Kamis, 22 April 2021

YESUS: SEBUAH HIDANGAN YANG MENYELAMATKAN

 

Yoh 6: 35-40

Rumah sakit, penjara, dan kuburan. Ada seorang kaya memandang keluar jendela dan melihat seorang laki-laki mengambil sesuatu dari tong sampah. Ia berkata: “Syukurlah saya tidak miskin”. Orang miskin memandang sekeliling dan melihat seorang pengemis compang camping di jalan. Ia berkata: “Syukurlah walaupun miskin, saya tidak menjadi pengemis”. Si pengemis memandang ke depan dan melihat ambulans yang membawa orang sakit. Ia berkata: “Syukurlah saya tidak sakit”.  Orang sakit di rumah sakit melihat troli membawa jenazah pasien. Ia berkata: “Syukurlah saya masih hidup”. Ternyata hanya orang yang sudah mati yang tidak dapat berkata: “Syukurlah”.

 

Mengapa kita sering lupa untuk bersyukur karena hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup. Sesekali berkunjunglah ke tiga tempat, yaitu rumah sakit, penjara, dan kuburan. Di rumah sakit, kita akan memahami bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada kesehatan. Di penjara, kita akan menyadari bahwa kebebasan adalah hal yang paling berharga. Di kuburan, kita akan menyadari bahwa hidup ini tidak akan berarti apa-apa. Karena tanah yang kita pijak hari ini akan menjadi atap kita di esok hari. Selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan, perbanyaklah perbuat baik pada orang lain. Hendaklah kita selalu bersyukur terlepas dari apapun keadaan kita.

 

Hari ini (Rabu/21/4/2021), Yesus mendeklarasikan diri-Nya di hadapan publik bahwa Ia adalah roti hidup. Yang unik dari roti hidup itu adalah setiap orang yang memakan-Nya tidak akan merasa lapar lagi. Dengan berbicara tentang konsep roti hidup sebenarnya secara tidak langsung Yesus sedang mengkontraskan dua jenis makanan yang diperuntukkan secara khusus bagi umat Israel. Dua jenis makanan itu adalah manna dan roti hidup. Manna adalah makanan yang diturunkan oleh Allah kepada umat Israel yang sementara mengembara di padang gurun menuju tanah terjanji. Manna itu berbeda dengan roti hidup. Karena setiap orang yang memakan manna akan tetap merasa lapar lagi. Sementara roti hidup tidak demikian. Yesus mencoba membuka kesadaran umat Israel bahwa roti hidup yang akan mereka makan berbeda dengan manna di padang gurun. Roti hidup akan memberi mereka kepuasaan kekal. Mereka tidak akan merasa lapar lagi untuk selama-lamanya.

 

Simbolisasi dari Yesus sebagai roti hidup mau mengungkapkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang telah diutus oleh Bapa-Nya di sorga untuk datang menyelamatkan umat manusia yang ada di muka bumi. “Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 6:38). Oleh karena itu, barangsiapa yang melihat Yesus, sebenarnya telah melihat Allah. Barangsiapa yang merasakan cinta dan perhatian dari Yesus, sebenarnya merasakan cinta dan perhatian dari Allah sendiri. Yesus tidak datang dan bekerja atas nama-Nya sendiri. Setiap perkataan dan aksi-Nya yang fenomenal membuktikan otoritas atau kuasa Allah yang sementara memberi tawaran keselamatan kepada manusia.

 

Sungguhpun demikian, masih tetap saja ada orang tidak pecaya bahwa Yesus adalah roti hidup yang telah turun dari sorga. Dengan tahu dan mau, mereka menunjukkan sikap keras hati dan tidak percaya. Mereka menolak dan tidak meyakini bahwa Yesus adalah roti hidup. Mereka menganggap sebagai sebuah lelucon semata ketika mendengar pernyataan Yesus sebagai roti hidup. Hal ini terjadi karena hati mereka telah tertutup oleh tawaran keselamatan yang diberikan oleh Allah. Mereka tidak mampu melihat siapa Yesus sebenarnya karena mata batin mereka telah tumpul. Mata batin mereka telah dikalahkan oleh rasa ego dan pongah.

 

Yesus merasa bersyukur karena di tengah-tengah kelompok orang yang antipati dan tidak percaya kepada-Nya, masih ada sebagian orang yang dengan segala kerendahan hati, mau percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam pengajaran ilahi-Nya. Kepada kelompok orang yang percaya ini Yesus berkata: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh 6:40). Statement Yesus ini jelas bahwa hanya kepada mereka yang percaya dan melakukan segala kehendak-Nya yang mendapatkan keselamatan kekal. Semangat percaya dan melakukan kehendak Allah adalah sebuah keniscayaan untuk menyantap Yesus sebagai roti hidup.

 

Stefanus, seorang martir yang gagah perkasa, telah menunjukkan kepercayaan kepada Yesus sebagai roti kehidupan yang membawa keselamatan kekal. Berhadapan dengan otoritas Yerusalem yang menghambat segala upaya dan karya kerasulan para murid, Stafanus tidak gentar sedikit pun. Tidak ada sikap tawar menawar atau kompromi untuk mencari muka atau lari menyelamatkan diri. Bagi Stefanus, mengikuti Yesus adalah sebuah harga mati, yang tidak bisa ditawar. Bahkan dengan nyawa sekalipun, Stefanus rela mempertaruhkannya sebagai bukti bakti kepada roti kehidupan yang telah ia santap. Kematian Stefanus sebagai martir pertama dalam gereja Kristus, telah mendorong sekian banyak murid Yesus pada masa itu untuk tidak takut. Roti kehidupan itu telah dihidangkan dan setiap murid yang percaya harus memakannya sampai habis. Tidak peduli seberat apa pun tantangan-Nya, pilihan kepada Yesus sebagai roti kehidupan adalah sebuah pilihan yang sungguh menyelamatkan hidup iman mereka.

 

Sebagai murid Yesus di masa kini, kita sebenarnya harus menunjukkan rasa syukur oleh karena hidangan Yesus sebagai sebuah roti kehidupan tetap menjadi sebuah pilihan yang akan menyelamatkan hidup. Berkat sakramen baptis, kita semua telah disahkan untuk menjadi anggota gereja. Gereja adalah tanda nyata kehadiran Allah dan Yesus di tengah dunia. Sebagai anggota gereja, kita memiliki panggilan istimewa untuk menyantap Yesus sebagai roti kehidupan. Namun, acapkali (entah sadar atau tidak) kita menolak panggilan itu dengan membangun sikap kompromistis dalam diri. Kita lebih senang memiliki kehendak dan kemauan untuk bersekutu dengan kuasa kegelapan. Karena kuasa kegelapan lebih memberikan kenikmatan dari sisi materi, jabatan, dan status sosial. Kita tidak suka bertahan dalam pelbagai kesulitan, penderitaan, dan dukacita manakala hidup sebagai seorang saksi Kristus yang benar dan militan.

 

Sebagaimana manna yang hanya mengenyangkan tetapi tidak menyelamatkan, demikian pula pola hidup kita yang tidak berkiblat pada roti kehidupan, pasti tidak akan menyelamatkan. Segala kenikmatan yang ditawarkan dunia tidak bersifat kekal. Akan tiba pada saatnya, semuanya akan diambil dari hadapan kita. Dan kita akan menjadi orang-orang buangan di tempat yang mana hanya terdapat ratapan dan kertak gigi.

 

Yang kekal dan menyelamatkan itu hanya pada roti kehidupan. Dan Yesus sudah menegaskan Diri-Nya sebagai roti hidup yang membawa hidup kekal dan keselamatan. Kita tidak perlu ragu untuk memilih Diri-Nya sebagai sebuah hidangan yang menyelamatkan. Di lain pihak, kita harus menghindari sikap kompromi yang hanya menggiring kita kepada jalan kesesatan. Mari dengan penuh syukur kita menyantap Yesus sebagai roti hidup dengan membawa banyak nilai positif dan kebaikan, bagi pribadi dan orang lain dimana dan kapan saja kita berada. Terutama di tengah keluarga, basis, lingkungan, dan dalam tugas dan panggilan di tempat kerja kita masing-masing. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar