Minggu, 21 Maret 2021

MENYADARI DIRI SEBAGAI SEORANG PENDOSA

Yoh 8:1-11

Ada seorang kenalan yang saya kenal cukup baik. Satu hal yang tidak saya sukai dari beliau adalah kebiasaannya yang suka mencari-cari kesalahan dan memvonis orang lain dengan pernyataan-pernyataan yang meremehkan dan merendahkan. Di lain pihak, ia suka membangga-banggakan dirinya dengan segala perbuatan baik dan prestasi kerja yang telah didapatkan. Kesan yang saya tangkap bahwa sang kenalan tersebut secara langsung atau tidak, ingin mengirim pesan kepada orang lain yang mendengarnya jikalau ia lebih hebat, lebih baik, lebih suci dan lebih benar daripada mereka.

 

Hari ini para ahli taurat dan orang-orang Farisi memperlihatkan superioritas dan dominasi mereka di hadapan orang banyak dan Yesus. Mereka tidak datang sendirian. Mereka membawa seorang perempuan yang kedapatan berzinah dan menempatkannya di tengah-tengah orang banyak. Kemudian dengan dalil perkataan Musa dalam hukum taurat, mereka mengatakan kepada Yesus bahwa perempuan tersebut harus dilempar dengan batu. Seolah-olah mau mencari simpati Yesus, mereka malah menanyakan bagaimana pendapat Yesus tentang kasus tersebut. Yesus menyadari bahwa ini sebuah jebakan dari para pemimpin Yahudi yang sementara mencari celah untuk mempersalahkan-Nya.

 

Pada awalnya Yesus tidak mau menanggapi “permainan” mereka. Ia tetap cuek dan menulis sesuatu di tanah. Karena terus dipaksa untuk menjawab, akhirnya Yesus mengatakan: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Karena tidak mampu merespon pernyataan Yesus, mereka memilih untuk pergi satu demi satu. Satu hal luar biasa diperlihatkan Yesus kepada perempuan berdosa. Ia tidak marah, mengecam atau menghukum perempuan itu. Sebaliknya, dengan kuasa ilahi-Nya, Yesus berkata kepadanya: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8:11).

 

Ada dua informasi penting yang kita catat dari peristiwa Injil hari ini. Pertama, Yesus menyerang balik sikap atau perilaku para pemimpin agama yang merasa diri lebih suci dan benar sehingga memiliki hak untuk menghakimi orang yang telah berbuat salah. Yesus berusaha memberi kesadaran kepada mereka bahwa yang lebih berhak untuk menentukan seseorang bersalah atau berdosa adalah Allah sendiri. Bukan datang dari analisis manusiawi mereka. Yesus juga menyerang keangkuhan pribadi mereka yang merasa diri lebih benar dan suci. Yesus ingin mereka melakukan koreksi diri bahwa mereka juga sebenarnya tidak bersih di hadapan Allah. Mereka harus segera bertobat dari sikap angkuh dan suka menindas orang lain.

 

Kedua, Yesus menunjukkan sikap yang ramah dan persuasif kepada perempuan yang melakukan dosa zina. Yesus tidak marah karena ia telah berbuat dosa.  Yesus menerima perbuatan dosanya sebagai sebuah fakta yang tidak bisa dielakkan. Yang lebih penting adalah ia mau menyadari perbuatan dosanya dan segera bertobat. Oleh karena itu, Yesus menasihati agar ia jangan mengulangi lagi pebuatan dosanya.

           

Dua informasi penting di atas menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus di masa kini. Seringkali kita memiliki kecenderungan manusiawi untuk merasa diri lebih benar dan suci sehingga kita gampang memberi cap negatif bagi orang lain. Kita lebih suka menceritakan keburukan atau aib orang lain. Dan tidak ragu-ragu memvonis orang lain dengan kata-kata dan perbuatan yang melecehkan dan merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia. Satu jari telunjuk kita menunjuk sesama, namun keempat jari yang lainnya sementara menunjukk diri kita. Namun kita tidak menyadari hal itu. Bahwa sebenarnya kita sementara juga memamerkan keberdosaan kita di hadapan Tuhan. Mata manusia mungkin tidak melihatnya sebagai dosa. Tetapi tidak bagi mata Tuhan. Ia mengetahui segalanya dan terus memberi kesempatan bagi kita untuk segera menyadari diri dan kembali kepada jalan kebenaran.

           

Sikap Yesus yang persuasif kepada wanita pendosa mau memberi tanda dan pesan bahwa Yesus tetap menerima kehadiran kita sebagai seorang pendosa. Apa pun keadaan kita. Sebesar apa pun kesalahan dan dosa yang kita perbuat, Tuhan tetap menerimanya dengan tangan terbuka. Sebanyak apa pun kesalahan dan dosa yang kita lakukan, ruang keselamatan itu tetap terbuka. Tuhan tetap memberi kesempatan berulang kali, walaupun lebih banyak kita tidak menyadari. Dan walaupun menyadarinya, kita tetap tahu dan mau jatuh pada kesalahan yang sama. Kita lebih suka dan asyik dalam keberdosaan, sementara tangan Tuhan tanpa kenal lelah terus menawarkan warta keselamatan.

           

Inilah saat yang paling berahmat di masa prapaskah ini, kita mau menyadari diri sebagai seorang pendosa yang segera mau bertobat dan kembali kepada jalan-Nya. Dengan menyadari diri sebagai seorang pendosa, kita akan mampu dengan rendah hati dan totalitas diri mau berserah kepada penyelenggaraan ilahi. Kita mau menyesali segala perbuatan tercela dan bertobat darinya. Kita mau memperbaiki kualitas pribadi agar tidak menjadi pribadi yang merasa diri paling benar dan angkuh. Kita harus “menginjak rem kepongahan” agar tidak sibuk mencari-cari kesalahan dan memvonis hal tidak baik dalam diri sesama. Kita ingin lebih menghargai dan menghormati sesama lewat kata-kata dan perbuatan yang membawa banyak kebaikan dan keselamatan.

           

Marilah bersama pemazmur kita berseru kepada Tuhan: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mzm 23:1-4). Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar