Mat 13:16-17
Lebah dan lalat adalah dua jenis binatang yang
memiliki persamaan dan perbedaan. Kedua hewan ini sama-sama berasal dari
golongan serangga yang memiliki sayap untuk dapat berpindah dari satu tempat ke
tempat yang lain. Namun ada perbedaan mendasar yang melingkupi keduanya. Lebah
mencari sari bunga untuk menjadi sumber makanannya. Di mana pun tempatnya,
entah di tempat yang bersih atau kotor, lebah akan selalu mendeteksi sari bunga
untuk dihinggapi dan diisap sari madunya. Sedangkan lalat mendapatkan sumber makanan
dari kotoran. Di mana pun tempatnya, sesuatu yang kotor dan berbau pasti
disenangi oleh lalat. Dari deskripsi singkat mengenai lebah dan lalat ini, kita
dapat menarik kesimpulan bahwa lebah lebih menyukai keindahan, keharuman dan
kenikmatan. Sementara, lalat memiliki ketertarikan dengan segala sesuatu yang
kotor dan berbau.
Lebah dan lalat menganalogikan dua sikap atau cara
pandang manusia yang berbeda. Pertama, karakter lebah mewakili sikap atau cara
pandang manusia yang positif. Di mana pun tempatnya dan apa pun situasinya,
manusia yang memiliki karakter lebah, selalu melihat segala sesuatu dari cara
pandang yang baik. Bahkan, dalam situasi yang sulit dan buruk sekali pun, ia
tidak terpengaruh untuk berpikir negatif atau buruk. Ia selalu berpikir, merasakan,
dan menganalisisnya dari cara pandang konstruktif. Tentu saja, dari hal yang
buruk atau jahat selalu mengajarkan sesuatu yang bernilai baik dalam
kehidupannya. Kedua, karakter lalat merepresentasikan sikap atau cara pandang
manusia yang suka melihat segala sesuatu dari sudut yang negatif. Ia tidak
pernah menemukan kebaikan atau hal yang positif yang terjadi dalam kehidupan.
Walaupun realitas itu baik, selalu ada celah yang ia dapatkan untuk selalu
berpikir tidak baik. Ia suka menaruh curiga dan prasangka terhadap orang lain.
Ia tidak mau belajar dari pengalaman kehidupannya. Ia selalu merasa diri paling
benar dan tidak menganggap orang lain yang ada di sekitarnya.
Media sosial kita kerap dibanjiri dengan dengan
sikap nyinyir (cerewet), merendahkan dan bullying (menindas). Ada orang atau
sekelompok orang yang suka memposting kata-kata berupa status dan komentar yang
tidak baik tentang suatu realitas sosial atau menyangkut pribadi orang
tertentu. Mereka cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif
sehingga sangat gampang membuat klaim atau vonis yang buruk. Mirisnya, apa yang
mereka sampaikan atau ungkapkan tidak berdasarkan basis data yang obyektif dan
akurat. Tingkat pengetahuan atau pemahaman mereka tentang suatu hal mungkin
masih minim atau sama sekalih tidak ada. Namun, apa yang mereka posting di
media sosial seolah-olah sangat benar sehingga bisa mengundang simpati dan
empati publik.
Tidak jarang, pelbagai status dan komentar
demikian, memicu friksi atau keterbelahan di tengah situasi konkrit masyarakat.
Muncul sikap pro dan kontra. Masyarakat terpecah dalam kubu-kubu tertentu.
Nilai persatuan dan persaudaraan kita sebagai sesama manusia mengalami ancaman
serius. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk menanggulangi badai pandemi
Covid-19 misalnya, ternyata ada sikap atau perilaku dari kelompok orang
tertentu untuk mulai mencari-cari kelemahan dan kesalahan pemerintah. Narasi
sesat pun mulai dibangun untuk menurunkan pemerintahan yang sah. Contoh kasus
ini, memberi gambaran bahwa orang sangat gampang menunjukkan karakter lalat
dalam kehidupannya. Di sisi yang lain, terasa cukup sulit untuk membangun
karakter lebah dalam pribadi seseorang.
Menarik kita menyimak kata-kata Yesus dalam bacaan
Injil pada hari ini (Mat 13:16-17). Dengan tegas Yesus berkata: “Tetapi
berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat
13:16). Ada dua hal yang bisa kita telusuri dari pernyataan Yesus ini. Pertama,
Yesus memberi apresiasi kepada para murid-Nya (termasuk juga orang lain yang
hadir) yang telah mampu melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baik
dari Diri-Nya. Dari setiap sabda dan tindakan mukjizat Yesus, para murid
menjadi percaya dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena
telah melihat dan mendengar sesuatu yang baik dari Yesus, maka para murid mulai
belajar untuk menjadi seorang pewarta yang baik. Mereka tidak menyebarkan hoax
atau berita bohong melainkan berita nyata dan gembira yang mempresentasikan
kehadiran kerajaan Allah di tengah dunia. Kedua, Yesus menyindir dan mengkritik
perilaku orang-orang yang merasa diri paling hebat dan benar. Orang-orang ini
tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan warta keselamatan ilahi yang
dikumandangkan oleh Yesus. Hati dan pikiran mereka telah menjadi keras sehingga
mulai muncul sikap nyinyir dan tidak menganggap Yesus. Malahan mereka mulai
mencari-cari kesalahan untuk menjerat-Nya.
Sikap yang ditunjukkan oleh para murid dan orang
yang percaya kepada Yesus adalah sikap atau perilaku orang yang mampu melihat
dan berpikir positif dalam hidupnya. Dalam pribadi mereka ada karakter lebah
karena mereka bisa berpikir dan merasakan segala kebaikan dan keharuman yang
terjadi dalam hidup. Dan sumber kebaikan dan keharuman dalam hidup mereka
adalah Yesus sendiri. Mereka belajar dari Yesus untuk menjadi pribadi yang baik
dan benar. Pribadi yang selalu mengarahkan hati, pikiran dan tindakannya kepada
Allah. Aktualisasi diri mereka adalah menjadi murid Yesus yang sejati dan
militan. Seorang murid yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam kata-kata
dan tindakan konkrit. Sebaliknya orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan
kepada Yesus adalah orang-orang dengan karakter lalat. Mereka hanya melihat hal
yang tidak baik dari Yesus, karena mereka merasa diri paling baik dan
benar.
Hari ini, saya dan anda terinspirasi untuk memiliki
karakter lebah dalam hidup. Karakter yang suka akan kebaikan, keharuman dan
keindahan hidup. Karakter yang bersumber dari Sang Guru Ilahi, yakni Yesus
Kristus. Kita semua mau belajar tentang kebaikan hidup dari setiap peristiwa
hidup yang kita alami. Baik itu peristiwa yang positif maupun yang negatif.
Semoga kita dapat menarik hal yang baik terutama dalam setiap hal atau situasi
yang pahit dan tidak mengenakan. Kita belajar menjadi pribadi yang matang dan
bijak dalam kehidupan. Sehingga apa yang kita hasilkan dari dalam diri adalah
hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Dan bukan sebaliknya membawa kita
kepada kesesatan berpikir dan bertindak. Dengan demikian, apa yang kita lakukan
adalah bagian penting dari cara kita menghidupi jati diri sebagai seorang murid
Yesus yang sejati. Dalam semangat St. Yoakim dan Sta. Ana yang pestanya kita
rayakan pada hari ini, mari kita selalu menjadi pribadi yang baik dengan
menjadi mitra Allah dalam tugas dan karya kita di tengah dunia. Kita mampu
membawa perubahan yang baik terutama dengan menyebarkan informasi dan motivasi
yang baik dan benar kepada semua orang. Amin. ***AKD***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar