Kamis, 27 Februari 2020

AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR



Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"  Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.  Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.  Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"  Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;  Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."


Manusia memiliki cita-cita dan harapan dalam memajukan taraf  hidup yang lebih baik. Dengan mencapai cita-cita ini ada aneka sikap dan prinsip misalnya “ambisi merupakan dasar tercapainya kesuksesan karir dan kehidupan bahagia. Ambisi ini sepertinya dipandang wajar, namun kadang bisa berubah menjadi tidak wajar, bahkan negative,tatkala memperole sesuatu orang menggunakan cara-cara yang jahat dan sangat merugikan kepentingan orang banyak. Apa bila manusia sudah memiliki ambisi, sikap dendam, iri hati dan benci tentu tidak rela mengakui oroang-orang lain dengan segala kelebihan. Ia lebih suka melihat dan kecendrungan membicarakan orang lain dari sisi negative.

Meskipun orang lain lebih hebat, ia tetap rendah  dan tidak diperhitungkan oleh manusia yang sudah busuk hatinya. Orang Farisi selalu menganggap diri sucidan saleh. Orang Farisi juga menganggap orang lainsebagai orang kafir dan orang pendosa yang harus dihindari karena najis. Orang Farisi juga menggolongkan para Pemungut Cukai sebagai orang pendosa karena  stempel ketidak jujuran dan ketidak adilan tetap melekat pada profesi mereka.  Mereka bahkan lebih tidak senang tatakala Yesus makan dan minum di rumah para pemungut cukai dan orang berdosa.

Dalam karya pelayanan Yesus sangat menentang dan berani melawan sikap dan perlakuan arus orang Farisi. Disaat orang Farisi menyingkirkan kaum pendosa dari lingkungan social, Yesus justru menyapa, merangkul dan mengajak mereka untuk masuk dalam persekutuan, “ Ikutlah Aku.” Maka tidak ada keraguan berdirilah orang Lewi dan meninggalkan segala sesuatu untuk mengkuti Dia. Kisah panggilan orang Lewi, seorang pemungut cukai, menegaskan sikap Yesus yang sangat kontras dengan sikap orang-orang Farisi. Bukan orang sehat yang membutuhkan Tabib tapi orang sakit. Aku dating bukan untuk memanggil orang benar tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.  Manusia zaman sekarang senantiasa berlomba mendapatkan prestasi dan prestise. Kadang terjadi kompetisi yang kurang sehat. Muncul niat jahat mengganjal bahkan lebih jahat lagi menghabisi sesama demi pemenuhan cita-citanya sebagai orang pertama yang sombong dan tinggi hati. Yesus tidak menginginkan hal semacam ini terjadi dikalangan pengikutnya. Tugas kita ialah berlomba-lomba dalam kompetisi kristiani sebagai pelayan sesama dan tidak merendahkan harkat dan martabat orang lain. Yesus memberikan contoh dan teladan bagi para murid-murid-Nya agar tidak hanyut dalam arus kesombongan orang Farisi. 

Hidup kita menjadi serba curiga pada orang lain, mau tidak mau mempengaruhi juga cara pandang dan hidup kita. Cermin hidup kita menjadi buram  dan tak mampu menagkap kebaikan yang dilakukan alangka malangnya hidup kita. Oleh karena itu amrilah kita berusaha agar apapun yang dilakukan orang lain disekitar kita. Kita mau mengakui dir sebagai orang berdosa dan dengan ini kita lebih mudah menerima orang lain dalam persekutuan agar sama-sama boleh menikmati berkat-berkat Tuhan. Apakah aku rela menjadi sahabat kaum kecil disekita kita. Dan bagai mana aku dapat memberikan contoh nyata dan berani berbelara dengan sesama.

JK Lejab

Selasa, 25 Februari 2020

BAPAMU YANG MELIHAT YANG TERSEMBUNYI AKAN MEMBALASNYA





RABU ABU MASA PERTOBATAN


Rabu abu adalah masa Prapaska, masa tobat. Tuhan mengundang kita untuk ke Gereja agar lebih fokus pada usaha dan tindakan nyata sebagai wujud pembaharuan diri dan rekonsiliasi. Kita berdamai dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri. Kata-kata Nabi Yesaya yang sangat inspiratif untuk kita di awal masa tobat.
Puasa bukan menyangkut aneka hokum atau larangan ini dan itu, bukan juga mengenai hal-hal yang bersifat lahiria. Tuhan lebih menuntut “ Sikap hati yang tulus dan jujur” yang terpancar keluar terang benderang dalam kata-kata tindakan perilaku yang yang terpuji.

Ibu Marina baru berbaikan dengan suaminya karena ada suatu masalah yang meraka hadapi. Pada prinsipnya mereka mau melupakan kesalahan masa lalu dan ingin membangun yang baru. Marta lalu menelponku dan mengatakan, bahwa ia merasa tidak enak hati karena suaminya sangat berubah. Ini tidak biasa dan tidak asli”, katanya.  “Saya tidak menyuruh dia berubah sama sekali, tetapi menyadari kelemahannya dan berusaha untuk lebih memahami diriku.  Hal ini tidak akan bertahan lama.” Ternyata Marina benar. Beberapa waktu kemudian perangai asli suaminya muncul. Pada akhirnya segala persoalan muncul kembali.

Demikian pewartaan Nabi Yoel, "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman Tuhan, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan,, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi Tuhan, Allahmu.
Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;
kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;
baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan,, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya Tuhan,, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"
 Tuhan, menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. ( Yoel 2:12-18)
Rasul Paulus menegaskan dan meminta kita untuk mengasihi Allah, berdamai dengan sesama dan juga diri sendiri. “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.  Sebab Allah berfirman:  "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau,  dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. ( II Kor 5:20-6:2 )

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."           ( Mat 6 : 1-6,16-18 ) 


Tuhan Yesus menekankan niat dasar yang melatar belakangi puasa seseorang, bukan praktek lahiria yang dapat dilihat dan diamati orang. Niat yang teguh akan terwujud dalam praktek. Tanpa niat, perubahan yang semu tak akan bertahan lama. Yesus mendorong umatnya untuk menghindari kemunafikan. Sebagai satu contah yakni Ibu Marina yang kecewa dengan perilaku suaminya yang tidak bertahan lama dalam sikapnya sehingga percekcokan dalam rumah terulang lagi. Apa yang diharapkan Ibu Marina adalah “Saya tidak menyuruh dia berubah sama sekali, tetapi menyadari kelemahannya dan berusaha untuk lebih memahami diriku.

 Masa puasa adalah masa dimana kita  merenung hidup kita sebagai manusia berdosa. Kita diajak untuk menyesali dosa-dosa kita. Sebagai tanda tobat kita didorong untuk berpuasa dan bermati raga. Namun semuanyanya itu hanya ada arti kalau dilandasi oleh niat yang luhur, yakni demi peningkatan kualitas iman. Maka hendaknya masa ini kita jadikan sebagai masa yang penuh rahmat. Nabi Yoel “ Koyaklah hatimu dan janganlah pakainmu” Kotbah di bukit menyajikan tiga hal kebajikan saleh sebagai pembaharuan yakni Sedekah sebagai wujud perhatian dan kepedulian terhadap orang lain.  Doa , usaha menjalin relasi akrab dengan Allah. Puasa, penyucian diri untuk menjadi pribadi yang tangguh.
                                 
                                                                                                                                                    JK Lejab

Jumat, 21 Februari 2020

DASAR-DASAR HIDUP KRISTIANI


Sebagai umat beriman kita perlu menyadari dasar hidup sebagai umat Kristiani yang beriman kepada Allah. Oleh karena itu kita dapat melihat beberapa pedoman seperti surat Rasul Paulus kepada jemaad di Galatsia 3:26 “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Rasul Paulus menegaskan bahwa,  kita adalah bagian dari anak-anak Allah yang beriman akan Putranya Yesus Kristus. Dengan demikian pengharapan Yesus kepada umatnya untuk melakukan segala hal di dunia dengan penuh kasih dan cinta. Kita sudah menjadi bagian, dari milik kepunyaan Allah yakni sebagai bagian dari anak-anak Allah dengan melakukan kewajiban sesuai  dengan kehendak Allah sendiri. Segala sikap dan tindakkan diluar dari kehendak Allah maka, harus diperbaiki demi keselamatan hidup yang kekal.


 “ Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Dengan kuasa Roh Kudus anak-anak Allah selalu dalam bimbingan dan perlindungan. Kita umat kristiani adalah milik dari Allah sendiri. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. (Rom 8:14-16)

Dalam hidup sehari-hari, kita mengenal suatu sikap yang kadang menjengkelkan, yakni keinginan yang serta merta atau segera  dipenuhi. Sikap ini biasanya ditunjukan oleh anak-anak yang meminta sesuatu pada orang tuanya. Jika tidak segera dipenuhi keinginan itu,  tak jarang anak-anak rewel dan protes bahkan sampai menangis sejadi-jadinya membikin malu orang tua, apabila jika sedang di tengah keramaian. Itulah yang terkadang menjengkelkan. Anak yang meminta seolah-olah tidak mau tahu bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya, butuh waktu untuk mewujudkannya. Tuhan Yesus Kristus mengajarkan kepada kita tentang cara kerja tubuh-Nya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;” (Yoh 1:12 )
Tidak ada instan dalam cara kerja Allah. Semuanya membutuhkan proses kesabaran dan waktu. Nilai inilah yang seharusnya kita sadari. Jangan sampai kita menganggap segala sesuatu yang diawali dengan sederhana dan kecil, tidak akan menghasilkan hal yang luar biasa.

Yesus juga berhadapan dengan persoalan ikatan keluarga ketika ibu dan saudara-saudaranya ingin bertemu dengan-Nya. Lau para murid_Nya lalu memberitahukan kepada Yesus tentang kehadiran anggota keluarga Yesus itu.  Tentu harapannya adalah Yesus menerima anggota keluarga-Nya dengan istimewa. Namun ternyata Yesus bereaksi lain. Ia justru  bersikap kritis, siapakah ibu-Ku, siapakah saudara-saudara-Ku ? Mereka yang melakukan kehendak Allah, itulah ibu-Ku, dan saudara-saudara-Ku. Jelas dalam hal ini Yesus menekankan ikatan persaudaraan itu lebih luas daripada sekedar ikatan keluarga atau hubungan darah. Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, jika berkaitan dengan  ikatan keluarga dan hubungan darah kita perjuangkan sedemikian rupa. Bahkan yang salahpun kita benarkan karena pelakunya adalah keluarga kita sendiri.  Namun ekstrim yang lain pun bias terjadi, bahwa kita begitu tega dan tak peduli sekalipun pada orang tua dan kakak adik kita sendiri yang masih memiliki hubungan darah.  

Menjadi orang Kristen merupakan suatu anugerah dari Allah dan sekaligus perlu disertai dengan komitmen untuk mengikuti Yesus secara total dalam hidup.
Dalam semua itu, perlu kita memaknai prinsip Yesus,  marilah kita semua berusaha melakukan kehendak Allah, maka kita akan terikat persaudaraan sejati dengan semua orang.
Dalam konteks hidup kita sehari-hari, kita tidak bias melepaskan diri dari kenyataan keberadaan bersama orang-orang lain, entah dalam keluarga, lingkungan kerja, organisasi gereja maupun masyrakat. Tentu akan selalu ada perbedaan pendapat, pertentangan dan mungkin sengketa di antara kita, namun apakah kita menjadi provikator untuk situasi perpecahan yang semakin parah. Waspadalah, hal seperti itu bahkan lebih jahat, karena sesame roh jahatpun di antara mereka tidak saling mengusir demi menjaga kekompakan. Berlakulah sebagai anak-anak Allah yang menjaga spirit persatuan yang telah di tentukan oleh Yesus.

JK Lejab

Kamis, 20 Februari 2020

AKU MENYAMPAIKAN KEPADAMU KESAKSIAN TENTANG YESUS KRISTUS YANG DISALIBKAN.






                                                                    I Kor 2:1-5
 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,  supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (I Kor 2:1-5)

https://penyuluhan-bimbingan-agama1.blogspot.com


"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:13-16)
Dari bacaan pertama di atas Paulus hendak mengatan kepada semua orang terutama umat yang ada di Korintus saat itu tentang kebenaraan akan Yesus Kristus Tuhan kita. Bagaimana Paulus , dia dipanggil oleh Allah dan Allah hadir di dalam diri untuk memberikan kesaksian tentang kebangkitan dengan memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara umat selain Yesus Kristus yaitu Dia yang disalibkan.
Paulus awal dengan rasa takut dan dalam kelemahan. Perkataan dan pemberitaan Paulus sungguh menyatakan dan mengakui berbagai kekurangan dan kelemahan baik kata-kata hikmat yang meyakinkan namun menyerahkan segala kekurangannya akan kehendah Roh Kudus. Dengan Roh Kudus segala keragu-raguan, ketakutan semuanya akan hilang sehingga iman tidak bergantung pada hikmat manusia tetapi pada kekuatan Allah.

Dalam khotbah dibukit, Yesus bersabda kepada para muridnya, “ Kamu adalah Garam dunia. Jika Garam itu menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan ? Tidak ada gunanya selain selain dibuang dan diinjak-injak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Apa artinya hidup kita tidak akan ada gunanya bagi sesama ?  Pertanyaan mendasar bagi semua orang yang hidup harus berguna bagi sesame, jika tidak hidup itu tidak ada gunanya. 

Dalam perumpamaan tentang garam dan terang, Yesus mau menegaskan makna hidup kita sebagai orang yang beriman. Kita tahu bahwa garam sangat berguna sebagai pengawet dan penyedap rasa. Tanpa garam makanan tidak akan awet apabila disimpan dalam jangka waktu yang lama. Tanpa garam makanan itu akan terasa hambar. Yesus mengharapkan kita untuk menjadi garam, itu berarti kita sebagai orang beriman itu harus harus berfungsi dalam dua hal tersebut yakni menjadi garam dan terang. Menjadi pengikut Yesus Kristus harus menjadi orang yang mampu membawa rasa antara sesame manuusia yang awet dan membuat hidup itu nyaman untuk dijalani. Kita diharapkan tidak menjadi pemecah-belah persaudaraan dan persatuan dan tidak boleh menjadi sumber ketidak harmonisan dan kebahagiaan bagi sesama. 


https://penyuluhan-bimbingan-agama1.blogspot.com
Kita semua tahu lampu itu berguna sebagai penerang. Ketika Yesus mengharapkan kita untuk menjadi terang. Itu berarti bahwa Yesus Kristus sebenarnyanya maumenegaskan bahwa sebagai pengikut-Nya, seluruh kebenaran dan keadilan serta cinta kasih bagi sesame. Yesus Kristus mengingatkan kita untuk melakukan segala sebagaimana sewajarnya. Tidak boleh berlebihan dan tidak boleh munafik. Seorang Kristiani harus menampakan kejujuran, keadilan dan kerendahan hati serta cinta yang dapat dialami oleh sesama kita disekitar. Itulah hidup yang bermanfaat dan berguna sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Garam menjadi hambar, cahaya bisa menjadi redup dan padam, namun Yesus meminta kita untuk memelihara kehidupan kita agar tetap menjadi garam dan terang yang tak pernah redup. Kita harus menampakan kemuliaan Allahdalam seluruh bentuk kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita untuk kita jalani di dunia apapun situasinya. Apakah hidupku bermanfaat bagi sesamaku disekitar. Apakah aku sudah hidup benar didalam panggilan hidup yang kujalani saat ini

Jk Lejab