Selasa, 02 Februari 2021

PERSEMBAHAN DIRI KEPADA TUHAN

LUK 2:22-40

            Kita semua datang dan hidup dari sebuah tradisi yang kuat dan mengakar yang menanamkan jiwa kekatolikan kepada kita. Tanpa devosi dan tradisi, kehidupan umat beriman menjadi kering dan hambar. Tradisi dapat membentuk seseorang untuk keluar dari egoisme dirinya dan mengutamakan rencana dan Kehendak Allah. Keluarga Katolik zaman ini yang memperhatikan dengan sungguh tradisi keagamaan akan menghasilkan orang-orang yang bisa menjadi tiang dan pembawa berkat Allah bagi sesamanya. Tradisi keagamaan yang kita hidupkan saat ini telah dihidupi sebelumnya oleh Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna pada zamannya. Spirit kesetiaan dan persembahan diri kepada Tuhan menantang iman kita di zaman modern ini, Apakah kita masih setia dan merasa penting mempersembahkan diri kepada Allah untuk dijadikan agen pewarta kasih-Nya atau kita memilih bertuan kepada uang dan kekuasaan yang mencebur kita masuk dalam lumpur dosa?

            Hari ini Gereja Katolik memperingati pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Empat puluh hari setelah Natal, kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah atau menurut penginjil Lukas, ”Yesus diserahkan kepada Tuhan.” Injil menceriterakan  bahwa Yosef dan Maria sebagai orang tua, sadar betul bahwa kehadiran Yesus dalam keluarga mereka bukan karena karya atau kehendak mereka tetapi semata-mata karena rencana dan karya Tuhan bagi dunia. Yosef dan Maria melakukan tradisi untuk memenuhi hukum Musa, namun peristiwa yang biasa bagi keluarga Yahudi ini berubah makna karena kehadiran dan kesaksian Simeon dan Hanna di Kenisah. Simeon dan Hanna sebagai pribadi bersahaja yang menubuatkan kedatangan Tuhan, mereka  sadar bahwa janji Tuhan itu tidak akan sia-sia. Rencana keselamatan dari Tuhan mulai terpenuhi dalam sejarah umat manusia. Baik Yosef dan Maria serta Simeon dan Hanna memiliki disposisi batin yang mulia yakni mereka terus menerus memuliakan keagungan Tuhan dan bersyukur atas rahmat istimewa tersebut. Bahkan Simeon dan Hanna begitu terpesona akan kemuliaan Tuhan itu dan berani berkata di depan bayi Yesus: “Kami bersedia mati karena telah melihat keselamatan yang datang dari Allah.”

            Kesadaran bahwa Tuhan melakukan segala sesuatu bagi diri dan hidup kita, mendorong kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Kesadaran bahwa Allah bekerja dengan sangat dahsyat dalam seluruh sejarah hidup manusia, membangkitkan rasa syukur kita kepada-Nya. Simeon dan Hanna adalah sejumlah kecil orang yang setia memegang janji keselamatan Tuhan yang diwartakan oleh para nabi berabad-abad sebelumnya. Kesetiaan itu adalah perjuangan karena mereka harus menahan diri dari godaan duniawi. Mereka selalu setia datang ke Bait Allah untuk berdoa, hidup penuh mati raga dan puasa. Iman mereka utuh mengarah kepada Allah dan perjuangan kesetiaan mereka mendapat ganjaran karena mata iman mereka sanggup melihat pemenuhan janji Allah yang sedang berlangsung di dalam bayi Yesus, anak Yosef dan Maria. Simeon dan Hanna adalah contoh pribadi yang memiliki kepekaan hati yang sanggup membaca dan melihat siapa sebetulnya Yesus itu dalam hidup mereka.

            Setiap kita pasti merindukan keselamatan bagi jiwa kita masing-masing kelak. Untuk maksud ini, orang akan berusaha mencari cara dan pola hidup yang baik dan benar untuk menyukakan hati Tuhan. Simeon sang kakek yang saleh dalam hidupnya, memilih untuk mengabdikan diri untuk melayani di Kenisah Allah sebagai salah satu cara hidup yang menjadi jaminan bagi keselamatannya kelak. Pertemuannya dengan Yosef, Maria dan bayi Yesus di Kenisah, menjadi peneguhan atas apa yang dia rindukan selama ini, yakni ingin bertemu dengan Sang Juruselamat sebelum ia meninggal dunia. Ungkapan kebahagiaan hatinya ia nyatakan dalam ungkapan pujiannya “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hambamu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu. Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu yang Kau sediakan di hadapan segala bangsa. Cahaya untuk menerangi para bangsa dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel.”

            Seperti Simeon, kita juga memiliki kerinduan yang sama untuk berjumpa dengan Yesus agar bisa mengalami rahmat keselamatan. Meskipun kita tidak bertemu dengan Yesus secara nyata, tetapi harapan untuk berjumpa dengan-Nya kelak menjadi kerinduan akhir hidup semua orang beriman. Kita akan bertemu dengan Dia sesuai dengan janji-Nya bahwa, Ia menyiapkan tempat di rumah Bapa bagi kita yang percaya kepada-Nya. Kerinduan dan harapan itu harus terus menggema dalam hati dan menjiwai hidup kita, agar kita selalu konsisten mempersembahkan diri kita sebagai ungkapan iman kepada Allah. Ungkapan iman itu kita nyatakan dalam pelayanan dan kerja nyata kita membantu dan melayani sesama di sekitar kita tanpa membeda-bedakan suku, agama ras dan antar golongan sebab semua identitas yang kita sanjung dan banggakan di dunia ini tidak memberi jaminan pasti bahwa kita akan diselamatkan. Di mata Allah, hanya kebaikan tulus yang kita lakukan kepada sesama dan kehidupan doa yang teratur (wujud iman) yang mampu memberi jaminan hidup kekal.

            Kesaksian dan ramalan dua orang tua saleh di Kenisah membantu kita untuk merefleksikan secara lebih mendalam misteri kelahiran Yesus yang kita rayakan pada masa Natal. Yesus adalah jawaban kerinduan bangsa Israel, kerinduan Simeon dan Hanna serta kerinduan hati semua manusia akan keselamatan Allah. Bagi Simeon, bayi Yesus yang masuk ke Kenisah adalah terang yang menerangi bangsa-bangsa dan sumber kemuliaan bagi Israel.  Dalam misa kita menyaksikan ada upacara pemberkatan dan perarakan lilin bernyala yang melambangkan Terang Dunia masuk ke dalam Kenisah. Dengan memasuki Kenisah, Terang Dunia masuk ke dalam hati setiap orang dan berdiam di dalamnya. Terang Dunia datang ke tengah kegelapan untuk menghancurkan dosa dan kematian. Karena itu, kemana pun kita melangkah, Terang Dunia harus tetap diusung untuk menerangi langkah sesama kita. Kita jangan membiarkan Terang Dunia itu menerangi diri kita saja,  tetapi kekuatan Terang Dunia yang sama harus kita pancarkan bagi orang lain yang masih doyan hidup dalam kegelapan dosa.

            Sabda Tuhan hari ini sungguh-sungguh mengingatkan kita kembali bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian, ketika kita mempersembahan diri secara total kepada-Nya maka Ia selalu menuntun dan membingbing kita menuju jalan keselamatan kekal. Kita jangan terjebak dengan pesona dunia, segala tawaran dan kenikmatan duniawi yang menjadikan uang dan materi sebagi pusat hidup manusia harus disikapi secara bijak karena keduanya akan menjerat dan menjadikan kita budak tawanannya. Persembahan diri kepada Allah adalah jalan sempurna yang menuntun kita pada pertobatan sejati. Kita mesti selalu menumbuhkembangkan kepekaan spiritual agar bisa membaca kehadiran Allah dalam hidup kita. Kepekaan spiritual hanya dapat dihidupkan lewat kegiatan doa, membaca Kitab Suci, rajin bekerja dengan intensi yang luhur, berpuasa dan matiraga. Hati yang setia kepada Tuhan memampukan kita secara tajam dapat menilai euforia dunia yang sedang menggiring orang beriman masuk dalam perangkap hedonisme. Kita berkomitmen mempersembahkan diri kepada Tuhan dengan tetap setia melaksankan tugas-tugas pelayanan kita kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan dan sentuhan kasih kita sehingga mereka yang lemah, miskin, sakit dan yang terpinggirkan benar-benar merasakan kehadiran dan cinta Allah yang membebaskan. Semoga. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar