Yoh 6: 35-40
Rumah sakit, penjara, dan kuburan. Ada seorang kaya memandang keluar
jendela dan melihat seorang laki-laki mengambil sesuatu dari tong sampah. Ia
berkata: “Syukurlah saya tidak miskin”. Orang miskin memandang sekeliling dan
melihat seorang pengemis compang camping di jalan. Ia berkata: “Syukurlah
walaupun miskin, saya tidak menjadi pengemis”. Si pengemis memandang ke depan
dan melihat ambulans yang membawa orang sakit. Ia berkata: “Syukurlah saya
tidak sakit”. Orang sakit di rumah sakit
melihat troli membawa jenazah pasien. Ia berkata: “Syukurlah saya masih hidup”.
Ternyata hanya orang yang sudah mati yang tidak dapat berkata: “Syukurlah”.
Mengapa kita sering lupa untuk bersyukur karena hari ini Tuhan masih
memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup. Sesekali berkunjunglah ke tiga
tempat, yaitu rumah sakit, penjara, dan kuburan. Di rumah sakit, kita akan
memahami bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kesehatan. Di penjara,
kita akan menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang paling berharga. Di kuburan,
kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak akan berarti apa-apa. Karena tanah
yang kita pijak hari ini akan menjadi atap kita di esok hari. Selagi kita masih
diberi waktu dan kesempatan, perbanyaklah perbuat baik pada orang lain.
Hendaklah kita selalu bersyukur terlepas dari apapun keadaan kita.
Hari ini (Rabu/21/4/2021), Yesus mendeklarasikan diri-Nya di hadapan publik bahwa
Ia adalah roti hidup. Yang unik dari roti hidup itu adalah setiap orang yang
memakan-Nya tidak akan merasa lapar lagi. Dengan berbicara tentang konsep roti
hidup sebenarnya secara tidak langsung Yesus sedang mengkontraskan dua jenis
makanan yang diperuntukkan secara khusus bagi umat Israel. Dua jenis makanan
itu adalah manna dan roti hidup. Manna adalah makanan yang diturunkan oleh
Allah kepada umat Israel yang sementara mengembara di padang gurun menuju tanah
terjanji. Manna itu berbeda dengan roti hidup. Karena setiap orang yang memakan
manna akan tetap merasa lapar lagi. Sementara roti hidup tidak demikian. Yesus
mencoba membuka kesadaran umat Israel bahwa roti hidup yang akan mereka makan
berbeda dengan manna di padang gurun. Roti hidup akan memberi mereka kepuasaan
kekal. Mereka tidak akan merasa lapar lagi untuk selama-lamanya.
Simbolisasi dari Yesus sebagai roti hidup mau mengungkapkan bahwa Yesus
adalah Anak Allah yang telah diutus oleh Bapa-Nya di sorga untuk datang
menyelamatkan umat manusia yang ada di muka bumi. “Sebab Aku telah turun dari
sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang
telah mengutus Aku” (Yoh 6:38). Oleh karena itu, barangsiapa yang melihat
Yesus, sebenarnya telah melihat Allah. Barangsiapa yang merasakan cinta dan
perhatian dari Yesus, sebenarnya merasakan cinta dan perhatian dari Allah
sendiri. Yesus tidak datang dan bekerja atas nama-Nya sendiri. Setiap perkataan
dan aksi-Nya yang fenomenal membuktikan otoritas atau kuasa Allah yang
sementara memberi tawaran keselamatan kepada manusia.
Sungguhpun demikian, masih tetap saja ada orang tidak pecaya bahwa Yesus
adalah roti hidup yang telah turun dari sorga. Dengan tahu dan mau, mereka
menunjukkan sikap keras hati dan tidak percaya. Mereka menolak dan tidak
meyakini bahwa Yesus adalah roti hidup. Mereka menganggap sebagai sebuah
lelucon semata ketika mendengar pernyataan Yesus sebagai roti hidup. Hal ini
terjadi karena hati mereka telah tertutup oleh tawaran keselamatan yang
diberikan oleh Allah. Mereka tidak mampu melihat siapa Yesus sebenarnya karena
mata batin mereka telah tumpul. Mata batin mereka telah dikalahkan oleh rasa
ego dan pongah.
Yesus merasa bersyukur karena di tengah-tengah kelompok orang yang antipati
dan tidak percaya kepada-Nya, masih ada sebagian orang yang dengan segala
kerendahan hati, mau percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam
pengajaran ilahi-Nya. Kepada kelompok orang yang percaya ini Yesus berkata:
“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak
dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku
membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh 6:40). Statement Yesus ini jelas bahwa hanya kepada mereka yang percaya
dan melakukan segala kehendak-Nya yang mendapatkan keselamatan kekal. Semangat
percaya dan melakukan kehendak Allah adalah sebuah keniscayaan untuk menyantap
Yesus sebagai roti hidup.
Stefanus, seorang martir yang gagah perkasa, telah menunjukkan kepercayaan
kepada Yesus sebagai roti kehidupan yang membawa keselamatan kekal. Berhadapan
dengan otoritas Yerusalem yang menghambat segala upaya dan karya kerasulan para
murid, Stafanus tidak gentar sedikit pun. Tidak ada sikap tawar menawar atau
kompromi untuk mencari muka atau lari menyelamatkan diri. Bagi Stefanus,
mengikuti Yesus adalah sebuah harga mati, yang tidak bisa ditawar. Bahkan
dengan nyawa sekalipun, Stefanus rela mempertaruhkannya sebagai bukti bakti
kepada roti kehidupan yang telah ia santap. Kematian Stefanus sebagai martir
pertama dalam gereja Kristus, telah mendorong sekian banyak murid Yesus pada
masa itu untuk tidak takut. Roti kehidupan itu telah dihidangkan dan setiap
murid yang percaya harus memakannya sampai habis. Tidak peduli seberat apa pun
tantangan-Nya, pilihan kepada Yesus sebagai roti kehidupan adalah sebuah
pilihan yang sungguh menyelamatkan hidup iman mereka.
Sebagai murid Yesus di masa kini, kita sebenarnya harus menunjukkan rasa
syukur oleh karena hidangan Yesus sebagai sebuah roti kehidupan tetap menjadi
sebuah pilihan yang akan menyelamatkan hidup. Berkat sakramen baptis, kita
semua telah disahkan untuk menjadi anggota gereja. Gereja adalah tanda nyata
kehadiran Allah dan Yesus di tengah dunia. Sebagai anggota gereja, kita
memiliki panggilan istimewa untuk menyantap Yesus sebagai roti kehidupan.
Namun, acapkali (entah sadar atau tidak) kita menolak panggilan itu dengan
membangun sikap kompromistis dalam diri. Kita lebih senang memiliki kehendak
dan kemauan untuk bersekutu dengan kuasa kegelapan. Karena kuasa kegelapan
lebih memberikan kenikmatan dari sisi materi, jabatan, dan status sosial. Kita
tidak suka bertahan dalam pelbagai kesulitan, penderitaan, dan dukacita manakala
hidup sebagai seorang saksi Kristus yang benar dan militan.
Sebagaimana manna yang hanya mengenyangkan tetapi tidak menyelamatkan,
demikian pula pola hidup kita yang tidak berkiblat pada roti kehidupan, pasti
tidak akan menyelamatkan. Segala kenikmatan yang ditawarkan dunia tidak
bersifat kekal. Akan tiba pada saatnya, semuanya akan diambil dari hadapan
kita. Dan kita akan menjadi orang-orang buangan di tempat yang mana hanya
terdapat ratapan dan kertak gigi.
Yang kekal dan menyelamatkan itu hanya pada roti kehidupan. Dan Yesus sudah
menegaskan Diri-Nya sebagai roti hidup yang membawa hidup kekal dan
keselamatan. Kita tidak perlu ragu untuk memilih Diri-Nya sebagai sebuah
hidangan yang menyelamatkan. Di lain pihak, kita harus menghindari sikap kompromi
yang hanya menggiring kita kepada jalan kesesatan. Mari dengan penuh syukur
kita menyantap Yesus sebagai roti hidup dengan membawa banyak nilai positif dan
kebaikan, bagi pribadi dan orang lain dimana dan kapan saja kita berada.
Terutama di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan dalam tugas dan panggilan
di tempat kerja kita masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar