Selasa, 27 April 2021

KETERBUKAAN HATI MENERIMA KEHADIRAN YESUS

Yoh 10:22-30

 

            Ada satu ungkapan yang sungguh menarik: “Setiap orang yang ingin berbuat baik, harus juga siap untuk menderita.” Kerelaan berbuat baik biasanya didorong oleh rasa cinta yang ada di dalam hati manusia. Berbuat baik itu merupakan satu ekspresi dan ungkapan “sifat ilahi” yang dimiliki oleh setiap orang atau biasanya orang mengatakan, orang yang berbuat baik adalah mereka yang menyadari bahwa hidupnya merupakan anugerah dan hadiah bagi orang lain. Hal ini merupakan suatu cara hidup yang sungguh-sungguh bermakna, namun dalam praktek hidup sehari-hari, berbuat baik itu tidak mudah karena mengharuskan orang untuk mengatasi gelora egoisme dalam dirinya dan orang harus siap untuk menerima tantangan silih berganti. Harus kita akui bahwa tidak semua orang berpikir dan memandang secara positif setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain. Selalu saja ada orang merasa terusik melihat niat baik orang untuk menolong sesamanya. Karena terusik, maka orang mulai mencari-cari alasan untuk menebarkan gosip (hoax) atau tuduhan palsu dengan tujuan merusak nama baik orang. Tantangan-tantangan hidup ini adalah warna hidup yang mesti kita lalui untuk mencapai suatu nilai tertinggi yang ingin kita perjuangkan dan untuk mengimani Yesus sebagai Gembala Baik membutuhkan keterbukaan hati dan penyangkalan diri terus menerus untuk menerima kehadiran-Nya.

 

            Dalam Injil yang baru saja kita dengar tadi, digambarkan bahwa banyak orang berhimpun di seputar Yesus dan bertanya kepada-Nya, apakah engkau adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau  Mesias, katakan terus terang kepada kami”. Kesan yang kita dapat dari pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut seolah-olah mereka begitu haus menantikan datangnya Mesias di tengah-tengah hidup mereka. Jika saja mereka sedikit membuka hati untuk menerima Yesus Gembala Baik, maka mereka akan menemukan Mesias dihadapan mata mereka yaitu Yesus sendiri. Di mata Yesus, pertanyaan semacam itu justru menunjukkan ketidakpercayaan mereka, karena tanda-tanda Mesias itu sudah mereka ketahui dari ramalan para nabi. Nabi Yesaya sendiri menggambarkan tanda-tanda kehadiran Mesias sebagai berikut: “Pada waktu itu, mata orang-orang buta akan dimelekkan, telinga orang-orang tuli akan dibukakan, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai“ (Yes 35:5-6). Membandingkan gambaran ini dengan apa yang dilakukan oleh Yesus seharusnya menuntun iman orang-orang Yahudi untuk melihat kebenaran dalam diri Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan itu. Namun karena hati mereka telah tumpul dan degil maka tanda apa pun yang dibuat oleh Yesus tidak dapat mengubah kepercayaan mereka lagi. Yesus sendiri mengalami kenyataan ini saat berbicara panjang lebar tentang diriNya sebagai “Gembala yang Baik” yang ingin menuntun setiap orang menuju jalan yang benar agar mengalami keselamatan. Lagi-lagi sepertinya Yesus berhadapan dengan kayu dan batu, malah orang-orang Yahudi balik bertanya tentang identitas dan misi Yesus yang sesungguhnya. Yesus sendiri tentu merasa sakit hati dan tidak mengerti, karena Ia telah menggunakan berbagai cara sederhana untuk berbicara tentang siapa diri-Nya bahkan misi-Nya di dunia ini. Untuk membuat orang-orang Yahudi bisa menerima Dia, Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang mencintai domba-dombanya. Gembala yang baik adalah gembala yang mampu mengenali domba-dombanya satu per satu dan domba-dombanya pun mengenal suara dan kehadiran gembalanya.

 

            Yesus menolak pendapat orang Yahudi yang meminta kepastian tentang siapa diri-Nya. Bagi Yesus, permintaan itu hanya sebuah dalih untuk membenarkan posisi mereka yang berseberangan denganNya. Mereka sudah mengalami semua yang dilakukan Yesus dan sudah mendengar semua pengajaran-Nya, namun semua itu tidak mereka hiraukan. Semua penjelasan Yesus tentang diriNya sama sekali tidak membawa perubahan dalam diri mereka, karena hati mereka sudah buta yang tidak dijiwai oleh cinta yang tulus, mereka tidak relah mengubah cara pandang mereka walaupun itu sangat bertentangan dengan banyak orang. Pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus kalau dilihat sepintas maka terkesan mereka sungguh menyiapkan hati mereka menanti kedatangan sang Mesias, namun kalau ditelaa secara cermat maka pertanyaan mereka itu sekedar mencari sensasi untuk dinilai dan dilihat banyak orang sebagai orang yang sungguh beriman dan taat kepada kehendak Allah. Sikap munafik orang Yahudi ini membawa mereka pada kehancuran karena bukan kehendak Allah yang dicari tetapi popularitas dan kehormatan duniawi yang mereka kejar.

 

            Berangkat dari kemunafikan orang Yahudi dalam menanti datangnya Mesias ini sungguh mendorong kita murid-murid Yesus untuk menggarisbawahi pendirian iman kita bahwa hanya ada satu pilihan mutlak untuk mengikuti Yesus adalah selalu berbuat baik dalam hidup, ini merupakan identitas kita sebagai murid Yesus dan sekaligus misi kita yang wajib kita lakukan, meskipun kita harus menyadari bahwa ada konsekuensi akhir dari pilihan kita untuk berbuat baik seperti menuai penderitaan dan penolakan. Bagi kita murid-murid Yesus, sikap dan pendirian orang-orang Yahudi yang tertutup dan degil hatinya terhadap kehadiran Mesias di tengah-tengah mereka menginspirasi dan mendorong kita untuk bersikap terbuka terhadap kemurahan hati Allah dalam diri Yesus Kristus sang Gembala baik yang datang ke dunia membawa misi keselamatan bagi kita semua. Keterbukaan hati untuk menerima rahmat penebusan dari Tuhan menuntut pembaharuan diri dan sikap rendah hati untuk belajar dari orang lain tentang pentingnya berbuat baik dan membangun kesatuan hidup dengan sesama kita sebagai saudara. Kita jangan pernah gegabah menolak kehadiran orang lain dalam hidup kita, sebab bisa saja Allah memakai orang lain untuk mengubah diri kita, sikap dan perbuatan kita yang bertentangan dengan iman Kristiani. Sebagai murid-murid Yesus, kita dituntut untuk mengenal Yesus lebih dalam dengan cara tekun membaca, mendengarkan dan merefleksikan sabda-Nya setiap hari. Dengan cara itu roh Allah akan bekerja dalam hati kita, mengubah dan membaharui hidup kita sehingga kita layak menjadi alat-Nya yang siap diutus mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia. Aneka bencana yang melanda dunia saat ini bahkan menelan banyak korban, kita jadikan sebagai momentum untuk berefleksi dan kita pandang sebagai ujian iman bagi kita semua, mungkin Tuhan sedang mencobai kita karena kita kurang beriman kepada-Nya bahkan mungkin kita terlalu bangga dengan kemampuan diri kita. Mari kita membiarkan diri kita disapa, diubah dan dibentuk oleh Allah agar kita menjadi domba-domba yang setia mengikuti sang Gembala Baik yaitu Yesus yang datang ke dunia mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang.

 

            Jalan keselamatan yang ditawarkan Yesus sungguh menuntut pembaharuan diri. Bagi banyak orang, pembaharuan diri itu terasa sangat berat karena dijalankan secara terpaksa. Kalau kita menjalaninya dengan penuh kasih, pembaharuan diri itu justru membawa kita kepada suatu penghiburan. Kita akan gembira karena melihat terang dan menemukan suatu kepastian hidup abadi. Inilah yang perlu kita tanamkan dalam penghayatan iman kita. Semoga mata iman kita terus terbuka untuk menerima kehadiran Yesus Sang Terang yang membawa kepastian keselamatan bagi kita semua. Semoga. ***Bernard Wadan***

Kamis, 22 April 2021

YESUS: SEBUAH HIDANGAN YANG MENYELAMATKAN

 

Yoh 6: 35-40

Rumah sakit, penjara, dan kuburan. Ada seorang kaya memandang keluar jendela dan melihat seorang laki-laki mengambil sesuatu dari tong sampah. Ia berkata: “Syukurlah saya tidak miskin”. Orang miskin memandang sekeliling dan melihat seorang pengemis compang camping di jalan. Ia berkata: “Syukurlah walaupun miskin, saya tidak menjadi pengemis”. Si pengemis memandang ke depan dan melihat ambulans yang membawa orang sakit. Ia berkata: “Syukurlah saya tidak sakit”.  Orang sakit di rumah sakit melihat troli membawa jenazah pasien. Ia berkata: “Syukurlah saya masih hidup”. Ternyata hanya orang yang sudah mati yang tidak dapat berkata: “Syukurlah”.

 

Mengapa kita sering lupa untuk bersyukur karena hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup. Sesekali berkunjunglah ke tiga tempat, yaitu rumah sakit, penjara, dan kuburan. Di rumah sakit, kita akan memahami bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kesehatan. Di penjara, kita akan menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang paling berharga. Di kuburan, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak akan berarti apa-apa. Karena tanah yang kita pijak hari ini akan menjadi atap kita di esok hari. Selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan, perbanyaklah perbuat baik pada orang lain. Hendaklah kita selalu bersyukur terlepas dari apapun keadaan kita.

 

Hari ini (Rabu/21/4/2021), Yesus mendeklarasikan diri-Nya di hadapan publik bahwa Ia adalah roti hidup. Yang unik dari roti hidup itu adalah setiap orang yang memakan-Nya tidak akan merasa lapar lagi. Dengan berbicara tentang konsep roti hidup sebenarnya secara tidak langsung Yesus sedang mengkontraskan dua jenis makanan yang diperuntukkan secara khusus bagi umat Israel. Dua jenis makanan itu adalah manna dan roti hidup. Manna adalah makanan yang diturunkan oleh Allah kepada umat Israel yang sementara mengembara di padang gurun menuju tanah terjanji. Manna itu berbeda dengan roti hidup. Karena setiap orang yang memakan manna akan tetap merasa lapar lagi. Sementara roti hidup tidak demikian. Yesus mencoba membuka kesadaran umat Israel bahwa roti hidup yang akan mereka makan berbeda dengan manna di padang gurun. Roti hidup akan memberi mereka kepuasaan kekal. Mereka tidak akan merasa lapar lagi untuk selama-lamanya.

 

Simbolisasi dari Yesus sebagai roti hidup mau mengungkapkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang telah diutus oleh Bapa-Nya di sorga untuk datang menyelamatkan umat manusia yang ada di muka bumi. “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 6:38). Oleh karena itu, barangsiapa yang melihat Yesus, sebenarnya telah melihat Allah. Barangsiapa yang merasakan cinta dan perhatian dari Yesus, sebenarnya merasakan cinta dan perhatian dari Allah sendiri. Yesus tidak datang dan bekerja atas nama-Nya sendiri. Setiap perkataan dan aksi-Nya yang fenomenal membuktikan otoritas atau kuasa Allah yang sementara memberi tawaran keselamatan kepada manusia.

 

Sungguhpun demikian, masih tetap saja ada orang tidak pecaya bahwa Yesus adalah roti hidup yang telah turun dari sorga. Dengan tahu dan mau, mereka menunjukkan sikap keras hati dan tidak percaya. Mereka menolak dan tidak meyakini bahwa Yesus adalah roti hidup. Mereka menganggap sebagai sebuah lelucon semata ketika mendengar pernyataan Yesus sebagai roti hidup. Hal ini terjadi karena hati mereka telah tertutup oleh tawaran keselamatan yang diberikan oleh Allah. Mereka tidak mampu melihat siapa Yesus sebenarnya karena mata batin mereka telah tumpul. Mata batin mereka telah dikalahkan oleh rasa ego dan pongah.

 

Yesus merasa bersyukur karena di tengah-tengah kelompok orang yang antipati dan tidak percaya kepada-Nya, masih ada sebagian orang yang dengan segala kerendahan hati, mau percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam pengajaran ilahi-Nya. Kepada kelompok orang yang percaya ini Yesus berkata: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh 6:40). Statement Yesus ini jelas bahwa hanya kepada mereka yang percaya dan melakukan segala kehendak-Nya yang mendapatkan keselamatan kekal. Semangat percaya dan melakukan kehendak Allah adalah sebuah keniscayaan untuk menyantap Yesus sebagai roti hidup.

 

Stefanus, seorang martir yang gagah perkasa, telah menunjukkan kepercayaan kepada Yesus sebagai roti kehidupan yang membawa keselamatan kekal. Berhadapan dengan otoritas Yerusalem yang menghambat segala upaya dan karya kerasulan para murid, Stafanus tidak gentar sedikit pun. Tidak ada sikap tawar menawar atau kompromi untuk mencari muka atau lari menyelamatkan diri. Bagi Stefanus, mengikuti Yesus adalah sebuah harga mati, yang tidak bisa ditawar. Bahkan dengan nyawa sekalipun, Stefanus rela mempertaruhkannya sebagai bukti bakti kepada roti kehidupan yang telah ia santap. Kematian Stefanus sebagai martir pertama dalam gereja Kristus, telah mendorong sekian banyak murid Yesus pada masa itu untuk tidak takut. Roti kehidupan itu telah dihidangkan dan setiap murid yang percaya harus memakannya sampai habis. Tidak peduli seberat apa pun tantangan-Nya, pilihan kepada Yesus sebagai roti kehidupan adalah sebuah pilihan yang sungguh menyelamatkan hidup iman mereka.

 

Sebagai murid Yesus di masa kini, kita sebenarnya harus menunjukkan rasa syukur oleh karena hidangan Yesus sebagai sebuah roti kehidupan tetap menjadi sebuah pilihan yang akan menyelamatkan hidup. Berkat sakramen baptis, kita semua telah disahkan untuk menjadi anggota gereja. Gereja adalah tanda nyata kehadiran Allah dan Yesus di tengah dunia. Sebagai anggota gereja, kita memiliki panggilan istimewa untuk menyantap Yesus sebagai roti kehidupan. Namun, acapkali (entah sadar atau tidak) kita menolak panggilan itu dengan membangun sikap kompromistis dalam diri. Kita lebih senang memiliki kehendak dan kemauan untuk bersekutu dengan kuasa kegelapan. Karena kuasa kegelapan lebih memberikan kenikmatan dari sisi materi, jabatan, dan status sosial. Kita tidak suka bertahan dalam pelbagai kesulitan, penderitaan, dan dukacita manakala hidup sebagai seorang saksi Kristus yang benar dan militan.

 

Sebagaimana manna yang hanya mengenyangkan tetapi tidak menyelamatkan, demikian pula pola hidup kita yang tidak berkiblat pada roti kehidupan, pasti tidak akan menyelamatkan. Segala kenikmatan yang ditawarkan dunia tidak bersifat kekal. Akan tiba pada saatnya, semuanya akan diambil dari hadapan kita. Dan kita akan menjadi orang-orang buangan di tempat yang mana hanya terdapat ratapan dan kertak gigi.

 

Yang kekal dan menyelamatkan itu hanya pada roti kehidupan. Dan Yesus sudah menegaskan Diri-Nya sebagai roti hidup yang membawa hidup kekal dan keselamatan. Kita tidak perlu ragu untuk memilih Diri-Nya sebagai sebuah hidangan yang menyelamatkan. Di lain pihak, kita harus menghindari sikap kompromi yang hanya menggiring kita kepada jalan kesesatan. Mari dengan penuh syukur kita menyantap Yesus sebagai roti hidup dengan membawa banyak nilai positif dan kebaikan, bagi pribadi dan orang lain dimana dan kapan saja kita berada. Terutama di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan dalam tugas dan panggilan di tempat kerja kita masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 12 April 2021

KASIH ALLAH BEGITU BESAR

 

(Yoh 3:7-15)

            Kita sering tenggelam dalam pekerjaan, kesibukan dan rutinitas harian kita, akibatnya kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan dan bahkan kita nikmati semuanya adalah anugerah kasih dari Allah yang begitu besar. Ketika sama saudara/i kita mengalami musibah banjir bandang yang menelan banyak korban, semua mata tertuju pada peristiwa naas itu sekaligus sigap memberikan bantuan kemanusiaan. Namun, ada orang yang merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan bantuan apa pun kepada para korban. Dalam momentum ini, materi bukanlah satu-satunya ukuran yang bernilai, namun masih ada banyak hal yang lebih bernilai untuk dibagikan kepada sesama yang ditimpa bencana. Kumpulan para pengikut Kristus dikisahkan oleh penulis Kisah Para Rasul, hidup sehati dan sejiwa, dan segala sesuatu adalah kepunyaan bersama. Kebersamaan yang indah seperti itu tidak terbatas pada saling berbagi barang atau uang, tetapi juga berbagi kasih karunia yang berlimpah-limpah. Mungkin melalui gambar kehidupan Gereja seperi itu, kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan Yesus dengan hal-hal surgawi ketika berbicara dengan Nikodemus. Yesus ingin agar manusia menyadari belas kasih Allah bagi manusia dan pada saat yang bersamaan, belas kasih itu harus dibagikan agar semua orang merasakan kasih Kerahiman Allah yang besar.

            Kesejahteraan jasmani yang kita upayakan bersama sebagai murid-murid Kristus masih perlu dilengkapi dengan usaha memenuhi kesejahteraan rohani dalam kebersamaan iman. Dengan kata lain, kita perlu peduli pada kebutuhan rohani orang lain, yang tidak dapat dipenuhi dengan barang atau juga uang. Apakah kita merasa tidak cukup bila hanya mampu memberikan doa dan dukungan kepada sesama yang ditimpah bencana? Kalau hal itu kita berikan dengan tulus dan sepenuh hati, maka niscaya kasih karunia Tuhan akan berlimpah untuk kita..

            Injil hari ini melukiskan tentang percakapan lanjutan Yesus dan Nikodemus. Siapakah Nikodemus? Ia adalah seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi, suatu kelompok keagamaan Yahudi yang terkenal karena ketaatan mereka menjalankan hukum Taurat. Dengan demikian pengetahuan dan kesalehan Nikodemus tidak perlu disangsikan atau diragukan. Perikop sebelumnya melukiskan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus karena tertarik pada Yesus dan menghormati Dia. Yesus berkata Nikodemus perlu dilahirkan kembali agar mendapat Kerahiman Allah dan bagian dalam Kerajaan Allah (ayat 3, 7). Ini menarik karena Yesus menjelaskan hal itu kepada Nikodemus yang memiliki latar belakang agama Yahudi yang demikian kental. Yesus kemudian menjelaskan bahwa orang baru dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah kalau dilahirkan dari air dan Roh (ayat 5). Air adalah tanda pentahiran, sedangkan Roh diberikan untuk memberikan pembaharuan. Ini menegaskan bahwa dosa telah membuat semua orang tidak layak masuk ke dalam kemuliaan Tuhan, kecuali bila dibaharui Roh. Jawaban-jawaban Nikodemus menunjukkan bahwa ia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan oleh Yesus, walaupun ia adalah ahli Kitab Suci (ayat 4, 9-10). Ternyata orang dengan pengetahuan agama dan kesalehan yang kuat seperti Nikodemus belum tentu mengerti dan mengalami kelahiran baru. Padahal orang harus dilahirkan kembali agar menikmati dan mengalami kehidupan yang bersifat surgawi (ayat 8, 12). Bagaimana orang dapat dilahirkan kembali? Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa orang yang menerima Yesus dan percaya dalam nama-Nya akan menjadi anak-anak Allah. Jika kita percaya akan Yesus maka kita akan dilahirkan kembali dalam Roh dan karena itu kita akan menerima kasih karunia Allah yang besar untuk hidup kekal.

            Yesus dan Nikodemus sebenarnya sedang mempercakapkan betapa agungnya kerahiman Allah bagi manusia di dunia ini. Tuhan Yesus sudah menerangkan sebelumnya kepada Nikodemus tentang rencana keselamatan dari Bapa, yang akan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal dalam drama penyaliban hingga kematian-Nya. Yesus sudah tahu bahwa Ia akan menggenapi semuanya ini, tetapi demi kerahiman dan kasih sayang Bapa kepada manusia di dunia maka Ia taat kepada kehendak Bapa. Perkataan Yesus lebih lanjut kepada Nikodemus: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Apa yang mau Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus dan kita semua yang membaca serta mendengar Injil pada hari ini adalah bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan rencana keselamatan Allah Bapa bagi manusia. Oleh karena itu, Dia mengambil inisiatif pertama untuk menyelamatkan manusia dengan cara mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal yaitu Yesus Kristus sendiri. Maka tepat bila dikatakan bahwa mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal merupakan manifestasi tertinggi dari kerahiman Bapa bagi manusia. Allah menghendaki agar manusia dilahirkan kembali sebagai manusia baru yang telah mengalami pentahiran dan pembaharuan diri. Pemurnian diri oleh karena pertobatan hati kepada Tuhan memungkinkan manusia beroleh hidup kekal dan berhak mendapat kerahiman serta belas kasih Allah melalui penebusan Putera-Nya Yesus Kristus.

            Perkataan Tuhan Yesus, “Sebab begitu besar kasih Allah” atau “begitu besar kerahiman Bapa” kepada manusia merujuk pada peristiwa Inkarnasi, di mana Sabda menjadi Manusia dalam diri Yesus Kristus dan tinggal bersama kita. Implikasi nyatanya adalah pada Paskah Kristus. Dalam hal ini, kematian Yesus Kristus sebagai epifani atau penampakan kasih atau agape Allah demi keselamatan dunia. Satu kondisi yang penting supaya memiliki hidup kekal adalah percaya kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah, satu-satunya Penyelamat kita. Untuk mengalami Kasih Allah yang dahsyat dibutuhkan totalias iman yang militan agar kita mampu mengungkapkan dan membagikannya kepada sesama kita. Kasih karunia Allah tidak boleh tinggal diam dalam hati kita saja tetapi harus disalurkan dan diperjuangkan untuk semua orang karena keselamatan itu sifatnya universal bukan milik segelintir orang yang selalu mengklaim dirinya sebagai pribadi yang paling layak.

            Wujud kerahiman Allah Bapa yang begitu agung juga terlihat dalam misi Yesus. Ia datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Untuk itu sangat dibutuhkan iman dan kepercayaan kepada Yesus sebagai Anak Tunggal Allah. Yesus juga menghadirkan kerahiman Allah sebagai Terang bagi dunia. Dia sebagai Terang dunia, datang ke dunia untuk menerangi mereka yang hidup dalam kegelapan dosa supaya bisa memiliki pertobatan sejati. Mereka bisa merasakan kerahiman Allah yang agung dan luhur.

            Pada hari ini kita semua dikuatkan oleh Tuhan melalui Kabar Sukacita (Injil), bahwa apa pun hidup kita, dan siapakah diri kita di hadapan-Nya, Ia tetaplah maharahim. Sebab Ia tidak memperhitungkan dosa-dosa kita melainkan melihat iman dan kepercayaan kita kepada-Nya. Betapa agung dan luhur kerahiman Allah bagi kita semua. Kebingungan Nikodemus kiranya membuat kita bercermin apakah kita telah mengalami pembaharuan rohani melalui kelahiran kembali, ataukah kita masih merasa nyaman menjalani cara hidup lama kita. Mari kita mengundang Yesus masuk ke dalam hidup kita karena begitu agung dan luhur kerahiman-Nya bagi kita semua teristimewa bagi para korban bencana yang tengah mengalami cobaan, kiranya Allah selalu hadir untuk meneguhkan iman kepercayaan mereka. Semoga. ***Bernard Wadan***