Rabu, 10 September 2025

Kasihilah Musuhmu

 

Kasihilah  Musuhmu,  Injil Lukas 6: 27-38.

Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu Murah hati. Demikianlah Yesus berkata kepada murid-muridnya dalam Injil Lukas bab 6:27-38. Dengarlah perkataan-Ku ini: Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik orang yang membenci kalian. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Apabila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang  meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kalian kehendaki orang perbuat kepada kalian, demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka. Apabila kalian mengasihi orang-orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Lagi pula jikalau kalian memberikan pinjaman kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang yang berdosa pun meminjam kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyaknya.


Akan tetapi kalian, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka yang memusuhi kalian dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan, maka ganjaranmu akan besar dan kalian akan menjadi anak Allah Yang Maha Tinggi. Sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang-orang yang jahat. Hendaklah kalian murah hati sebagaimana Bapamu murah hati adanya. Janganlah menghakimi orang, maka kalianpun tidak akan dihakimi. Janganlah menghukum orang, maka kalian pun tidak akan dihukum. Ampunilah maka kamu akan diampuni.

Kita tahu dari pengalaman hidup sehari-hari bahwa kasih itu lebih mudah dikatakan dari pada dilakukan. Kasih itu tidak pernah dilakukan jika kita hanya melihat terus orang-orang yang melukai kita dan melihat luka-luka yang kita alami.  Kita diundang untuk melihat diri kita sendiri dan belajar mengelola luka-luka itu sebelum kita mengungkapkan rasa sakit hati itu kepada orang yang melukai kita. Kita belajar mengendalikan diri dan berhenti untuk menghakimi atau mengkambing hitamkan orang  lain.  Sebab selama itu kita masih melihat orang lain itu sebagai musuh, kita tidak dapat mencintainya. Maka berhentilah memusuhi teman supaya kita bisa saling mengasihi. Tanpa cinta kasih, kehidupan manusia tidak pernah menjadi lebih baik. Cinta kasihlah yang membuat segala sesuatu menjadi baik. Bahkan cinta kasih mampu mematahkan dan mengakiri rantai kekerasan. Mengasih ditawarkan oleh Tuhan Yesus menjadi suatu cara hidup anak-anak-Allah. Yesus tidak pernah berkata, “Binasakanlah musuh-musuhmu karena mereka itu musuh Allah.” Sebaliknya Ia berkata, “ Kasihilah musuhmu, Jangan menghakimi, ampunilah.  Mengasihi itu  adalah tindakan ilahi karena Allah adalah kasih. Maka siap pun yang tidak mengasihi, tidak mengenal Allah (1.yoh 4:8). Yesus menegaskan bahwa dengan mengasihi musuh, bahkan memberkati dan mendoakan orang yang mengutuk ataupun mencaci kita, dengan demikian identitas kita sebagai anak-anak Allah baik terhadap orang baik maupun orang jahat, menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar. (Mat. 5:44-45) kita pun demikian, kita dipanggil untuk terus berbuat baik tanpa pilih kasih, baik kepada orang baik ataupun orang jahat. Yang kita benci adalah perbuatannya, tetapi setiap pribadinya selalu kita kasihi dan kita doakan.

Menjadi pertanyaan buat kita: lantas bagaimana caranya mengasihi musuh?  Bukankah prakteknya sulit? Perselisihan, permusuhan seringkali menimbulkan kepahitan yang luar biasa.  Dalam hal mengasihi musuh, bukan artinya kita tanpa berbuat apa-apa

ketika ada yang menampar, menganiaya ataupun menghina kita, namun kita hendaknya melakukan sesuatu lebih tinggi dan besar dampaknya daripada hal yang sudah biasa dilakukan oleh manusia dengan pembalasan yang setimpal, yaitu dengan kasih dari Tuhan. Dengan kasih maka kita sedang membalikan cara yang dilakukan itu untuk menyerang dirinya sendiri, dia mau sadar atau tidak bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal terbodoh yang pernah diperbuatnya.

Yang hendak di ajarkan Tuhan kepada kita adalah tentang sikap hati kita untuk melakukan kasih kepada sesama manusia. Apa yang Tuhan Yesus katakana dalam Injil tadi adalah beberapa contoh,  bahwa kasih itu harus berubah dalam kehidupan kita. Kasih yang diterima dari Tuhan Yesus harus memiliki dampak bagi sesama kita, sekalipun itu orang yang memusihi kita.  Sudahkah kita belajar mengasihi orang lain?  Tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Marilah kita saling mengasihi dan saling mendoakan. Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni sesama.

Tuhan memberkati kita

Minggu, 26 Februari 2023

Pengalaman Iman Yang Meneguhkan Iman

Luk 4:38-44

           

            Banyak cara seseorang bisa mendapatkan penguatan dan peneguhan dalam kehidupan imannya. Baik itu berupa refleksi pengetahuan dan ajaran iman. Maupun juga lahir dari setiap pengalaman yang dilihat dari orang lain atau dialami secara langsung. Karena setiap pengalaman kehidupan adalah peristiwa iman yang mengandung nutrisi bagi kehidupan iman manusia. Saya sangat meyakini itu karena berangkat dari pengalaman yang saya alami secara pribadi. Ketika melayani pendampingan rohani bagi pasien di ruang-ruang Rumah Sakit Umum Daerah Lewoleba, hal positif pertama yang saya alami adalah merasakan energi yang baik dalam diri. Indikasinya saya merasa nyaman, bisa berkomunikasi dengan baik dengan pasien, dan menjadi pendengar yang setia bagi mereka.

 

Selanjutnya, dari sisi iman, saya merasa sangat dikuatkan. Begitu juga, pengalaman iman yang sama dialami juga oleh mereka. Mereka turut dikuatkan dan diteguhkan dalam iman untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup. Terutama dalam pengalaman sakit yang sementara dialami. Ada satu pengalaman yang berkesan ketika saya mendampingi seorang kepala dinas yang sementara sakit. Ia bersama istrinya sangat ramah menerima kehadiran saya. Dalam suasana doa, mereka sangat khusyuk melarutkan diri. Bahkan dengan penuh keyakinan mereka turut pula mendaraskan doa dengan suara yang nyaring. Dalam hati saya kagum dengan iman sepasang suami istri ini. Dan saya percaya bahwa oleh keteguhan iman, sang suami dapat memperoleh kesehatannya kembali. Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar bahwa sang kepala dinas telah pulih dari sakitnya; dan bersama sang istri, mereka telah kembali ke rumahnya. Sungguh sebuah pengalaman iman yang sangat meneguhkan.

 

            Pengalaman iman yang sama saya alami ketika berkunjung ke sebuah panti asuhan. Memang miris ketika melihat anak-anak kecil dan remaja yang harus menjalani kehidupan tanpa orang tua kandung di usia mereka yang sangat belia. Mereka sebenarnya tidak pernah menginginkan harus dilahirkan. Apalagi menjalani kehidupan demikian. Namun situasi yang menuntut mereka harus kuat dan matang, melampaui usia mereka yang belum matang. Terlepas dari gambaran di atas, ternyata situasi riil yang mereka jalani sangat kontras dengan takdir yang terberi dalam diri mereka sebagai anak-anak panti. Mereka kelihatan sangat bahagia dan penuh sukacita bersama ibu pengasuh. Hal ini tergambar juga ketika kami semua bersatu dalam doa dan syering bersama. Dengan penuh semangat dan kegembiraan, kami semua dapat melewati setiap tahapan kegiatan dengan baik dan lancar. Mereka sungguh dikuatkan dalam iman kepada Tuhan. Begitu pun sebaliknya. Saya juga sungguh dikuatkan dalam iman.

 

            Dua pengalaman kecil ini, setidaknya mewakili juga pengalaman-pengalaman yang lain, memberi afirmasi atau penegasan terhadap kata-kata Yesus: “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk 4:43). Tentu apa yang saya lakukan, sangat jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh Yesus dalam bacaan Injil. Tidak bisa juga dibuat perbandingan karena memang tidak bisa disandingkan. Ia sangat sempurna di dalam kemahakuasaan ilahi. Namun, pengalaman sederhana yang saya alami boleh dikatakan sementara mengarah kepada apa yang dicanangkan oleh Tuhan sendiri. Mewartakan kasih tanpa batas dan melampau sekat. Manusia harus meninggalkan zona nyaman kehidupannya demi mewartakan kasih dan kehendak Tuhan. Terlepas dari pelbagai kekurangan yang melingkupinya. “Karena itu yang penting bukanlah menanam atau menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Kor 3:7). Tugas kita hanyalah menanam dan merawat apa yang telah ditaburkan. Selebihnya biarlah Tuhan yang akan menumbuhkembangkannya.

 

            Merefleksikan dan menghayati panggilan tugas dan karya pribadi masing-masing adalah sebuah keniscayaan. Di dalamnya, tanpa pernah berhenti dan bosan, kita terus didekatkan untuk menemukan rahasia Tuhan yang berbicara dalam setiap pengalaman atau peristiwa hidup. Dengan ini, kita semakin menyadari diri sebagai makhluk terbatas yang memiliki pengalaman tidak terbatas tentang Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan. Namun, dengan pengalaman ketidakterbatasan, kita akan mampu menemukan Tuhan yang sedang berbicara dalam setiap kejadian atau peristiwa hidup. Terutama dalam menghayati tugas dan panggilan kita masing-masing. Sebenarnya apa yang sementara dikehendaki atau direncanakan oleh Tuhan dalam hidup kita.

 

            Hidup, karya, dan panggilan kita adalah sebuah amanat atau titipan suci. Hidup, karya, dan panggilan untuk mewartakan kasih dan kebaikan Allah tanpa batas dan melampaui sekat. Karena hidup tidak sekedar hidup. Ia adalah untaian pengalaman iman yang sementara mengungkapkan misteri iman kepada segenap umat manusia. Ketika orang lain merasa bahagia, terhibur, tertolong dan dikuatkan oleh karena karya dan pelayanan kita, sadar atau tidak, misteri Tuhan sementara terungkap di sana. Ketika sesama belum merasa bahagia, terhibur, dikuatkan atau diselamatkan, kita perlu bertanya dan berefleksi, sudahkah kita menghidup karya dan panggilan diri sesuai dengan amanat Tuhan?

 

            Kisah kasih Tuhan kepada ibu mertua Simon dan orang banyak mendorong kita untuk tidak pernah berhenti mewartakan kasih Tuhan tanpa batas dan sekat. Karena di dalam setiap pengalaman hidup yang kita jalani, terselip pengalaman iman yang meneguhkan jati diri keimanan kita kepada Dia yang kita sembah. Semoga setiap orang yang kita layani dapat merasakan kehadiran Tuhan yang menghibur, meneguhkan, dan menguatkan perjalanan kehidupan mereka di dunia ini.

Minggu, 19 Februari 2023

Menjadi Manusia Yang Berkesadaran

Mat 19:16-22

Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, kita memiliki kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak-anak untuk memiliki sikap yang baik. Baik tidak hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga dalam lingkup pergaulan sosialnya bersama orang lain. Tentu dengan pelbagai pendekatan dan metode yang berbeda. Ada pendekatan yang lembut, tegas, dan tidak jarang orang tua mendidik anak-anak dengan kata-kata yang keras dan kasar. Kata-kata kunci seperti jangan, tidak, harus, wajib, menjadi kata-kata lumrah dan terus menghiasi dinamika hidup harian kita. Terutama berhadapan dengan anak-anak, kata-kata ini dipakai untuk memberi batasan agar mereka tidak melenceng dari hidup yang sudah digariskan oleh hukum moral dan ajaran agama. Kata-kata demikian, menjadi lebih efektif apabila ditambahkan dengan keterangan yang menjelaskan dampak dari sebuah perbuatan. Misalnya, jangan mencuri karena Tuhan akan murka. Kamu tidak boleh menghina sesamamu karena kamu akan mendapat celaka. Anda harus menolong orang lain agar Tuhan mengasihimu. Anda wajib menolong orang miskin agar kelak masuk sorga. Dan masih banyak contoh kalimat yang lain.

 

            Nasihat seperti ini merupakan contoh penerapan metode reward (hadiah) dan punishment (hukuman) untuk memotivasi seseorang. Metode ini memang terbukti efektif dalam berbagai bidang kehidupan manusia termasuk dalam urusan rohani. Kebanyakan orang melakukan hal-hal baik dan benar seturut ajaran moral dan agama dengan motivasi tertentu. Agar ia mendapat berkat dan keselamatan dari Tuhan. Agar ia bisa diterima dalam keluarga dan masyarakat. Agar ia bisa disenangi dan mendapat simpati dari publik. Agar ia bisa diberi apresiasi dan kenaikan jabatan. Penghayatan nilai-nilai iman dan moral yang berlandaskan pada aspek reward dan punishment sah-sah saja. Tetapi model penghayatan seperti ini bukanlah sebuah penghayatan hidup yang sejati. Orang-orang masih dibebani atau diikat dengan pelbagai konsekuensi yang harus diterimanya. Kenyataannya, orang tidak melakukan sesuatu berdasarkan kemauan dan kesadaran pribadi.

 

            Hari ini kita berjumpa dengan seorang muda yang kaya, baik, dan saleh. Dia meminta nasihat Yesus tentang perbuatan baik yang menjamin masa depannya, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Permintaannya mencerminkan asumsi bahwa hidup kekal itu merupakan ganjaran atas perbuatan baik manusia. Ia menganggap relasi dengan Tuhan sebagai barter komersial (bisnis) antara perbuatan baiknya dengan ganjaran hidup kekal. Kebaikan dilihatnya hanya sebatas ketaatan pada hukum. Oleh Yesus, Dia ditantang untuk membebaskan diri dari ikatan hartanya. Ia harus rela membagikan harta itu kepada orang-orang miskin lalu mengikuti Yesus. Ini bukan merupakan syarat hidup yang kekal, melainkan tujuan utama hidup yang harus dilakukan. Dalam iman, tujuan hidup demikian selaras dengan maksud mulia Allah menciptakan manusia. Sayangnya orang muda ini tidak berani menanggapi jalan kesempurnaan ini. Ia masih lebih mencintai harta duniawi miliknya. Ia belum mampu membebaskan dirinya dari segala keterikatan hidup duniawi. Ia belum memiliki kesadaran penuh untuk memperoleh hidup kekal. Ia hanya menjalani secara rutinitas dan formalitas belaka segala hal yang ditetapkan oleh ajaran agama.

 

            Mungkin sebagai orang beriman kita masih memperlihatkan hidup seperti orang muda yang kaya ini. Segala hal baik dan benar yang kita tunjukkan masih berada pada tataran formalitas atau sekedar rutinitas belaka. Kita melakukan hal yang baik dan benar karena ada kepentingan atau tujuan yang lebih bersifat pragmatis. Jauh dari kata ideal. Kita menunjukkan kebaikan kepada orang lain supaya dicap sebagai orang baik. Kita rajin ke gereja pada hari Minggu supaya dikatakan sebagai orang religius. Kita disiplin dalam waktu supaya tidak mendapat complain dari atasan atau pimpinan. Kita menerapkan 3S yakni senyum, sapa, dan salam, supaya diapresiasi sebagai orang yang ramah. Kita menyumbang atau memberi derma supaya menaikan gengsi sosial. Kita sering menolong orang miskin dan tertindas supaya Tuhan berkenan memberi berkat. Saya kira masih banyak litani kehidupan yang bisa kita catat dan refleksi secara pribadi yang pada intinya menggambarkan bahwa apa yang kita lakukan masih berada pada tataran formalitas dan memiliki tujuan pragmatis.

 

              Kita masih belum sungguh-sungguh merdeka untuk melakukan segala kebaikan dan kebenaran dalam kesadaran sejati. Kesadaran sebagai makhluk beriman yang diciptakan Tuhan untuk sungguh-sungguh berada secara total di jalan kebenaran Tuhan. Hari ini Tuhan mengatakan kepada kita: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga”. Statement Yesus ini bukanlah sebuah syarat  hidup yang pragmatis. Kata-kata Yesus ini merupakan sebuah idealisme yang harus digapai oleh setiap kita. Dan menjual harta milik tidak ditafsir secara harafiah semata. Menjual harta milik bersinonim dengan membebaskan diri dari segala keterikatan duniawi dan kepentingan pribadi. Kita melakukan segala hal baik dan benar sesuai anjuran hukum moral dan agama karena dibentuk oleh sebuah kesadaran. Kesadaran untuk memaknai hidup lebih bermakna. Dan yang pasti kesadaran sebagai makhluk Tuhan yang sementara berziarah menuju keabadian hidup. 

Rabu, 08 Februari 2023

Menjadi Pribadi Bijaksana

                                                     Mat 17:22-27

           

            Hari ini kita merayakan pesta Santo Dominikus, seorang imam saleh dan pengkotbah ulung. Santo Dominikus merupakan pendiri ordo religius Dominikus. Atau dikenal dengan Ordo Praedicatorium (Ordo para pengkotbah / Ordo Dominikan). Ordo Dominikan adalah sebuah tarekat atau kongregasi yang menggabungkan corak hidup kontemplatif (Cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan, mati raga, bertapa, sehingga orang dapat berdoa dan bersemadi dengan lebih mudah) dengan kehidupan aktif seperti mewartakan Injil di luar komunitas, kerja tangan untuk memenuhi kebutuhan hidup, belajar, dan lain-lain. Santo Dominikus lahir pada tahun 1170 di Calaruega, Spanyol, dan tutup usia di Bologna, Italia, pada tanggal 6 Agustus 1221. Ia menjadi santo pelindung bagi para ibu yang sedang berharap dan para astronom.

 

Merenungkan perikop Injil hari ini, ada satu bagian menarik yang nampaknya jarang direnungkan atau dibahas oleh banyak orang. Berkaitan dengan membayar pajak, apa alasan Yesus supaya Petrus membayar pajak bagi mereka berdua? Satu-satunya alasan yang terungkap dengan jelas dalam teks Injil ini adalah: “Supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka” (Mat 17:27). Batu sandungan berarti menjadi penghambat bagi orang lain, bagi sebuah aturan dan kebijakan tertentu dan bagi sebuah kebaikan bersama (Bonum commune). Maka Yesus meminta Petrus untuk mencari koin dalam ikan di danau supaya mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

Menjadi batu sandungan berarti menghambat orang lain atau kelompok tertentu. Yesus mengingatkan Petrus agar karena hal sederhana jangan sampai justru mereka malah menghambat orang lain. Mereka menghalangi orang lain untuk maju dan berkembang. Ketika sebuah kebijakan atau aturan sudah ditetapkan bersama, maka semua orang wajib untuk menghargai dan menjalankan kebijakan atau aturan tersebut. Bahkan mereka yang berkuasa membuat kebijakan dan aturan juga tidak bisa seenaknya untuk mengubah atau dia sendiri tidak melaksanakannya.

 

Dalam kehidupan bersama, misalnya dalam lingkungan Gereja, kita juga berhadapan dengan berbagai kebijakan bersama, Entah di ranah lingkungan atau paroki. Tidak jarang dijumpai ada sekelompok orang yang merasa tidak cocok dengan kebijakan itu. Karena tidak cocok, mereka kemudian membuat gerakan untuk menciptakan kebijakan baru yang tidak sejalan dengan kebijakan lama. Sementara sebagian besar umat masih merasa kebijakan yang lama tetap relevan untuk diterapkan. Yang sering terjadi adalah sekelompok orang ini memaksakan kehendak mereka. Inilah kiranya yang dikatakan oleh Yesus sebagai “batu sandungan” bagi umat yang lain.

 

Contoh lain, dalam lingkup kerja. Kerap kita menemui atau berhadapan dengan orang atau kelompok orang yang mengambil sikap berseberangan dengan aturan yang berlaku atau kebijakan yang telah disepakati bersama. Mungkin mereka merasa ada kepentingan secara pribadi atau kelompok yang tidak terfasilitasi di dalamnya. Tentu aturan dan kebijakan yang diterapkan memiliki tujuan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi para pegawainya. Lain hal lagi, jikalau aturan atau kebijakan tertentu tidak dapat memberikan rasa keadilan atau asas manfaat bagi kepentingan umum. Pasti akan timbul penolakan dan petisi untuk mengevaluasinya. Akan tetapi, selama kebijakan dan aturan itu memiliki tujuan yang baik dan mulia, walaupun mungkin tidak mengakomodir semua kepentingan pribadi, seyogyanya semua pihak dapat menerima dan menjalankannya.

 

Dalam kehidupan ini kiranya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak kita. Ada banyak aturan dan kebijakan yang mungkin dianggap tidak lagi sesuai. Jika kita mampu untuk memperbaikinya, maka kita bisa melakukannya. Namun jika apa yang kita usulkan justru menjadi perdebatan dan bahkan menimbulkan konflik dan perpecahan, maka sebaiknya kita berpikir kembali. Kita hidup bersama dalam satu kesatuan bersama orang lain. Ada kalanya kita harus bertindak demi kepentingan dan kebaikan bersama. Namun sebaiknya kita tidak boleh bertindak atas nama kepentingan pribadi atau kelompok, supaya jangan menjadi batu sandungan bagi semua orang.

 

Hari ini Yesus telah menginspirasi agar kita menjadi manusia yang bijaksana dalam hidup. Manusia yang tidak hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata. Manusia yang tidak hanya memfokuskan hidup demi pribadi dan kelompoknya. Apalagi sampai mengambil sikap oposan atau berlawanan dengan sebuah aturan dan kebijakan yang baik dan mulia demi kepentingan bersama. Jika ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan bersama. Kita harus mengasah dan menata diri untuk menjadi manusia yang bijaksana. Pertama, dalam menyikapi pelbagai hal, termasuk aturan dan kebijakan yang bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan kebaikan bersama, kita perlu bertindak dengan sikap rasional dan emosi yang matang. Dengan pendekatan yang lebih persuasif, dan bukan sebaliknya dengan intimidasi dan kekerasan. Kedua, kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan kepentingan umum dengan mengutamakan kepentingang pribadi dan kelompok. Mari kita menata sikap dan hidup lebih bijaksana sesuai dengan kehendak Tuhan.

Senin, 15 Agustus 2022

Hidup Dalam Kerajaan Sorga

                                                                        Mat 13:44-46

 

Seorang ibu pernah bertanya, apa itu Kerajaan Sorga. Dan apakah sesudah mati baru orang mengalami Kerajaana Sorga itu. Secara sederhana saya menjelaskan bahwa Kerajaan Sorga adalah suatu keadaan atau situasi di mana Allah sungguh meraja dan memerintah atasnya. Kerajaan Sorga itu memang akan mengalami kepenuhannya saat orang “beralih dari dunia ini”. Tetapi bukan berarti orang tidak mengalami Kerajaan Sorga saat ia masih hidup di dunia. Kerajaan sorga itu ada di tengah dunia, bahkan dalam diri manusia sendiri, Kerajaan Sorga itu bisa menyata. Walaupun sifatnya temporer atau sementara. Kebanyakan orang memang belum menyadari arti Kerajaan Sorga. Kemudian soal keberadaan Kerajaan Sorga, lebih banyak orang memahaminya sebagai suatu situasi yang akan diperoleh saat manusia sudah meninggalkan dunia. Pertanyaan paling fundamental adalah seperti apa model Kerajaan Sorga itu. Atau apa indikasinya atau tanda-tanda yang menggambarkan bahwa Kerajaan Sorga itu sungguh ada.

 

Karena Kerajaan Sorga adalah Allah yang sungguh hadir dan meraja maka orang akan mengalami situasi hidup yang membahagiakan, aman, damai, penuh sukacita dan kegembiraan. Situasi-situasi ini sudah dimulai pada saat ini, ketika manusia masih merasakan napas kehidupan di atas dunia. Walaupun memang ada pergumulan, pergulatan, dan keterpurukan dalam hidup, namun ketika manusia bisa menghadapinya dengan tenang dan bisa menemukan jalan keluar yang baik, itu juga menjadi bagian dari tanda Kerajaan Sorga menyata dalam hidup manusia. Dalam diri manusia Kerajaan Sorga juga bisa nampak, Ketika manusia memperlakukan diri dan hidupnya sebagai sarana untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, di situ juga cahaya Kerajaan Sorga akan muncul di tengah dunia. Jadi Kerajaan Sorga bukan hanya bersifat eskatologis (masa depan), saat manusia kembali ke haribaan Tuhan. Namun sudah, sedang, dan akan terjadi secara nyata dalam hidup manusia.

 

Kerajaan Sorga menjadi wacana yang sangat menarik. Sehingga ketika memaparkannya, Yesus sampai menggunakan dua perumpamaan. Pertama, Kerajaan Sorga yang dianalogikan sebagai harta yang terpendam di ladang. Harta itu kemudian ditemukan orang, lalu ditanamnya lagi. Barulah kemudian, ia menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan ladang beserta harta yang terpendam di dalamnya. Memang dari sisi kehidupan sosial budaya orang Israel pada saat itu, menyimpan harta di dalam tanah merupakan suatu hal yang lazim. Situasi kehidupan yang seringkali tidak aman, menuntun orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pilihan untuk menyembunyikan harta dalam tanah merupakan pilihan yang terbaik pada saa itu. Yang menjadi persoalan apabila si pemilik tanah sudah lupa atau meninggal sehingga hartanya tetap tertanam di dalam tanah. Orang yang menemukannya tidak serta merta membawanya pulang ke rumah. Karena hukum Yahudi melarangnya. Kalau hendak mengambil dan memiliki harta tersebut, orang harus membeli ladang itu dahulu.

 

Kedua, Kerajaan Sorga itu dianalogikan sebagai mutiara yang indah. Lagi-lagi berawal dari kebiasaan orang Israel yang suka mengoleksi mutiara. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan mutiara tersebut. Termasuk dengan menjual seluruh harta yang dimilikinya. Tidak peduli bahwa hartanya akan habis. Asalkan mereka merasa puas dan senang karena sudah memiliki mutiara yang didambakan. Menarik sekalih. Dari dua perumpamaan Yesus, yang membeberkan tentang Kerajaan Sorga, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kerajaan Sorga itu tidak hanya indah, tetapi mempunyai harga yang sangat mahal. Tidak mudah untuk memperolehnya. Orang harus berjuang dan berjibaku. Tidak setengah-setengah. Harus total dan fokus.

 

Dalam realitas kehidupan duniawi, Kerajaan Sorga menunjuk pada pelbagai aspek yang menjadi fokus dan lokus kita. Entah itu menyangkut kehidupan keluarga, pekerjaan, ekonomi, pendidikan dan kesehatan, relasi sosial dengan sesama, dan sebagainya. Ada hal yang tentu saja menjadi fokus kita masing-masing, tetapi tetap menjadi bagian integral (tidak terpisahkan) dengan keimanan kita akan Tuhan dan segala ajaran-Nya yang menjadi kompas kehidupan. Dalam menata kehidupan keluarga, ada garis komando yang sama-sama kita ikuti dalam status sebagai suami, istri dan anak. Ada sikap saling menghargai, menghormati, memahami satu sama lain sehingga tercipta nuansa kehidupan keluarga yang bahagia. Dalam mengelola pekerjaan yang berdampak pada kehidupan ekonomi pribadi dan keluarga, perlu adanya sikap total dan kerja keras. Tidak malas dan tidak berorientasi pada sikap hedonis atau konsumtif semata. Perlu ada pemahaman bahwa pekerjaan yang kita miliki adalah sebuah amanah suci dari Tuhan. Berapa pun hasil yang kita terima, pasti akan membawa nilai yang sangat berarti bagi pribadi dan keluarga.

 

Dalam membangun relasi dengan sesama, sikap rendah hati, saling menerima apa adanya, saling menghargai, saling menolong, menjadi deretan hal-hal konkrit yang bisa kita lakukan untuk menciptakan suasana hidup yang menyenangkan dan membawa kedamaian. Inilah beberapa contoh yang hendak menggambarkan bahwa Kerajaa Sorga itu sungguh ada dan menyata dalam kehidupan kita di tengah dunia. Namun untuk memperolehnya, kita harus “menjual” apa yang kita miliki. Kata menjual dalam konteks ini berarti melepaskan. Kita harus berani melepaskan, memotong, dan menghilangkan sikap-sikap destruktif (negatif) yang menjadi penghalang bagi terciptanya Kerajaan Sorga di tengah dunia. Sikap destruktif itu seperti sikap ego (mementingkan diri), sombong, apatis, merasa diri paling benar dan hebat, sikap malas, tidak disiplin, sikap hedonis (mengutamakan kenikmatan duniawi), dan sebagainya.

 

 Kerajaan Sorga yang kita alami di dunia sejatinya mengungkapkan kehidupan Kerajaan Sorga yang paripurna yakni saat nanti di dalam kehidupan akhirat. Mari kita senantiasa menciptakan suasana Kerajaan Sorga di tengah dunia dengan menginventasikan atau menabung banyak kebaikan dan kebenaran dalam hidup. Sehingga pada saat nanti, kita sungguh merasakan Kerajaan Sorga yang tidak lagi bersifat temporal tetapi sungguh-sungguh berada dalam keabadian. ***

Rabu, 03 Agustus 2022

Menjadi Pribadi Yang Matang Dalam Iman

                                                                Mat 13:1-9

 

Ada seorang sahabat pernah mencurahkan isi hatinya kepada saya. Ia mengatakan bahwa dalam melakukan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) di tempat kerja, selalu berusaha meresapi dan melaksanakan kode etik yang termaktub dalam lima nilai budaya kerja. Lima nilai budaya kerja itu yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Integritas berkaitan dengan menjaga keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Profesionalitas memiliki makna bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Inovasi berhubungan dengan kegiatan menyempurnakan sesuatu hal yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Tanggung jawab berarti bekerja secara tuntas dan konsekuen. Sedangkan keteladanan menjadi nilai pamungkas dari empat nilai yang lain. Setiap orang harus menjadi contoh yang baik bagi orang lain dengan mengimplementasikan empat nilai di atas.

 

Kembali ke cerita sahabat saya. Tidak hanya memahami dan menerapkan lima nilai budaya kerja dalam Tupoksinya sebagai seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Dalam membangun relasi dengan sesama rekan kerja, ia juga berusaha selalu baik, ramah, dan peduli pada mereka. Setiap hari ia akan menerapkan 3S: Senyum, Sapa dan Salam kepada semua orang di tempat kerja. Ia tidak berpikir negatif tentang orang lain. Ia juga menaburkan sikap, tutur kata, dan perilaku yang baik. Namun seringkali ia menerima balasan yang menyakitkan. Ada segelintir rekannya yang masih saja menaruh sikap apatis, prasangka dan sentimen (iri hati) kepadanya. Menyikapi realitas negatif ini, sang sahabat memilih sikap diam dan tenang. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya. Ia senantiasa membangun pikiran-pikiran yang konstruktif dalam dirinya. Ia hanya menghibur hatinya dengan berpikir bahwa mereka yang membenci atau tidak suka kepada dirinya adalah tipe orang yang tidak memiliki kemampuan atau kompetensi.

 

Dalam bacaan Injil (Mat 13:1-9), Yesus membeberkan sejumlah tantangan atau hambatan kepada para rasul dan semua orang yang mengikuti-Nya. Tentu saja, tidak hanya kepada mereka. Kepada kita sebagai orang Katolik, tantangan atau hambatan itu acapkali menyasar dan menyerang pribadi kita. Tantangan atau hambatan itu diungkapkan secara simbolik dengan tiga media tumbuh kembang benih yang kurang baik. Media pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak berduri. Benih itu mewakili Sabda Allah. Sementara media, tempat jatuh benih merupakan setiap pribadi manusia yang menerima Sabda Allah. Memang benih itu sempat jatuh dan tumbuh. Namun pelbagai tantangan seperti tipisnya tanah, diterpa sinar matahari, dihimpit semak berduri, bahkan dimakan burung, membuat benih tidak berdaya. Ia hilang dan mati binasa.

 

Model atau bentuk tantangan dengan aneka karakteristiknya, menjadi faktor utama yang menjauhkan manusia dari firman Allah. Tantangan dan hambatan diklasifikasikan dalam dua jenis. Tantangan dari dalam dan tantangan dari luar. Tantangan dari dalam meliputi sikap rasio yang berlebihan sehingga membuat manusia sulit percaya dengan hal-hal di luar logika. Misalnya tidak percaya kepada Tuhan, karena orang merasa tidak pernah melihat dan merasakan efek Tuhan dalam hidupnya. Rasio memang dibutuhkan untuk memverifikasi pelbagai kenyataan atau realitas. Namun kalau tidak diimbangi dengan kekuatan yang lain maka rasio akan berjalan timpang. Tantangan berikutnya adalah sikap ego atau mementingkan diri sendiri. Merasa diri paling hebat dan benar. Selanjutnya sikap malas dan apatis. Orang sudah tidak mau peduli lagi dengan hal-hal yang bersifat spiritual dan rohani. Tantangan lain dari dalam yang bisa disebut adalah sikap hedonis dan materialistis. Gaya hidup instan, pesta pora, dan sikap konsumtif (mengeluarkan uang melebihi pemasukan atau pendapatan) seakan menjadi agama baru bagi manusia. Tuhan bukan menjadi hal utama atau prioritas dalam hidup. Orang lebih men-Tuhan-kan hal-hal duniawi, Sehingga Tuhan yang diyakini dalam agama menjadi hilang. Efek domino yang ditimbulkan kemudian adalah orang-orang menjadi tidak peduli dengan sesamanya. Orang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Orang gampang memandang rendah sesamanya. Orang mudah memanfaatkan sesamanya untuk mendapatkan keuntungan. Nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diajarkan oleh agama otomatis menjadi hilang.

 

Tantangan dari luar dapat dideskripsikan sebagai berbagai gangguan atau hambatan yang datang dari luar diri manusia. Misalnya orang yang menjadi korban penghinaan dan penindasan lewat kata-kata barbar (kasar) dan tidak etis. Tidak cukup dengan kata-kata, orang juga bisa menjadi korban dari tindakan main hakim sendiri yang dilakukan sesamanya. Penindasan atau penghinaan atas nama agama juga seringkali terjadi. Orang merasa agama atau keyakinannya lebih benar kemudian dijadikan alasan untuk mendiskreditkan orang dan agama lain. Penindasan atas nama agama kerapkali terjadi bukan secara fisik. Justru yang lebih menusuk tajam adalah penindasan secara verbal. Melalui kata-kata yang diungkapkan baik secara langsung atau pun lewat media sosial, orang merasa tersakiti karena hal-hal yang menjadi prinsip dalam hidupnya diintervensi secara tidak adil. Sejumlah tantangan atau hambatan di atas menjadi kenyataan atau realitas yang dihadapi oleh dunia masa kini. Terutama kita sebagai orang Katolik, tantangan dan hambatan demikian terasa tidak pernah berakhir. Malahan semakin kuat getarannya. Tantangan itu begitu mengancam dan bisa menggerus hidup keimanan kita. Dan Yesus sebenarnya sudah mewanti-wanti kehadiran tantangan dan hambatan itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 13:9). Allah lewat sabda Yesus, sudah memperingatkan agar kita bersikap hati-hati terhadap pelbagai tantangan dan hambatan.

 

Namun sebagai orang Katolik, kita percaya Tuhan akan memberikan berkat-Nya. Menghadapi tantangan dari dalam diri, tawaran akan sikap tobat senantiasa dicurahkan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah berhenti menawarkan rahmat keselamatan kepada umat manusia. Walaupun umat manusia juga tidak pernah berhenti bersikap jahat dan tidak setia kepada-Nya. Kita senantiasa diarahkan oleh Tuhan untuk mematangkan iman. Salah satunya dengan belajar dari kesalahan untuk memperbaiki diri dan menjadi semakin baik. Menyikapi tantangan dari luar diri, Tuhan memang tidak menghilangkan tantangan atau hambatan itu. Ia hanya memberi rahmat kekuatan agar kita semakin kuat dan matang menghadapinya. Kita juga tidak akan mudah putus asa dan kehilangan harapan.

 

Sejatinya tantangan atau hambatan yang dihadapi semakin mematangkan hidup iman kekatolikan kita. Terutama dalam menjalankan Tupoksi di rumah besar ini (Rumah Sakit Bukit Lewoleba). Kita tetap bekerja dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki di unit kerja masing-masing dengan menghayati lima nilai budaya kerja; integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Kita juga terus menerapkan budaya 3S, senyum, sapa, dan salam, kepada siapa saja, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan pelayanan dan perhatian dari kita. Bagi sesama saudara yang sementara bergumul dengan pengalaman sakit di ruang-ruang pasien; entah ruang rawat nginap atau rawat jalan, jangan merasa cemas, panik, dan putus asa. Pengalaman sakit merupakan sebuah pengalaman iman. Dengannya kita semakin dikuatkan dalam iman dan tetap menaruh pengharapan kepada Tuhan. Yakinlah, tidak ada yang mustahil dalam kemuliaan nama-Nya. Karena Ia akan membuka jalan kebaikan di tengah ketidakbaikan yang sementara kita alami. Mari ciptakan pribadi yang matang di dalam setiap tantangan atau hambatan hidup yang kita alami. Sehingga kita bisa menjadikan pribadi kita sebagai media tumbuh kembang firman Tuhan yang akan menghasilkan buah berlimpah. 

Minggu, 31 Juli 2022

Selalu Bersyukur Kepada Tuhan

                                                                     Mat 11:25-27

 

Mengucap syukur karena mengalami sukacita dalam hidup merupakan hal yang biasa kita lakukan. Ada banyak pengalaman baik atau positif yang kita alami. Kita mendapat rezeki dan apresiasi yang baik dari pekerjaan, anak-anak mendapatkan hasil yang memuaskan dalam pendidikan, ada kemelut hidup yang berhasil diatasi, ada harapan atau cita-cita yang berhasil digapai, dan sebagainya. Dan sebagai bentuk ekspresi, kita mengucap syukur atas semuanya. Kita mengucap syukur kepada Tuhan atas segala anugerah positif yang kita dapatkan dalam hidup.

 

Lalu bagaimana kalau kita mengalami pengalaman yang tidak mengenakan dalam hidup? Apakah kita pernah bersyukur kepada Tuhan atasnya. Saya pikir hal ini sangat sulit. Karena kerap terjadi adalah ungkapan kekecewaan, marah, sakit hati, dan bahkan orang bisa mengalami putus asa dan kehilangan harapan. Dalam tataran manusiawi, hal ini wajar. Oleh karena itu, menjadi hal yang luar biasa, apabila ada orang yang merespon kegagalan dan keterpurukan dalam hidupnya dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Dalam kepercayaan iman kita, mengucap syukur kepada Tuhan itu tidak terbatas pada pengalaman yang baik atau positif saja. Ucapan syukur kepada Tuhan menembus aneka pengalaman kehidupan. Entah yang baik atau pun tidak baik. Baik yang mengenakan maupun yang tidak mengenakan. Entah itu positif atau pun negatif.

 

Ungkapan syukur juga dilakukan oleh Yesus dalam bacaan Injil (Mat 11:25-27).. Ada dua hal yang dilakukan oleh Yesus. Pertama-tama, Yesus beryukur dan memuji Bapa di Sorga. Ia berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Kedua, Yesus mengenal diri-Nya sebagai Anak dan Allah sebagai Bapa-Nya. Mereka saling mengenal satu sama lain. Yesus berkata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27).

 

Yesus bersyukur kepada Bapa-Nya atas anugerah ilahi yang telah diterima-Nya sebagai Putera Allah. Dan dengan identitas Putera Allah itu, Allah telah mengutus Diri-Nya ke muka bumi untuk menjadi “kecil” sama seperti umat manusia. Dengan kekecilan yang tampak sebagai makhluk yang miskin dan hina, diharapkan agar umat manusia dapat menerima dan mengikuti segala hal yang Ia sampaikan. Yesus bersyukur karena dengan penampakan Diri-Nya yang sederhana dan miskin, telah menarik banyak orang kecil dan miskin untuk percaya kepada-Nya. Hanya orang yang tinggi hati dan “kepala batu” yang tidak percaya dan menolak kehadiran-Nya. Orang-orang ini yang merasa dirinya sebagai orang bijak dan pandai. Mereka merasa tidak selevel dengan Yesus dengan jabatan dan kuasa mentereng yang melekat dalam dirinya. Rasa gengsi dan arogan menjadi tembok penghalang bagi mereka untuk melihat kuasa ilahi dalam diri Yesus. Berbeda dengan orang-orang kecil, karena tidak memiliki kepentingan apa-apa selain kepentingan untuk mengalami Yesus sebagai sumber pengharapan dan keselamatan.

 

Ucapan syukur dikumandangkan juga oleh Yesus karena kedekatan atau keintiman relasi yang terbangun antara Yesus dan Allah. Yesus sungguh mengenal Allah sebagai Bapa-Nya. Dan Allah sungguh mengenal Yesus sebagai Anak-Nya. Karena kelekatan relasi itu, maka apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus adalah kehendak Bapa-Nya. Demikian juga apa yang dikehendaki oleh Sang Bapa, sudah termanifestasi atau terwujud dalam diri Yesus, Sang Anak. Yesus bersyukur karena kumpulan orang yang percaya kepada-Nya adalah juga kumpulan orang yang percaya kepada Allah. Demikian juga mereka yang tidak percaya dan menolak Yesus sama artinya dengan tidak percaya dan menolak Allah.

 

Ungkapan syukur yang dilakukan Yesus, sejatinya menjadi salah satu pokok ajaran dalam hidup iman kita sebagai orang Katolik. Mengucap syukur harus menjadi hal biasa yang senantiasa kita ungkapkan dalam setiap pengalaman hidup. Ungkapan syukur kepada Tuhan harus mendarah daging dalam jati diri setiap orang Katolik. Kita mengucap syukur atas segala anugerah hidup yang terjadi dalam hidup. Pada satu sisi, ucapan syukur kita sampaikan kepada Tuhan berkat segala kebaikan, keberhasilan, kesuksesan, dan sukacita yang terjadi. Tentu tidak menafikan (menghilangkan) peran manusiawi kita. Namun kita percaya bahwa atas intervensi Tuhan, kita boleh mengalami hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pada sisi yang lain, ungkapan syukur juga patut kita gaungkan kepada Tuhan atas pengalaman kegagalan, kesulitan, pergumulan, dan bahkan keterpurukan dalam hidup. Ada kalanya, Tuhan membiarkan pengalaman-pengamalan demikian untuk mematangkan dan mendewasakan pribadi kita. Supaya kita menjadi pribadi yang kuat, tahan banting, tidak mudah goyah dan patah dalam mengarungi alam kehidupan fana yang tidak mudah ini.

 

Ungkapan syukur kepada Tuhan mempresentasikan pengalaman tidak terbatas pribadi kita sebagai makhluk terbatas di hadapan Tuhan. Banyak pengalaman yang kita alami dalam kehidupan tidaklah cukup ditangkap dan dimengerti dengan indrawi manusiawi. Kita membutuhkan pengertian dan pemahaman  yang melampaui batas indrawi agar kita bisa memahami makna hidup yang paling hakiki. Karena di dalamnya, ada entitas adikodrati yang bernama Tuhan. Tuhan yang kita imani sebagai orang Katolik. Ungkapan syukur kepada Tuhan menjadi jalan bagi kita sebagai orang beriman untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Dan kita tidak salah memilih. Karena ungkapan syukur kepada-Nya, dapat menguatkan pribadi dan membawa keselamatan dalam hidup kita.