Yoh
10:22-30
Ada
satu ungkapan yang sungguh menarik: “Setiap orang yang ingin berbuat baik,
harus juga siap untuk menderita.” Kerelaan berbuat baik biasanya didorong oleh
rasa cinta yang ada di dalam hati manusia. Berbuat baik itu merupakan satu
ekspresi dan ungkapan “sifat ilahi” yang dimiliki oleh setiap orang atau
biasanya orang mengatakan, orang yang berbuat baik adalah mereka yang menyadari
bahwa hidupnya merupakan anugerah dan hadiah bagi orang lain. Hal ini merupakan
suatu cara hidup yang sungguh-sungguh bermakna, namun dalam praktek hidup
sehari-hari, berbuat baik itu tidak mudah karena mengharuskan orang untuk
mengatasi gelora egoisme dalam dirinya dan orang harus siap untuk menerima
tantangan silih berganti. Harus kita akui bahwa tidak semua orang berpikir dan
memandang secara positif setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain.
Selalu saja ada orang merasa terusik melihat niat baik orang untuk menolong
sesamanya. Karena terusik, maka orang mulai mencari-cari alasan untuk
menebarkan gosip (hoax) atau tuduhan
palsu dengan tujuan merusak nama baik orang. Tantangan-tantangan hidup ini
adalah warna hidup yang mesti kita lalui untuk mencapai suatu nilai tertinggi
yang ingin kita perjuangkan dan untuk mengimani Yesus sebagai Gembala Baik
membutuhkan keterbukaan hati dan penyangkalan diri terus menerus untuk menerima
kehadiran-Nya.
Dalam
Injil yang baru saja kita dengar tadi, digambarkan bahwa banyak orang berhimpun
di seputar Yesus dan bertanya kepada-Nya, apakah engkau adalah Mesias yang
dinanti-nantikan oleh banyak orang. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami
hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau
Mesias, katakan terus terang kepada kami”. Kesan yang kita dapat dari
pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut seolah-olah mereka begitu
haus menantikan datangnya Mesias di tengah-tengah hidup mereka. Jika saja
mereka sedikit membuka hati untuk menerima Yesus Gembala Baik, maka mereka akan
menemukan Mesias dihadapan mata mereka yaitu Yesus sendiri. Di mata Yesus,
pertanyaan semacam itu justru menunjukkan ketidakpercayaan mereka, karena
tanda-tanda Mesias itu sudah mereka ketahui dari ramalan para nabi. Nabi Yesaya
sendiri menggambarkan tanda-tanda kehadiran Mesias sebagai berikut: “Pada waktu
itu, mata orang-orang buta akan dimelekkan, telinga orang-orang tuli akan
dibukakan, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan
bersorak-sorai“ (Yes 35:5-6). Membandingkan gambaran ini dengan apa yang
dilakukan oleh Yesus seharusnya menuntun iman orang-orang Yahudi untuk melihat
kebenaran dalam diri Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan itu. Namun
karena hati mereka telah tumpul dan degil maka tanda apa pun yang dibuat oleh
Yesus tidak dapat mengubah kepercayaan mereka lagi. Yesus sendiri mengalami
kenyataan ini saat berbicara panjang lebar tentang diriNya sebagai “Gembala
yang Baik” yang ingin menuntun setiap orang menuju jalan yang benar agar
mengalami keselamatan. Lagi-lagi sepertinya Yesus berhadapan dengan kayu dan
batu, malah orang-orang Yahudi balik bertanya tentang identitas dan misi Yesus
yang sesungguhnya. Yesus sendiri tentu merasa sakit hati dan tidak mengerti,
karena Ia telah menggunakan berbagai cara sederhana untuk berbicara tentang
siapa diri-Nya bahkan misi-Nya di dunia ini. Untuk membuat orang-orang Yahudi
bisa menerima Dia, Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang mencintai
domba-dombanya. Gembala yang baik adalah gembala yang mampu mengenali
domba-dombanya satu per satu dan domba-dombanya pun mengenal suara dan
kehadiran gembalanya.
Yesus
menolak pendapat orang Yahudi yang meminta kepastian tentang siapa diri-Nya.
Bagi Yesus, permintaan itu hanya sebuah dalih untuk membenarkan posisi mereka
yang berseberangan denganNya. Mereka sudah mengalami semua yang dilakukan Yesus
dan sudah mendengar semua pengajaran-Nya, namun semua itu tidak mereka
hiraukan. Semua penjelasan Yesus tentang diriNya sama sekali tidak membawa
perubahan dalam diri mereka, karena hati mereka sudah buta yang tidak dijiwai
oleh cinta yang tulus, mereka tidak relah mengubah cara pandang mereka walaupun
itu sangat bertentangan dengan banyak orang. Pertanyaan orang-orang Yahudi
kepada Yesus kalau dilihat sepintas maka terkesan mereka sungguh menyiapkan
hati mereka menanti kedatangan sang Mesias, namun kalau ditelaa secara cermat
maka pertanyaan mereka itu sekedar mencari sensasi untuk dinilai dan dilihat
banyak orang sebagai orang yang sungguh beriman dan taat kepada kehendak Allah.
Sikap munafik orang Yahudi ini membawa mereka pada kehancuran karena bukan
kehendak Allah yang dicari tetapi popularitas dan kehormatan duniawi yang
mereka kejar.
Berangkat
dari kemunafikan orang Yahudi dalam menanti datangnya Mesias ini sungguh
mendorong kita murid-murid Yesus untuk menggarisbawahi pendirian iman kita
bahwa hanya ada satu pilihan mutlak untuk mengikuti Yesus adalah selalu berbuat
baik dalam hidup, ini merupakan identitas kita sebagai murid Yesus dan
sekaligus misi kita yang wajib kita lakukan, meskipun kita harus menyadari
bahwa ada konsekuensi akhir dari pilihan kita untuk berbuat baik seperti menuai
penderitaan dan penolakan. Bagi kita murid-murid Yesus, sikap dan pendirian orang-orang
Yahudi yang tertutup dan degil hatinya terhadap kehadiran Mesias di
tengah-tengah mereka menginspirasi dan mendorong kita untuk bersikap terbuka
terhadap kemurahan hati Allah dalam diri Yesus Kristus sang Gembala baik yang
datang ke dunia membawa misi keselamatan bagi kita semua. Keterbukaan hati
untuk menerima rahmat penebusan dari Tuhan menuntut pembaharuan diri dan sikap
rendah hati untuk belajar dari orang lain tentang pentingnya berbuat baik dan
membangun kesatuan hidup dengan sesama kita sebagai saudara. Kita jangan pernah
gegabah menolak kehadiran orang lain dalam hidup kita, sebab bisa saja Allah
memakai orang lain untuk mengubah diri kita, sikap dan perbuatan kita yang
bertentangan dengan iman Kristiani. Sebagai murid-murid Yesus, kita dituntut
untuk mengenal Yesus lebih dalam dengan cara tekun membaca, mendengarkan dan
merefleksikan sabda-Nya setiap hari. Dengan cara itu roh Allah akan bekerja
dalam hati kita, mengubah dan membaharui hidup kita sehingga kita layak menjadi
alat-Nya yang siap diutus mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia. Aneka
bencana yang melanda dunia saat ini bahkan menelan banyak korban, kita jadikan
sebagai momentum untuk berefleksi dan kita pandang sebagai ujian iman bagi kita
semua, mungkin Tuhan sedang mencobai kita karena kita kurang beriman kepada-Nya
bahkan mungkin kita terlalu bangga dengan kemampuan diri kita. Mari kita
membiarkan diri kita disapa, diubah dan dibentuk oleh Allah agar kita menjadi
domba-domba yang setia mengikuti sang Gembala Baik yaitu Yesus yang datang ke
dunia mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang.
Jalan
keselamatan yang ditawarkan Yesus sungguh menuntut pembaharuan diri. Bagi
banyak orang, pembaharuan diri itu terasa sangat berat karena dijalankan secara
terpaksa. Kalau kita menjalaninya dengan penuh kasih, pembaharuan diri itu
justru membawa kita kepada suatu penghiburan. Kita akan gembira karena melihat
terang dan menemukan suatu kepastian hidup abadi. Inilah yang perlu kita
tanamkan dalam penghayatan iman kita. Semoga mata iman kita terus terbuka untuk
menerima kehadiran Yesus Sang Terang yang membawa kepastian keselamatan bagi
kita semua. Semoga. ***Bernard Wadan***