Minggu, 30 Mei 2021

Sukacita Tuhan Yang Harus Dibagikan

 

Luk 1:39-56

 

Semua kita pasti pernah atau seringkali mengalami pengalaman sukacita. Latar pengalaman sukacita itu beranekaragam. Ketika kita mengalami kesuksesan dalam pekerjaan, kesuksesan dalam usaha tertentu, kesuksesan dalam pendidikan anak-anak, dan kesuksesan dalam hal lainnya, kita pasti merasa sangat bersukacita. Satu kecenderungan yang tidak bisa kita elakkan ketika mengalami perasaan sukacita adalah kita suka berbagi atau menceritakan pengalaman itu kepada orang lain. Kita menghendaki orang lain juga mengetahui dan turut merasakan apa yang kita rasakan. Kita ingin orang lain memberi apresiasi. Hanya sekedar ucapan selamat saja, semakin membuat sukacita kita bertambah. Dan tentu saja semakin memotivasi kita untuk terus berusaha dan berprestasi dalam hidup.

 

Rasa sukacita dialami juga oleh dua orang perempuan luar biasa dalam bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56). Mereka berdua adalah Maria dan Elisabet. Maria bersukacita karena mendapat kabar gembira dari malaikat Gabriel untuk mengandung Sang Penyelamat umat manusia, Yesus Kristus. Dalam keperawanan dan kesuciannya sebagai seorang perempuan, Maria bersukacita atas amanat mulia yang diterimanya dari Tuhan melalui malaikat Gabriel. Sedangkan Elisabet bersukacita karena dalam usia tuanya, ia mendapat berkat dari Tuhan untuk segera mendapatkan seorang anak laki-laki. Ternyata usia yang senja, tidak membatasi Elisabet untuk mencapai apa yang menjadi harapan utama sepanjang hidupnya yakni memiliki seorang anak.

 

Suasana sukacita sungguh menyelimuti hati Maria. Kesukacitaan hatinya berlipat ganda ketika mengetahui bahwa Elisabet saudarinya, juga sedang mengandung seorang anak laki-laki. Dan usia kandungannya sudah memasuki bulan yang keenam (Luk 1:36). Oleh karena itu, Maria segera mempersiapkan diri dan bergegas mengunjungi saudarinya tersebut. Ia ingin membagikan sukacitanya sekaligus mengucapkan selamat berbahagia kepada Elisabet. Ternyata Elisabet sungguh mendapat berkat dengan kunjungan Maria. Ketika mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (Luk 1:41).

 

Efek dari pengaruh Roh Kudus ini pula yang mendorong Elisabet untuk memuji dan memberi apresiasi khusus kepada Maria. “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42). Elisabet sangat bersukacita bukan hanya karena pengalaman rohani yang dialaminya. Tetapi juga, ia merasa bahwa Maria adalah perempuan yang sengaja diutus Tuhan untuk datang mengunjungi dirinya. Maria adalah perempuan spesial dengan buah rahim yang diberkati secara khusus pula oleh Tuhan. Elisabet sepertinya sudah membayangkan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak luar biasa. Seorang anak yang bukan sekedar anak biasa. Seorang anak yang dikhususkan oleh Tuhan bagi dunia.

 

Maria pun mengungkapkan sukacitanya ketika mendengar segala hal yang dikatakan oleh Elisabet. Sukacita Maria ini diekspresikan dalam sebuah magnifikat (doa Pujian). Isi magnifikat Maria berupa ungkapan syukur atas kuasa dan penyelenggaraan Allah kepada umat-Nya. Allah selalu menjaga, memperhatikan, dan memberikan segala berkat-Nya kepada umat yang menaru iman kepada-Nya. Terutama berkat yang didapat secara khusus oleh Maria – dan bukan perempuan lainnya - untuk memainkan peran sebagai mitra Allah dengan mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Penyelamat umat manusia. Maria pantas mendapat karunia khusus dari Allah oleh karena imannya yang teguh kepada Allah. Dan Maria sudah sewajarnya merasa bersukacita atas pengalaman rohani yang dialaminya.

 

Pertemuan dua saudari (Maria dan Elisabet) dalam nama Tuhan bukan sekedar silaturahmi biasa. Mereka berjumpah untuk saling berbagi sukacita atas karunia Tuhan yang menyelimuti diri mereka. Sukacita yang dibagikan menjadi daya dorong untuk tetap mengingatkan dan menguatkan iman mereka akan Tuhan. Sukacita yang dibagikan di antara mereka tidak tinggal diam. Karena sukacita itu akan berubah menjadi energi yang dasyat bagi mereka untuk berperan sebagai mitra Allah. Elisabet akan menjaga, memelihara, dan membimbing Yohanes Pembaptis menjadi seorang nabi besar yang akan mempersiapkan jalan bagi seorang penyelamat dunia, yakni Yesus. Sementara Maria akan menjaga, membimbing, dan mengarahkan Yesus menjadi seorang utusan Tuhan yang membawa keselamatan bagi umat manusia. Maria juga akan berjalan bersama-sama dengan Yesus, Putera-Nya, tidak hanya dalam pengalaman sukacita, tetapi juga pengalaman dukacita menuju bukit Kalvari.

 

Pengalaman sukacita Maria dan Elisabet mengingatkan kita akan pengalaman sukacita yang kita alami di dunia ini. Bahwa pengalaman sukacita yang kita alami tidak hadir dengan sendirinya. Atau ia hadir bukan karena usaha semata dari diri kita sendiri. Ada intervensi atau campur tangan Tuhan yang menyertai pelbagai pengalaman sukacita yang kita alami. Pengalaman sukacita sebenarnya menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam hidup dan pengalaman kita sehari-hari. Semoga pengalaman sukacita itu semakin menguatkan iman kita akan Tuhan. Dan bukan sebaliknya menyebabkan krisis dalam iman kita kepada-Nya. Karena acapkali banyak orang cenderung melupakan Tuhan ketika mengalami berbagai pengalaman sukacita dalam hidupnya.

 

Pengalaman sukacita tidak saja menguatkan iman kita akan Tuhan seperti yang dialami Maria dan Elisabet. Namun semakin memotivasi kita untuk bersaksi akan sukacita Tuhan yang kita alami. Sukacita Tuhan dalam diri harus kita bagikan agar orang lain juga merasa bersukacita dan dikuatkan dalam iman. Kita akan tampil di mana saja kita berada untuk membawa suasana penuh persaudaraan, kasih dan damai. Karena hanya dengan demikian, sukacita Tuhan akan bertumbuh dan berkembang. Mari kita menjadi mitra Allah dengan membagi sukacita Tuhan dalam hidup kepada sesama kita. Amin. ***AKD***

Senin, 17 Mei 2021

KEKUATAN DOA MENEGUHKAN IMAN KITA

KIS 20:17-27; YOH 17:1-11a

 

            Perkembangan zaman saat ini semakin canggih, maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan, bahkan nilai-nilai kebajikan hidup kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni Yesus dan St. Paulus.

            Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan St. Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya, ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang, baik yang diselamatkan maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas perutusan yang dipercayakan Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri, kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan. Namun, motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus ini menjadi panutan bagi kita semua, meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap bertahan dalam iman akan Yesus Kristus.

             Injil hari ini menggambarkan satu teladan istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia, namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

            Ada dua pokok doa syafat Yesus kepada Bapa-Nya yang disampaikan oleh penginjil Yohanes hari ini. Pertama, di dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal, dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.

            Kedua adalah permohonan untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup, karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.

            Dalam doa-Nya, Yesus ingin agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan misi pewartaan Yesus bagi dunia. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi semua orang beriman yang percaya kepada-Nya.

            Paulus telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua  di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih dan setia mewartakan kasih Allah di dunia. Dua tokoh inspiratif ini menginspirasi kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Kehidupan doa yang teratur meneguhkan hidup iman kita dalam persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih Allah yang membawa semua orang ke jalan pertobatan.

            Doa Yesus hari ini tidak saja diperuntukan bagi para murid-Nya melainkan juga Ia menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua umat beriman yang percaya kepada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.  Karena itu, aspek yang dibutuhkan dalam membangun relasi komunikasi yang harmonis dengan Allah adalah melalui doa. Doa harus kita hidupi dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Mestinya kita selalu bangga karena Yesus andalan kita selalu mendoakan dan menyertai kita. Maka kita akan menikmati keselamatannya ketika kita selalu hidup di dalam-Nya karena kita adalah milik-Nya (Yoh 17:9-11). Hidup di dalam Yesus yang selalu mendoakan kita berarti kita hidup dalam kebenaran-Nya, bukan kemunafikan, bukan untuk keuntungan sendiri, bukan untuk memuliakan diri, melainkan memuliakan Tuhan yang telah hadir dalam setiap karya yang dipercayakan kepada kita. Masihkah kita memegahkan diri kita, padahal Tuhan setia mendoakan dan menjaga kita? Di tengah pandemi covid-19 dan sekian banyak bencana alam yang melanda tanah air kita saat ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dan belas kasih Allah agar kita terhindar dan dijauhkan dari malapetaka yang mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan semua orang yang dilanda musibah agar iman mereka tidak goyah karena merasa ditinggalkan oleh Allah. Allah tidak pernah memberikan ujian iman melampaui kekuatan kita, Ia selalu menanti pertobatan dan usaha untuk bangkit dari kedosaan kita menuju keselamatan sejati. Semoga Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. ***BW***

 

Minggu, 09 Mei 2021

PERAN ROH KUDUS DALAM PEWARTAAN IMAN

Yoh 16:5-11

Kita masih ingat baik ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk membatasi kehadiran misionaris asing di Indonesia, banyak perlawanan datang dari lembaga Gereja karena merasa kebijakan pemerintah kurang elok. Ketika perlawanan itu tidak membuahkan hasil, keputusan pemerintah itu dianggap bencana yang mengancam eksistensi hidup Gereja di Indonesia terutama karena kurangnya tenaga imam. Namun puluhan tahun kemudian, keputusan itu justru dilihat sebagai satu proses pendewasaan diri Gereja di Indonesia dalam hal personalia pelayanan. Konsolidasi diri terus digalakkan, panggilan lokal gencar digerakkan hingga menghasilkan begitu banyak imam. Sekarang, Gereja Indonesia boleh berbangga menjadi salah satu pengirim misionaris ke seluruh dunia. Krisis karena pembatasan misionaris itu, kini dilihat sebagai satu kekuatan bukan sebuah ancaman. Gereja Indonesia tidak boleh bergantung pada misionaris asing, melainkan harus berkembang ke arah kemandirian personel.

            Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa ia akan meninggalkan mereka. Penyampaian ini membawa  kegelisahan tersendiri bagi para murid karena selama ini hidup mereka sangat tergantung pada Yesus. Mereka merasa mapan kalau ada bersama terus dengan Yesus. Sekarang Ia pamit dan pergi, bak halilintar menyambar di siang bolong, para murid merasa kelabakan karena belum siap untuk berperan sebagai pewarta Injil menggantikan tugas utama Yesus. Namun, Yesus memberi penugahan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang. Sebaliknya kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Penghibur itulah yang akan menggerakan dan menginsyafkan dunia akan dosa untuk kembali kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Jadi, para murid tidak perlu khawatir untuk  menyerukan pertobatan, bersaksi tentang kebenaran dan penghakiman, karena penghibur yang dijanjikan itu yang akan berbicara melalui mulut mereka. Yesus menginginkan agar para murid harus bisa mandiri meskipun Yesus harus pergi meninggalkan mereka. Yesus menghibur para murid-Nya agar tidak bersedih hati tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus sebagai pengganti diri-Nya untuk menyertai hidup mereka, sehingga mereka semakin matang dalam iman dan menjadi contoh bagi dunia.

           Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan ialah mengapa Yesus pergi dan digantikan oleh penghibur (Roh Kudus)? Bukankah kepergian-Nya membuat para murid semakin kehilangan arah dan mengaburkan misi utama pewartaan Yesus di dunia? Yesus menghendaki agar para murid harus mandiri dan matang dalam hal iman dan bisa berperan mengambil alih tugas pewartaan Yesus. Ketika para murid masih bersama-sama dengan Yesus, peranan utama terletak pada Yesus sendiri yang mengendalikan pewartaan dan pelayanan sedangkan para murid berada di garis belakang sebatas sebagai pendukung. Ketika Yesus pergi kepada Bapa-Nya, Ia digantikan oleh Roh Kudus tetapi tidak mengambil peran utama secara nyata, ia hanya bekerja di belakang layar, sementara yang berperan penting dalam hal pewartaan dan pelayanan adalah para murid sendiri. Sikap ketergantungan para murid kepada Yesus diubah menjadi sikap dewasa dan mandiri namun tetap digerakan oleh Roh Kudus.

           

Dewasa ini ada banyak orang yang ingin terus berada di dalam zona nyaman, padahal zona nyaman itu jika dipertahankan sebetulnya menandakan kemunduran. Dunia terus berubah, pelayanan iman kita pun harus berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan perubahan jaman. Karena itu, setiap orang Kristiani harus terus mengembangkan kualitas rohani dan  keterampilan pelayanannya sehingga dalam situasi apapun ia dapat memberi kesaksian tentang keselamatan. Tujuan karya Roh Kudus akan tetap sama, karena memberi inspirasi untuk membangun Kerajaan Allah tetapi cara kita menerapkannya membutuhkan kejelihan di dalam menilai situasi konkrit yang kita hadapi. Berkaitan dengan kehadiran Roh Kudus, orang Kristiani diingatkan bahwa penolakan dan perlawanan kepada Roh Kudus adalah dosa terbesar yang tidak bisa diampuni, karena itu, kita harus menerima Roh Kudus yang merupakan perwujudan nyata diri Yesus dan Bapa-Nya.

 

Cara kerja Roh Kudus begitu dahsyat, tidak kelihatan tetapi memiliki kekuatan super yang mampu mempengaruhi, menggerakan, mengendalikan dan menginspirasi manusia untuk melakukan kebenaran hakiki sesuai Kehendak Allah. Roh Kudus sendiri tidak pernah membelot dari hakikat dirinya, ia berjuang menghantar orang pada keselamatan paripurna. Dewasa ini banyak orang yang hidupnya menyimpang dan gampang melanggar hukum Allah dan perintah-perintah Gereja, karena hatinya lebih dikuasai oleh tawaran kenikmatan duniawi. Mereka kurang memberikan tempat istimewa dalam hatinya untuk membiarkan Roh Kudus menguasai dan merajai hidupnya. Tuntutan menjadi murid-murid Kristus bagi kita orang Kristiani adalah setia pada Kehendak Allah dan menjadikan Roh Kudus sebagai senjata dan kekuatan kita. Roh Kudus mampu menghadirkan keberanian, memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk dapat bersaksi tentang kebenaran hakiki Allah. Jadi kita tidak perlu takut dan cemas dengan kekuatan dunia yang menghalangi semangat kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil dan kebenarannya. Kita yakin dan percaya bahwa Allah selalu berpihak kepada kita, Ia akan terus menganugerahkan Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada kita untuk mewujudkan kebenaran Allah di dunia.  Yesus pergi kepada Bapa untuk menegaskan Aku dan Bapa adalah satu dan lebih dari itu Yesus membawa misi yang mulia yakni agar dapat mengutus Roh Penghibur kepada para murid dan dunia. Roh Penghibur ini akan menginsafkankan manusia akan dosa agar kembali kepada jalan kebenaran Allah dan kebenaran Sabda Yesus.

 

Menjadi refleksi bagi kita semua orang beriman, bagaimana Roh Kudus dapat berperan dalam diri kita masing-masing? Roh Penghibur yang dijanjikan oleh Yesus itu terus bekerja dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Kita adalah perpanjangan tangan Allah sendiri dalam karya pelayanan dan pewartaan di tengah dunia. Aspek yang dibutuhkan dari kita adalah pengosongan diri dan membiarkan Roh Kudus bekerja merajai seluruh hidup kita agar kita fokus melakukan karya pewartaan tentang kebenaran Sabda-Nya. Sambil mengharapkan kemurahan hati Allah melalui cara kerja Roh Kudus, kita sekalian harus tekun dalam doa sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah hadir lewat cara-cara manusiawi kita. Dengan begitu, kepercayaan dan keyakinan kita harus terus berkembang dan militan di tengah-tengah arus jaman yang dipenuhi tantangan baik dalam diri maupun yang datang dari luar. Semoga Tuhan Yesus menganugerahkan Roh Kebenaran ke dalam hati kita masing-masing agar kita selalu insaf terhadap dosa dan siap sedia mengikuti kebenaran dan tuntunan Allah. Ziarah hidup kita di dunia akan bermakna bagi sesama bila kita setia menerima Roh Kebenaran yang mengarahkan sikap dan perbuatan kita sesuai Kehendak Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***