Minggu, 09 Mei 2021

PERAN ROH KUDUS DALAM PEWARTAAN IMAN

Yoh 16:5-11

Kita masih ingat baik ketika pemerintah Indonesia memutuskan untuk membatasi kehadiran misionaris asing di Indonesia, banyak perlawanan datang dari lembaga Gereja karena merasa kebijakan pemerintah kurang elok. Ketika perlawanan itu tidak membuahkan hasil, keputusan pemerintah itu dianggap bencana yang mengancam eksistensi hidup Gereja di Indonesia terutama karena kurangnya tenaga imam. Namun puluhan tahun kemudian, keputusan itu justru dilihat sebagai satu proses pendewasaan diri Gereja di Indonesia dalam hal personalia pelayanan. Konsolidasi diri terus digalakkan, panggilan lokal gencar digerakkan hingga menghasilkan begitu banyak imam. Sekarang, Gereja Indonesia boleh berbangga menjadi salah satu pengirim misionaris ke seluruh dunia. Krisis karena pembatasan misionaris itu, kini dilihat sebagai satu kekuatan bukan sebuah ancaman. Gereja Indonesia tidak boleh bergantung pada misionaris asing, melainkan harus berkembang ke arah kemandirian personel.

            Yesus menyampaikan kepada para murid bahwa ia akan meninggalkan mereka. Penyampaian ini membawa  kegelisahan tersendiri bagi para murid karena selama ini hidup mereka sangat tergantung pada Yesus. Mereka merasa mapan kalau ada bersama terus dengan Yesus. Sekarang Ia pamit dan pergi, bak halilintar menyambar di siang bolong, para murid merasa kelabakan karena belum siap untuk berperan sebagai pewarta Injil menggantikan tugas utama Yesus. Namun, Yesus memberi penugahan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan datang. Sebaliknya kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Penghibur itulah yang akan menggerakan dan menginsyafkan dunia akan dosa untuk kembali kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Jadi, para murid tidak perlu khawatir untuk  menyerukan pertobatan, bersaksi tentang kebenaran dan penghakiman, karena penghibur yang dijanjikan itu yang akan berbicara melalui mulut mereka. Yesus menginginkan agar para murid harus bisa mandiri meskipun Yesus harus pergi meninggalkan mereka. Yesus menghibur para murid-Nya agar tidak bersedih hati tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus sebagai pengganti diri-Nya untuk menyertai hidup mereka, sehingga mereka semakin matang dalam iman dan menjadi contoh bagi dunia.

           Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan ialah mengapa Yesus pergi dan digantikan oleh penghibur (Roh Kudus)? Bukankah kepergian-Nya membuat para murid semakin kehilangan arah dan mengaburkan misi utama pewartaan Yesus di dunia? Yesus menghendaki agar para murid harus mandiri dan matang dalam hal iman dan bisa berperan mengambil alih tugas pewartaan Yesus. Ketika para murid masih bersama-sama dengan Yesus, peranan utama terletak pada Yesus sendiri yang mengendalikan pewartaan dan pelayanan sedangkan para murid berada di garis belakang sebatas sebagai pendukung. Ketika Yesus pergi kepada Bapa-Nya, Ia digantikan oleh Roh Kudus tetapi tidak mengambil peran utama secara nyata, ia hanya bekerja di belakang layar, sementara yang berperan penting dalam hal pewartaan dan pelayanan adalah para murid sendiri. Sikap ketergantungan para murid kepada Yesus diubah menjadi sikap dewasa dan mandiri namun tetap digerakan oleh Roh Kudus.

           

Dewasa ini ada banyak orang yang ingin terus berada di dalam zona nyaman, padahal zona nyaman itu jika dipertahankan sebetulnya menandakan kemunduran. Dunia terus berubah, pelayanan iman kita pun harus berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan perubahan jaman. Karena itu, setiap orang Kristiani harus terus mengembangkan kualitas rohani dan  keterampilan pelayanannya sehingga dalam situasi apapun ia dapat memberi kesaksian tentang keselamatan. Tujuan karya Roh Kudus akan tetap sama, karena memberi inspirasi untuk membangun Kerajaan Allah tetapi cara kita menerapkannya membutuhkan kejelihan di dalam menilai situasi konkrit yang kita hadapi. Berkaitan dengan kehadiran Roh Kudus, orang Kristiani diingatkan bahwa penolakan dan perlawanan kepada Roh Kudus adalah dosa terbesar yang tidak bisa diampuni, karena itu, kita harus menerima Roh Kudus yang merupakan perwujudan nyata diri Yesus dan Bapa-Nya.

 

Cara kerja Roh Kudus begitu dahsyat, tidak kelihatan tetapi memiliki kekuatan super yang mampu mempengaruhi, menggerakan, mengendalikan dan menginspirasi manusia untuk melakukan kebenaran hakiki sesuai Kehendak Allah. Roh Kudus sendiri tidak pernah membelot dari hakikat dirinya, ia berjuang menghantar orang pada keselamatan paripurna. Dewasa ini banyak orang yang hidupnya menyimpang dan gampang melanggar hukum Allah dan perintah-perintah Gereja, karena hatinya lebih dikuasai oleh tawaran kenikmatan duniawi. Mereka kurang memberikan tempat istimewa dalam hatinya untuk membiarkan Roh Kudus menguasai dan merajai hidupnya. Tuntutan menjadi murid-murid Kristus bagi kita orang Kristiani adalah setia pada Kehendak Allah dan menjadikan Roh Kudus sebagai senjata dan kekuatan kita. Roh Kudus mampu menghadirkan keberanian, memberikan kekuatan dan kemampuan bagi kita untuk dapat bersaksi tentang kebenaran hakiki Allah. Jadi kita tidak perlu takut dan cemas dengan kekuatan dunia yang menghalangi semangat kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil dan kebenarannya. Kita yakin dan percaya bahwa Allah selalu berpihak kepada kita, Ia akan terus menganugerahkan Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada kita untuk mewujudkan kebenaran Allah di dunia.  Yesus pergi kepada Bapa untuk menegaskan Aku dan Bapa adalah satu dan lebih dari itu Yesus membawa misi yang mulia yakni agar dapat mengutus Roh Penghibur kepada para murid dan dunia. Roh Penghibur ini akan menginsafkankan manusia akan dosa agar kembali kepada jalan kebenaran Allah dan kebenaran Sabda Yesus.

 

Menjadi refleksi bagi kita semua orang beriman, bagaimana Roh Kudus dapat berperan dalam diri kita masing-masing? Roh Penghibur yang dijanjikan oleh Yesus itu terus bekerja dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Kita adalah perpanjangan tangan Allah sendiri dalam karya pelayanan dan pewartaan di tengah dunia. Aspek yang dibutuhkan dari kita adalah pengosongan diri dan membiarkan Roh Kudus bekerja merajai seluruh hidup kita agar kita fokus melakukan karya pewartaan tentang kebenaran Sabda-Nya. Sambil mengharapkan kemurahan hati Allah melalui cara kerja Roh Kudus, kita sekalian harus tekun dalam doa sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah hadir lewat cara-cara manusiawi kita. Dengan begitu, kepercayaan dan keyakinan kita harus terus berkembang dan militan di tengah-tengah arus jaman yang dipenuhi tantangan baik dalam diri maupun yang datang dari luar. Semoga Tuhan Yesus menganugerahkan Roh Kebenaran ke dalam hati kita masing-masing agar kita selalu insaf terhadap dosa dan siap sedia mengikuti kebenaran dan tuntunan Allah. Ziarah hidup kita di dunia akan bermakna bagi sesama bila kita setia menerima Roh Kebenaran yang mengarahkan sikap dan perbuatan kita sesuai Kehendak Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar