Kemudian, ketika Yesus pergi ke
luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di
rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala
sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi
mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar
pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat
bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan
dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya:
"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."
Manusia memiliki cita-cita dan
harapan dalam memajukan taraf hidup yang
lebih baik. Dengan mencapai cita-cita ini ada aneka sikap dan prinsip misalnya “ambisi
merupakan dasar tercapainya kesuksesan karir dan kehidupan bahagia. Ambisi ini
sepertinya dipandang wajar, namun kadang bisa berubah menjadi tidak wajar,
bahkan negative,tatkala memperole sesuatu orang menggunakan cara-cara yang jahat
dan sangat merugikan kepentingan orang banyak. Apa bila manusia sudah memiliki
ambisi, sikap dendam, iri hati dan benci tentu tidak rela mengakui oroang-orang
lain dengan segala kelebihan. Ia lebih suka melihat dan kecendrungan
membicarakan orang lain dari sisi negative.
Meskipun orang lain lebih hebat,
ia tetap rendah dan tidak diperhitungkan
oleh manusia yang sudah busuk hatinya. Orang Farisi selalu menganggap diri
sucidan saleh. Orang Farisi juga menganggap orang lainsebagai orang kafir dan
orang pendosa yang harus dihindari karena najis. Orang Farisi juga menggolongkan
para Pemungut Cukai sebagai orang pendosa karena stempel ketidak jujuran dan ketidak adilan
tetap melekat pada profesi mereka. Mereka
bahkan lebih tidak senang tatakala Yesus makan dan minum di rumah para pemungut
cukai dan orang berdosa.
Hidup kita menjadi serba curiga
pada orang lain, mau tidak mau mempengaruhi juga cara pandang dan hidup kita.
Cermin hidup kita menjadi buram dan tak
mampu menagkap kebaikan yang dilakukan alangka malangnya hidup kita. Oleh
karena itu amrilah kita berusaha agar apapun yang dilakukan orang lain
disekitar kita. Kita mau mengakui dir sebagai orang berdosa dan dengan ini kita
lebih mudah menerima orang lain dalam persekutuan agar sama-sama boleh
menikmati berkat-berkat Tuhan. Apakah aku rela menjadi sahabat kaum kecil
disekita kita. Dan bagai mana aku dapat memberikan contoh nyata dan berani
berbelara dengan sesama.
JK Lejab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar