Selasa, 17 Agustus 2021

Tuhan Memiliki Keadilan-Nya Sendiri

                                                                         Mat 20: 1-16a

 

Pada hakekatnya prinsip keadilan mengakomodir setiap orang untuk mendapatkan hak sesuai dengan kualifikasi atau persyaratan tertentu yang berlaku secara umum. Volume kerja, tingkat kesulitan, besar kecilnya tanggung jawab, durasi atau lamanya waktu kerja, menjadi hal-hal lazim yang sangat mempengaruhi porsi hak yang akan diterima setiap orang. Semakin besar volume kerja, tingkat kesulitan dan waktu yang butuhkan, maka semakin besar pula hak yang akan diterima. Begitu pun sebaliknya, sudah sewajarnya apabila hak yang diterima seseorang semakin kecil karena disesuaikan dengan volume kerja yang kecil, tingkat kesulitan yang tidak seberapa, dan waktu yang singkat. Menjadi sesuatu yang aneh apabila terjadi penyeragaman dalam penerimaan hak. Orang akan mengklaim terjadi ketidakadilan dan penindasan. Karena keadilan itu tidak sama dengan keseragaman. Dan keseragaman belum tentu memenuhi unsur keadilan yang diharapkan. Keadilan akan tercapai dalam hidup apabila setiap orang mendapat haknya secara proporsional.

 

Gambaran tentang keadilan bertolak belakang dengan kisah yang digambarkan oleh bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:1-16a). Dalam perumpamaan-Nya tentang orang-orang upahan di kebun anggur, Yesus membeberkan cerita seorang tuan kebun anggur yang membagi hak sebesar satu dinar kepada orang-orang upahan yang bekerja dalam durasi waktu yang berbeda-beda. Ada yang bekerja penuh mulai dari pagi sampai sore. Ada yang bekerja setengah hari yakni dari siang sampai sore. Dan bahkan ada yang baru masuk sore hari. Praktis waktu kerjanya amat singkat. Jadi kalau kita mengamati terjadi penyeragaman hak yang dilakukan oleh tuan kebun anggur kepada para pekerja-Nya. Walaupun masing-masing orang bekerja dengan rentang waktu yang berbeda-beda, mereka semua mendapat hak yang sama sebesar satu dinar. Hal ini memicu persoalan karena orang-orang yang bekerja paling lama melakukan protes. Mereka tidak terima dan merasa diperlakukan tidak adil. Seharusnya mereka mendapat hak lebih banyak. Namun tuan kebun anggur mengklaim bahwa sudah terjadi kesepakatan di antara mereka untuk mendapat satu dinar, tanpa memperhitungkan aspek-aspek penting seperti volume kerja, tingkat kesulitan, dan durasi waktu. Tuan kebun anggur juga menegaskan bahwa ia memiliki otonomi untuk menentukan dan memberi hak sesuai dengan keinginannya.

 

Saya membayangkan akan terjadi chaos atau kekacauan besar pada masa sekarang, apabila ada majikan, pemilik modal atau pengusaha yang membayar hak para pekerjanya tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Namun apa yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya hanyalah sebuah kisah simbolik yang mau mengungkapkan logika kerajaan sorga yang sebenarnya. Sang tuan kebun anggur adalah Allah yang sementara menunjukkan kemahakuasaan dan kemurahan hati-Nya kepada umat manusia. Ia datang dan menawarkan keselamatan kepada umat-Nya tanpa memperhitungkan seberapa besar jasa atau kebaikan yang telah diperbuat oleh manusia. Kisah perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur mengelaborasi (menjelaskan) kasih Allah yang sungguh besar dan otonomi atau kapasitas Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

 

Kasih Allah itu sungguh dasyat dan tidak terbantahkan. Jauh melampaui semangat kasih yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak sedikit pun terpengaruh dengan pelbagai tipe manusia yang di atas dunia. Entah manusia itu baik atau jahat, tetap menjadi kewajiban bagi Allah untuk terus menawarkan keselamatan. Allah memiliki otonomi yang tidak bisa diintervensi oleh manusia. Bagi Allah, semua manusia memiliki hak dan derajat yang sama di mata-Nya. Tidak ada manusia yang merasa diri paling hebat dan benar di hadapan Tuhan. Tidak ada manusia yang mengklaim dirinya secara otomatis masuk sorga. Semuanya tergantung dari kewenangan Allah. Hanya Allah yang bisa menentukan keselamatan akhir bagi manusia. Dan hadiah keselamatan itu hanya dapat terjadi kalau manusia mau membuka diri dan bekerja pada kebun anggur-Nya. Hadiah keselamatan itu terjadi secara merata pada setiap manusia tanpa memperhitungkan seberapa lama ia menjadi orang beragama dan seberapa besar segala kebaikan yang telah ditanamkannya.

 

Era ini, banyak orang beragama yang merasa diri paling benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tidak jarang orang-orang ini mengutip ayat-ayat suci untuk mendukung pembenaran dirinya. Tetapi sungguh naif karena segala klaim atau pembenaran diri dilakukan untuk memenuhi atau mencapai target dan kepentingan yang berlaku secara duniawi. Ada indikasi atau fenomena yang menguatkan dugaan bahwa orang merasa paling benar dan suci karena ada kepentingan yang ingin digapai secara ekonomi, sosial dan politik. Lebih parah lagi, mereka selalu memandang remeh dan rendah orang lain. Di mulutnya hanya ada kata-kata nyinyir dan bully. Mereka selalu mempermasalahkan apa yang dibuat orang lain. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang, tidak selalu baik dan benar. Mereka menuntut orang harus mengikuti segala ajaran, kehendak dan keinginan mereka. Kalau tidak sejalan berarti orang dianggap sesat dan tidak mendapat tempat di sorga bersama Allah.

 

Mungkin sebagian dari kita juga seringkali merasa diri paling baik dan benar. Kita merasa bangga dengan identitas iman yang melekat. Kita juga merasa sudah banyak menyenangkan Tuhan dengan hal-hal baik yang telah dilakukan. Timbul kesombongan rohani dalam pribadi. Kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diri kita. Dengan gampang kita menghakimi orang lain sebagai pendosa dan melabeli mereka sebagai calon penghuni neraka jahanam. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Banyak realitas dan fakta yang menunjukkan demikian. Jamak terjadi kita lebih membanggakan prestasi, kebaikan, dan kesuksesan yang kita alami. Di sisi lain, kita sangat mudah untuk mengungkap kekurangan, masalah, dan aib yang dimiliki orang lain. Pernah saya mendengar kata-kata bijak dari seorang ibu. Ia mengatakan: “Kebenaran itu sejatinya hanya milik Tuhan. Di dunia manusia boleh merasa benar dan dibenarkan. Namun belum tentu di mata Tuhan. Karena Ia sungguh menyatakan kebenarannya dengan adil.”

 

Sepenggal kisah tentang orang-orang upahan di kebun anggur mau mengafirmasi dua hal. Pertama, kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. Dengan kemahakuasaan-Nya Allah bebas menyatakan kasih dan menawarkan keselamatan kepada manusia. Kedua, sifat otonom Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Allah leluasa memberi keselamatan kepada manusia dengan tidak melakukan pembedaan. Pada prinsipnya semua manusia memiliki martabat yang sama di mata-Nya. Entah orang benar dan tidak benar, semua memiliki hak yang satu dan sama yakni mendapatkan keselamatan. Bisa saja orang yang berkoar-koar tentang kebenaran di dunia dan merasa diri paling pantas untuk mendapatkan keselamatan ternyata pada akhir, tidak mendapatkannya. Dan orang yang dianggap sesat, kotor dan jahat di dunia, sangat boleh jadi mendapatkan keselamatan itu dari Tuhan. Keadilan yang dimiliki Tuhan tentu tidak sama dengan keadilan yang dianut oleh manusia. Mari kita senantiasa membuka diri kepada-Nya agar kita tetap hidup dalam spirit dan tuntunan-Nya. Semoga kita tidak jatuh dalam dosa kesombongan yang dapat membawa kita kepada ketidakselamatan. Amin. ***AKD*** 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar