Minggu, 14 Maret 2021

MENGHIDUPI SIKAP RENDAH HATI

Yoh 4:43-54

Pada masa awal melakukan tugas sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara), secara kebetulan saya bertemu dengan seorang ulama muslim di suatu tempat. Singkat cerita, saya begitu terkesan dengan kata-kata, nasihat dan dukungan morilnya terhadap pribadi saya. Ia banyak menasihati agar saya tidak boleh menjadi pribadi arogan dan lupa diri. Saya harus tetap menunjukkan sikap rendah hati kepada siapa saja; baik kepada pimpinan, rekan kerja, sahabat, kenalan, anggota keluarga, maupun kepada orang-orang yang tidak saya kenal. Dan terutama sikap rendah hati itu harus saya tunjukkan kepada Tuhan yang telah memberikan anugerah yang baik dalam hidup.

 

Sikap rendah hati di hadapan Tuhan juga secara otomatis menegaskan bahwa saya tidak boleh melupakan Tuhan. Saya harus tetap berserah diri dan percaya dengan total kepada segala kehendak-Nya. Karena Tuhan punya cara tersendiri dalam memberikan segala berkat-Nya. Jauh di luar bayangan, pikiran dan pengetahuan saya sebagai manusia. Pertemuan sekilas dengan sang ulama tersebut ternyata tetap membekas dan memberi makna mendalam. Menjadi pribadi rendah hati adalah filosofi hidup yang harus terus saya perjuangkan, saya gaungkan dalam seluruh hidup dan pengalaman pribadi.

 

Sikap rendah hati dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54) ditunjukkan oleh seorang pegawai istana yang datang menemui Yesus agar anaknya dapat disembuhkan dari penyakit. Sang pegawai istana rupanya sudah tahu bahwa Yesus telah sampai di Galilea. Lebih dari itu, ia tahu akan kemampuan karismatik yang dimiliki Yesus. Yesus bukan manusia biasa. Yesus memiliki kompetensi ilahi untuk berbuat apa saja demi menyelamatkan setiap orang yang menaruh harapan kepada-Nya. Dengan dasar keyakinan ini, sang pegawai istana dengan hati yang mantap datang sendiri kepada Yesus.

 

Kalau saja mau, ia dapat menyuruh orang suruhannya datang menemui Yesus. Seorang pegawai istana tentu saja memiliki bawahan. Pada masa itu dikenal dengan istilah budak. Istilah ini sebenarnya terdengar kasar dan tidak pantas. Namun itulah realitas sebenarnya. Bahwa seorang budak pada masa itu memang memiliki tugas untuk melayani tuannya dalam segala hal tanpa mendapat bayaran sedikit pun. Tetapi itu tidak dilakukan oleh sang pegawai istana. Ia memutuskan untuk sendiri datang kepada Yesus.

 

Sang pegawai istana telah menunjukkan sikap rendah hatinya untuk datang menemui Yesus. Dan dengan rendah hati pula memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang sementara menderita sakit. Yesus sempat menantangnya dengan berkata: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya” (Yoh 4:48). Namun dengan kesungguhan hati pegawai istana itu berkata: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati” (Yoh 4:49). Kata-kata optimisme ini menggambarkan bahwa sang pegawai istana dengan segala kerendahan hatinya, begitu yakin dengan imannya akan Yesus. Meskipun ia belum melihat tanda dan mujizat itu. Ia sangat percaya bahwa anaknya pasti mendapat kesembuhan. Sang pegawai istana menyadari keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa. Tidak mungkin anaknya menjadi sehat kalau ia tetap mengandalkan kemampuan manusiawinya. Ia harus melepaskan arogansi pribadinya untuk kemudian datang kepada Yesus. Berkat kerendahan hati dan keteguhan imannya, anaknya menjadi sehat.

 

Sikap rendah hati adalah sebuah nilai moral sekaligus nilai kristiani yang memiliki harga sangat mahal di era ini. Kalau kita perhatikan realitas hidup kita, sangat jarang orang menghidupi nilai ini dalam seluruh hidupnya. Yang banyak terjadi adalah orang sering atau selalu menunjukkan ego dan arogansi pribadi dalam seluruh pengalaman hidupnya. Dalam keluarga, sering terjadi suami tidak lagi memperhatikan kesejahteraan istri dan anaknya. Sebaliknya, Istri juga tidak lagi mendengar dan menghargai suaminya. Demikian juga anak-anak tidak lagi menaruh rasa hormat dan bahkan mendurhakai orang tuanya sendiri.

 

Dalam lingkup pergaulan sosial, karena merasa memiliki jabatan dan status sosial yang tinggi, tidak jarang kita tidak lagi mau menunjukkan rasa simpati dan empati dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Bahkan sekedar menegur saja sangat jarang atau tidak pernah kita lakukan. Mata kita telah menjadi buta dan hati kita telah menjadi tumpul manakala menyaksikan berbagai keprihatinan sosial yang terjadi. Kita menjadi pribadi yang apatis dan tidak mau tahu karena telah digerogoti oleh sikap ego dan sombong.

 

Dalam lingkungan kerja, karena rasa gengsi dan demi menjaga wibawa acapkali pimpinan (atasan) sangat membatasi diri untuk membangun komunikasi dengan para bawahannya. Walaupun itu mungkin sifatnya informal. Maka yang terjadi selanjutnya adalah sang pempimpin lebih sibuk dengan urusan pribadinya dan tidak sungguh memperhatikan kepentingan bawahannya. Mungkin juga ada rekan kerja yang dihinggapi oleh sikap arogansi karena merasa diri paling hebat dan pintar. Kemudian dengan tahu dan mau merendahkan dan melecehkan martabat sesamanya.

 

Sikap ego dan arogansi zaman ini telah melukai rasa kemanusiaan dan menggugat serta menggeser jati diri manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki sikap rendah hati. Mirisnya, sikap ego dan arogan juga dipertontonkan oleh umat beriman kepada sang penciptanya sendiri. Orang-orang lebih cenderung mengandalkan diri dan kekuatan lain selain kekuatan Tuhan, untuk membereskan segala persoalan hidup yang dihadapinya. Sehingga yang terjadi bukan kebaikan dan keselamatan hidup yang didapat, malahan sebaliknya, orang-orang semakin lepas kendali untuk tidak ragu-ragu berbuat jahat terhadap sesamanya sendiri.

 

Sang pegawai istana telah memberi contoh hidup yang baik bagaimana seharusnya kita memahami dan menginternalisasikan nilai kerendahan hati dalam seluruh hidup kita. Kita harus berani melepaskan sikap ego dan arogansi pribadi karena kita adalah pribadi yang terbatas. Banyak persoalan dan dinamika hidup yang tidak mungkin selesai dari kaca mata manusiawi. Kita membutuhkan pribadi adikodrati yakni Tuhan, untuk menuntun dan mengarahkan kita kepada segala kebaikan dan keselamatan. Dan ini hanya dapat dicapai apabila kita mau menghidupi sikap rendah hati di hadapan Tuhan.

 

Dengan mengutamakan sikap rendah hati di hadapan Tuhan, kita juga akan mampu bersikap rendah hati kepada orang lain, tanpa memandang usia, status, jabatan, suku, agama, golongan dan sebagainya. Marilah di masa prapaskah pekan keempat ini, kita semakin menyadari diri untuk menjadi manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar