Senin, 17 Mei 2021

KEKUATAN DOA MENEGUHKAN IMAN KITA

KIS 20:17-27; YOH 17:1-11a

 

            Perkembangan zaman saat ini semakin canggih, maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan, bahkan nilai-nilai kebajikan hidup kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni Yesus dan St. Paulus.

            Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan St. Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya, ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang, baik yang diselamatkan maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas perutusan yang dipercayakan Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri, kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan. Namun, motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus ini menjadi panutan bagi kita semua, meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap bertahan dalam iman akan Yesus Kristus.

             Injil hari ini menggambarkan satu teladan istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia, namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

            Ada dua pokok doa syafat Yesus kepada Bapa-Nya yang disampaikan oleh penginjil Yohanes hari ini. Pertama, di dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal, dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.

            Kedua adalah permohonan untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup, karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.

            Dalam doa-Nya, Yesus ingin agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan misi pewartaan Yesus bagi dunia. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi semua orang beriman yang percaya kepada-Nya.

            Paulus telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua  di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih dan setia mewartakan kasih Allah di dunia. Dua tokoh inspiratif ini menginspirasi kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Kehidupan doa yang teratur meneguhkan hidup iman kita dalam persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih Allah yang membawa semua orang ke jalan pertobatan.

            Doa Yesus hari ini tidak saja diperuntukan bagi para murid-Nya melainkan juga Ia menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua umat beriman yang percaya kepada-Nya. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.  Karena itu, aspek yang dibutuhkan dalam membangun relasi komunikasi yang harmonis dengan Allah adalah melalui doa. Doa harus kita hidupi dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Mestinya kita selalu bangga karena Yesus andalan kita selalu mendoakan dan menyertai kita. Maka kita akan menikmati keselamatannya ketika kita selalu hidup di dalam-Nya karena kita adalah milik-Nya (Yoh 17:9-11). Hidup di dalam Yesus yang selalu mendoakan kita berarti kita hidup dalam kebenaran-Nya, bukan kemunafikan, bukan untuk keuntungan sendiri, bukan untuk memuliakan diri, melainkan memuliakan Tuhan yang telah hadir dalam setiap karya yang dipercayakan kepada kita. Masihkah kita memegahkan diri kita, padahal Tuhan setia mendoakan dan menjaga kita? Di tengah pandemi covid-19 dan sekian banyak bencana alam yang melanda tanah air kita saat ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dan belas kasih Allah agar kita terhindar dan dijauhkan dari malapetaka yang mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan semua orang yang dilanda musibah agar iman mereka tidak goyah karena merasa ditinggalkan oleh Allah. Allah tidak pernah memberikan ujian iman melampaui kekuatan kita, Ia selalu menanti pertobatan dan usaha untuk bangkit dari kedosaan kita menuju keselamatan sejati. Semoga Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Amin. ***BW***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar