Selasa, 03 Agustus 2021

Beriman Dengan Sikap Rasional Yang Baik

 

Mat 15: 21-28

 

Berpikir rasional sama artinya dengan berpikir menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan sehat. Berpikir rasional membantu manusia untuk menganalisis sesuatu hal atau kejadian dengan baik sehingga apa yang menjadi keputusannya dapat berjalan secara baik pula. Misalnya, ketika melihat cuaca mendung, manusia langsung menangkap pesan bahwa akan segera turun hujan. Logika manusia akan bekerja dengan baik sehingga ia bisa mengambil keputusan dengan bijak, seperti mengambil pakaian di tempat jemuran, mengenakan mantel hujan kalau hendak bepergian, menutup pintu dan jendela rumah, dan sebagainya.

 

Berpikir rasional juga dibutuhkan dalam sikap iman kepada Tuhan. Berpikir rasional membentengi diri agar kita tidak memiliki iman secara buta. Contoh praksis iman secara buta misalnya, orang tidak mau bekerja dalam hidupnya. Ia hanya mengandalkan doa sepanjang waktu sambil berharap Tuhan menurunkan makanan dan minuman dari langit. Atau dalam masa pandemi Covid-19, orang lebih mementingkan sikap egonya dengan tidak menaati protokel kesehatan sehingga bisa membayakan diri dan sesamanya untuk terpapar virus Covid-19. Berpikir rasional atau logis dalam iman mendorong kaum beriman untuk mewujudnyatakan imannya secara baik dalam tindakan konkrit, karena ia memahami iman tanpa perbuatan adalah sesuatu yang non sense (tidak masuk akal).

 

Berpikir secara rasional sejatinya dapat menuntun seseorang untuk lebih mendewasakan karakter dan hidup pribadinya. Termasuk dalam mendewasakan sikap imannya kepada Tuhan. Ia lebih paham memahami konsep tentang Tuhan dan segala intervensi-Nya dalam hidup manusia. Orang yang memiliki logika yang tidak lurus dan tidak sehat, cenderung tidak mampu memahami campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Ia lebih berpikir skeptis atau tidak percaya. Apalagi kalau doa dan permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Pasti lebih menambah rasa skeptis dalam diri tentang adanya Tuhan.

 

Berpikir secara rasional haruslah membawa orang pada keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Salah satu contoh orang yang hendak digambarkan di sini adalah seorang perempuan dari Kanaan. Menilik asal usulnya, ia berasal dari daerah yang anggota masyarakatnya tidak lagi memiliki darah Yahudi yang murni. Akibat perkawinan campur dengan bangsa asing, komunitas Yahudi di daerah Kanaan diberi label sebagai daerah orang kafir. Imbasnya, orang Kanaan dianggap tidak layak berbicara atau bergaul dengan sesama saudaranya dari Israel, yang tetap memiliki darah yahudi yang pure (asli).

 

Tetapi tidak bagi seorang perempuan Kanaan, yang berani mendatangi Yesus untuk meminta pertolongan karena anak perempuannya sedang dirasuki setan. Perjuangannya ternyata tidak berjalan mulus seperti diharapkan. Malahan ia harus menghadapi sikap apatis, hinaan, dan diskriminasi yang datang dari Yesus dan para murid-Nya. Kita dapat memaklumi karena Yesus dan para murid berasal dari kultur dan tradisi Yahudi yang kental. Sehingga mereka juga mengambil sikap sama seperti saudara sebangsanya. Mereka berbuat demikian untuk memaksa perempuan itu segera berlalu.

 

Namun ketahanan mental dan keyakinan perempuan itu tidak surut. Ia tetap bersikap sabar, rendah hati, dan tekun memohon bantuan dari Yesus. Yesus sungguh mengapresiasi sikap iman yang teguh dari perempuan Kanaan itu. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Buah dari iman yang kokoh akhirnya melahirkan keselamatan dan kebaikan hidup bagi sang perempuan Kanaan. Seandainya, ia tidak memiliki iman yang kokoh, sudah pasti ia akan menyerah dan tidak mau mengikuti Yesus lagi. Mungkin saja, ia akan pulang dengan rasa kecewa dan marah yang besar karena sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi.

 

Di sini dibutuhkan iman dan cara berpikir rasional yang matang. Perempuan Kanaan itu sudah mewujudkannya dengan sikap berani, sabar, tekun, dan rendah hati. Sikap iman yang kokoh harus dibarengi dengan sikap rasional yang kokoh pula, sehingga orang tidak terjebak dalam sikap iman yang buta dan dangkal. Sebuah sikap iman yang tidak berakar kuat. Karena orang hanya mendambakan kebaikan dan kemulusan hidup, namun tidak menginginkan tantangan dan kesulitan hidup. Tantangan dan kesulitan hidup ditafsir sebagai ketidakberpihakan Tuhan. Dan hanya kesuksesan, kemenangan, dan kebaikan hidup yang dilihat sebagai keberpihakan Tuhan.

 

Acapkali, kita juga menunjukkan sikap iman yang buta. Kita cepat merasa kecewa dan putus asa manakala permohonan kita tidak segera atau sama sekalih tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kita mengklaim Tuhan tidak adil. Atau mungkin juga kita mempertanyakan eksistensi-Nya, kemudian bersikap skeptis. Di tengah masa pandemi Covid-19, banyak orang beriman yang sudah menunjukkan sikap jenuh, marah, dan kecewa. Mereka tidak hanya marah kepada virus Covid-19, tetapi juga seolah-olah marah kepada Tuhan. Hidup orang beriman semakin jauh dari lingkaran Tuhan. Orang tidak mau berdoa di ruang-ruang privat sebagai dampak lanjut dari penutupan tempat ibadah untuk sementara waktu. Dan orang tidak memedulikan diri dan sesamanya dengan tidak menaati protokol kesehatan.

 

Beriman yang matang membutuhkan sikap rasional yang mumpuni. Dalam iman yang terpenting bukan soal intensi dan permonan. Ada nilai dan keutamaan yang menjadi prioritas yakni soal keberanian, ketabahan, ketekunan, dan kerendahan hati dalam menghadapi setiap tantangan, pergumulan, keterpurukan dan pergolakan hidup. Inilah yang dinamakan beriman dengan sikap rasional yang baik. Kita tidak gampang menyerah dan putus asa ketika Tuhan tidak mengabulkan doa dan permohonan. Ada kalanya Tuhan sementara mendidik kita untuk bersikap lebih sabar, berani, tekun, dan rendah hati.

 

St. Yohanes Maria Vianney yang pestanya kita peringati pada hari ini adalah figur orang kudus yang sabar, berani, tekun, dan rendah hati. Walaupun dicap sebagai orang yang paling bodoh secara akademis di masanya, ia tetap menunjukkan kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hikmat dan berkat Tuhan tidak diperolehnya dengan gampang. Ada banyak kesulitan dan pergumulan hidup yang harus dilaluinya. Mari kita beriman dengan sikap rasional yang baik untuk dapat memperoleh hikmat dan berkat Tuhan dalam hidup. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar