Mat 15: 21-28
Berpikir rasional sama artinya dengan berpikir
menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan sehat. Berpikir rasional
membantu manusia untuk menganalisis sesuatu hal atau kejadian dengan baik
sehingga apa yang menjadi keputusannya dapat berjalan secara baik pula.
Misalnya, ketika melihat cuaca mendung, manusia langsung menangkap pesan bahwa
akan segera turun hujan. Logika manusia akan bekerja dengan baik sehingga ia
bisa mengambil keputusan dengan bijak, seperti mengambil pakaian di tempat
jemuran, mengenakan mantel hujan kalau hendak bepergian, menutup pintu dan
jendela rumah, dan sebagainya.
Berpikir rasional juga dibutuhkan dalam sikap iman
kepada Tuhan. Berpikir rasional membentengi diri agar kita tidak memiliki iman
secara buta. Contoh praksis iman secara buta misalnya, orang tidak mau bekerja
dalam hidupnya. Ia hanya mengandalkan doa sepanjang waktu sambil berharap Tuhan
menurunkan makanan dan minuman dari langit. Atau dalam masa pandemi Covid-19,
orang lebih mementingkan sikap egonya dengan tidak menaati protokel kesehatan
sehingga bisa membayakan diri dan sesamanya untuk terpapar virus Covid-19.
Berpikir rasional atau logis dalam iman mendorong kaum beriman untuk
mewujudnyatakan imannya secara baik dalam tindakan konkrit, karena ia memahami
iman tanpa perbuatan adalah sesuatu yang non
sense (tidak masuk akal).
Berpikir secara rasional sejatinya dapat menuntun
seseorang untuk lebih mendewasakan karakter dan hidup pribadinya. Termasuk
dalam mendewasakan sikap imannya kepada Tuhan. Ia lebih paham memahami konsep
tentang Tuhan dan segala intervensi-Nya dalam hidup manusia. Orang yang
memiliki logika yang tidak lurus dan tidak sehat, cenderung tidak mampu
memahami campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Ia lebih berpikir skeptis atau
tidak percaya. Apalagi kalau doa dan permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan.
Pasti lebih menambah rasa skeptis dalam diri tentang adanya Tuhan.
Berpikir secara rasional haruslah membawa orang
pada keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Salah satu contoh orang yang hendak
digambarkan di sini adalah seorang perempuan dari Kanaan. Menilik asal usulnya,
ia berasal dari daerah yang anggota masyarakatnya tidak lagi memiliki darah
Yahudi yang murni. Akibat perkawinan campur dengan bangsa asing, komunitas
Yahudi di daerah Kanaan diberi label sebagai daerah orang kafir. Imbasnya,
orang Kanaan dianggap tidak layak berbicara atau bergaul dengan sesama
saudaranya dari Israel, yang tetap memiliki darah yahudi yang pure (asli).
Tetapi tidak bagi seorang perempuan Kanaan, yang
berani mendatangi Yesus untuk meminta pertolongan karena anak perempuannya
sedang dirasuki setan. Perjuangannya ternyata tidak berjalan mulus seperti
diharapkan. Malahan ia harus menghadapi sikap apatis, hinaan, dan diskriminasi
yang datang dari Yesus dan para murid-Nya. Kita dapat memaklumi karena Yesus
dan para murid berasal dari kultur dan tradisi Yahudi yang kental. Sehingga
mereka juga mengambil sikap sama seperti saudara sebangsanya. Mereka berbuat
demikian untuk memaksa perempuan itu segera berlalu.
Namun ketahanan mental dan keyakinan perempuan itu
tidak surut. Ia tetap bersikap sabar, rendah hati, dan tekun memohon bantuan
dari Yesus. Yesus sungguh mengapresiasi sikap iman yang teguh dari perempuan
Kanaan itu. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang
kaukehendaki” (Mat 15:28). Buah dari iman yang kokoh akhirnya melahirkan
keselamatan dan kebaikan hidup bagi sang perempuan Kanaan. Seandainya, ia tidak
memiliki iman yang kokoh, sudah pasti ia akan menyerah dan tidak mau mengikuti
Yesus lagi. Mungkin saja, ia akan pulang dengan rasa kecewa dan marah yang
besar karena sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi.
Di sini dibutuhkan iman dan cara berpikir rasional
yang matang. Perempuan Kanaan itu sudah mewujudkannya dengan sikap berani,
sabar, tekun, dan rendah hati. Sikap iman yang kokoh harus dibarengi dengan
sikap rasional yang kokoh pula, sehingga orang tidak terjebak dalam sikap iman
yang buta dan dangkal. Sebuah sikap iman yang tidak berakar kuat. Karena orang
hanya mendambakan kebaikan dan kemulusan hidup, namun tidak menginginkan
tantangan dan kesulitan hidup. Tantangan dan kesulitan hidup ditafsir sebagai
ketidakberpihakan Tuhan. Dan hanya kesuksesan, kemenangan, dan kebaikan hidup
yang dilihat sebagai keberpihakan Tuhan.
Acapkali, kita juga menunjukkan sikap iman yang
buta. Kita cepat merasa kecewa dan putus asa manakala permohonan kita tidak
segera atau sama sekalih tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kita mengklaim Tuhan
tidak adil. Atau mungkin juga kita mempertanyakan eksistensi-Nya, kemudian
bersikap skeptis. Di tengah masa pandemi Covid-19, banyak orang beriman yang
sudah menunjukkan sikap jenuh, marah, dan kecewa. Mereka tidak hanya marah
kepada virus Covid-19, tetapi juga seolah-olah marah kepada Tuhan. Hidup orang
beriman semakin jauh dari lingkaran Tuhan. Orang tidak mau berdoa di
ruang-ruang privat sebagai dampak lanjut dari penutupan tempat ibadah untuk
sementara waktu. Dan orang tidak memedulikan diri dan sesamanya dengan tidak
menaati protokol kesehatan.
Beriman yang matang membutuhkan sikap rasional yang
mumpuni. Dalam iman yang terpenting bukan soal intensi dan permonan. Ada nilai
dan keutamaan yang menjadi prioritas yakni soal keberanian, ketabahan,
ketekunan, dan kerendahan hati dalam menghadapi setiap tantangan, pergumulan,
keterpurukan dan pergolakan hidup. Inilah yang dinamakan beriman dengan sikap
rasional yang baik. Kita tidak gampang menyerah dan putus asa ketika Tuhan
tidak mengabulkan doa dan permohonan. Ada kalanya Tuhan sementara mendidik kita
untuk bersikap lebih sabar, berani, tekun, dan rendah hati.
St. Yohanes Maria Vianney yang pestanya kita
peringati pada hari ini adalah figur orang kudus yang sabar, berani, tekun, dan
rendah hati. Walaupun dicap sebagai orang yang paling bodoh secara akademis di
masanya, ia tetap menunjukkan kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Hikmat dan berkat Tuhan tidak diperolehnya dengan gampang. Ada banyak kesulitan
dan pergumulan hidup yang harus dilaluinya. Mari kita beriman dengan sikap
rasional yang baik untuk dapat memperoleh hikmat dan berkat Tuhan dalam hidup.
Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar