Selasa, 27 April 2021

KETERBUKAAN HATI MENERIMA KEHADIRAN YESUS

Yoh 10:22-30

 

            Ada satu ungkapan yang sungguh menarik: “Setiap orang yang ingin berbuat baik, harus juga siap untuk menderita.” Kerelaan berbuat baik biasanya didorong oleh rasa cinta yang ada di dalam hati manusia. Berbuat baik itu merupakan satu ekspresi dan ungkapan “sifat ilahi” yang dimiliki oleh setiap orang atau biasanya orang mengatakan, orang yang berbuat baik adalah mereka yang menyadari bahwa hidupnya merupakan anugerah dan hadiah bagi orang lain. Hal ini merupakan suatu cara hidup yang sungguh-sungguh bermakna, namun dalam praktek hidup sehari-hari, berbuat baik itu tidak mudah karena mengharuskan orang untuk mengatasi gelora egoisme dalam dirinya dan orang harus siap untuk menerima tantangan silih berganti. Harus kita akui bahwa tidak semua orang berpikir dan memandang secara positif setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain. Selalu saja ada orang merasa terusik melihat niat baik orang untuk menolong sesamanya. Karena terusik, maka orang mulai mencari-cari alasan untuk menebarkan gosip (hoax) atau tuduhan palsu dengan tujuan merusak nama baik orang. Tantangan-tantangan hidup ini adalah warna hidup yang mesti kita lalui untuk mencapai suatu nilai tertinggi yang ingin kita perjuangkan dan untuk mengimani Yesus sebagai Gembala Baik membutuhkan keterbukaan hati dan penyangkalan diri terus menerus untuk menerima kehadiran-Nya.

 

            Dalam Injil yang baru saja kita dengar tadi, digambarkan bahwa banyak orang berhimpun di seputar Yesus dan bertanya kepada-Nya, apakah engkau adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau  Mesias, katakan terus terang kepada kami”. Kesan yang kita dapat dari pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus tersebut seolah-olah mereka begitu haus menantikan datangnya Mesias di tengah-tengah hidup mereka. Jika saja mereka sedikit membuka hati untuk menerima Yesus Gembala Baik, maka mereka akan menemukan Mesias dihadapan mata mereka yaitu Yesus sendiri. Di mata Yesus, pertanyaan semacam itu justru menunjukkan ketidakpercayaan mereka, karena tanda-tanda Mesias itu sudah mereka ketahui dari ramalan para nabi. Nabi Yesaya sendiri menggambarkan tanda-tanda kehadiran Mesias sebagai berikut: “Pada waktu itu, mata orang-orang buta akan dimelekkan, telinga orang-orang tuli akan dibukakan, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai“ (Yes 35:5-6). Membandingkan gambaran ini dengan apa yang dilakukan oleh Yesus seharusnya menuntun iman orang-orang Yahudi untuk melihat kebenaran dalam diri Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan itu. Namun karena hati mereka telah tumpul dan degil maka tanda apa pun yang dibuat oleh Yesus tidak dapat mengubah kepercayaan mereka lagi. Yesus sendiri mengalami kenyataan ini saat berbicara panjang lebar tentang diriNya sebagai “Gembala yang Baik” yang ingin menuntun setiap orang menuju jalan yang benar agar mengalami keselamatan. Lagi-lagi sepertinya Yesus berhadapan dengan kayu dan batu, malah orang-orang Yahudi balik bertanya tentang identitas dan misi Yesus yang sesungguhnya. Yesus sendiri tentu merasa sakit hati dan tidak mengerti, karena Ia telah menggunakan berbagai cara sederhana untuk berbicara tentang siapa diri-Nya bahkan misi-Nya di dunia ini. Untuk membuat orang-orang Yahudi bisa menerima Dia, Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang mencintai domba-dombanya. Gembala yang baik adalah gembala yang mampu mengenali domba-dombanya satu per satu dan domba-dombanya pun mengenal suara dan kehadiran gembalanya.

 

            Yesus menolak pendapat orang Yahudi yang meminta kepastian tentang siapa diri-Nya. Bagi Yesus, permintaan itu hanya sebuah dalih untuk membenarkan posisi mereka yang berseberangan denganNya. Mereka sudah mengalami semua yang dilakukan Yesus dan sudah mendengar semua pengajaran-Nya, namun semua itu tidak mereka hiraukan. Semua penjelasan Yesus tentang diriNya sama sekali tidak membawa perubahan dalam diri mereka, karena hati mereka sudah buta yang tidak dijiwai oleh cinta yang tulus, mereka tidak relah mengubah cara pandang mereka walaupun itu sangat bertentangan dengan banyak orang. Pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Yesus kalau dilihat sepintas maka terkesan mereka sungguh menyiapkan hati mereka menanti kedatangan sang Mesias, namun kalau ditelaa secara cermat maka pertanyaan mereka itu sekedar mencari sensasi untuk dinilai dan dilihat banyak orang sebagai orang yang sungguh beriman dan taat kepada kehendak Allah. Sikap munafik orang Yahudi ini membawa mereka pada kehancuran karena bukan kehendak Allah yang dicari tetapi popularitas dan kehormatan duniawi yang mereka kejar.

 

            Berangkat dari kemunafikan orang Yahudi dalam menanti datangnya Mesias ini sungguh mendorong kita murid-murid Yesus untuk menggarisbawahi pendirian iman kita bahwa hanya ada satu pilihan mutlak untuk mengikuti Yesus adalah selalu berbuat baik dalam hidup, ini merupakan identitas kita sebagai murid Yesus dan sekaligus misi kita yang wajib kita lakukan, meskipun kita harus menyadari bahwa ada konsekuensi akhir dari pilihan kita untuk berbuat baik seperti menuai penderitaan dan penolakan. Bagi kita murid-murid Yesus, sikap dan pendirian orang-orang Yahudi yang tertutup dan degil hatinya terhadap kehadiran Mesias di tengah-tengah mereka menginspirasi dan mendorong kita untuk bersikap terbuka terhadap kemurahan hati Allah dalam diri Yesus Kristus sang Gembala baik yang datang ke dunia membawa misi keselamatan bagi kita semua. Keterbukaan hati untuk menerima rahmat penebusan dari Tuhan menuntut pembaharuan diri dan sikap rendah hati untuk belajar dari orang lain tentang pentingnya berbuat baik dan membangun kesatuan hidup dengan sesama kita sebagai saudara. Kita jangan pernah gegabah menolak kehadiran orang lain dalam hidup kita, sebab bisa saja Allah memakai orang lain untuk mengubah diri kita, sikap dan perbuatan kita yang bertentangan dengan iman Kristiani. Sebagai murid-murid Yesus, kita dituntut untuk mengenal Yesus lebih dalam dengan cara tekun membaca, mendengarkan dan merefleksikan sabda-Nya setiap hari. Dengan cara itu roh Allah akan bekerja dalam hati kita, mengubah dan membaharui hidup kita sehingga kita layak menjadi alat-Nya yang siap diutus mewartakan Kerajaan Allah di tengah dunia. Aneka bencana yang melanda dunia saat ini bahkan menelan banyak korban, kita jadikan sebagai momentum untuk berefleksi dan kita pandang sebagai ujian iman bagi kita semua, mungkin Tuhan sedang mencobai kita karena kita kurang beriman kepada-Nya bahkan mungkin kita terlalu bangga dengan kemampuan diri kita. Mari kita membiarkan diri kita disapa, diubah dan dibentuk oleh Allah agar kita menjadi domba-domba yang setia mengikuti sang Gembala Baik yaitu Yesus yang datang ke dunia mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang.

 

            Jalan keselamatan yang ditawarkan Yesus sungguh menuntut pembaharuan diri. Bagi banyak orang, pembaharuan diri itu terasa sangat berat karena dijalankan secara terpaksa. Kalau kita menjalaninya dengan penuh kasih, pembaharuan diri itu justru membawa kita kepada suatu penghiburan. Kita akan gembira karena melihat terang dan menemukan suatu kepastian hidup abadi. Inilah yang perlu kita tanamkan dalam penghayatan iman kita. Semoga mata iman kita terus terbuka untuk menerima kehadiran Yesus Sang Terang yang membawa kepastian keselamatan bagi kita semua. Semoga. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar