Selasa, 25 Februari 2020

BAPAMU YANG MELIHAT YANG TERSEMBUNYI AKAN MEMBALASNYA





RABU ABU MASA PERTOBATAN


Rabu abu adalah masa Prapaska, masa tobat. Tuhan mengundang kita untuk ke Gereja agar lebih fokus pada usaha dan tindakan nyata sebagai wujud pembaharuan diri dan rekonsiliasi. Kita berdamai dengan Tuhan, sesama dan diri sendiri. Kata-kata Nabi Yesaya yang sangat inspiratif untuk kita di awal masa tobat.
Puasa bukan menyangkut aneka hokum atau larangan ini dan itu, bukan juga mengenai hal-hal yang bersifat lahiria. Tuhan lebih menuntut “ Sikap hati yang tulus dan jujur” yang terpancar keluar terang benderang dalam kata-kata tindakan perilaku yang yang terpuji.

Ibu Marina baru berbaikan dengan suaminya karena ada suatu masalah yang meraka hadapi. Pada prinsipnya mereka mau melupakan kesalahan masa lalu dan ingin membangun yang baru. Marta lalu menelponku dan mengatakan, bahwa ia merasa tidak enak hati karena suaminya sangat berubah. Ini tidak biasa dan tidak asli”, katanya.  “Saya tidak menyuruh dia berubah sama sekali, tetapi menyadari kelemahannya dan berusaha untuk lebih memahami diriku.  Hal ini tidak akan bertahan lama.” Ternyata Marina benar. Beberapa waktu kemudian perangai asli suaminya muncul. Pada akhirnya segala persoalan muncul kembali.

Demikian pewartaan Nabi Yoel, "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman Tuhan, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."
Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan,, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi Tuhan, Allahmu.
Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;
kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;
baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan,, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya Tuhan,, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"
 Tuhan, menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya. ( Yoel 2:12-18)
Rasul Paulus menegaskan dan meminta kita untuk mengasihi Allah, berdamai dengan sesama dan juga diri sendiri. “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.
Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.  Sebab Allah berfirman:  "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau,  dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."  Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. ( II Kor 5:20-6:2 )

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,
supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."           ( Mat 6 : 1-6,16-18 ) 


Tuhan Yesus menekankan niat dasar yang melatar belakangi puasa seseorang, bukan praktek lahiria yang dapat dilihat dan diamati orang. Niat yang teguh akan terwujud dalam praktek. Tanpa niat, perubahan yang semu tak akan bertahan lama. Yesus mendorong umatnya untuk menghindari kemunafikan. Sebagai satu contah yakni Ibu Marina yang kecewa dengan perilaku suaminya yang tidak bertahan lama dalam sikapnya sehingga percekcokan dalam rumah terulang lagi. Apa yang diharapkan Ibu Marina adalah “Saya tidak menyuruh dia berubah sama sekali, tetapi menyadari kelemahannya dan berusaha untuk lebih memahami diriku.

 Masa puasa adalah masa dimana kita  merenung hidup kita sebagai manusia berdosa. Kita diajak untuk menyesali dosa-dosa kita. Sebagai tanda tobat kita didorong untuk berpuasa dan bermati raga. Namun semuanyanya itu hanya ada arti kalau dilandasi oleh niat yang luhur, yakni demi peningkatan kualitas iman. Maka hendaknya masa ini kita jadikan sebagai masa yang penuh rahmat. Nabi Yoel “ Koyaklah hatimu dan janganlah pakainmu” Kotbah di bukit menyajikan tiga hal kebajikan saleh sebagai pembaharuan yakni Sedekah sebagai wujud perhatian dan kepedulian terhadap orang lain.  Doa , usaha menjalin relasi akrab dengan Allah. Puasa, penyucian diri untuk menjadi pribadi yang tangguh.
                                 
                                                                                                                                                    JK Lejab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar