(Yoh 3:7-15)
Kita sering tenggelam dalam pekerjaan,
kesibukan dan rutinitas harian kita, akibatnya kita lupa bahwa segala sesuatu
yang kita dapatkan dan bahkan kita nikmati semuanya adalah anugerah kasih dari
Allah yang begitu besar. Ketika sama saudara/i kita mengalami musibah banjir
bandang yang menelan banyak korban, semua mata tertuju pada peristiwa naas itu
sekaligus sigap memberikan bantuan kemanusiaan. Namun, ada orang yang merasa
tidak enak karena tidak bisa memberikan bantuan apa pun kepada para korban.
Dalam momentum ini, materi bukanlah satu-satunya ukuran yang bernilai, namun
masih ada banyak hal yang lebih bernilai untuk dibagikan kepada sesama yang
ditimpa bencana. Kumpulan para pengikut Kristus dikisahkan oleh penulis Kisah
Para Rasul, hidup sehati dan sejiwa, dan segala sesuatu adalah kepunyaan
bersama. Kebersamaan yang indah seperti itu tidak terbatas pada saling berbagi
barang atau uang, tetapi juga berbagi kasih karunia yang berlimpah-limpah.
Mungkin melalui gambar kehidupan Gereja seperi itu, kita dapat mengerti apa
yang dimaksudkan Yesus dengan hal-hal surgawi ketika berbicara dengan
Nikodemus. Yesus ingin agar manusia menyadari belas kasih Allah bagi manusia
dan pada saat yang bersamaan, belas kasih itu harus dibagikan agar semua orang
merasakan kasih Kerahiman Allah yang besar.
Kesejahteraan jasmani yang kita upayakan
bersama sebagai murid-murid Kristus masih perlu dilengkapi dengan usaha
memenuhi kesejahteraan rohani dalam kebersamaan iman. Dengan kata lain, kita
perlu peduli pada kebutuhan rohani orang lain, yang tidak dapat dipenuhi dengan
barang atau juga uang. Apakah kita merasa tidak cukup bila hanya mampu
memberikan doa dan dukungan kepada sesama yang ditimpah bencana? Kalau hal itu
kita berikan dengan tulus dan sepenuh hati, maka niscaya kasih karunia Tuhan
akan berlimpah untuk kita..
Injil hari
ini melukiskan tentang percakapan lanjutan Yesus dan Nikodemus. Siapakah Nikodemus? Ia adalah seorang Farisi dan
pemimpin agama Yahudi, suatu kelompok keagamaan Yahudi yang terkenal karena
ketaatan mereka menjalankan hukum Taurat. Dengan demikian pengetahuan dan
kesalehan Nikodemus tidak perlu disangsikan atau diragukan. Perikop sebelumnya
melukiskan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus karena tertarik pada Yesus dan
menghormati Dia. Yesus berkata Nikodemus perlu dilahirkan kembali agar mendapat
Kerahiman Allah dan bagian dalam Kerajaan Allah (ayat 3, 7). Ini menarik karena
Yesus menjelaskan hal itu kepada Nikodemus yang memiliki latar belakang agama
Yahudi yang demikian kental. Yesus kemudian menjelaskan bahwa orang baru dapat
masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dilahirkan dari air dan Roh (ayat 5). Air
adalah tanda pentahiran, sedangkan Roh diberikan untuk memberikan pembaharuan.
Ini menegaskan bahwa dosa telah membuat semua orang tidak layak masuk ke dalam
kemuliaan Tuhan, kecuali bila dibaharui Roh. Jawaban-jawaban Nikodemus
menunjukkan bahwa ia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh
Yesus, walaupun ia adalah ahli Kitab Suci (ayat 4, 9-10). Ternyata orang dengan
pengetahuan agama dan kesalehan yang kuat seperti Nikodemus belum tentu
mengerti dan mengalami kelahiran baru. Padahal orang harus dilahirkan kembali agar
menikmati dan mengalami kehidupan yang bersifat surgawi (ayat 8, 12). Bagaimana
orang dapat dilahirkan kembali? Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa orang yang
menerima Yesus dan percaya dalam nama-Nya akan menjadi anak-anak Allah. Jika
kita percaya akan Yesus maka kita akan dilahirkan kembali dalam Roh dan karena
itu kita akan menerima kasih karunia Allah yang besar untuk hidup kekal.
Yesus dan Nikodemus sebenarnya
sedang mempercakapkan betapa agungnya kerahiman Allah bagi manusia di dunia
ini. Tuhan Yesus sudah menerangkan sebelumnya kepada Nikodemus tentang rencana
keselamatan dari Bapa, yang akan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal dalam drama
penyaliban hingga kematian-Nya. Yesus sudah tahu bahwa Ia akan menggenapi
semuanya ini, tetapi demi kerahiman dan kasih sayang Bapa kepada manusia di
dunia maka Ia taat kepada kehendak Bapa. Perkataan Yesus lebih lanjut kepada
Nikodemus: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Apa
yang mau Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus dan kita semua yang membaca serta
mendengar Injil pada hari ini adalah bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan rencana
keselamatan Allah Bapa bagi manusia. Oleh karena itu, Dia mengambil inisiatif
pertama untuk menyelamatkan manusia dengan cara mengaruniakan Anak-Nya yang
Tunggal yaitu Yesus Kristus sendiri. Maka tepat bila dikatakan bahwa mengaruniakan
Anak-Nya yang tunggal merupakan manifestasi tertinggi dari kerahiman Bapa bagi
manusia. Allah menghendaki agar manusia dilahirkan kembali sebagai manusia baru
yang telah mengalami pentahiran dan pembaharuan diri. Pemurnian diri oleh
karena pertobatan hati kepada Tuhan memungkinkan manusia beroleh hidup kekal
dan berhak mendapat kerahiman serta belas kasih Allah melalui penebusan
Putera-Nya Yesus Kristus.
Perkataan Tuhan Yesus, “Sebab begitu
besar kasih Allah” atau “begitu besar kerahiman Bapa” kepada manusia merujuk
pada peristiwa Inkarnasi, di mana Sabda menjadi Manusia dalam diri Yesus
Kristus dan tinggal bersama kita. Implikasi nyatanya adalah pada Paskah
Kristus. Dalam hal ini, kematian Yesus Kristus sebagai epifani atau penampakan
kasih atau agape Allah demi keselamatan dunia. Satu kondisi yang penting supaya
memiliki hidup kekal adalah percaya kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah,
satu-satunya Penyelamat kita. Untuk mengalami Kasih Allah yang dahsyat
dibutuhkan totalias iman yang militan agar kita mampu mengungkapkan dan
membagikannya kepada sesama kita. Kasih karunia Allah tidak boleh tinggal diam
dalam hati kita saja tetapi harus disalurkan dan diperjuangkan untuk semua
orang karena keselamatan itu sifatnya universal bukan milik segelintir orang
yang selalu mengklaim dirinya sebagai pribadi yang paling layak.
Wujud kerahiman Allah Bapa yang
begitu agung juga terlihat dalam misi Yesus. Ia datang bukan untuk menghakimi
dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Untuk itu sangat dibutuhkan iman dan
kepercayaan kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah. Yesus juga menghadirkan
kerahiman Allah sebagai Terang bagi dunia. Dia sebagai Terang dunia, datang ke
dunia untuk menerangi mereka yang hidup dalam kegelapan dosa supaya bisa
memiliki pertobatan sejati. Mereka bisa merasakan kerahiman Allah yang agung
dan luhur.
Pada hari ini kita semua dikuatkan
oleh Tuhan melalui Kabar Sukacita (Injil), bahwa apa pun hidup kita, dan
siapakah diri kita di hadapan-Nya, Ia tetaplah maharahim. Sebab Ia tidak
memperhitungkan dosa-dosa kita melainkan melihat iman dan kepercayaan kita
kepada-Nya. Betapa agung dan luhur kerahiman Allah bagi kita semua. Kebingungan Nikodemus kiranya membuat kita
bercermin apakah kita telah mengalami pembaharuan rohani melalui kelahiran
kembali, ataukah kita masih merasa nyaman menjalani cara hidup lama kita. Mari
kita mengundang Yesus masuk ke dalam hidup kita karena begitu agung dan luhur kerahiman-Nya bagi kita semua teristimewa bagi para
korban bencana yang tengah mengalami cobaan, kiranya Allah selalu hadir untuk
meneguhkan iman kepercayaan mereka. Semoga. ***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar