Yoh
16:5-11
Kita masih ingat baik ketika
pemerintah Indonesia memutuskan untuk membatasi kehadiran misionaris asing di
Indonesia, banyak perlawanan datang dari lembaga Gereja karena merasa kebijakan
pemerintah kurang elok. Ketika perlawanan itu tidak membuahkan hasil, keputusan
pemerintah itu dianggap bencana yang mengancam eksistensi hidup Gereja di
Indonesia terutama karena kurangnya tenaga imam. Namun puluhan tahun kemudian,
keputusan itu justru dilihat sebagai satu proses pendewasaan diri Gereja di
Indonesia dalam hal personalia pelayanan. Konsolidasi diri terus digalakkan,
panggilan lokal gencar digerakkan hingga menghasilkan begitu banyak imam.
Sekarang, Gereja Indonesia boleh berbangga menjadi salah satu pengirim
misionaris ke seluruh dunia. Krisis karena pembatasan misionaris itu, kini
dilihat sebagai satu kekuatan bukan sebuah ancaman. Gereja Indonesia tidak
boleh bergantung pada misionaris asing, melainkan harus berkembang ke arah
kemandirian personel.
Yesus
menyampaikan kepada para murid bahwa ia akan meninggalkan mereka. Penyampaian
ini membawa kegelisahan tersendiri bagi
para murid karena selama ini hidup mereka sangat tergantung pada Yesus. Mereka
merasa mapan kalau ada bersama terus dengan Yesus. Sekarang Ia pamit dan pergi,
bak halilintar menyambar di siang bolong, para murid merasa kelabakan karena
belum siap untuk berperan sebagai pewarta Injil menggantikan tugas utama Yesus.
Namun, Yesus memberi penugahan: “Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur tidak akan
datang. Sebaliknya kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Penghibur
itulah yang akan menggerakan dan menginsyafkan dunia akan dosa untuk kembali
kepada jalan kebenaran dan keselamatan. Jadi, para murid tidak perlu khawatir
untuk menyerukan pertobatan, bersaksi
tentang kebenaran dan penghakiman, karena penghibur yang dijanjikan itu yang
akan berbicara melalui mulut mereka. Yesus menginginkan agar para murid harus
bisa mandiri meskipun Yesus harus pergi meninggalkan mereka. Yesus menghibur
para murid-Nya agar tidak bersedih hati tetapi Ia akan mengutus Roh Kudus sebagai
pengganti diri-Nya untuk menyertai hidup mereka, sehingga mereka semakin matang
dalam iman dan menjadi contoh bagi dunia.
Pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan ialah mengapa Yesus pergi dan digantikan oleh penghibur (Roh Kudus)? Bukankah kepergian-Nya membuat para murid semakin kehilangan arah dan mengaburkan misi utama pewartaan Yesus di dunia? Yesus menghendaki agar para murid harus mandiri dan matang dalam hal iman dan bisa berperan mengambil alih tugas pewartaan Yesus. Ketika para murid masih bersama-sama dengan Yesus, peranan utama terletak pada Yesus sendiri yang mengendalikan pewartaan dan pelayanan sedangkan para murid berada di garis belakang sebatas sebagai pendukung. Ketika Yesus pergi kepada Bapa-Nya, Ia digantikan oleh Roh Kudus tetapi tidak mengambil peran utama secara nyata, ia hanya bekerja di belakang layar, sementara yang berperan penting dalam hal pewartaan dan pelayanan adalah para murid sendiri. Sikap ketergantungan para murid kepada Yesus diubah menjadi sikap dewasa dan mandiri namun tetap digerakan oleh Roh Kudus.
Dewasa ini
ada banyak orang yang ingin terus berada di dalam zona nyaman, padahal zona nyaman
itu jika dipertahankan sebetulnya menandakan kemunduran. Dunia terus berubah,
pelayanan iman kita pun harus berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan
perubahan jaman. Karena itu, setiap orang Kristiani harus terus mengembangkan
kualitas rohani dan keterampilan
pelayanannya sehingga dalam situasi apapun ia dapat memberi kesaksian tentang
keselamatan. Tujuan karya Roh Kudus akan tetap sama, karena memberi inspirasi
untuk membangun Kerajaan Allah tetapi cara kita menerapkannya membutuhkan
kejelihan di dalam menilai situasi konkrit yang kita hadapi. Berkaitan dengan
kehadiran Roh Kudus, orang Kristiani diingatkan bahwa penolakan dan perlawanan
kepada Roh Kudus adalah dosa terbesar yang tidak bisa diampuni, karena itu,
kita harus menerima Roh Kudus yang merupakan perwujudan nyata diri Yesus dan
Bapa-Nya.
Cara kerja
Roh Kudus begitu dahsyat, tidak kelihatan tetapi memiliki kekuatan super yang
mampu mempengaruhi, menggerakan, mengendalikan dan menginspirasi manusia untuk
melakukan kebenaran hakiki sesuai Kehendak Allah. Roh Kudus sendiri tidak
pernah membelot dari hakikat dirinya, ia berjuang menghantar orang pada
keselamatan paripurna. Dewasa ini banyak orang yang hidupnya menyimpang dan
gampang melanggar hukum Allah dan perintah-perintah Gereja, karena hatinya
lebih dikuasai oleh tawaran kenikmatan duniawi. Mereka kurang memberikan tempat
istimewa dalam hatinya untuk membiarkan Roh Kudus menguasai dan merajai
hidupnya. Tuntutan menjadi murid-murid Kristus bagi kita orang Kristiani adalah
setia pada Kehendak Allah dan menjadikan Roh Kudus sebagai senjata dan kekuatan
kita. Roh Kudus mampu menghadirkan keberanian, memberikan kekuatan dan
kemampuan bagi kita untuk dapat bersaksi tentang kebenaran hakiki Allah. Jadi
kita tidak perlu takut dan cemas dengan kekuatan dunia yang menghalangi
semangat kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil dan kebenarannya. Kita
yakin dan percaya bahwa Allah selalu berpihak kepada kita, Ia akan terus
menganugerahkan Roh Kudus yang memberikan keberanian kepada kita untuk
mewujudkan kebenaran Allah di dunia.
Yesus pergi kepada Bapa untuk menegaskan Aku dan Bapa adalah satu dan
lebih dari itu Yesus membawa misi yang mulia yakni agar dapat mengutus Roh
Penghibur kepada para murid dan dunia. Roh Penghibur ini akan menginsafkankan
manusia akan dosa agar kembali kepada jalan kebenaran Allah dan kebenaran Sabda
Yesus.
Menjadi
refleksi bagi kita semua orang beriman, bagaimana Roh Kudus dapat berperan
dalam diri kita masing-masing? Roh Penghibur yang dijanjikan oleh Yesus itu
terus bekerja dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Kita adalah
perpanjangan tangan Allah sendiri dalam karya pelayanan dan pewartaan di tengah
dunia. Aspek yang dibutuhkan dari kita adalah pengosongan diri dan membiarkan
Roh Kudus bekerja merajai seluruh hidup kita agar kita fokus melakukan karya
pewartaan tentang kebenaran Sabda-Nya. Sambil mengharapkan kemurahan hati Allah
melalui cara kerja Roh Kudus, kita sekalian harus tekun dalam doa sebagai
ungkapan syukur kita kepada Allah yang telah hadir lewat cara-cara manusiawi
kita. Dengan begitu, kepercayaan dan keyakinan kita harus terus berkembang dan
militan di tengah-tengah arus jaman yang dipenuhi tantangan baik dalam diri
maupun yang datang dari luar. Semoga Tuhan Yesus menganugerahkan Roh Kebenaran
ke dalam hati kita masing-masing agar kita selalu insaf terhadap dosa dan siap
sedia mengikuti kebenaran dan tuntunan Allah. Ziarah hidup kita di dunia akan
bermakna bagi sesama bila kita setia menerima Roh Kebenaran yang mengarahkan
sikap dan perbuatan kita sesuai Kehendak Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar