Minggu, 01 Agustus 2021

Memiliki Karakter Lebah Dalam Hidup

 

Mat 13:16-17

Lebah dan lalat adalah dua jenis binatang yang memiliki persamaan dan perbedaan. Kedua hewan ini sama-sama berasal dari golongan serangga yang memiliki sayap untuk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun ada perbedaan mendasar yang melingkupi keduanya. Lebah mencari sari bunga untuk menjadi sumber makanannya. Di mana pun tempatnya, entah di tempat yang bersih atau kotor, lebah akan selalu mendeteksi sari bunga untuk dihinggapi dan diisap sari madunya. Sedangkan lalat mendapatkan sumber makanan dari kotoran. Di mana pun tempatnya, sesuatu yang kotor dan berbau pasti disenangi oleh lalat. Dari deskripsi singkat mengenai lebah dan lalat ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa lebah lebih menyukai keindahan, keharuman dan kenikmatan. Sementara, lalat memiliki ketertarikan dengan segala sesuatu yang kotor dan berbau.

 

Lebah dan lalat menganalogikan dua sikap atau cara pandang manusia yang berbeda. Pertama, karakter lebah mewakili sikap atau cara pandang manusia yang positif. Di mana pun tempatnya dan apa pun situasinya, manusia yang memiliki karakter lebah, selalu melihat segala sesuatu dari cara pandang yang baik. Bahkan, dalam situasi yang sulit dan buruk sekali pun, ia tidak terpengaruh untuk berpikir negatif atau buruk. Ia selalu berpikir, merasakan, dan menganalisisnya dari cara pandang konstruktif. Tentu saja, dari hal yang buruk atau jahat selalu mengajarkan sesuatu yang bernilai baik dalam kehidupannya. Kedua, karakter lalat merepresentasikan sikap atau cara pandang manusia yang suka melihat segala sesuatu dari sudut yang negatif. Ia tidak pernah menemukan kebaikan atau hal yang positif yang terjadi dalam kehidupan. Walaupun realitas itu baik, selalu ada celah yang ia dapatkan untuk selalu berpikir tidak baik. Ia suka menaruh curiga dan prasangka terhadap orang lain. Ia tidak mau belajar dari pengalaman kehidupannya. Ia selalu merasa diri paling benar dan tidak menganggap orang lain yang ada di sekitarnya.

 

Media sosial kita kerap dibanjiri dengan dengan sikap nyinyir (cerewet), merendahkan dan bullying (menindas). Ada orang atau sekelompok orang yang suka memposting kata-kata berupa status dan komentar yang tidak baik tentang suatu realitas sosial atau menyangkut pribadi orang tertentu. Mereka cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif sehingga sangat gampang membuat klaim atau vonis yang buruk. Mirisnya, apa yang mereka sampaikan atau ungkapkan tidak berdasarkan basis data yang obyektif dan akurat. Tingkat pengetahuan atau pemahaman mereka tentang suatu hal mungkin masih minim atau sama sekalih tidak ada. Namun, apa yang mereka posting di media sosial seolah-olah sangat benar sehingga bisa mengundang simpati dan empati publik.

 

Tidak jarang, pelbagai status dan komentar demikian, memicu friksi atau keterbelahan di tengah situasi konkrit masyarakat. Muncul sikap pro dan kontra. Masyarakat terpecah dalam kubu-kubu tertentu. Nilai persatuan dan persaudaraan kita sebagai sesama manusia mengalami ancaman serius. Di tengah berbagai upaya pemerintah untuk menanggulangi badai pandemi Covid-19 misalnya, ternyata ada sikap atau perilaku dari kelompok orang tertentu untuk mulai mencari-cari kelemahan dan kesalahan pemerintah. Narasi sesat pun mulai dibangun untuk menurunkan pemerintahan yang sah. Contoh kasus ini, memberi gambaran bahwa orang sangat gampang menunjukkan karakter lalat dalam kehidupannya. Di sisi yang lain, terasa cukup sulit untuk membangun karakter lebah dalam pribadi seseorang.

 

Menarik kita menyimak kata-kata Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini (Mat 13:16-17). Dengan tegas Yesus berkata: “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16). Ada dua hal yang bisa kita telusuri dari pernyataan Yesus ini. Pertama, Yesus memberi apresiasi kepada para murid-Nya (termasuk juga orang lain yang hadir) yang telah mampu melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang baik dari Diri-Nya. Dari setiap sabda dan tindakan mukjizat Yesus, para murid menjadi percaya dan menyerahkan diri ke dalam penyelenggaraan ilahi. Karena telah melihat dan mendengar sesuatu yang baik dari Yesus, maka para murid mulai belajar untuk menjadi seorang pewarta yang baik. Mereka tidak menyebarkan hoax atau berita bohong melainkan berita nyata dan gembira yang mempresentasikan kehadiran kerajaan Allah di tengah dunia. Kedua, Yesus menyindir dan mengkritik perilaku orang-orang yang merasa diri paling hebat dan benar. Orang-orang ini tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan warta keselamatan ilahi yang dikumandangkan oleh Yesus. Hati dan pikiran mereka telah menjadi keras sehingga mulai muncul sikap nyinyir dan tidak menganggap Yesus. Malahan mereka mulai mencari-cari kesalahan untuk menjerat-Nya.

 

Sikap yang ditunjukkan oleh para murid dan orang yang percaya kepada Yesus adalah sikap atau perilaku orang yang mampu melihat dan berpikir positif dalam hidupnya. Dalam pribadi mereka ada karakter lebah karena mereka bisa berpikir dan merasakan segala kebaikan dan keharuman yang terjadi dalam hidup. Dan sumber kebaikan dan keharuman dalam hidup mereka adalah Yesus sendiri. Mereka belajar dari Yesus untuk menjadi pribadi yang baik dan benar. Pribadi yang selalu mengarahkan hati, pikiran dan tindakannya kepada Allah. Aktualisasi diri mereka adalah menjadi murid Yesus yang sejati dan militan. Seorang murid yang membawa kebaikan dan keselamatan dalam kata-kata dan tindakan konkrit. Sebaliknya orang-orang yang tidak memiliki kepercayaan kepada Yesus adalah orang-orang dengan karakter lalat. Mereka hanya melihat hal yang tidak baik dari Yesus, karena mereka merasa diri paling baik dan benar. 

 

Hari ini, saya dan anda terinspirasi untuk memiliki karakter lebah dalam hidup. Karakter yang suka akan kebaikan, keharuman dan keindahan hidup. Karakter yang bersumber dari Sang Guru Ilahi, yakni Yesus Kristus. Kita semua mau belajar tentang kebaikan hidup dari setiap peristiwa hidup yang kita alami. Baik itu peristiwa yang positif maupun yang negatif. Semoga kita dapat menarik hal yang baik terutama dalam setiap hal atau situasi yang pahit dan tidak mengenakan. Kita belajar menjadi pribadi yang matang dan bijak dalam kehidupan. Sehingga apa yang kita hasilkan dari dalam diri adalah hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan. Dan bukan sebaliknya membawa kita kepada kesesatan berpikir dan bertindak. Dengan demikian, apa yang kita lakukan adalah bagian penting dari cara kita menghidupi jati diri sebagai seorang murid Yesus yang sejati. Dalam semangat St. Yoakim dan Sta. Ana yang pestanya kita rayakan pada hari ini, mari kita selalu menjadi pribadi yang baik dengan menjadi mitra Allah dalam tugas dan karya kita di tengah dunia. Kita mampu membawa perubahan yang baik terutama dengan menyebarkan informasi dan motivasi yang baik dan benar kepada semua orang. Amin. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar