RABU ABU MASA PERTOBATAN
Rabu abu adalah masa Prapaska,
masa tobat. Tuhan mengundang kita untuk ke Gereja agar lebih fokus pada usaha
dan tindakan nyata sebagai wujud pembaharuan diri dan rekonsiliasi. Kita
berdamai dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri. Kata-kata Nabi Yesaya yang
sangat inspiratif untuk kita di awal masa tobat.
Puasa bukan menyangkut aneka hokum
atau larangan ini dan itu, bukan juga mengenai hal-hal yang bersifat lahiria.
Tuhan lebih menuntut “ Sikap hati yang tulus dan jujur” yang terpancar keluar
terang benderang dalam kata-kata tindakan perilaku yang yang terpuji.
Ibu Marina baru berbaikan dengan
suaminya karena ada suatu masalah yang meraka hadapi. Pada prinsipnya mereka
mau melupakan kesalahan masa lalu dan ingin membangun yang baru. Marta lalu
menelponku dan mengatakan, bahwa ia merasa tidak enak hati karena suaminya
sangat berubah. Ini tidak biasa dan tidak asli”, katanya. “Saya tidak menyuruh dia berubah sama sekali,
tetapi menyadari kelemahannya dan berusaha untuk lebih memahami diriku. Hal ini tidak akan bertahan lama.” Ternyata
Marina benar. Beberapa waktu kemudian perangai asli suaminya muncul. Pada
akhirnya segala persoalan muncul kembali.
Demikian pewartaan Nabi Yoel, "Tetapi
sekarang juga," demikianlah firman Tuhan, "berbaliklah kepada-Ku
dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan
mengaduh."
Koyakkanlah hatimu dan jangan
pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan,, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang,
panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Siapa tahu, mungkin Ia mau
berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan
korban curahan bagi Tuhan, Allahmu.
Tiuplah sangkakala di Sion,
adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;
kumpulkanlah bangsa ini,
kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak,
bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari
kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;
baiklah para imam,
pelayan-pelayan Tuhan,, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata:
"Sayangilah, ya Tuhan,, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri
menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang
berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"
Tuhan, menjadi cemburu karena
tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. ( Yoel 2:12-18)
Rasul Paulus menegaskan dan
meminta kita untuk mengasihi Allah, berdamai dengan sesama dan juga diri
sendiri. “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah
menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta
kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Dia yang tidak mengenal dosa
telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan
oleh Allah. Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan
mendengarkan engkau, dan pada hari Aku
menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."
Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari
ini adalah hari penyelamatan itu. ( II Kor 5:20-6:2 )
"Ingatlah, jangan kamu
melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika
demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
Jadi apabila engkau memberi
sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang
munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi jika engkau memberi
sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
Hendaklah sedekahmu itu diberikan
dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya
kepadamu."
"Dan apabila kamu berdoa,
janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan
berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya
mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat
upahnya.
"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah
kepalamu dan cucilah mukamu,
supaya jangan dilihat oleh orang
bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat
tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya
kepadamu." ( Mat 6 : 1-6,16-18 )
Tuhan Yesus menekankan niat dasar
yang melatar belakangi puasa seseorang, bukan praktek lahiria yang dapat
dilihat dan diamati orang. Niat yang teguh akan terwujud dalam praktek. Tanpa
niat, perubahan yang semu tak akan bertahan lama. Yesus mendorong umatnya untuk
menghindari kemunafikan. Sebagai satu contah yakni Ibu Marina yang kecewa
dengan perilaku suaminya yang tidak bertahan lama dalam sikapnya sehingga
percekcokan dalam rumah terulang lagi. Apa yang diharapkan Ibu Marina adalah “Saya
tidak menyuruh dia berubah sama sekali, tetapi menyadari kelemahannya dan
berusaha untuk lebih memahami diriku.
Masa puasa adalah masa dimana kita merenung hidup kita sebagai manusia berdosa.
Kita diajak untuk menyesali dosa-dosa kita. Sebagai tanda tobat kita didorong
untuk berpuasa dan bermati raga. Namun semuanyanya itu hanya ada arti kalau
dilandasi oleh niat yang luhur, yakni demi peningkatan kualitas iman. Maka
hendaknya masa ini kita jadikan sebagai masa yang penuh rahmat. Nabi Yoel “
Koyaklah hatimu dan janganlah pakainmu” Kotbah di bukit menyajikan tiga hal
kebajikan saleh sebagai pembaharuan yakni Sedekah sebagai wujud perhatian dan
kepedulian terhadap orang lain. Doa ,
usaha menjalin relasi akrab dengan Allah. Puasa, penyucian diri untuk menjadi
pribadi yang tangguh.
JK Lejab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar