Senin, 12 April 2021

KASIH ALLAH BEGITU BESAR

 

(Yoh 3:7-15)

            Kita sering tenggelam dalam pekerjaan, kesibukan dan rutinitas harian kita, akibatnya kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan dan bahkan kita nikmati semuanya adalah anugerah kasih dari Allah yang begitu besar. Ketika sama saudara/i kita mengalami musibah banjir bandang yang menelan banyak korban, semua mata tertuju pada peristiwa naas itu sekaligus sigap memberikan bantuan kemanusiaan. Namun, ada orang yang merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan bantuan apa pun kepada para korban. Dalam momentum ini, materi bukanlah satu-satunya ukuran yang bernilai, namun masih ada banyak hal yang lebih bernilai untuk dibagikan kepada sesama yang ditimpa bencana. Kumpulan para pengikut Kristus dikisahkan oleh penulis Kisah Para Rasul, hidup sehati dan sejiwa, dan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Kebersamaan yang indah seperti itu tidak terbatas pada saling berbagi barang atau uang, tetapi juga berbagi kasih karunia yang berlimpah-limpah. Mungkin melalui gambar kehidupan Gereja seperi itu, kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan Yesus dengan hal-hal surgawi ketika berbicara dengan Nikodemus. Yesus ingin agar manusia menyadari belas kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang bersamaan, belas kasih itu harus dibagikan agar semua orang merasakan kasih Kerahiman Allah yang besar.

            Kesejahteraan jasmani yang kita upayakan bersama sebagai murid-murid Kristus masih perlu dilengkapi dengan usaha memenuhi kesejahteraan rohani dalam kebersamaan iman. Dengan kata lain, kita perlu peduli pada kebutuhan rohani orang lain, yang tidak dapat dipenuhi dengan barang atau juga uang. Apakah kita merasa tidak cukup bila hanya mampu memberikan doa dan dukungan kepada sesama yang ditimpah bencana? Kalau hal itu kita berikan dengan tulus dan sepenuh hati, maka niscaya kasih karunia Tuhan akan berlimpah untuk kita..

            Injil hari ini melukiskan tentang percakapan lanjutan Yesus dan Nikodemus. Siapakah Nikodemus? Ia adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi, suatu kelompok keagamaan Yahudi yang terkenal karena ketaatan mereka menjalankan hukum Taurat. Dengan demikian pengetahuan dan kesalehan Nikodemus tidak perlu disangsikan atau diragukan. Perikop sebelumnya melukiskan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus karena tertarik pada Yesus dan menghormati Dia. Yesus berkata Nikodemus perlu dilahirkan kembali agar mendapat Kerahiman Allah dan bagian dalam Kerajaan Allah (ayat 3, 7). Ini menarik karena Yesus menjelaskan hal itu kepada Nikodemus yang memiliki latar belakang agama Yahudi yang demikian kental. Yesus kemudian menjelaskan bahwa orang baru dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dilahirkan dari air dan Roh (ayat 5). Air adalah tanda pentahiran, sedangkan Roh diberikan untuk memberikan pembaharuan. Ini menegaskan bahwa dosa telah membuat semua orang tidak layak masuk ke dalam kemuliaan Tuhan, kecuali bila dibaharui Roh. Jawaban-jawaban Nikodemus menunjukkan bahwa ia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh Yesus, walaupun ia adalah ahli Kitab Suci (ayat 4, 9-10). Ternyata orang dengan pengetahuan agama dan kesalehan yang kuat seperti Nikodemus belum tentu mengerti dan mengalami kelahiran baru. Padahal orang harus dilahirkan kembali agar menikmati dan mengalami kehidupan yang bersifat surgawi (ayat 8, 12). Bagaimana orang dapat dilahirkan kembali? Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa orang yang menerima Yesus dan percaya dalam nama-Nya akan menjadi anak-anak Allah. Jika kita percaya akan Yesus maka kita akan dilahirkan kembali dalam Roh dan karena itu kita akan menerima kasih karunia Allah yang besar untuk hidup kekal.

            Yesus dan Nikodemus sebenarnya sedang mempercakapkan betapa agungnya kerahiman Allah bagi manusia di dunia ini. Tuhan Yesus sudah menerangkan sebelumnya kepada Nikodemus tentang rencana keselamatan dari Bapa, yang akan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal dalam drama penyaliban hingga kematian-Nya. Yesus sudah tahu bahwa Ia akan menggenapi semuanya ini, tetapi demi kerahiman dan kasih sayang Bapa kepada manusia di dunia maka Ia taat kepada kehendak Bapa. Perkataan Yesus lebih lanjut kepada Nikodemus: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Apa yang mau Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus dan kita semua yang membaca serta mendengar Injil pada hari ini adalah bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan rencana keselamatan Allah Bapa bagi manusia. Oleh karena itu, Dia mengambil inisiatif pertama untuk menyelamatkan manusia dengan cara mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus sendiri. Maka tepat bila dikatakan bahwa mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal merupakan manifestasi tertinggi dari kerahiman Bapa bagi manusia. Allah menghendaki agar manusia dilahirkan kembali sebagai manusia baru yang telah mengalami pentahiran dan pembaharuan diri. Pemurnian diri oleh karena pertobatan hati kepada Tuhan memungkinkan manusia beroleh hidup kekal dan berhak mendapat kerahiman serta belas kasih Allah melalui penebusan Putera-Nya Yesus Kristus.

            Perkataan Tuhan Yesus, “Sebab begitu besar kasih Allah” atau “begitu besar kerahiman Bapa” kepada manusia merujuk pada peristiwa Inkarnasi, di mana Sabda menjadi Manusia dalam diri Yesus Kristus dan tinggal bersama kita. Implikasi nyatanya adalah pada Paskah Kristus. Dalam hal ini, kematian Yesus Kristus sebagai epifani atau penampakan kasih atau agape Allah demi keselamatan dunia. Satu kondisi yang penting supaya memiliki hidup kekal adalah percaya kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah, satu-satunya Penyelamat kita. Untuk mengalami Kasih Allah yang dahsyat dibutuhkan totalias iman yang militan agar kita mampu mengungkapkan dan membagikannya kepada sesama kita. Kasih karunia Allah tidak boleh tinggal diam dalam hati kita saja tetapi harus disalurkan dan diperjuangkan untuk semua orang karena keselamatan itu sifatnya universal bukan milik segelintir orang yang selalu mengklaim dirinya sebagai pribadi yang paling layak.

            Wujud kerahiman Allah Bapa yang begitu agung juga terlihat dalam misi Yesus. Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Untuk itu sangat dibutuhkan iman dan kepercayaan kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah. Yesus juga menghadirkan kerahiman Allah sebagai Terang bagi dunia. Dia sebagai Terang dunia, datang ke dunia untuk menerangi mereka yang hidup dalam kegelapan dosa supaya bisa memiliki pertobatan sejati. Mereka bisa merasakan kerahiman Allah yang agung dan luhur.

            Pada hari ini kita semua dikuatkan oleh Tuhan melalui Kabar Sukacita (Injil), bahwa apa pun hidup kita, dan siapakah diri kita di hadapan-Nya, Ia tetaplah maharahim. Sebab Ia tidak memperhitungkan dosa-dosa kita melainkan melihat iman dan kepercayaan kita kepada-Nya. Betapa agung dan luhur kerahiman Allah bagi kita semua. Kebingungan Nikodemus kiranya membuat kita bercermin apakah kita telah mengalami pembaharuan rohani melalui kelahiran kembali, ataukah kita masih merasa nyaman menjalani cara hidup lama kita. Mari kita mengundang Yesus masuk ke dalam hidup kita karena begitu agung dan luhur kerahiman-Nya bagi kita semua teristimewa bagi para korban bencana yang tengah mengalami cobaan, kiranya Allah selalu hadir untuk meneguhkan iman kepercayaan mereka. Semoga. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar