Luk 1:39-56
Semua kita pasti pernah atau seringkali mengalami
pengalaman sukacita. Latar pengalaman sukacita itu beranekaragam. Ketika kita
mengalami kesuksesan dalam pekerjaan, kesuksesan dalam usaha tertentu,
kesuksesan dalam pendidikan anak-anak, dan kesuksesan dalam hal lainnya, kita
pasti merasa sangat bersukacita. Satu kecenderungan yang tidak bisa kita
elakkan ketika mengalami perasaan sukacita adalah kita suka berbagi atau
menceritakan pengalaman itu kepada orang lain. Kita menghendaki orang lain juga
mengetahui dan turut merasakan apa yang kita rasakan. Kita ingin orang lain
memberi apresiasi. Hanya sekedar ucapan selamat saja, semakin membuat sukacita
kita bertambah. Dan tentu saja semakin memotivasi kita untuk terus berusaha dan
berprestasi dalam hidup.
Rasa sukacita dialami juga oleh dua orang perempuan
luar biasa dalam bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-56). Mereka berdua adalah
Maria dan Elisabet. Maria bersukacita karena mendapat kabar gembira dari
malaikat Gabriel untuk mengandung Sang Penyelamat umat manusia, Yesus Kristus.
Dalam keperawanan dan kesuciannya sebagai seorang perempuan, Maria bersukacita
atas amanat mulia yang diterimanya dari Tuhan melalui malaikat Gabriel.
Sedangkan Elisabet bersukacita karena dalam usia tuanya, ia mendapat berkat
dari Tuhan untuk segera mendapatkan seorang anak laki-laki. Ternyata usia yang
senja, tidak membatasi Elisabet untuk mencapai apa yang menjadi harapan utama
sepanjang hidupnya yakni memiliki seorang anak.
Suasana sukacita sungguh menyelimuti hati Maria.
Kesukacitaan hatinya berlipat ganda ketika mengetahui bahwa Elisabet
saudarinya, juga sedang mengandung seorang anak laki-laki. Dan usia
kandungannya sudah memasuki bulan yang keenam (Luk 1:36). Oleh karena itu,
Maria segera mempersiapkan diri dan bergegas mengunjungi saudarinya tersebut.
Ia ingin membagikan sukacitanya sekaligus mengucapkan selamat berbahagia kepada
Elisabet. Ternyata Elisabet sungguh mendapat berkat dengan kunjungan Maria.
Ketika mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet
pun penuh dengan Roh Kudus (Luk 1:41).
Efek dari pengaruh Roh Kudus ini pula yang
mendorong Elisabet untuk memuji dan memberi apresiasi khusus kepada Maria.
“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”
(Luk 1:42). Elisabet sangat bersukacita bukan hanya karena pengalaman rohani
yang dialaminya. Tetapi juga, ia merasa bahwa Maria adalah perempuan yang
sengaja diutus Tuhan untuk datang mengunjungi dirinya. Maria adalah perempuan
spesial dengan buah rahim yang diberkati secara khusus pula oleh Tuhan.
Elisabet sepertinya sudah membayangkan bahwa Maria akan mengandung dan
melahirkan seorang anak luar biasa. Seorang anak yang bukan sekedar anak biasa.
Seorang anak yang dikhususkan oleh Tuhan bagi dunia.
Maria pun mengungkapkan sukacitanya ketika
mendengar segala hal yang dikatakan oleh Elisabet. Sukacita Maria ini
diekspresikan dalam sebuah magnifikat (doa Pujian). Isi magnifikat Maria berupa
ungkapan syukur atas kuasa dan penyelenggaraan Allah kepada umat-Nya. Allah
selalu menjaga, memperhatikan, dan memberikan segala berkat-Nya kepada umat
yang menaru iman kepada-Nya. Terutama berkat yang didapat secara khusus oleh
Maria – dan bukan perempuan lainnya - untuk memainkan peran sebagai mitra Allah
dengan mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, Sang Penyelamat umat manusia.
Maria pantas mendapat karunia khusus dari Allah oleh karena imannya yang teguh
kepada Allah. Dan Maria sudah sewajarnya merasa bersukacita atas pengalaman
rohani yang dialaminya.
Pertemuan dua saudari (Maria dan Elisabet) dalam
nama Tuhan bukan sekedar silaturahmi biasa. Mereka berjumpah untuk saling
berbagi sukacita atas karunia Tuhan yang menyelimuti diri mereka. Sukacita yang
dibagikan menjadi daya dorong untuk tetap mengingatkan dan menguatkan iman mereka
akan Tuhan. Sukacita yang dibagikan di antara mereka tidak tinggal diam. Karena
sukacita itu akan berubah menjadi energi yang dasyat bagi mereka untuk berperan
sebagai mitra Allah. Elisabet akan menjaga, memelihara, dan membimbing Yohanes
Pembaptis menjadi seorang nabi besar yang akan mempersiapkan jalan bagi seorang
penyelamat dunia, yakni Yesus. Sementara Maria akan menjaga, membimbing, dan
mengarahkan Yesus menjadi seorang utusan Tuhan yang membawa keselamatan bagi
umat manusia. Maria juga akan berjalan bersama-sama dengan Yesus, Putera-Nya,
tidak hanya dalam pengalaman sukacita, tetapi juga pengalaman dukacita menuju
bukit Kalvari.
Pengalaman sukacita Maria dan Elisabet mengingatkan
kita akan pengalaman sukacita yang kita alami di dunia ini. Bahwa pengalaman
sukacita yang kita alami tidak hadir dengan sendirinya. Atau ia hadir bukan
karena usaha semata dari diri kita sendiri. Ada intervensi atau campur tangan
Tuhan yang menyertai pelbagai pengalaman sukacita yang kita alami. Pengalaman
sukacita sebenarnya menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam hidup dan
pengalaman kita sehari-hari. Semoga pengalaman sukacita itu semakin menguatkan
iman kita akan Tuhan. Dan bukan sebaliknya menyebabkan krisis dalam iman kita
kepada-Nya. Karena acapkali banyak orang cenderung melupakan Tuhan ketika
mengalami berbagai pengalaman sukacita dalam hidupnya.
Pengalaman sukacita tidak saja menguatkan iman kita
akan Tuhan seperti yang dialami Maria dan Elisabet. Namun semakin memotivasi
kita untuk bersaksi akan sukacita Tuhan yang kita alami. Sukacita Tuhan dalam
diri harus kita bagikan agar orang lain juga merasa bersukacita dan dikuatkan
dalam iman. Kita akan tampil di mana saja kita berada untuk membawa suasana
penuh persaudaraan, kasih dan damai. Karena hanya dengan demikian, sukacita
Tuhan akan bertumbuh dan berkembang. Mari kita menjadi mitra Allah dengan
membagi sukacita Tuhan dalam hidup kepada sesama kita. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar