Yoh 4:43-54
Pada masa awal melakukan tugas sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara),
secara kebetulan saya bertemu dengan seorang ulama muslim di suatu tempat.
Singkat cerita, saya begitu terkesan dengan kata-kata, nasihat dan dukungan
morilnya terhadap pribadi saya. Ia banyak menasihati agar saya tidak boleh
menjadi pribadi arogan dan lupa diri. Saya harus tetap menunjukkan sikap rendah
hati kepada siapa saja; baik kepada pimpinan, rekan kerja, sahabat, kenalan,
anggota keluarga, maupun kepada orang-orang yang tidak saya kenal. Dan terutama
sikap rendah hati itu harus saya tunjukkan kepada Tuhan yang telah memberikan
anugerah yang baik dalam hidup.
Sikap rendah hati di hadapan Tuhan juga secara otomatis menegaskan bahwa
saya tidak boleh melupakan Tuhan. Saya harus tetap berserah diri dan percaya
dengan total kepada segala kehendak-Nya. Karena Tuhan punya cara tersendiri
dalam memberikan segala berkat-Nya. Jauh di luar bayangan, pikiran dan
pengetahuan saya sebagai manusia. Pertemuan sekilas dengan sang ulama tersebut
ternyata tetap membekas dan memberi makna mendalam. Menjadi pribadi rendah hati
adalah filosofi hidup yang harus terus saya perjuangkan, saya gaungkan dalam
seluruh hidup dan pengalaman pribadi.
Sikap rendah hati dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54) ditunjukkan
oleh seorang pegawai istana yang datang menemui Yesus agar anaknya dapat
disembuhkan dari penyakit. Sang pegawai istana rupanya sudah tahu bahwa Yesus
telah sampai di Galilea. Lebih dari itu, ia tahu akan kemampuan karismatik yang
dimiliki Yesus. Yesus bukan manusia biasa. Yesus memiliki kompetensi ilahi
untuk berbuat apa saja demi menyelamatkan setiap orang yang menaruh harapan
kepada-Nya. Dengan dasar keyakinan ini, sang pegawai istana dengan hati yang
mantap datang sendiri kepada Yesus.
Kalau saja mau, ia dapat menyuruh orang suruhannya datang menemui Yesus.
Seorang pegawai istana tentu saja memiliki bawahan. Pada masa itu dikenal
dengan istilah budak. Istilah ini sebenarnya terdengar kasar dan tidak pantas.
Namun itulah realitas sebenarnya. Bahwa seorang budak pada masa itu memang
memiliki tugas untuk melayani tuannya dalam segala hal tanpa mendapat bayaran
sedikit pun. Tetapi itu tidak dilakukan oleh sang pegawai istana. Ia memutuskan
untuk sendiri datang kepada Yesus.
Sang pegawai istana telah menunjukkan sikap rendah hatinya untuk datang
menemui Yesus. Dan dengan rendah hati pula memohon kepada Yesus untuk
menyembuhkan anaknya yang sementara menderita sakit. Yesus sempat menantangnya
dengan berkata: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya”
(Yoh 4:48). Namun dengan kesungguhan hati pegawai istana itu berkata: “Tuhan,
datanglah sebelum anakku mati” (Yoh 4:49). Kata-kata optimisme ini
menggambarkan bahwa sang pegawai istana dengan segala kerendahan hatinya,
begitu yakin dengan imannya akan Yesus. Meskipun ia belum melihat tanda dan
mujizat itu. Ia sangat percaya bahwa anaknya pasti mendapat kesembuhan. Sang
pegawai istana menyadari keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa. Tidak
mungkin anaknya menjadi sehat kalau ia tetap mengandalkan kemampuan
manusiawinya. Ia harus melepaskan arogansi pribadinya untuk kemudian datang
kepada Yesus. Berkat kerendahan hati dan keteguhan imannya, anaknya menjadi
sehat.
Sikap rendah hati adalah sebuah nilai moral sekaligus nilai kristiani yang
memiliki harga sangat mahal di era ini. Kalau kita perhatikan realitas hidup
kita, sangat jarang orang menghidupi nilai ini dalam seluruh hidupnya. Yang
banyak terjadi adalah orang sering atau selalu menunjukkan ego dan arogansi
pribadi dalam seluruh pengalaman hidupnya. Dalam keluarga, sering terjadi suami
tidak lagi memperhatikan kesejahteraan istri dan anaknya. Sebaliknya, Istri
juga tidak lagi mendengar dan menghargai suaminya. Demikian juga anak-anak
tidak lagi menaruh rasa hormat dan bahkan mendurhakai orang tuanya sendiri.
Dalam lingkup pergaulan sosial, karena merasa memiliki jabatan dan status
sosial yang tinggi, tidak jarang kita tidak lagi mau menunjukkan rasa simpati
dan empati dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Bahkan sekedar menegur
saja sangat jarang atau tidak pernah kita lakukan. Mata kita telah menjadi buta
dan hati kita telah menjadi tumpul manakala menyaksikan berbagai keprihatinan
sosial yang terjadi. Kita menjadi pribadi yang apatis dan tidak mau tahu karena
telah digerogoti oleh sikap ego dan sombong.
Dalam lingkungan kerja, karena rasa gengsi dan demi menjaga wibawa acapkali
pimpinan (atasan) sangat membatasi diri untuk membangun komunikasi dengan para
bawahannya. Walaupun itu mungkin sifatnya informal. Maka yang terjadi
selanjutnya adalah sang pempimpin lebih sibuk dengan urusan pribadinya dan
tidak sungguh memperhatikan kepentingan bawahannya. Mungkin juga ada rekan
kerja yang dihinggapi oleh sikap arogansi karena merasa diri paling hebat dan
pintar. Kemudian dengan tahu dan mau merendahkan dan melecehkan martabat
sesamanya.
Sikap ego dan arogansi zaman ini telah melukai rasa kemanusiaan dan
menggugat serta menggeser jati diri manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki
sikap rendah hati. Mirisnya, sikap ego dan arogan juga dipertontonkan oleh umat
beriman kepada sang penciptanya sendiri. Orang-orang lebih cenderung
mengandalkan diri dan kekuatan lain selain kekuatan Tuhan, untuk membereskan
segala persoalan hidup yang dihadapinya. Sehingga yang terjadi bukan kebaikan
dan keselamatan hidup yang didapat, malahan sebaliknya, orang-orang semakin
lepas kendali untuk tidak ragu-ragu berbuat jahat terhadap sesamanya sendiri.
Sang pegawai istana telah memberi contoh hidup yang baik bagaimana
seharusnya kita memahami dan menginternalisasikan nilai kerendahan hati dalam
seluruh hidup kita. Kita harus berani melepaskan sikap ego dan arogansi pribadi
karena kita adalah pribadi yang terbatas. Banyak persoalan dan dinamika hidup
yang tidak mungkin selesai dari kaca mata manusiawi. Kita membutuhkan pribadi
adikodrati yakni Tuhan, untuk menuntun dan mengarahkan kita kepada segala
kebaikan dan keselamatan. Dan ini hanya dapat dicapai apabila kita mau
menghidupi sikap rendah hati di hadapan Tuhan.
Dengan mengutamakan sikap rendah hati di hadapan Tuhan, kita juga akan
mampu bersikap rendah hati kepada orang lain, tanpa memandang usia, status,
jabatan, suku, agama, golongan dan sebagainya. Marilah di masa prapaskah pekan
keempat ini, kita semakin menyadari diri untuk menjadi manusia yang rendah hati
di hadapan Tuhan dan sesama. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar