat ganjaran karena mata iman mereka sanggup
melihat pemenuhan janji Allah yang sedang berlangsung di dalam bayi Yesus, anak
Yosef dan Maria. Simeon dan Hanna adalah contoh pribadi yang memiliki kepekaan
hati yang sanggup membaca dan melihat siapa sebetulnya Yesus itu dalam hidup
mereka.
Setiap kita pasti
merindukan keselamatan bagi jiwa kita masing-masing kelak. Untuk maksud ini, orang
akan berusaha mencari cara dan pola hidup yang baik dan benar untuk menyukakan
hati Tuhan. Simeon sang kakek yang saleh dalam hidupnya, memilih untuk
mengabdikan diri untuk melayani di Kenisah Allah sebagai salah satu cara hidup
yang menjadi jaminan bagi keselamatannya kelak. Pertemuannya dengan Yosef,
Maria dan bayi Yesus di Kenisah, menjadi peneguhan atas apa yang dia rindukan
selama ini, yakni ingin bertemu dengan Sang Juruselamat sebelum ia meninggal
dunia. Ungkapan kebahagiaan hatinya ia nyatakan dalam ungkapan pujiannya
“Sekarang Tuhan, perkenankanlah hambamu berpulang dalam damai sejahtera,
menurut sabda-Mu. Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu yang Kau sediakan di
hadapan segala bangsa. Cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu
Israel.”
Seperti Simeon,
kita juga memiliki kerinduan yang sama untuk berjumpa dengan Yesus agar bisa
mengalami rahmat keselamatan. Meskipun kita tidak bertemu dengan Yesus secara
nyata, tetapi harapan untuk berjumpa dengan-Nya kelak menjadi kerinduan akhir
hidup semua orang beriman. Kita akan bertemu dengan Dia sesuai dengan janji-Nya
bahwa, Ia menyiapkan tempat di rumah Bapa bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Kerinduan dan harapan itu harus terus menggema dalam hati dan menjiwai hidup
kita, agar kita selalu konsisten mempersembahkan diri kita sebagai ungkapan
iman kepada Allah. Ungkapan iman itu kita nyatakan dalam pelayanan dan kerja
nyata kita membantu dan melayani sesama di sekitar kita tanpa membeda-bedakan
suku, agama ras dan antar golongan sebab semua identitas yang kita sanjung dan
banggakan di dunia ini tidak memberi jaminan pasti bahwa kita akan
diselamatkan. Di mata Allah, hanya kebaikan tulus yang kita lakukan kepada
sesama dan kehidupan doa yang teratur (wujud iman) yang mampu memberi jaminan
hidup kekal.
Kesaksian dan
ramalan dua orang tua saleh di Kenisah membantu kita untuk merefleksikan secara
lebih mendalam misteri kelahiran Yesus yang kita rayakan pada masa Natal. Yesus
adalah jawaban kerinduan bangsa Israel, kerinduan Simeon dan Hanna serta
kerinduan hati semua manusia akan keselamatan Allah. Bagi Simeon, bayi Yesus
yang masuk ke Kenisah adalah terang yang menerangi bangsa-bangsa dan sumber
kemuliaan bagi Israel. Dalam misa kita
menyaksikan ada upacara pemberkatan dan perarakan lilin bernyala yang
melambangkan Terang Dunia masuk ke dalam Kenisah. Dengan memasuki Kenisah,
Terang Dunia masuk ke dalam hati setiap orang dan berdiam di dalamnya. Terang
Dunia datang ke tengah kegelapan untuk menghancurkan dosa dan kematian. Karena
itu, kemana pun kita melangkah, Terang Dunia harus tetap diusung untuk
menerangi langkah sesama kita. Kita jangan membiarkan Terang Dunia itu
menerangi diri kita saja, tetapi
kekuatan Terang Dunia yang sama harus kita pancarkan bagi orang lain yang masih
doyan hidup dalam kegelapan dosa.
Sabda Tuhan hari
ini sungguh-sungguh mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan tidak pernah
membiarkan kita berjalan sendirian, ketika kita mempersembahan diri secara
total kepada-Nya maka Ia selalu menuntun dan membingbing kita menuju jalan
keselamatan kekal. Kita jangan terjebak dengan pesona dunia, segala tawaran dan
kenikmatan duniawi yang menjadikan uang dan materi sebagi pusat hidup manusia
harus disikapi secara bijak karena keduanya akan menjerat dan menjadikan kita
budak tawanannya. Persembahan diri kepada Allah adalah jalan sempurna yang
menuntun kita pada pertobatan sejati. Kita mesti selalu menumbuhkembangkan
kepekaan spiritual agar bisa membaca kehadiran Allah dalam hidup kita. Kepekaan
spiritual hanya dapat dihidupkan lewat kegiatan doa, membaca Kitab Suci, rajin
bekerja dengan intensi yang luhur, berpuasa dan matiraga. Hati yang setia
kepada Tuhan memampukan kita secara tajam dapat menilai euforia dunia yang
sedang menggiring orang beriman masuk dalam perangkap hedonisme. Kita
berkomitmen mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan tetap setia melaksankan
tugas-tugas pelayanan kita kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan dan
sentuhan kasih kita sehingga mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang
terpinggirkan benar-benar merasakan kehadiran dan cinta Allah yang membebaskan.
Semoga. ***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar