Selasa, 14 Desember 2021

Semakin Percaya Kepada Tuhan

Luk 7:19-23

 

Esensi pertanyaan dalam konteks meminta klarifikasi atau konfirmasi pada hakikatnya memiliki tujuan utama agar sebuah hal atau persoalan yang pada mulanya belum jelas, masih kabur pada akhirnya dapat secara terang, utuh dan jernih dijelaskan. Orang yang meminta klarifikasi atau konfirmasi atas sesuatu hal biasanya dilatari oleh sikap ragu-ragu. Atau bisa juga ia tidak tahu sehingga ia meminta klarifikasi atau konfirmasi.

 

Ketika mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan sepak terjang-Nya, timbul sikap ragu-ragu dalam diri Yohanes Pembaptis tentang Yesus. Yang ia pahami tentang Yesus adalah sosok “Daud baru” yang akan membawa perubahan secara politik dalam negeri di tanah Israel. Yesus disejajarkan sebagai seorang raja duniawi yang besar dan agung. Karena ia akan memiliki kerajaannya sendiri, terlepas dari intervensi bangsa asing. Dia akan memimpin bangsanya dengan gagah berani untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari penjajahan dan penindasan bangsa asing. Konsep pemikiran dan pemahaman Yohanes Pembaptis ini tidak sesuai dengan apa yang ia dengar dan ketahui secara riil tentang Yesus.

 

Ada hal kontras yang menciptakan sikap ragu-ragu dalam dirinya. Mana mungkin Mesias yang digambarkan sebagai sosok yang garang untuk berkonfrontasi dengan bangsa penjajah bisa menyata dalam diri Yesus. Sementara Yesus yang ia dengar tidaklah demikian. Yesus sebagai Sang Mesias ini sungguh jauh dari kesan raja duniawi. Ia pergi dari satu kampung ke kampung yang lain membawa warta kasih Allah dengan sabda dan aksi mukjizat-Nya. Ia menawarkan keselamatan kepada semua orang sembari mengajak mereka untuk berjalan di jalan yang benar. Jalan yang sejatinya telah disabdakan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya. Bahkan Yesus juga mengajarkan spirit pengampunan. Setiap orang tidak boleh melakukan balas dendam kepada sesamanya. Mereka tidak boleh membenci musuhnya. Mereka harus mengasihi musuhnya.

 

Ini hal yang aneh dan janggal menurut Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu, dia meminta para muridnya untuk meminta informasi secara langsung kepada Yesus. Boleh dikatakan dalam hal ini. Yohanes Pembaptis meminta klarifikasi dan konfirmasi mengenai siapa Yesus melalui para muridnya. “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang yang lain?” (Luk 7:19). Yesus menjawab pertanyaan Yohanes dengan menafsirkan perbuatan-Nya melalui teks dari Yesaya, yang menggambarkan hari pembebasan Mesias. Orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan (Yes 29:18-19;35:5-6). “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Sekali lagi, dengan menghidupkan kata-kata Yesaya dalam perbuatan-Nya, Yesus menegaskan Diri-Nya dan meyakinkan Yohanes untuk tidak ragu-ragu terhadap Diri-Nya.

 

Bahwa sesungguhnya, Yesus adalah Mesias yang sementara dinanti-nantikan itu. Ia adalah Daud baru dengan membawa kerajaan yang baru pula. Ia bukan raja duniawi tetapi raja ilahi yang menyata dalam kerajaan duniawi. Ia datang bukan untuk menegakkan kerajaan duniawi. Melainkan kerajaan Allah yang terwujud dalam dunia nyata. Ia datang membawa pesan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Tidak saja dengan kata-kata yang meneguhkan dan menguatkan. Melalui perbuatan ajaib atau aksi mukjizat, Yesus sungguh menyatakan dan menegaskan kasih Allah untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

 

Sukacita Injil itu sebenarnya telah hadir bersama-sama dengan kita pada hari ini. Di pekan ketiga masa Adven. Tuhan hendak menyatakan dan menegaskan kepada kita semua bahwa Ia adalah Mesias. Anak Allah yang hidup. Dia datang sendiri ke tengah-tengah kita untuk membawa pembebasan atas dosa-dosa. Dan kita semua akan masuk dalam lingkaran orang-orang yang diselamatkan. Namun apakah kita sungguh percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup atau tidak. Dalam kehidupan riil, kita seringkali berlaku seperti Yohanes Pembaptis yang masih bersikap ragu-ragu atau tidak percaya kepada Yesus sebagai Sang Mesias.

Melalui pikiran dan kata-kata, acapkali kita masih mempertanyakan arti sebuah kebenaran dan keselamatan. Apakah Yesus dan Allah itu sungguh ada? Apakah Yesus yang menyejarah itu adalah Allah yang hidup? Apakah setiap manusia dapat diselamatkan melalui jalan Allah dan Yesus? Apakah sesudah kematian ada kebangkitan untuk menyongsong hidup yang baru? Apakah sorga dan neraka itu sungguh-sungguh ada? Bagaimana garansi atau jaminan yang saya dapat ketika dibaptis menjadi orang Katolik? Dan masih banyak lagi litani keragu-raguan kita akan Yesus sebagai Mesias. Anak Allah yang membawa sukacita dan keselamatan dalam hidup orang beriman.

 

Keragu-raguan terhadap Yesus dan Allah yang menggumpal dalam pikiran dan kata-kata membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang apatis, tidak mau tahu dan permisif. Kita tidak peduli lagi dengan kehidupan iman kristiani. Kita tidak lagi bergairah untuk berdoa. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok. Atau secara berjamaah di gereja. Kita juga tidak peduli untuk terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan baik di basis, lingkungan, maupun secara paroki. Secara sosial kita juga mengalami kematian, Walaupun masih hidup secara fisik. Kita tidak mau tahu dengan pelbagai keprihatinan sosial yang ada di sekitar. Karena kita hanya peduli dengan diri sendiri.

 

Hari ini kita semua diajak untuk sungguh yakin kepada Yesus, sebagai Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Kita semua diarahkan untuk mau membangun religiositas yang bersifat interpersonal. Kita dengar sadar, tulus, dan rendah hati mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia yang kita imani. Dalam percakapan-percakapan rohani yang bersifat pribadi dan kolektif, baiklah kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, Yesus dan Allah, agar kita tidak bersikap ragu-ragu dan tidak percaya kepada-Nya. Marilah kita mendekatkan diri kepada Tuhan di masa Adven ini dengan membawa sukacita Injil. Semangat mendengarkan Sabda Tuhan, semangat dalam doa dan semangat pelayanan kepada sesama adalah hal-hal konkrit dari sukacita Injil yang bisa kita lakukan. Semoga. ***AKD***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar